Women Lead Pendidikan Seks
October 14, 2022

Review ‘She-Hulk: Attorney at Law’: Narasi Perempuan yang Menemukan Rumahnya

She-Hulk: Attorney at Law tawarkan narasi perempuan yang begitu kental dengan bumbu humor yang menggelitik.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Review She Hulk
Share:

Peringatan: Major spoiler!

Perhatian untuk kamu yang akan membaca ulasan ini. Sebelumnya, aku ingin ngasih pemberitahuan terlebih dahulu. Ulasan yang akan kutulis ini akan lebih personal dibanding ulasan-ulasanku sebelumnya. Bahkan bisa dibilang cukup nyeleneh. Ya, hitung-hitung menyeimbangkan serial She Hulk: Attorney at Law yang juga nyeleneh. Jadi aku minta kamu untuk bersabar dan ya kalau tak setuju dengan pendapatku soal serial ini, hit my DM atau tulis ulasanmu sendiri ya. We’ll discuss it later! But for now, here it is my review.

Buat penggemar berat Marvel Cinematic Universe (MCU), hari perilisan She Hulk: Attorney at Law memang sudah kutunggu-tunggu. Awalnya sih alasanku menunggu serial ini sederhana. Akhirnya serial superhero perempuan ada lagi.

Kamu yang mengikuti genre superhero pasti paham kalau masih sedikit sekali superhero perempuan yang punya stand-alone movie or series. Apalagi yang semua kursi utama produksinya dipegang langsung oleh perempuan. Mulai dari sutradara, produser, penulis naskah, hingga art director yang semuanya diisi perempuan.

Jujur saja aku kepo. Bagaimana serial ini dieksekusi dengan mayoritas perempuan yang memegang kendali narasinya? Rasa kepoku ini pun terbayarkan bahkan dari episode pilot series ini. She-Hulk memang sedari awal diorbitkan akan jadi serial komedi legal—sebutan untuk drama komedi yang berpusat pada cerita-cerita di pengadilan atau hukum. Banyak orang menyangka genre ini akan bikin She Hulk: Attorney at Law jadi serial yang terlalu serius dan garing.

Ternyata, porsi komedinya lebih besar, tanpa menghilangkan sindiran-sindiran sosial yang mengkritik masyarakat patriarkal (ini nanti akan aku bahas sendiri di bagian selanjutnya, sabar ya).

Dengan formula ini, dibandingkan dengan serial MCU lain, She Hulk: Attorney at Law bisa dibilang sangat ringan untuk diikuti. Tidak perlu terlalu memakai otak dan butuh mood khusus untuk menontonnya. Kamu bisa langsung menontonnya sambil leha-leha selepas kerja. 

Akan tetapi, di balik formulanya yang memang didesain jadi tontonan ringan, She Hulk: Attorney at Law dengan cerdik menyelipkan banyak kejutan dan pesan penting. Pesan tentang refleksi kehidupan dan masyarakat yang kita tinggali.

Baca Juga:   3 Catatan Penting dari Film Kekerasan Seksual ‘Cyber Hell’

Narasi Perempuan yang Temukan Rumahnya

Suatu karya yang diproduksi oleh mayoritas perempuan (yang punya sensitivitas gender) pasti akan menghasilkan produk yang bisa mengakomodir pengalaman kolektif perempuan. Pengalaman unik dengan segala beban dan diskriminasi gender yang dialami perempuan di masyarakat patriarki. Hal ini terlihat jelas di She Hulk: Attorney at Law, bahkan sejak episode pilotnya, yang tayang 18 Agustus lalu.

Sejak episode pertama penonton diajak untuk mengetahui pergulatan perempuan tiap harinya lewat protagonis utamanya, Jennifer Walters atau biasa dipanggil Jen. Di kantor misalnya, Jen punya kolega yang ngeselin, Dennis Bukowski. Bukowski ini tipe laki-laki yang merasa dirinya lebih hebat dan pintar dari perempuan—sounds familiar, right?

Enggak heran dia gemar mansplaining. Suka nyerobot penjelasan Jen, mengklaim ide Jen sebagai idenya, dan tentunya suka sekali meremehkan kemampuan Jen sebagai pengacara andal. Tapi, sebagai perempuan di masyarakat patriarkal, Jen memutuskan untuk bersabar dan cuma bisa misuh-misuh di depan teman perempuannya, Nikki Ramos.

Selain lewat karakter Bukowski, kentalnya narasi perempuan dalam serial ini terlihat juga dari transformasi Jen menjadi She-Hulk untuk pertama kalinya. Dalam sebuah kecelakaan, dia jadi terpapar darah sepupunya, Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang membuat Jen jadi Hulk.

Sumber: IMDB

Berbeda dengan Bruce yang harus bertahun-tahun menguasai teknik mengendalikan diri sendiri, Jen ternyata sama sekali tak kesulitan mengontrol dirinya sendiri yang saat bertransformasi jadi Hulk.

Ia bahkan bisa dengan mudah bolak-balik jadi Jen lalu She-Hulk, lalu Jen lagi, tanpa perlu hilang kesadaran—seperti yang dialami Bruce ketika pertama kali jadi Hulk. Bruce bingung, dan sempat kesal sendiri. Sementara Jen sudah punya jawabannya.

“I am great at controlling. I do it all the time.When I’m catcalled in the street. When incompetent men explain my own area of expertise to me. I do it very much every day, because if I don’t. I will get called emotional, or difficult, or might just literally get murdered,” kata Jen dalam salah satu episode.

Kata-kata Jen ini memang beresonansi sekali dengan perempuan. Bayangkan saja sudah berapa banyak perempuan yang dibungkam suaranya di kantor mereka sendiri. Berapa banyak perempuan yang justru direviktimisasi ketika mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, karena dianggap lebay atau mengada-ada atas pengalaman yang mereka alami. Dan sudah berapa banyak saja perempuan yang secara harfiah dibunuh karena berusaha membela dirinya sendiri dari laki-laki yang merasa punya hak kuasa atas mereka?

Pengalaman kolektif perempuan inilah yang secara terus-menerus dieksplorasi dalam She-Hulk. Bahkan pada dua episode terakhir, kita disuguhkan adegan yang memilukan hati. Adegan yang merefleksikan cara masyarakat ini memperlakukan perempuan secara tidak adil. Kita akan melihat Jen terus-terusan di-gaslight, sampai akhirnya ia meledak.

Pertama, dalam sebuah perhelatan pengacara bergengsi, Jen diundang sebagai salah satu nominasi Pengacara Terbaik. Saat pemenang diumumkan, semua perempuan yang masuk kategori itu dipanggil sebagai pemenang. Jen sempat merasa aneh karena laki-laki tidak diperlakukan seperti itu.

Di adegan selanjutnya, saat She-Hulk sedang memberi pidato, ia disela oleh video intim yang diretas Intelligencia dari ponselnya. Video itu ditonton beramai-ramai oleh semua hadirin dan media yang meliput gala tersebut.

Intelligencia sendiri adalah situs haters She-Hulk yang informasinya sudah muncul di beberapa episode sebelumnya. Mereka ternyata dikelola secara anonim oleh laki-laki seksis-misoginis yang jadi troll di internet, mengkritisi eksistensi She-Hulk.

Melihat malam yang ia impikan seumur hidup dirusak sebegitu hebatnya, Jen pun marah. Namun, apa reaksi yang ia dapat? Ia justru dilihat sebagai monster yang tak bisa mengendalikan emosi dan jadi ancaman masyarakat. Para aparat datang dan langsung menodongnya dengan senjata.

Sumber: IMDB

Perilaku masyarakat dan aparat penegak hukum inilah jadi ironi. Pasalnya, bahkan ketika perempuan mengalami kekerasan atau pelecehan seksual mereka tetap harus bisa menjaga sikap mereka—harus bersikap elegan dan tak boleh mengamuk, marah. Because a true lady wouldn’t act that way even though they’re being abused.

Subplot tentang penyebaran video intim tanpa consent ini jadi pengingat kita tentang Kekerasan Berbasis Gender Online yang masih sering mengancam perempuan, dan kebanyakan dilakukan laki-laki untuk mempermalukan dan mengintimidasi perempuan.

Baca Juga:  4 Rekomendasi Film India yang Urai Patriarki dengan Gamblang

Eksplorasi Cara Baru Bernarasi dan Penerimaan Diri

Enggak hanya bisa memberikan rumah pada narasi perempuan, menurutku serial ini berhasil mengambil hati banyak penonton karena caranya mengeksplorasi perjuangan manusia untuk bisa menerima diri.

Dibandingkan memakai narasi jargonis yang ndakik-ndakik, She-Hulk: Attorney at Law berusaha menyampaikan isu ini secara ringan, tapi mengena. Caranya adalah melalui perjalanan Jen dalam memahami dan menerima identitas barunya sebagai She-Hulk.

Sebagai seseorang yang tak pernah meminta dirinya mendapatkan kekuatan super dan jadi atensi publik, Jen tentunya mengalami fase krisis identitas diri. Sebagai Jennifer Walters, ia hanya dikenal sebagai pengacara yang membosankan. No one bats an eye for her. Tapi ketika dia jadi She-Hulk, setiap orang berebut atensinya.  

Dengan persona She-Hulk, Jen bisa meraih dan melakukan apa pun yang tak bisa digapai atau dilakukan seorang Jennifer Walters. Mulai dari bisa jadi kepala divisi hukum di kantor konsultan hukum ternama, diwawancarai media, diundang ke gala, sampai bertemu dengan banyak laki-laki yang ingin berkenalan dengan dirinya di aplikasi kencan.

Segala kemudahan yang Jen alami sebagai She-Hulk inilah yang membuat dia mulai mempertanyakan identitas dirinya sendiri. Ia seperti terperangkap dalam dua dunia berbeda dan Jen pun jadi bergulat dengan rasa percaya dirinya. Jen ingin memaki dunia yang terlalu mengelu-elukan She-Hulk, tapi bukan dirinya. Ia merasa sebagai Jen, ia tak berhak untuk bahagia dan merasa berharga. Ia pengin memutar waktu saja dan tak miliki kekuatan super ini.

Sampai akhirnya, berkat teman-teman superhero lain dan pertemuannya bersama Daredevil, Jen paham bahwa She-Hulk dan Jennifer Walters adalah satu kesatuan. Ia jadi sadar menjadi She-Hulk sudah jadi takdirnya, dan tak ada yang bisa diubah lagi, kecuali mencoba menerima fakta itu. She can be both Jen and She-Hulk yet still badass!

Ia tetap bisa memanfaatkan kecerdasan dan skill-nya sebagai pengacara lewat persona Jennifer Walters. Di satu sisi dia bisa memanfaatkan kekuatannya sebagai She-Hulk untuk melakukan hal yang diperlukan di saat hukum tak bisa berfungsi. Lewat dua kombinasi inilah Jen akhirnya sadar, personanya sebagai Jen dan She-Hulk sebenarnya tak bisa dipisahkan. Baik saat jadi Jen atau She-Hulk dia tetap orang yang sama.

Selain mengeksplorasi isu penerimaan diri, ada dua hal unik yang tentu disadari penonton sedari awal di serial ini. She-Hulk lekat sekali dengan konsep Breaking the Fourth Wall dan suka sekali menjadikan asli reaksi warganet sebagai guyonan.

Pertama, lewat konsep Breaking the Fourth Wall—memecah tembok keempat, Jen sering kali ditampilkan sedang bermonolog sambil menatap kamera, langsung ke penonton.

Tak hanya bikin penonton jadi lebih dekat dengan karakter Jen, konsep Breaking the Fourth Wall yang dipakai dalam serial ini juga berhasil tawarkan alternatif storytelling baru. Teknik ini belakangan memang jadi tren yang dipakai dalam drama komedi dengan karakter utama perempuan. Beberapa kritikus dan akademisi kritik film membaca fenomena ini muncul dengan semangat mendobrak konsep male gaze yang membangun industri film selama ini. Salah satu contoh romcom yang paling berhasil adalah Fleabag.

Di episode terakhir She-Hulk: Attorney at Law, Jen bahkan bisa mengganti ending serialnya sendiri. Dia keluar dari dunianya, masuk ke studio Marvel untuk berbincang dengan penulis dan K.EV.I.N yang bertanggung jawab atas jalan cerita serialnya.

Terakhir, seperti yang sudah kutulis di awal ulasan ini, keunikan serial She-Hulk: Attorney at Law adalah komedinya yang sarkastik. Komedi yang diramu langsung dari reaksi para warganet maharewel. Misalnya saja nih, dalam satu adegan kemunculan perdana Jen sebagai She-Hulk di publik, penonton diberikan beberapa reaksi warganet tentang She-Hulk.

Why everything gotta be female now???

Why are you turning every superhero into a girl. No one asked for that!

So we have #MeToo movement and all the male heroes are gone???

Komentar-komentar di atas ini beneran ditulis lho oleh warganet yang “kebetulan” mayoritasnya adalah laki-laki kulit putih. Dilansir dari IGN Southeast Asia, komentar-komentar asli warganet ini diambil pada 2019, saat serial She Hulk: Attorney at Law pertama kali diumumkan akan diproduksi.

Baca Juga:  Ms. Marvel: Petualangan Superhero Baru MCU dari Pakistan

Melihat bagaimana laki-laki kepanasan dengan kemunculan superhero perempuan, para perempuan di balik She-Hulk bisa kukatakan sangat cerdik membalikkan hujatan yang ada jadi sebuah karya sarkastik. And it really works! Adegan itu bikin banyak orang terutama perempuan tertawa terpingkal-pingkal, enggak terkecuali aku sendiri.

Kapan lagi coba kamu bisa nonton serial superhero tapi sangat relatable dengan keadaan kamu? Serial ini enggak akan bikin kamu gloomy tapi buat kamu jadi tau, walau dengan segala beban dan diskriminasi gender yang kamu alami sebagai perempuan, kamu punya teman-teman puan lain yang punya pengalaman yang sama. Kamu enggak sendiri, makanya kamu bisa saling gandeng tangan dan ngelawan.

Ingat. Layaknya Jen, kamu itu berharga. Kamu berhak bahagia dan kamu berhak diperlakukan setara. You’re worthy girl! Don’t let men tell you the otherwise.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.