Women Lead Pendidikan Seks
June 10, 2021

Euforia BTS Meal: Salah Alamat Menghujat ARMY

Ada ketidakberesan dalam kolaborasi McDonald’s dan BTS, tapi lagi-lagi ARMY yang dihujat warganet.

by Jasmine Floretta V.D.
Lifestyle
KPop_fans_penggemar_pop_culture_SarahArifin
Share:

Pada Rabu, 9 Juni 2021 kemarin, kolaborasi McDonald’s dengan BTS resmi diluncurkan di Indonesia. Antusiasme ARMY, nama resmi para penggemar boyband Korea Selatan tersebut, sangat tinggi, mengingat kolaborasi ini sifatnya terbatas dan akan dihentikan restoran waralaba global tersebut jika persediaan sudah habis.

Pihak McDonald’s atau McD sepertinya memang sudah mengantisipasi antusiasme ARMY ini, sehingga semua pembelian harus dilakukan lewat laman McD, drive thru (layanan tanpa turun atau lantatur), serta ojek daring (ojol) untuk mencegah lonjakan pengunjung yang makan di tempat.

Meski demikian, jumlah pesanan ternyata membludak. Jalur lantatur macet dan para pengendara ojol harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan pesanan mereka. Pihak McD juga kurang sigap untuk menghentikan pesanan ini. Dari sini lah drama bermunculan dan orang-orang, termasuk warganet tentunya, berbondong-bondong menyalahkan ARMY karena dianggap menimbulkan kerumunan dan membahayakan para pengendara ojol, akibat ketiadaan protokol kesehatan di saat pandemi COVID-19 masih berlangsung.

Sebagai seorang ARMY, komentar-komentar yang hanya menyalahkan satu pihak ini terus terang menjengkelkan. Orang-orang tidak melihat adanya ketidakberesan eksekusi sistem yang dijalankan McDonald’s maupun GoJek dan Grab yang seharusnya bisa diantisipasi sebelum peluncuran kolaborasi. Padahal yang melakukan kolaborasi bareng BTS ini bukan hanya McD Indonesia, tapi seluruh dunia.

Belum lagi dengan fakta ada sejumlah perusahaan lain yang sudah bekerja sama dengan BTS untuk meluncurkan produk terbatas dan mengeksekusinya dengan baik, seperti Uniqlo misalnya.

Yang lebih tidak mengenakkan lagi adalah bagaimana saya jadi korban hoaks. Rabu kemarin saya dan teman-teman ARMY lainnya membagikan air mineral kepada para pengendara ojol yang sedang menunggu antrean di McD SPBU Cibubur. Namun, kami malah dikagetkan dengan foto kami yang beredar di media sosial, dengan narasi bahwa ada pengendara ojol yang pingsan karena terlalu lama menunggu pesanan. Saya tidak tahu mengapa ada yang membuat hoaks seperti ini, yang jelas stigma yang dilekatkan pada ARMY sebagai sekelompok perempuan bodoh dan histeris kembali dikukuhkan.

Baca juga: BTS dan ARMY: Bongkar Hegemoni Industri Musik Hingga Stereotip ‘Fangirl’ Obsesif

ARMY dan Eksploitasi Kelas Pekerja

Para ARMY kemarin dicap tidak peduli dengan nasib para pengendara ojol yang antre berjam-jam. Bahkan seorang sosiolog (tentunya laki-laki) menulis twit dengan cibiran, “their stupid mundane desire for K-pop fandom” dan mengaitkannya dengan bagaimana ARMY mengeksploitasi low paid workers.

Dia lupa bahwa banyak ARMY juga berasal dari kelas pekerja, yang paham dengan sistem yang mengopresi mereka, memberikan upah murah, atau bahkan memotong insentif mereka yang sebenarnya merupakan bagian dari pengabaian hak-hak dari pekerja.

Para ARMY juga menyadari kekacauan yang terjadi pada hari pertama kampanye BTS Meal ini, dan berusaha membantu para pengendara ojol sebagai bentuk solidaritas dari sesama kelas pekerja. Muncul insiatif-inisiatif dari ARMY, yang memang biasa berdonasi, untuk memberikan makan siang, air mineral, dan tips yang besar untuk mengapresiasi kerja keras pada pengendara ojol yang sudah mengantarkan pesanan BTS Meal mereka. Sebuah inisiatif donasi ARMY Indonesia bersama Kitabisa.com, misalnya, dalam satu hari sudah mencapai nilai Rp166 juta dan sudah mulai disalurkan kepada para pengendara.

Sang profesor sosiologi dan warganet Indonesia juga tampaknya abai bahwa budaya kelompok penggemar atau fandom adalah hal yang biasa. Rapper AS Travis Scott, misalnya, juga sudah melakukan kolaborasi yang sama dengan McD. Antusiasme penggemarnya pun sama tinggi, dengan kerumunan orang berkumpul di titik-titik gerai McD di Amerika Serikat, seakan pandemi tidak sedang menghantam negara itu.

Media AS banyak memberitakan kisruhnya kolaborasi McD dengan Scott ini (tidak jarang juga yang sampai mencuri poster), dan bagaimana rapper tersebut sempat menyambangi salah satu gerai, yang digambarkan warganet AS sebagai, “Everybody is going apeshit!”.

Namun, apakah kolaborasi antara McD dan Travis Scott ini mendapat hinaan yang begitu besar dari warganet dan orang-orang berpendidikan? Tentu tidak.

Baca juga: BTS ARMY: Perempuan Cuma Ingin Bebas Berekspresi

Ada Patriarki dalam Hujatan terhadap ARMY

Dari kacamata gender, respons negatif terhadap ARMY ini kelihatannya adalah manifestasi dari bias patriarkal bawah sadar yang dimiliki individu. ARMY selaku fandom dengan mayoritas anggotanya perempuan dihakimi secara sepihak tindak tanduknya. Jika kita menilik sejarah, histeria sendiri merupakan sebuah diksi yang menjadi peyoratif untuk menggambarkan kecacatan perempuan dalam dunia medis pada abad 19 dan awal abad 20. Histeria, atau lebih dikenal dengan female hysteria kemudian digunakan sebagai diagnosis medis untuk gangguan mental yang hanya dikaitkan kepada perempuan.

Sosiolog Inggris Valerie Walkerdine mengatakan, pembingkaian rasionalitas di dalam masyarakat patriarkal telah membuat perempuan dipandang kurang memiliki evaluasi rasional yang baik dibandingkan dengan laki-laki, sehingga respons mereka murni berdasarkan emosi saja. Tidak mengherankan jika emosional, halu, atau bodoh adalah label-label negatif yang disematkan masyarakat kepada perempuan.

Perbandingan lain yang menarik untuk dilihat adalah penelitian dari Tara Louise Few dari Universitas Manchester di Inggris, yang menunjukkan bahwa meskipun perempuan berada di dalam fandom yang didominasi laki-laki dan lekat dengan maskulinitas, mereka akan tetap diposisikan sebagai konsumen irasional dan secara mental tidak stabil.

Few bahkan menyatakan bahwa perempuan tidak dapat mencapai status setara dengan penggemar laki-laki walaupun mereka aktif menolak terlibat dalam segala hal yang berkaitan dengan feminitas, karena perempuan telah menempati posisi gender konsumen yang emosional dan kurang punya nalar kritis.

Baca juga: K-Popers juga WNI: Ketika Penggemar K-Pop Tolak Omnibus Law

Mengejar kolaborasi terbatas dan menyimpannya sebagai sebuah memorabilia adalah hal yang paling umum dilakukan oleh penggemar apa pun. Namun, insiden BTS Meal ini menyadarkan kita bahwa kita hidup dalam masyarakat yang sangat patriarkal, di mana antusiasme penggemar laki-laki yang mengejar promo terbatas dianggap bentuk dedikasi, sementara antusiasme penggemar perempuan dianggap sebagai sebuah penyimpangan sosial.

ARMY sebelumnya sudah dengan sangat sigap mengimbau sesama untuk tidak melakukan panic buying dan memberikan masukan kepada pihak McD untuk memperbaiki sistem pemesanan mereka. Tapi ini tidak dianggap oleh banyak orang akibat bias gender yang telah lama mengakar, sehingga mereka lebih mudah menghakimi tapi enggan mengkritik ketidakberesan sistem dari perusahaan-perusahaan besar ini.

Suka sama artikel kontributor di atas? Punya opini sendiri soal topik ini? Yuk, kirim tulisanmu ke Magdalene, bisa langsung submit di halaman ini.

Jasmine Floretta V.D. adalah seorang pencinta kucing garis keras. Sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan isu terkait peran ibu.