Women Lead Pendidikan Seks
February 08, 2022

'And Just Like That…': Dunia Carrie Pun Berubah

Di episode satu, ketika suaminya, Mr. Big meninggal dunia, hidup Carrie just like that… berubah.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

Kualitas Sex and the City Movie 2 (2010) yang sangat buruk, tampaknya tak membuat penggemar Carrie (Sarah Jessica Parker), Miranda (Cynthia Nixon) dan Charlotte (Kristin Davis) berhenti penasaran tentang kelanjutan hidup mereka. Sesulit apa pun menolak perasaan cringe karena adegan-adegan problematik dari film terakhir mereka—misalnya, adegan semua perempuan Timur Tengah yang mampu pakai baju desainer kelas kakap di balik burkanya—ternyata enggak bikin hasrat nonton saya hilang.

Tadinya, yang akan kita dapatkan adalah Sex and the City Movie 3, bukan seriesnya. Tapi, rencana itu berubah karena Kim Cattrall yang memerankan Samantha resign secara publik dari karakter ini, dan mengumbar ketidakakurannya dengan rekan kerjanya (hmm.. baca: Sarah Jessica Parker) yang dituding tidak memperlakukannya dengan baik.

Namun, masalah itu selesai dicepatkan HBO Max. Kesempatan penggemar setia geng Carrie dituntaskan lewa series And Just Like That…, yang terasa sekali berusaha keras melakukan rebranding.

Sumber: IMDB

Baca juga: ‘The Sex Live of College Girls’, Ngomongin Seks Tak Pernah Semenyenangkan Ini

Tanpa masalah “hilangnya” Samantha saja, tugas creator serial ini sudah banyak sekali. Ditambah dengan konteks dunia yang sudah berubah dan berjarak dari Sex and the City Movie 2. Tapi, mereka sepertinya menyadari hal itu, dan membuat And Just Like That… secara tidak mengherankan terasa seperti sebuah usaha memperbaiki yang berlebihan (over-correcting).

Satu-satunya keputusan baik, mungkin, adalah pilihan mereka untuk tidak menggantikan Samantha dengan karakter lain. Di serial ini, Samantha diceritakan pindah ke London karena Carrie memecatnya sebagai publisis. Buku tidak lagi termasuk bisnis cuan, menurut Carrie. 

Yang menarik adalah bagaimana pertemanan Samantha-Carrie diputuskan untuk tetap eksis dalam semesta ini. Ia bukan cuma hadir sebagai ekposisi pendek, tapi justru digunakan sebagai hantu masa lalu yang menggentayangi Carrie, sesuatu yang bikin episode terakhir jadi terasa emosional.

Hal yang terasa agak seperti “pesanan” adalah bagaimana Michael Patrick King sebagai kreator memaksa tiga karakter utama kita untuk tiba-tiba punya bestie baru yang merupakan person of color (orang berkulit gelap). Minimnya penggambaran minoritas di serial Sex and the City memang isu yang sangat serius dan harus dibahas. Tapi, cara pembuatnya ujug-ujug membuat karakter utama And Just Like That… punya sahabat baru POC, adalah hal yang terasa sangat ganjil. Terutama karena pembuatnya enggak mau repot-repot memberikan mereka “peran” yang penting, alias semua cuma tokenism belaka.

Sahabat baru Miranda adalah dosennya sendiri, Dr. Nya Wallace (Karen Pittman), yang sangat dekat dengan cultural issue. Sementara, sahabat baru Charlotte adalah Lisa Todd Wexley (Nicole Ari Parker) yang sama-sama ibu sosialita. 

Namun, kedua karakter itu dirakit seadanya. Konflik mereka tidak terlalu berarti dan punya tujuan lebih luas, atau setidaknya nyambung, dalam plot keseluruhan.

Satu-satunya karakter baru, yang masuk ke dunia And Just Like That… dengan mulus dan terasa seperti benar-benar teman yang layak untuk dipertahankan adalah Seema (Sarita Chioudhury), realtor-nya Carrie. Seema punya kepribadian asyik, dan teman yang baik bagi karakter utama kita. Fungsinya jelas. Ia hadir bukan hanya sekedar menjadi token POC bestie.

Sumber: IMDB

Baca Juga: Jika Sex and the City Dibuat dengan Cita Rasa Lokal

Jujur, ketika And Just Like That… tayang, saya ragu. Kira-kira apa yang belum dibahas di episode-episode dahulu dan jadi sesuatu yang menarik untuk dilanjutkan sekarang?

Hampir semua skenario percintaan (dan fantasi finansial) sudah pernah kita lihat. Bagaimana Carrie ngotot mencari The One, sampai akhirnya dapat, sudah kita saksikan. Saya takut kalau And Just Like That… menjadi seperti Sex and the City Movie 2 yang bingung mau mengeksplor apa lagi dari karakter-karakternya. Sampai-sampai, melarikan mereka ke tempat eksotis, hanya karena Carrie bosan makan di rumah dengan suaminya, Big (Chris Noth). 

Tapi kemudian di episode pertama And Just Like That…, kita melihat Big meninggal dunia. Sesuatu yang bikin saya tertarik lagi untuk mengikuti kisah hidup Carrie di episode berikutnya.  Melihat Carrie kurang tidur, dan mencari cara bagaimana meneruskan hidup lagi, adalah salah satu hal yang menarik di serial ini.

Meski somehow terdengar basi, tapi melihat Carrie mencoba untuk kencan lagi setelah sekian lama, lengkap dengan status baru di dunia yang juga baru, mengundang perasaan nostalgia yang terasa seperti menonton Sex and the City lama.

Sementara Carrie mencoba untuk moving on, storyline Charlotte masih mengikuti “tema over-correcting” yang diusung creator-nya. Hanya saja kali ini rasanya terasa lebih organik karena dari awal kita sudah tahu bahwa Charlotte adalah karakter yang sangat kaku dan perfeksionis. Dalam And Just Like That…, Charlotte harus menghadapi anaknya, Rose Goldenblatt (Alexa Swinton), yang melela sebagai seorang trans. Melihat bagaimana Charlotte juggling rumah tangga, menghadapi anaknya dan tentu saja berusaha keras untuk tetap politically correct, ternyata adalah tontonan yang cukup menghibur.

Untuk storyline Miranda, mungkin kita perlu diskusi lebih panjang karena yang satu ini sangat kontroversial. Kontroversial dalam artian, tiap kali And Just Like That… rilis, saya bisa melihat orang-orang di sosial media (baca: Twitter) mengeluhkan tentang bagaimana penulis serial ini menaruh Miranda di posisinya.

Sumber: IMDB

Baca Juga: Tak Melulu Soal Seks, 4 Alasan Serial ‘Sex Education’ Makin Layak Ditonton

Seperti yang kita tahu, Miranda adalah sosok yang paling level-headed di antara personel lainnya.  Tapi, semua sifat rasional itu menghilang di serial ini karena krisis paruh baya menyerang Miranda dengan sangat serius. Dia berubah menjadi alkoholik. Yang paling ekstrim mungkin adalah bagaimana Miranda memutuskan untuk meninggalkan Steve (David Eigenberg) dan mengejar cinta barunya, seorang komedian sekaligus partner kerja Carrie yang baru, Che Diaz (Sara Ramirez).

Miranda, seperti layaknya bocah baru jatuh cinta, jungkir balik demi Che Diaz yang memberikan seks terbaik dalam hidupnya. Dari menyelinap ke after party-nya Che, selingkuh diam-diam sampai pergi ke kota lain demi cintanya. Tidak sedikit yang merasa bahwa apa yang dilakukan Miranda di And Just Like That… seperti mengkhianati karakternya.

Saya sendiri merasa bahwa ini adalah sebuah pilihan yang menarik. Kenapa semua orang harus mempunyai jalur hidup yang lurus-lurus saja? Bisa aja dong orang seperti Miranda yang sangat saklek ternyata bisa jadi supermessy? Apa yang dia lakukan mungkin bukan hal yang saya setujui, tapi setidaknya semua kelucuan yang dia lakukan, dan percayalah, semuanya sungguh melahirkan momen-momen cringe yang paten, membuat saya terhibur.

Sepuluh episode And Just Like That… memang tidak bisa mengimbangi serial aslinya. Tapi, di episode terakhirnya, saya lumayan terbawa suasana. Saya mulai tersedot lagi ke dalam kisah ibu-ibu ini. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah menonton 10 episode And Just Like That…, saya merasa legowo karena serial ini tidak mencoba untuk menjadi dirinya yang dulu. Dunia sudah banyak berubah, begitu juga pun dunia Carrie.

And Just Like That…dapat disaksikan di HBO Go

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya 'When Everything Feels Like Romcoms' dapat dibeli di toko-toko buku.