Women Lead Pendidikan Seks
February 05, 2021

‘Tribhanga’: Pemberontakan Perempuan dan Hubungan Ibu-Anak yang Rusak

Film India Tribhanga membahas dinamika hubungan ibu dan anak perempuannya, serta isu kekerasan dan peran tradisional perempuan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Culture // Screen Raves
Share:

Pembuat film India banyak mengangkat isu sosial dalam masyarakat negaranya, yang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia, salah satunya terkait opresi terhadap perempuan.

Contoh terbaru adalah Tribhanga: Tedhi, Medhi, Crazy, film India keluaran Netflix yang dirilis pada pertengahan Januari 2021. Isu sosial dalam film ini dipotret dengan apik dan mendapatkan reaksi positif penonton, seperti terlihat di Rotten Tomatoes, dengan rating yang mencapai 86 persen.

Dibungkus dengan plot mengenai relasi buruk antara ibu dan putrinya, film berdurasi 95 menit ini memasukkan isu kekerasan seksual, bunuh diri, serta normativitas di masyarakat soal bagaimana seharusnya perempuan bersikap.

Tribhanga, yang dibintangi aktris papan atas Kajol bersama Tanvi Azmi dan Mithila, mengisahkan hubungan seorang penulis sastra ternama, Nayan, dengan putrinya, Anu, seorang penari Odissi. Seiring dengan itu, digambarkan pula hubungan antara Anu dan putrinya, Masha, yang sangat berbeda karakter dengan dia.

Judul film sendiri diambil dari salah satu pose dalam Odissi, sebuah tarian klasik India. Anu mengibaratkan sosok dirinya, Nayan, dan Masha seperti pose-pose dalam tarian tersebut. Nayan adalah abhang, pose sedikit miring atau tak seimbang, sedangkan Masha ibarat samabhang, yakni pose yang sepenuhnya seimbang. Sementara dirinya sendiri disebutnya seperti tribhanga, yakni pose dengan tiga lekukan pada tubuh yang membentuk huruf S.

Hubungan Ibu-Anak Perempuan Tiga Generasi

Sejak lama Anu membenci ibunya sendiri sampai ia tidak sudi memanggilnya “ibu”. Kebencian itu dipicu beragam trauma dan luka masa lalu seperti perceraian orang tuanya, pelecehan seksual saat Anu remaja oleh bapak tirinya, serta sikap Nayan yang dirasa tidak memihak kepadanya saat Anu menjadi korban kekerasan domestik.

Baca juga: Film India ‘Begum Jaan’ Gambarkan Paradoks Batasan sebagai Kebebasan Perempuan

Saat Nayan jatuh koma, cerita mengenai hal-hal tak terselesaikan dalam hubungan ibu dan anak itu terkuak dari perbincangan Anu dengan Milan, seorang pria kenalan Nayan. Berbagai cerita dari kaca mata Nayan yang Milan sampaikan perlahan melunakkan Anu.

Di sisi lain, berbeda dengan hubungan Anu-Nayan, relasi Anu-Masha sangat dekat dan hangat. Masha bahkan terlihat terus mendampingi ibunya, entah saat hendak tampil di panggung atau ketika menemani Nayan di rumah sakit.

Karakter Masha digambarkan jauh lebih kalem, ramah, dan menjalani “hidup normal”, sementara Anu adalah perempuan yang kerap memberontak berbagai norma di masyarakat India, mulai dari soal menjadi perempuan yang baik sampai soal bersikap sebagai anak.

Namun, Marsha pun rupanya memendam masalah sendiri tentang ibunya. Ketika sang ibu berani melawan dunia yang mengharapkannya untuk manut sebagai perempuan, Masha kesulitan melakukan hal yang sama. Terlebih saat harus berhubungan dengan masyarakat sekitar dan keluarga suaminya yang sangat normatif.

Perempuan-perempuan yang Memilih Memberontak

Tribhanga dengan baik menggambarkan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Nayan dan Anu terhadap budaya dominan di masyarakat. Alih-alih menjalankan tuntutan peran domestik, Nayan bersikukuh untuk menekuni dunia penulisan dan banyak menghabiskan waktunya untuk mengaktualisasikan diri.

Karena tekanan yang tinggi soal ini dari keluarga mertua, sementara sang suami, Vikram, tak berbuat apa pun untuk membela istrinya, Nayan memilih hengkang dari perkawinan pertamanya, membawa serta Anu dan adiknya, Rabindro.

Selepas bercerai, Nayan memutuskan mengganti nama belakang anak-anaknya menjadi nama keluarganya. Hal ini merupakan sesuatu yang kontroversial sampai harus sepuluh tahun Nayan memperjuangkannya secara legal.

Merasa pernikahan bukan untuknya, Anu memutuskan untuk tinggal bersama tanpa menikah dengan pacarnya, Dmitri, yang orang Rusia. Hubungan ini melahirkan Marsha, yang kemudian dirundung masyarakat karena dianggap sebagai anak haram. Seperti halnya Anu, setelah dua kali menjalin hubungan dan menikah, Nayan merasa capek dengan institusi tersebut sehingga kali ketiga dia berelasi romantis dengan Raina, mereka memilih hubungan tanpa pernikahan dan open relationship.  

Baca juga: 4 Film India Kontroversial yang Angkat Isu Agama dan Perempuan

Pemberontakan lain terlihat dari sosok Anu yang digambarkan sebagai perokok dan doyan mengucapkan sumpah serapah. Di banyak tempat, hal ini masih dianggap tabu, sementara jika laki-laki yang melakukannya cenderung dirasa wajar.

Seperti di Indonesia, masyarakat India juga menganggap beragama hal penting dalam kehidupan sosial. Hal ini menjadi bentuk pemberontakan lain yang diperlihatkan dalam Tribhanga, di mana Nayan menjadi seorang ateis, sementara Anu tumbuh menjadi seorang pengikut Khrisna, dan Masha menjadi pengikut Baha’i.     

Pesan-pesan Tak Tersampaikan Antara Ibu dan Anak

“Orang tua membuat keputusan untuk anak, apakah mereka punya pilihan? Dalam autobiografiku, aku ingin memberi mereka peluang untuk menyalahkanku semaunya,” kata Nayan kepada Milan dalam wawancara untuk bukunya.

Nayan sadar, banyak kesalahan yang ia perbuat terhadap anak-anaknya. Tapi pintu maaf Anu seolah terbuat dari baja sehingga Nayan tak bisa berkomunikasi, apalagi meminta maaf atas hal-hal yang melukai mereka.

Tidak hanya Nayan dan Anu yang punya pesan tak tersampaikan. Vikram pun demikian. Saat Anu memintanya menerima dia dan Rabindro kembali ke rumah, Vikram menolak dengan alasan itu akan menyakiti Nayan. Anu pun mulai membenci Vikram karena ia dianggap tak peduli pada anaknya.

Film ini mengingatkan kita untuk melihat peristiwa atau suatu hal dalam hubungan tak hanya dari sisi tunggal. Apa yang menurut kita buruk dari orang lain, belum tentu memang disengajakannya.

Sebagaimana Nayan ucapkan, “Ingatan kita sangat selektif…ingatan menyembunyikan kesalahan kita dan membesar-besarkan kebaikan kita… untuk mengenali diri kita dibutuhkan sudut pandang orang lain.”

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop