Women Lead Pendidikan Seks
February 05, 2018

Maria Magdalena Zaman 'Now'

Serangan terhadap oleh kelompok LGBT saat ini mirip dengan yang dialami Maria Magdalena seperti dikisahkan Alkitab.

by Christian Paskah Pardamean Situmorang
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Beberapa waktu lalu, saya menonton “Perempuan Berkalung Sorban”, sebuah film besutan Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel berjudul sama karya Abidah El-Khalieqy. Yang persis saya ingat dari film tersebut adalah adegan seorang perempuan yang dirajam karena kedapatan berbuat dosa. Widyawati, salah satu pemeran dalam film itu, tampil sebagai pembela.
 
Adegan itu persis sekali dengan apa yang terjadi terhadap Maria Magdalena. Perempuan ini adalah tokoh Alkitab yang muncul pada zaman Perjanjian Baru. Perempuan ini kedapatan berzina. Karena “kedapatan” inilah, seluruh masyarakat Yahudi merajam perempuan ini. Tiba-tiba, Yesus tampil sebagai pembela dengan membuat garis batas. Ia berkata, “Siapa yang merasa dirinya tidak berdosa, silakan lempari perempuan ini dengan batu!” Perkataan ini sontak membuat seluruh orang yang mengerumuni perempuan yang menurut mereka nista ini terdiam dan mundur satu per satu.
 
Orang-orang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) berada dalam posisi seperti ini, ketika agama seolah-olah menyalahkan mereka dan menunjuk seraya berkata, “Bertobatlah! Kembalilah kepada kodratmu! Jika tidak, kau akan masuk neraka!” Seolah-olah neraka akan memanggang habis seluruh amal baik mereka di bumi ini. Orang-orang ini tak ubahnya Maria Magdalena zaman sekarang, apalagi jika mereka dihadapkan dengan mereka yang anti-LGBT.
 
Melihat hal ini, saya teringat akan sebuah khotbah yang bertema “Menikah atau Melajang? Keduanya Adalah Karunia Tuhan.” Khotbah ini mencuri pikiran dan hati saya ketika saya paham bahwa pendeta yang memiliki latar belakang Sosiologi ini rupanya anti-LGBT dengan mengatakan di atas mimbar bahwa LGBT adalah sebuah dosa, yang secara tidak langsung menghina yang sudah terhina.
 
Jika kelompok LGBT diminta bertobat karena kodrat, pertanyaannya: apa itu kodrat? Kodrat adalah sesuatu yang digariskan, dan kodrat sendiri adalah bentukan manusia. Jika kodrat adalah bentukan manusia, apakah kita hidup untuk memuaskan keinginan manusia? Seorang bijak mengatakan bahwa kita hidup untuk Tuhan, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.




Sesungguhnya, suara Tuhan juga bisa disuarakan manusia. Namun, apakah Tuhan menghakimi? Apakah Tuhan memaksa? Apakah Tuhan membeda-bedakan? Manusia seolah-olah bertindak lebih dari Tuhan dengan mengotak-kotakkan sesamanya dan menghakimi manusia dengan perkataan, “Hei, kau tidak pantas berada bersama kami. Kami adalah makhluk paling sempurna. Kau bukan kumpulan kami!” Perkataan tersebut seolah-olah menjadikan salah satu dongeng Andersen paling kenamaan, Si Itik Buruk Rupa, menjelma dalam dunia nyata. Dari sinilah, perisakan dan perundungan dimulai.
 
Banyak orang menjadi hakim bagi sesamanya karena mereka salah mengerti pesan yang disampaikan Kitab Suci dengan baik sehingga agama berubah menjadi landasan dan tameng ampuh untuk menghakimi seseorang bahkan membuat seseorang menjadi tampak lebih nista. Mana fungsi agama yang seharusnya mengajarkan kebaikan dan menyebarkan perdamaian kepada seluruh umat manusia? Apa yang salah dalam kehidupan beragama umat manusia zaman now ini? Apakah kita terlalu mengagungkan dogma sehingga membuat diri kita merasa yang paling benar di antara yang salah? Di mana esensi “hidup adalah ibadah” jika dalam ibadah saja kita masih sibuk menghakimi dengan apa yang kita klaim sebagai “kebenaran” yang sebenarnya adalah “kepalsuan”?
 
Maka dari itu, ada beberapa hal yang harus di-viral-kan untuk menghindari fenomena yang saya sebut sebagai Maria Magdalena Zaman Now.
 
Pertama, sebagai manusia, jangan sibuk mengotak-kotakkan. Kalau kata Alkitab, “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3, Terjemahan Baru). Yang artinya, kurang-lebih, cermin tidak pernah berbohong. Cermin selalu menampilkan sesuatu yang apa adanya dan tak pernah munafik. Alangkah memalukannya kita mengotak-kotakkan orang-orang LGBT yang adalah sama-sama manusia dengan label penghuni neraka sementara kita punya dosa yang lebih besar, yaitu mengasingkan sesama. Lagi pula, urusan agama adalah urusan pribadi.
 
Kedua, jangan pernah memandang rendah orang lain. Apalah artinya derajat? Apakah derajat membedakan darah yang mengalir dalam diri manusia? Apakah karena derajat kita lebih tinggi sehingga kita bisa mengatakan bahwa warna darah yang mengalir di dalam tubuh kita berwarna emas? Tidak. Darah yang mengalir dalam tubuh manusia adalah sama-sama merah. Karena darah sama-sama merah, jangan sok berlagak emas. Ada suatu saat harga emas akan jatuh, bukan?
 
Ketiga, mari menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang sifatnya kerinduan, bukan seremonial belaka. Ini terkait dengan menanamkan apa yang dikatakan sebagai menaati perintah dan menjauhi larangan. Menjadi LGBT terlarang? Tidak, karena tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta adalah perasaan yang agung dan luhur sehingga agak gila rasanya jika kita menyalahkan kehadiran cinta dan memaksa sebuah perasaan yang agung dan luhur menjadi sesuatu yang sifatnya konformitas.
 
Ketiga hal tersebut memang tidak menjamin akan menghilangnya fenomena Maria Magdalena Zaman Now secara 100 persen. Namun, setidaknya, mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?
 
Christian Paskah Pardamean Situmorang adalah laki-laki berusia 22 tahun yang hobi sekali mencari apa yang terjadi di balik kekisruhan zaman now yang terjadi saat ini. Sodorkan dia Noraniza Idris, Ziana Zain, dan Liza Aziz maka dia akan berjingkrak disko.