Women Lead Pendidikan Seks
August 12, 2021

Banyak Lelaki di Aplikasi Kencan Anti-Feminis? Ini Pengalaman Saya

Seminggu menggunakan tiga aplikasi kencan, saya diajak berhubungan seksual dan dikomentari seksis. Hanya satu di antara lusinan yang tak bersikap demikian.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle
pengalaman di aplikasi kencan
Share:

“Cewek emang tugasnya bikin makanan di dapur, sama muasin nafsu aja,” kata “Akbar”, seorang laki-laki yang saya temui di aplikasi kencan daring Coffee Meets Bagel.

Di pekan pertama Agustus, dengan nama samaran, saya menjajal tiga aplikasi kencan daring sekaligus, dengan bio mendeskripsikan seorang feminis, kurang lebih seperti ini:

“A cat lover, into pop culture, against toxic masculinity and sexual harassment. Highly appreciate it if a guy puts consent first, either sexual or before touching any body parts.”

Ketika editor saya mengusulkan tantangan ini, saya memberanikan diri menerimanya, karena berdasarkan pengalaman menggunakan aplikasi kencan, laki-laki yang saya temui kerap melontarkan kalimat seksis. Ternyata, penggunaan bio yang terang-terangan mendaku sebagai feminis, membuat para lelaki misoginis makin menjadi-jadi.

Akbar mengaku pada saya, tengah mencari budak seks karena perempuan hanya cocok pada posisi itu. Saya tak tahu apakah ia serius dengan pernyataannya, sebab saat meminta penjelasan lebih lanjut, ia kabur, meninggalkan room chat. Terlepas dari kebenaran pernyataannya itu, sepertinya Akbar “terpancing” setelah membaca bio saya.

Di ketiga aplikasi yang digunakan; Tinder, OKCupid, dan Coffee Meets Bagel, saya memasang lokasi berbeda. Tinder di Tangerang Selatan, Coffee Meets Bagel di Jakarta Barat, dan OKCupid di Jakarta Selatan. Tujuannya melihat perbedaan karakteristik laki-laki dari berbagai domisili.

Dalam empat hari pertama, laki-laki yang menyukai profil saya di Tinder dan OKCupid kurang lebih mencapai 80 orang, sedangkan keterbatasan akses di Coffee Meets Bagel menampilkan 10 orang per harinya. “Ternyata laki-laki enggak ‘takut’ sama bio saya ya?” pikir saya.

Baca Juga: Dua Hari Menjajal Aplikasi Poligami dan Ini yang Saya Temukan

Kemungkinan lain, mereka hanya melihat persentase kecocokan, bahkan foto saja. Saya hanya memasang swafoto mengenakan kacamata hitam dengan warna hitam putih, sengaja agar wajah enggak terlalu kentara. Tidak ada kriteria khusus dalam menentukan profil laki-laki. Setiap laki-laki yang match, saya sapa dengan “manis” dan menanyakan hobi supaya mempermudah obrolannya, walaupun yang asyik tak sebanyak jumlah jari tangan.

Di tengah obrolan bersama laki-laki bernama “Firman” di Tinder, ia menyinggung consent di bio saya, yang menurutnya sangat penting dalam hubungan seksual. “Rata-rata mau begituan tanpa consent, makanya terjadi yang enggak-enggak,” tuturnya. “Mending, sih minta aja langsung. Kalau dia bilang iya, ya sudah, kalau enggak, artinya belum waktunya, enggak perlu memaksa.”

Berdasarkan obrolan kami, saya menilai Firman enggak anti feminisme, karena berusaha melibatkan opini saya di percakapan, pokoknya bukan melulu membicarakan dirinya, bahkan mansplaining. Tapi, sepertinya ia enggak begitu memahami consent, karena yang ditujukan hanya mengarah pada hubungan seksual, padahal memegang area tubuh lainnya juga memerlukan consent dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Beranjak dari Tinder, saya match dengan “Aji” di OKCupid. Laki-laki ini bisa dikategorikan sebagai a walking red flag--lelaki yang berbahaya dalam hubungan. Kami memulai obrolan kasual seputar hobi dan kegiatan, ia menggoda untuk memanggil “sayang.”

Terlalu gemas dengan basa-basi dan tampaknya Aji enggak akan menyinggung bio, saya bertanya apakah pekerjaan domestik seharusnya dilakukan seorang istri. Tentunya pertanyaan itu tidak diutarakan secara gamblang, tapi “dibungkus” pengalaman teman yang mengalami beban ganda.

Aji mengusulkan si istri berhenti bekerja karena salah satu dari mereka perlu mengalah. “Kalau nanti urusan rumah berantakan, dua-duanya saling menyuruh dan hubungannya enggak harmonis, deh, soalnya sama-sama sibuk,” katanya. Ia juga mengatakan, istri harus mengalah karena mengikuti omongan suami agar tidak durhaka.

Baca Juga: Mengenali Diri Lebih Baik lewat ‘Online Dating’

Karakter Aji yang mudah diajak ngobrol membuat saya harus menahan ilfeel lebih lama, karena ia berpotensi menunjukkan sisi misoginisnya yang lain.

Saat membicarakan pekerjaannya sebagai kurir makanan, Aji menceritakan ia pernah diajak berhubungan dengan seorang pelanggan perempuan. “Waktu mau bayar, dia pakai drama dulu ajak masuk ke apartemen, biasalah cewek, tapi aku tolak lah, ngeri banget,” ujarnya. Begitu simpati saya muncul, laki-laki ini justru bilang dirinya terbawa suasana, sehingga berciuman dan membiarkan alat kelaminnya disentuh.

Entah itu imajinasinya atau betul terjadi, topik itu jadi peluang membahas pelecehan seksual. Menurut Aji, laki-laki enggak salah kalau perempuan mengundang hasrat dengan berpakaian ketat dan terbuka. “Kita kan punya mata, enggak salah dong melihat kayak begitu,” tuturnya, memosisikan perempuan pantas dilecehkan dan diobjektifikasi.

Emosi saya semakin naik ke ubun-ubun, sewaktu ia bilang saya tidak akan bisa melawan jika berada di posisinya saat bersama pelanggan tersebut, bahkan berkali-kali mengajak berhubungan seksual sesuai “protokol kesehatan” dan menilai enggak asyik ketika saya menolak.

Saya pun penasaran apakah foto-foto yang dipajang memang dirinya, tapi tidak berhasil menemukan identitasnya setelah dicek menggunakan Google Image.

Kembali ke Coffee Meets Bagel, saya bertemu “Lukman” yang 90 persen obrolannya mengarah ke hubungan seksual. Saya menolak ajakannya dengan alasan COVID-19 dan enggak berhubungan bebas, tapi mau enggak mau saya meladeni laki-laki ini, karena penasaran sejauh apa pandangannya bertolak belakang dengan feminisme. Dari awal, ia sudah menggeneralisasi perempuan dengan mengatakan, “Biasanya kan cewek cepat capek kalau di ranjang.”

Ternyata, ia memainkan kartu “laki-laki baik-baik” untuk mendapatkan yang diinginkan. Mulai dari berusaha bersabar untuk main ke kosan setelah kasus COVID-19 menurun, berkomitmen dengan satu orang selama melakukan hubungan seksual karena tidak ingin diselingkuhi, dan mengatakan siap menjadi pasangan saya, padahal ketahuan betul kalau yang diinginkan hanya seks.

Baca Juga: 5 Tipe Cowok di Aplikasi Kencan yang Tampak Normal Tapi ‘Unmatchable’

Lukman pun memanipulasi agar diberikan nomor telepon. “Ini beneran enggak mau pindah ke platform lain? Untuk extend aku harus bayar beans-nya lho.” Saya geleng-geleng melihat usahanya yang begitu besar demi memuaskan hasratnya.

Ketika saya menyinggung seksisme di obrolan, ia menyatakan kesetujuannya dengan prasangka pada gender itu. Mungkin ia tidak betul memahami artinya, terlihat dari caranya mengetikkan pesan yang tidak seyakin pembahasan seks.

Dari seminggu menggunakan aplikasi kencan daring, saya merasakan kentalnya budaya patriarki di Indonesia, karena dari belasan laki-laki yang berinteraksi dengan saya, sebagian besar merasa kuat dibandingkan perempuan, terutama yang memiliki motif one night stand dan friends with benefit. Mungkin mereka pikir, perempuan akan mudah menyetujui ajakannya, tapi kita memiliki self defense lebih kuat dari itu.

Perjalanan di aplikasi kencan daring belum berhenti di sini. Saya memutuskan extend seminggu dengan membawa pandangan feminisme lebih radikal, untuk melihat reaksi para lelaki anti feminisme. Syukur-syukur bisa ikut mengedukasi mereka, semoga.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.