Women Lead Pendidikan Seks
November 08, 2022

Review ‘Enola Holmes 2’, Film Manis Paling Feminis Tahun Ini

Cerita ‘sisterhood’, pemberontakan buruh perempuan, pembuktian bahwa perempuan bisa tampil cemerlang. ‘Enola Holmes 2’ adalah paket komplit feminisme dalam film.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Review Enola Holmes 2
Share:

Peringatan: Major spoiler!

Untuk seseorang yang mengklaim sebagai feminis, mendapatkan tontonan bergizi dengan karakter perempuan berdaya, Enola Holmes 2 bikin aku happy. Bagaimana tidak, aku bisa dengan mudahnya menemukan nilai-nilai feminisme bertebaran di sepanjang durasi.

Film yang dirilis oleh Netflix pada 2020 itu diadaptasi dari novel Nancy Springer bertajuk Enola Holmes Mysteries. Jujur, aku enggak terlalu familier dengan Holmes selain si abang, Sherlock Holmes yang sohor sebagai detektif brilian. Setelah menonton Enola Holmes 2, aku tersadar, perempuan pun sama, bahkan bisa lebih brilian dan berani.

Dalam petualangan memecahkan kasus, aku melihat betapa sulit jadi perempuan di masyarakat yang masih patriarkal. Mulai dari kesulitan Enola hidup dalam bayang-bayang kakak laki-laki hanya karena dia perempuan. Pun, kesulitan sang ibu Eudoria Holmes (Helena Bonham Carter), feminis intelek yang menuntut hak pilih perempuan, yang terpaksa bersembunyi.

Semua diperlihatkan tanpa jarak dan apa adanya. Apalagi konsep breaking the fourth wall—memecah tembok keempat yang ditunjukkan dengan monolog Enola langsung ke penonton, bikin kita merasa sangat relate

Aku sendiri cukup puas dengan eksekusi cerita petualangan Enola yang berlatar sejarah suffrage (perjuangan hak pilih setara bagi perempuan) di Inggris pada abad ke-17. Buatku, sekuel film ini berhasil menciptakan standar baru dalam film genre misteri petualangan, di mana karakter perempuannya digambarkan sebagai sosok berdaya.

Sumber: IMDB

Baca Juga:  ‘Anne with an E’, Serial Berlatar Abad 19 dengan Isu yang Masih Relevan

Hadirkan Sejarah Perlawanan Perempuan

Berbanding terbalik dengan film pertamanya yang diadaptasi dari novel, sekuel Enola Holmes menghadirkan cerita orisinal karangan sang sutradara dan penulis naskah, Harry Bradbeer dan Jack Thorne. Karena idenya orisinil, Enola Holmes 2 mampu memberikan parade misteri lebih kompleks yang diawali oleh kasus hilangnya Sarah Chapman (Hannah Dodd).

Sarah yang tiap hari bekerja sebagai buruh pabrik korek api tiba-tiba menghilang, dan membuat adik perempuannya Bessie Chapman (Serrana Su-Ling Bliss) bingung. Guna mempermudah mendapatkan petunjuk, Enola pun memutuskan untuk menyamar sebagai buruh pabrik korek api.  

Selama menyamar, Enola melihat beberapa kejanggalan. Dua di antaranya adalah perempuan buruh korek api dengan rahang yang membengkak karena benjolan besar, dan bekas robekan kertas dalam buku yang ia temui dalam brankas di kantor pemilik pabrik tersebut.

Sayangnya, saat berusaha menyusun segala petunjuk, Enola justru harus menemui banyak kendala. Hilangnya Sarah Chapman kini tak hanya jadi kasus tunggal saja, tapi terhubung dengan kasus kakaknya. Itu turut melibatkan pembunuhan berencana dan konspirasi pemerintah.

Uniknya, meski kasus hilangnya Sarah Chapman dalam film ini hanya fiksi semata, narasi tentang perempuan buruh korek api di Inggris abad ke -17 berasal dari kejadian nyata. Sarah Chapman adalah sosok asli yang punya peran penting dalam aksi pemogokan massal pada 1888 di Inggris yang dikenal dengan Bryant & May Matchgirls' Strike.

Dalam laman Historic UK dijelaskan, pada 1888, kondisi perempuan buruh korek api sangat memprihatinkan. Mereka bekerja selama enam hari dengan waktu kerja lebih dari 13 jam. Mereka hanya punya dua waktu istirahat dan setiap istirahat yang tidak terjadwal upah mereka akan dipotong.

Bryant dan May sebagai pabrik korek api ternama yang mempekerjakan mereka juga memberikan sejumlah denda sebagai akibat dari pelanggaran ringan. Ada denda jika tidak rapi, berbicara, atau tidak punya alas kaki (perempuan buruh banyak yang tak mampu membeli sepatu). Denda ini jumlahnya bisa memotong lebih dari setengah upah mereka.

Diskriminasi jam kerja dan upah perempuan buruh korek api pun diperparah dengan masalah kesehatan yang menyandera. Campuran fosfor, antimon sulfida, dan kalium klorat yang digunakan dalam produksi korek api banyak menyebabkan kanker tulang pada perempuan buruh. Jenis kanker yang dikenal lewat pembengkakan rahang atau rusaknya bagian rahang yang umum disebut phossy jaw.

Namun, bukannya bertanggung jawab atas banyak buruh perempuan yang mengalami phossy jaw, Bryant dan May memilih mengatasinya dengan memberikan instruksi pencabutan gigi segera setelah ada yang mengeluh sakit. Jika ada yang berani menolak, mereka akan dipecat. Diskriminasi yang cukup tergambarkan dalam satu adegan di mana buruh dengan phossy jaw diminta keluar dari pabrik. Pasalnya, ia didiagnosis terkena tifus oleh mandor laki-laki yang memeriksa setiap pekerja yang hendak masuk ke ruangan produksi.

Dikutip langsung dari The National Archive Government UK, kondisi memprihatinkan para perempuan inilah yang akhirnya mendorong mereka, termasuk Sarah Chapman bergerak. Pada 5 Juli 1888, sebanyak 1.400 anak perempuan dan perempuan muda mogok kerja. Aksi pemogokan yang digambarkan dalam Enola Holmes 2 ketika para buruh ramai-ramai menghentakkan kaki untuk memompa solidaritas dan beramai-ramai meninggalkan pabrik.

Namun, berbeda dari Enola Holmes 2, pada sejarah aslinya, aksi buruh perempuan disusul dengan pendirian komite pemogokan. Sarah Chapman lantas mengadakan pertemuan publik, memperoleh liputan pers yang simpatik, dan mendapatkan dukungan dari berbagai anggota parlemen.

Di sinilah aksi pemogokan buruh perempuan jadi warisan tak ternilai harganya pada gerakan buruh modern. Melalui aksi pemogokan, mereka telah memberikan dorongan bagi buruh lainnya untuk mendirikan serikat pekerja tidak terampil dalam gelombang “Serikat Baru”.

Baca Juga: Peran ‘Perempuan Korban’ di Film: Basi dan Harus Ditinggalkan

Runtuhkan Stereotip dan Pentingnya Sekutu

Enola Holmes 2 tak hanya berhasil mengangkat misteri kompleks dengan latar sejarah gerakan perlawanan perempuan, tetapi juga mampu mendobrak stereotip seputar perempuan independen. Di tengah masyarakat patriarkal, perempuan ideal umumnya digambarkan sebagai perempuan yang submisif. They’re dependent and always seeks love and attention from men to make them fully complete.

Penggambaran ideal ini sayangnya menurut dosen Harvard Olivia Fox Cabane membuat perempuan independen distigma. Mereka seringkali dianggap tak tertarik terlibat dalam urusan percintaan. Mereka lebih memutuskan untuk melajang seumur hidup karena ogah melepas segala kebebasan lantaran terikat secara romantis, utamanya dengan laki-laki. Percintaan hanya bikin susah berkembang bahkan mungkin membuat mereka jadi bergantung dengan orang lain.

Stereotip inilah yang kerap kita temui di masyarakat hingga saat ini. Terlihat dari bagaimana perempuan yang sudah fokus pada kariernya akan diceramahi untuk cepat menikah atau cari pasangan. Ini dilakukan agar mereka tak terjebak dalam mode perempuan independen dan jadi “perawan tua”.

Enola Holmes 2 habis-habisan membantah stereotip tersebut. Enola yang mewarisi karakter ibunya, memilih untuk menjalin relasi romantis dengan Tewkesbury (Louis Partridge). Ia tak lagi melihat relasi romantis sebagai batu sandungannya mengembangkan diri, tapi justru mungkin jadi menemukan diri sendiri dan melebarkan sayapnya. Dengan ini, Enola memperlihatkan menjalin relasi romantis semata-mata adalah pilihan seorang perempuan. 

Baca juga: Enola Holmes, Judith Shakespeare, dan Petualangan Perempuan

Selain meruntuhkan stereotip perempuan indepen, Enola Holmes 2 juga memberikan pembelajaran penting pada penontonnya terkait sekutu atau allies. Selama ini kita hanya melihat Enola bekerja sendirian dalam memecahkan kasus. Ia terus menolak bantuan orang lain, termasuk Sherlock atau Tewkesbury, untuk menyelesaikan kasus. 

Namun di sekuelnya, sang ibu Eudoria memberikannya nasihat berbeda. Berdasarkan pengalamannya sebagai suffragette, bersekutu dengan perempuan lain yang menuntut hal serupa ternyata bisa menambah berdaya.

Sumber: IMDB

Baca juga: Review ‘She-Hulk: Attorney at Law’: Narasi Perempuan yang Menemukan Rumahnya

You will do very well on your own, Enola.  But with others, you could be magnificent. Find your allies. Work with them, and you will become more of who you are. You speak with one voice, and you will make more noise than you could ever imagined,” kata sang ibu.

Dari nasihat itu, Enola sadar, suara perempuan harus lantang terdengar dan ia butuh mencari sekutu sebagai pengeras suara. Ia butuh bekerja sama dengan pihak lain yang punya privilese. Dalam hal ini laki-laki kelas atas, sehingga setidaknya suara dia, suara mereka bisa terdengar dan menciptakan perubahan. 

Akhirnya Enola pun memilih untuk bekerja sama dengan Sherlock begitu pula dengan Tewkesbury. Hal ini semua ia lakukan agar suaranya dan tuntutan perempuan buruh korek api terdengar jauh sampai ke telinga pemangku kebijakan dan masyarakat. Ini akan jadi awal dari perubahan sosial yang radikal yang nantinya akan mengubah nasib banyak perempuan.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.