Women Lead Pendidikan Seks
September 29, 2022

25 Tahun dan Hidup Melajang, Siapa Takut?

Ada empat alasan kenapa kita para perempuan berusia 25 tahun tak perlu buru-buru menikah.

by Nadira Firinda
Issues
Share:

Teman-temanku kompak menghela napas panjang ketika melihat Whatsapp Story, Snapgram, dan Instagram dipenuhi foto cincin emas, seserahan, senyum bahagia pasangan, atau bayi lucu yang menunggu dilahirkan. Bahkan, tak dimungkiri, kadang mereka jadi bertanya-tanya, “Giliranku menikah kapan?”

Gambaran pernikahan ideal ala media sosial dengan narasi “happily ever after” ini kadang di antara teman-temanku, berubah jadi keputusasaan untuk menikah segera. Bahkan, saking frustrasinya, ini menjadi salah satu menu galau wajib di masa quarter life crisis.

Rasa frustrasi ini kerap kali ditularkan padaku. Aku sering ditanya, “Kapan punya pacar, kapan menikah, kapan punya anak.” Ah, jadi perempuan umur 25 memang tak mudah. Namun sekarang zaman telah berubah. Kebalikan dengan beberapa dekade sebelumnya di mana perempuan masih kesulitan mengenyam pendidikan dan mandiri finansial, dunia kini bergerak untuk mendukung kesetaraan berbagai gender. Karena kesetaraan inilah, kebutuhan perempuan untuk menikah dalam rangka bertahan hidup tentunya tak lagi sama.

Terkait ini, Janet Brito, pakar seksualitas dari Hawaii mengakui, “Usia orang-orang yang memutuskan untuk menikah terus meningkat selama 60 tahun terakhir. Pada 2018, usia pernikahan rata-rata untuk pria adalah 30 tahun dan 28 tahun untuk perempuan, dibandingkan dengan 24 dan 20, masing-masing, pada 1950-an.”

Saya sepakat dengan Brito, perempuan memang tak masalah meskipun dituntut menikah segera. Berikut beberapa alasan mengapa kamu (dan aku) tidak perlu merasa tergesa-gesa menikah.

Baca juga: Melajang Bukan Karena Tak Ketemu Jodoh, Tapi Karena Jodoh Tak Sesuai Harapan

Perempuan Kini Lebih Bebas Menentukan Hidup Mereka

Kendati kita belum benar-benar setara di semua bidang, tapi perempuan kini mendapat akses pendidikan yang relatif lebih baik. Bermodal pendidikan yang baik, perempuan pun sadar mereka juga punya kebebasan untuk menentukan pilihan. Ini termasuk kebebasan menentukan kapan waktu terbaik untuk menikah, kenapa memutuskan menikah atau tak menikah, dan sebagainya.

Karena kebebasan ini pula, pernikahan yang dahulu digadang-gadang jadi syarat mutlak bagi perempuan untuk bertahan hidup, sekarang tak lagi berlaku. Tidak sedikit perempuan yang telah mandiri secara finansial serta mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, sehingga membuat mereka berpikir masak-masak sebelum menikah.

Tak sedikit pula perempuan yang memutuskan untuk lebih berfokus pada karier dan kesibukan pribadi ketimbang sibuk menemukan pasangan yang tepat untuk menemani mereka sehari-hari.

Pentingnya Matang Secara Emosional dan Finansial

“Setelah melewati usia tertentu, perempuan cenderung memiliki tingkat kematangan emosi yang lebih tinggi. Kamu memiliki wawasan dan pengalaman yang lebih luas dalam mengevaluasi calon pasangan. Kamu lebih mandiri, tak terlalu manja, dan bergantung, Kamu tangguh secara emosional singkatnya,” ucap Dr. Peter Pearson, co-founder dari Couples Institute.

Mengamini pendapat Pearson, pernikahan yang didasarkan pada kematangan emosional dan finansial terbilang jauh lebih sukses. Apalagi karena kompleksnya pernikahan, dibutuhkan kerja sama sebagai tim yang sama-sama dewasa untuk berkompromi bersama.

Baca juga: Distigma dan Direndahkan: Sulitnya Jadi Perempuan Jomblo di Jepang

Pernikahan Tak Lagi Dipandang Sebagai Kesuksesan Hidup

Saya yakin masih ada sebagian orang yang memandang pernikahan sebagai tujuan hidup. Saya tentu mengapresiasi pilihan itu, sebab setiap orang berhak dan bebas membuat keputusan di hidupnya sendiri. Sebaliknya, orang-orang ini juga perlu memahami pilihan orang untuk melajang dan tak menikah.

Apalagi saat ini, tolok ukur kesuksesan jadi lebih beragam. Misalnya,  memiliki usaha sendiri, memiliki rumah mewah, mempatenkan sebuah penemuan, menulis buku best-seller, dan lainnya. Jadi pernikahan tak bisa diseragamkan sebagai pilihan tunggal.

Menunggu adalah “Kunci”

Jo Piazza, wartawan The New York Times setelah mewawancarai ratusan perempuan dari lima benua terkait pernikahan, menemukan salah satu kunci terpenting adalah menunggu. Menunggu seseorang yang tepat, menunggu hingga perempuan telah menganggap dirinya dewasa secara emosional, atau mampu secara finansial. Menunggu sampai dirinya berhasil mewujudkan ambisi pribadi dan cukup mencintai hidup yang ia jalani sebelum membagi hidup tersebut dengan orang lain.

Perempuan yang juga aktif menulis buku itu menceritakan bagaimana menunggu merupakan hal terbaik yang pernah ia lakukan untuk kehidupan pernikahannya, “Di akhir usia 20-an, ketika semua orang yang saya kenal sedang berburu gaun pengantin yang sempurna, dan saya bekerja selama 80 jam seminggu sembari mengejar dua gelar master, saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya tertinggal. Saya perlu menikahi siapa pun laki-laki yang sedang mendekati saya.”

Baca juga: Distigma dan Direndahkan: Sulitnya Jadi Perempuan Jomblo di Jepang

Ia melanjutkan, Saya bersyukur saya tidak melakukannya. Saya bersyukur saya memutuskan untuk menunggu. Karena tepat ketika saya tidak lagi merasa perlu menikah agar aman secara finansial atau emosional, saat itulah orang yang tepat muncul, and akhir bahagia saya dimulai.”

Dengan begitu sesungguhnya sangat wajar bagi kita menunggu dan tidak merasa terbebani untuk segera berumah tangga. Toh, kita tahu, perempuan dengan tingkat kematangan emosional serta finansial yang tinggi, di umur 30 tahun kemungkinan dapat memiliki hubungan pernikahan yang lebih bahagia dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia 20-an tanpa persiapan yang matang. Bukankah itu yang kita semua inginkan?

The real happily ever after.

Nadira Firinda adalah junior analyst yang sedang terobsesi dengan historical romance novels. Saat ini aktif menjalankan kegiatan sosial serta menulis tentang kesehatan mental dan pemberdayaan perempuan.