Women Lead Pendidikan Seks
June 20, 2022

‘Ngeri-ngeri Sedap’ dan Film Batak yang Berusaha Lepas dari Jakartasentris

‘Ngeri-ngeri Sedap’ bukan cuma sukses bikin kantung air mata melompong, tapi juga mendobrak stereotip-stereotip ‘Batak’ ala kacamata Jakartasentris.

by Aulia Adam, Editor
Culture // Screen Raves
Review film ngeri ngeri sedap
Share:

Batak adalah salah satu suku paling populer di Indonesia. Secara statistik, ia populasi ketiga terbanyak menurut sensus terakhir. Sulit untuk menyebutnya minoritas, apalagi dengan fakta ada lebih dari 1.340 suku lain di Indonesia. Jadi nomor tiga penduduk terbanyak tentu saja bukan minoritas.

Namun, di layar perak dan layar lebar, rasanya sulit pula menyebut suku lain selain Jawa sebagai mayoritas.

Produksi tontonan kita, terutama sejak televisi masuk di zaman Orde Baru, terpusat di Jawa—lebih tepatnya Jakarta. Aturan sentralisasi Soeharto adalah dalang utamanya. Meski bersiaran secara nasional, berita dan media saat itu hanya melayani dari Jakarta secara khusus dan Jawa secara umum. Realitas ini ternyata langgeng sampai sekarang.

Penelitian Remotivi, Melipat Indonesia dalam Berita Televisi, 2014 lalu membuktikan hal tersebut. “Jabodetabek bukan lagi sekadar sebagai pusat pemerintahan atau industri televisi, tapi secara hegemonik dijadikan representasi paling absah dari Indonesia,” ungkap penelitian tersebut.

Bukan cuma di televisi, film-film yang diproduksi dan kita konsumsi juga selalu dibingkai pakai kacamata orang-orang Jakarta dan Jawa. Kalaupun ceritanya bukan tentang orang Jakarta dan Jawa, para pembuatnya atau distribusi produknya dilakukan pakai “cara pandang” Jakarta. Mulai dari tema film, siapa pemainnya, siapa pasarnya, siapa yang membikinnya, sampai bioskop mana yang akan dijangkau. Semua disesuaikan (secara sadar atau tidak) dengan kebutuhan Jakarta, sebagai pusat sentralisasi.

Itu sebabnya, meski orang Batak atau cerita-cerita mereka umum hadir di televisi atau film, caranya dikemas tak pernah betul-betul serupa dengan halak Batak asli Toba atau Sumatera Utara. Contohnya bisa dilihat di empat karakter Batak paling populer di khasanah tontonan Indonesia: Naga Bonar yang diperankan Deddy Mizwar (Naga Bonar, 1987), Indro dalam film Warkop DKI Saya Suka Kamu Punya (1987), Poltak yang diperankan Ruhut Sitompul (Gerhana, 1999-2003), atau Bang Tigor yang diperankan Sumaisy Djaitov Yanda (Suami-suami Takut Istri, 2007-2010). Meski mereka adalah representasi Batak paling terkenal di budaya populer Indonesia, dialek, intonasi bicara, sampai diksi yang digunakan masih terasa seperti gaya orang Batak yang diterjemahkan dari Jakarta. 

Baca juga: Menjadi Anak Perempuan dalam Keluarga Batak

Aktor-aktor Indonesia (tempahan Jakarta) sering kali cuma mengubah semua “e” dalam tiap kata yang diucapkannya jadi konsonan tebal, seperti pada kata “enak”. Atau selalu lupa mengganti “banget” jadi “kali”. Kadang-kadang kebingungan berbahasa begitu masuk akal belaka. Misalnya, seperti yang terjadi pada Poltak si Raja Minyak dari Medan dalam Gerhana atau Bang Tigor dari Suami-suami Takut Istri. Karakter mereka yang sudah tinggal di Jakarta mungkin-mungkin saja juga melakukan adaptasi berbahasa.

Hal-hal begini tentu saja hanya akan disadari penonton yang memiliki kultur tersebut, tinggal di Sumatera Utara (Sumut), atau setidaknya dekat dengan budaya Batak.

Sayangnya, detail-detail kecil begini bukan perhatian para pembuat film kita. Film-film Batak yang diproduksi Jakarta terutama setelah Reformasi, era ketika membuat film sudah lebih “bebas”, juga masih amat stereotipikal dalam menggambarkan karakter-karakter Batak atau bahkan kultur Batak sendiri.

Ngeri-ngeri Sedap, film kedua garapan sutradara Bene Dion Rajagukguk jadi tontonan segar karena memperhatikan aspek ini.

Buat saya yang lahir dan besar di Sumut dan setengah Batak Karo (yang dalam sensus 2010 dimasukkan dalam etnis Batak, meski sebetulnya perlu satu tulisan komprehensif sendiri tentang perbedaan Karo dan Batak), sangat amat terhibur dengan pilihan Bene memakai dialek dan aksen asli Sumut. 

Memang masih ada kata “banget” yang lupa diganti jadi “kali” (oleh salah satu bapak di lapo alias bukan pemeran utama) atau beberapa penekanan kata yang meleset dari Tika Panggabean yang berperan jadi Mak Domu, tapi saya berani bertaruh, tak pernah menonton representasi cakap-cakap orang Sumut yang lebih akurat dari yang ditampilkan Bene di Ngeri-ngeri Sedap.

Efeknya tak main-main, cerita dan karakter-karakter dalam film ini jadi terlihat jujur dan terasa makin dekat dengan realitas. Sehingga tak susah bikin jatuh hati pada mereka, bahkan mengerti motif dan motivasinya.

Dampak lebih luasnya, Bene berhasil menampilkan karakter Batak yang tidak karikatur atau komikal—seperti yang dilakukan film-film Batak produksi Jakarta lainnya.

Baca juga: Perempuan Toba yang Kuat

Ngeri-ngeri Sedap Bermain-main dengan Stereotip dan Stigma

Penggunaan stereotip dalam penulisan naskah film adalah praktik umum yang dilakukan penulis skrip film. Bukan cuma di Indonesia, tapi juga di Hollywood, tempat roda ekonomi perfilman terbesar dunia berputar. Biasanya stereotip-stereotip ini mereka gunakan ketika membangun sebuah karakter.

Di Hollywood, banyak stereotip dalam film dibangun atas kolonialisme. Itu sebabnya, kebanyakan film yang mereka produksi berpusat pada karakter-karakter kulit putih, yang akhirnya berdampak buruk buat ras lain. Contohnya, peran-peran karakter kulit hitam yang digambarkan jadi pembantu, penjahat, atau bahkan sahabat, tapi hanya satu dimensi. Atau peran-peran orang Muslim yang sering digambarkan percaya tahayul, keras hati, dan misoginis.

Di Indonesia sendiri, stereotip dalam film sering kali tercipta dari bias Jakartasentris. Terutama dalam memandang daerah lain selain Jakarta dan Jawa. Misalnya, peran-peran orang Indonesia Timur sering kali hanya jadi karakter pembantu, penjahat, atau komedi. Atau karakter-karakter orang Medan, Batak, atau berasal dari Sumut selalu digambarkan keras dan kasar.

Belakangan, dalam ilmu storytelling, penggunaan karakter-karakter yang stereotipikal mulai dikritik dan dihindari. Namun, kritik-kritik begini lebih populer buat penonton film-film Hollywood. Kritik serupa terhadap film Indonesia memang ada, tapi tampaknya belum jadi perhatian utama pembuat film kita.

Bene Dion termasuk salah sutradara dan penulis naskah, yang tampaknya punya perhatian khusus pada kritik ini.

Ngeri-ngeri Sedap memang dibangun dari tropes orang Batak yang umum hadir di film-film Batak. Misalnya, peran bapak yang keras, berwatak otoriter, dan berseteru dengan anaknya (biasanya anak laki-laki) hadir dalam karakter Pak Domu (Arswendy Bening Nasution). Sikap “pantang tak dituruti”-nya dipakai Bene bukan cuma jadi tempelan stereotipikal,  tapi juga  sumber konflik sekaligus penggerak cerita.

Tropes begini juga ada di Toba Dreams (2015) atau Horas Amang: Tiga Bulan untuk Selamanya (2019). Umumnya, sikap bapak yang tegas dan keras pada anaknya dirasionalisasi sebagai sesuatu wajar yang hadir pada seorang ayah. Seolah-olah untuk memerankan bapak, terutama bapak dalam keluarga Batak, tegas dan keras adalah kewajiban. Hal itu tergambar di karakter Amang (Cok Simbara) dalam Horas Amang.

Bedanya, dalam Ngeri-ngeri Sedap, Bene juga memberi solusi yang relatif baru untuk karakter Pak Domu. Lewat sisipan-sisipan detail kecil, kita tahu bahwa dorongan bersikap tegas dan keras itu hadir dari keterbatasannya memahami peran ayah yang baik. Gengsi dan sifat maskulin Pak Domu ditelanjangi Bene dalam satu adegan emosional dan rapuh, ketika karakter itu harus pulang kembali ke rumah Emaknya, untuk meminta saran jadi ayah yang baik.

Selain mengotak-atik stereotip pada tropes Batak yang pernah ada, keunggulan lain Bene adalah mendobrak plot “adat versus modernitas” yang selama ini juga jadi template dalam film-film Batak.

Baca juga: Janda Batak, Kau Tak Kehilangan Kepala

Kecuali Naga Bonar versi 1987 yang mengambil tema revolusi, film-film Batak yang ada di Indonesia selalu bercerita tentang pergulatan anak perantau dengan orang tua mereka di kampung. Selain Toba Dreams (2015) dan Horas Amang: Tiga Bulan untuk Selamanya (2019), ada Demi Ucok (2013), Mursala (2013), Lamaran (2015), dan Pariban (2019) yang punya plot ini dalam ceritanya.

Pertentangan budaya dan modernitas ini biasanya digambarkan dengan perseteruan dua generasi (orang tua dan anak). Namun, dalam Ngeri-ngeri Sedap, pertentangan itu ditarik ke lingkup paling personal: yaitu, keluarga.

Dalam judul-judul lain di atas, keputusan anak untuk menjauh atau berseteru dengan orang tuanya bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Terutama hal-hal ekstrinsik dari tubuh mereka, seperti keinginan sukses di kota besar, pernikahan beda etnis, atau masalah finansial. Meski semua konflik itu juga ada di Ngeri-ngeri Sedap, naskah Bene tetap berasa lebih unggul, karena menarik semua konflik itu ke akar yang selama ini jarang tertangkap pembuat film lainnya genre ini: yaitu, kerapuhan sang ayah.

Mungkin, jitunya naskah Bene mengobrak-abrik stereotip dan plot template ini karena isunya yang memang personal buat dirinya.

Aulia Adam adalah penulis, editor, produser yang terlibat jurnalisme sejak 2013. Ia menggemari pemikiran Ursula Kroeber Le Guin, Angela Davis, Zoe Baker, dan Intan Paramadhita.