Women Lead Pendidikan Seks
May 31, 2022

‘Stranger Things 4 Vol. 1’: Eksplorasi ‘Satanic Panic’ dan Trauma Amerika 80-an

Stranger Things 4 Vol. 1 membawa penontonnya dalam kegelapan satanic panic yang melanda Amerika tahun 80-an dengan benang merah eksplorasi trauma karakternya

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Ulasan indonesia Stranger Things Season 4
Share:

Tiga tahun setelah episode terakhir musim ketiganya, Stranger Things resmi kembali mengudara pada 27 Mei lalu. Sebagai salah satu serial Netflix terpopuler, tentu comeback serial ini dinantikan banyak orang.

Banyak yang berharap The Duffer Brothers—sang kreator sekaligus eksekutif produser—akan menjawab banyak sekali plot holes yang tidak terjawab di tiga musim sebelumnya. Mulai dari bagaimana Jim Hopper bisa secara ajaib selamat dari ledakan maut, hingga masa lalu Eleven (Millie Bobby Brown) di Hawkins National Laboratory yang masih kabur dan penuh tanda tanya.

Untungnya, plot holes ini secara perlahan diungkap lewat tujuh episode dalam Volume I, yang kurang lebih berdurasi 9 jam ini. Musim 4 sendiri akan dilanjutkan Volume 2, yang akan tayang Juli mendatang.

Berbagai karakter baru pun muncul, mulai dari Eddie Munson (Joseph Quinn), Chrissy Cunningham (Grace Van Dien), Jason Carver (Mason Dye), hingga Henry Creel (Jamie Campbell Bower). Mereka adalah karakter kunci dalam membangun semesta Stranger Things 4 Vol.1 dan membuatnya menjadi lebih kompleks dan menegangkan.

Selain kedatangan berbagai karakter-karakter baru, berbeda dari tiga musim sebelumnya, Stranger Things 4 Vol.1 bisa dikatakan lebih membawa nuansa horor yang begitu kelam. Dengan karakter-karakter utama yang sudah beranjak dewasa, The Duffer Brothers tampaknya fokus mengeksplorasi perjalanan pendewasaan sekaligus trauma mereka yang sudah terbentuk di tiga musim sebelumnya. Plot itu lalu dijahit dengan kehadiran Vecna, penjahat utama musim ini, yang tertarik dengan trauma manusia.

Baca juga: Film Horor Feminis ‘RONG’ Ingin Hantu Perempuan Menang

Proses Pendewasaan yang Menyakitkan

Dear Billy menjadi episode Stranger Things 4 Vol.1 yang paling dibicarakan para penonton di media sosial dan kerap menduduki Hot Topics di Twitter. Dikutip dari akun @PopCrave, lagu Running Up That Hill (A Deal With God) yang dinyanyikan oleh Kate Bush misalnya menduduki peringkat 1 di iTunes Amerika dan lompat ke peringkat 13 Spotify Global dengan total 2.791 juta streams setelah muncul dalam episode Dear Billy.

Kepopuleran episode ini tak lepas dari usaha The Duffer Brothers dalam membawakan isu trauma. Tema ini jadi bensin Stranger Things 4 Vol.1 dalam membangun keseluruhan narasinya.

Trauma dieksplorasi dalam Stranger Things 4 Vol.1 lewat karakter-karakternya dengan manifestasi yang sama. Ia termanifestasi dari fragmen-fragmen kenangan tak menyenangkan yang tercipta selama proses mereka tumbuh menuju dewasa. Layaknya banyak manusia, mereka berusaha mengubur fragmen-fragmen ini jauh di dalam dirinya. Memperlakukannya sebagai luka goresan kecil semata, yang dianggap bisa sembuh hanya dengan plester luka.

Dalam kisah Max Mayfield, Nancy Wheeler, dan Fred Benson misalnya, luka ini timbul dari survivor guilt yang dialami karena kematian saudara kandung dan sahabat mereka. Dalam kisah Chrissy dan Eleven, luka ini timbul dari perilaku abusive orang tua mereka. Tiap-tiap dari mereka menjalani kehidupannya seperti biasa. Membangun tembok pada diri agar orang lain tak mampu mengendus luka yang berusaha mereka tutupi dan tak jarang memasang senyum untuk mengelabui orang lain.

Namun, mereka tak sadar kalau menyembunyikan sakit itu tidak sama dengan usaha menyembuhkan lukanya. Mereka tak sadar kalau mengubur trauma hanya memperburuk keadaan. Luka ini menggerogoti mereka perlahan dan menimbulkan mimpi buruk yang berulang setiap malam. Untuk Eleven dan Max, cara mereka mengubur luka malah bikin kesulitan menavigasikan diri dengan kehidupan mereka sebagai remaja.

Orang dewasa yang seharusnya bisa menjadi support system yang baik bagi para remaja ini, pun malah sering absen menggenapi peran itu.

Sekawanan remaja ini harus berjibaku sendiri menghadapi luka mereka, yang dalam metafora Stranger Things 4 Vol.1 salah satunya terbentuk lewat sosok Vecna. 

Ia menyerang remaja yang tengah menutup lukanya karena menghadapi krisis diri, rasa bersalah, penelantaran, dan kekerasan dari keluarga. Vecna adalah wujud depresi yang sayangnya orang-orang dewasa lawan dengan kepanikan moral.

Baca juga: Seminggu Nonton Film Horor Asia: Makin Yakin Hantu Barat Enggak Mutu

Kepanikan Moral dalam Wujud Satanic Panic

Stranger Things 4 Vol.1 menyajikan kedalaman cerita dengan nuansa yang begitu lekat dengan kondisi sosial budaya di Amerika 80-an. Kendati Amerika sedang mengalami masa pertumbuhan ekonomi yang pesat, tidak dapat dimungkiri era ini juga diliputi oleh kegelisahan dan ketakutan.

Tahun 80-an penuh dengan penyebaran misinformasi tentang AIDS dan berbagai berita menakutkan tentang pembunuhan. Tahun 70-an hingga 80-an adalah “masa emas” pembunuh berantai. Ted Bundy, Jeffrey Dahmer, Richard Ramirez, David Berkowitz misalnya, adalah nama-nama pembunuh berantai yang melegenda di era ini. Mereka dipatri dalam sejarah manusia sebagai nama-nama pembunuh berdarah dingin.

Kegelisahan dan kecemasan ini semakin meningkatkan kewaspadaan orang Amerika yang kemudian berubah menjadi paranoia ketika melihat orang asing. Mereka juga jadi lebih waspada dengan kejahatan, yang dipotret media selalu mengintai setiap orang terutama anak-anak, remaja, dan perempuan. Ada dorongan yang kuat pada orang Amerika saat itu untuk melindungi keluarga nuklirnya dari marabahaya.

Dilansir dari media Vox, fundamentalisme Kristen dan kepercayaan literal pada malaikat dan iblis pada akhirnya mengalami kebangkitannya. Penceramah fundamentalis seperti Jerry Falwell dan Moral Majority-nya (organisasi politik Amerika yang terkait dengan hak Kristen dan Partai Republik) yang didirikan pada 1979 menjadi terkenal di seluruh Amerika dan meneruskan gaya kekristenan yang menyebarkan amarah dan ketakutan sebagai pondasinya.

Berbagai gerakan anti-okultisme atau sekte agama pada gilirannya mulai bermunculan. Sosok seperti Pat Pulling, yang percaya putranya bunuh diri karena kutukan permainan Dungeons and Dragons, adalah salah satunya. Pulling popular kala itu karena mendirikan kelompok advokasi publik bernama Bothered About Dungeons & Dragons (B.A.D.D.) pada tahun 1985.

Dalam penelitian Role-Playing Games and the Christian Right: Community Formation in Response to a Moral Panic (2005), David Waldron menyebut Pulling, melalui kelompok tersebut menyebarkan informasi tentang keyakinannya bahwa D&D mendorong pemujaan setan dan bunuh diri. 

B.A.D.D. menggambarkan D&D sebagai permainan fantasi yang menggunakan demonologi, sihir, voodoo, pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri, penyimpangan seks, homoseksualitas, pelacuran, jenis ritual setan, perjudian, barbarisme, kanibalisme, sadisme, pemanggilan setan, necromantics ( bentuk sihir yang melibatkan komunikasi dengan orang yang sudah meninggal),dan ajaran lainnya.

B.A.D.D. pada masanya sukses menyebarluaskan pandangannya di media, baik melalui properti media Kristen konservatif maupun outlet arus utama. Keberhasilan ini sayangnya juga tak terlepas dari memoar Michelle Remembers yang jadi buku terlaris di Amerika Serikat, 1980. Dilansir dari Collider, buku yang ditulis psikolog Lawrence Pazder ini mengupas pasiennya (yang berakhir jadi istrinya) Michelle Smith, korban anak dari kultus setan.

Baca juga: ‘Umma’, Kombinasi Horor dan Trauma yang Gagal Memikat Saya

Kendati berulang kali klaim ini dibantah karena tidak memiliki bukti yang kuat, berkat perhatian media, kepanikan moral ini pun tersebar luas. Belakangan, ia dikenal luas dengan nama Satanic Panic. 

Kepanikan ini membuat Pazder dan Smith dipandang sebagai sebagai ahli di bidang Satanic Ritual Abuse (SRA) dan buku mereka dijadikan panduan profesional hukum dan otoritas lainnya.

Banyak orang ditangkapi atau dipersekusi, jika dianggap punya hubungan erat dengan kultus. Fenomena ini terjadi sampai sekitar awal 90-an. Salah satu kasus paling populer adalah penangkapan tiga remaja di Memphis Barat, Arkansas pada 1993. Mereka dituduh dan dihukum belasan tahun karena kekerasan seksual dan pembunuhan berdasarkan desas-desus seputar gaya hidup gotik mereka dan desas-desus mereka menyembah setan. Meskipun tak ada satu pun bukti fisik yang mengindikasikan demikian.

Hal inilah yang jelas-jelas berusaha digambarkan secara gamblang dalam Stranger Things 4 Vol.1. Melalui Hellfire Club yang diisi oleh remaja yang gemar bermain D&D, Stranger Things 4 Vol.1 mengelaborasi satanic panic yang dialami warga Hawkins ketika serangkaian pembunuhan oleh Vecna terjadi.

Polisi yang kesulitan memecahkan kasus ini membuat warga Hawkins panik dan marah. Mereka berusaha merasionalisasi pembunuhan berantai ini dengan keyakinan atas adanya praktik SRA di Hawkins.

Dengan membawa-bawa ajaran agama Kristen, Jason yang ketika itu kehilangan Chrissy pun mengompori para orang tua yang tengah diliputi ketakutan. Dengan insting ingin melindungi keluarga nuklirnya, orang tua pun menelan mentah-mentah cerita Jason tentang Eddie, si pentolan Hellfire yang ia ungkap menjalankan praktik kultus setannya. Eddie pun menjadi target perburuan massal warga Hawkins yang didorong oleh satanic panic.

Stranger Things 4 Vol.1, dalam hal ini telah memasuki babak barunya. Ia telah bertransformasi dari serial remaja retro yang ringan menjadi serial yang cukup “berat” bahkan untuk penonton dewasanya.

Serial ini menandakan proses pendewasaan melalui trauma dan satanic panic untuk menambah kekentalan nuansa horor dalam narasinya. Stranger Things 4 Vol.1 tak hanya menghibur penontonnya, tapi juga menjadi medium untuk belajar tentang sisi gelap manusia dalam kompleksitasnya memahami luka dan kejadian di luar nalar mereka.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.