Women Lead Pendidikan Seks
June 24, 2020

‘365 Days’ Terlalu Problematik untuk Dibilang Seksi

Film ‘365 Days’ membuat toxic relationship terlihat gemas, padahal tentu saja itu nahas.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

Anya Geraldine, Ratu Twitter dan idola banyak orang yang menyanjung keindahan, pernah nge-twit, “Kamu boleh bajingan ke aku kalo mukanya begini”, sambil menyertakan foto Zayn Malik. Pernyataan yang problematik ini bukanlah sesuatu yang baru. Banyak orang yang terkesima oleh wajah tampan dan cantik. Itulah sebabnya pretty privilege exists. Dan itulah sebabnya film seperti 365 Days hadir.

Film 365 Days adalah sebuah impor dari Polandia yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan sejak ia muncul di katalog Netflix. Alasannya jelas: 365 Days membuat adaptasi 50 Shades of Grey terlihat seperti salah satu episode Si Doel Anak Sekolahan. Kalau 50 Shades terasa malu-malu, 365 Days sama sekali tidak berminat untuk memberikan pencitraan bahwa dia adalah film serius. Mungkin karena sensibilitas orang Eropa. Atau mungkin karena pembuat filmnya adalah jenius.

Plotnya sangat sederhana. Film Aa Gatot bahkan jauh lebih kompleks dari cerita film ini. Massimo Torricelli (Michele Morrone) adalah seorang mafia yatim yang masih berduka karena kematian ayahnya yang mendadak. Satu-satunya pelipur laranya adalah Laura Biel (Anna-Maria Sieklucka) yang sempat ia lihat figurnya sekilas di pantai ketika kejadian nahas menimpa ayahnya. Karenanya, Massimo berusaha untuk mendapatkan hati Laura… dengan cara menculiknya.

Baca juga: Pasangan dalam Film yang Tak Seharusnya Jadi #CoupleGoals

Selama ini kita selalu membayangkan bahwa penculikan adalah tindakan kriminal yang menyeramkan. Hampir semua film Liam Neeson didedikasikan untuk aksi kriminalitas yang satu ini. Tapi dalam 365 Days, empat penulis skripnya (saya tidak bercanda) menunjukkan bahwa… err… tidak semua penculikan itu buruk. Apalagi jika penculikan tersebut dilakukan oleh mas-mas tampan dengan badan bak model Armani dan kekayaan yang bisa membuat Raffi Ahmad menggelinjang.

Ya, memang Massimo menculik Laura. Tapi seperti suami berpoligami yang kerap kali membuat seminar bagaimana cara mendapatkan istri lebih dari follower Awkarin, dia memberikan Laura kemewahan yang tidak terhingga. Massimo tahu apa yang penting bagi para perempuan: Skincare dan branded fashion. Jadi ketika Laura direnggut kebebasannya, setidaknya dia masih bisa melenggang dengan balutan baju yang dipakai sosialita ketika pergi ke acara keriaan lengkap dengan balutan make-up yang flawless. Dan karena penggambaran inilah banyak sekali saya lihat bahwa orang-orang langsung mendambakan sosok Massimo.

Lemme tell you something: It's wrong.

Baca juga: Cerita Cinta Posesif di Wattpad: Berbahaya atau Biasa?

Harta, perawatan muka, dan merek ternama bukanlah alasan penculikan bisa dibenarkan. Membuat orang jatuh cinta dengan mengurung doi selama satu tahun bukan sesuatu yang gagah apalagi seksi. It sounds very pathetic. Ketika orang Jawa mengatakan bahwa witing tresno jalaran soko kulino, maknanya bukan ini. Maksudnya secara lebih organik. Biar aja terbiasa sampai akhirnya dia melihat sesuatu yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. Bukannya memaksa dengan menculik. Dalam hal ini 50 Shades of Grey lebih punya kelas dibandingkan film ini. Setidaknya Christian tidak menculik Anastasia. Hubungan mereka terjalin karena mereka saling jatuh cinta. Meskipun ketampanan Grey dan uangnya yang banyak juga cukup membantu untuk membuat Anastasia makin lengket.

Selain penggambaran tindakan kriminalitas yang lumayan sembrono, 365 Days juga menganggap bahwa consent adalah lip-service. Dalam banyak adegan, Massimo mengatakan bahwa dia tidak akan, ahem, menjamah Laura seenaknya. Tapi tetap saja dia melakukan hal-hal yang agak menjijikkan. Seperti misalnya mengikat Laura di kursi pesawat kemudian menyentuh kemaluannya tanpa izin. Atau mengikat Laura di kasur dan memaksanya untuk melihat Massimo di-"servis" perempuan lain. Dalam filmnya sih digambarkan Laura "terbakar" nafsunya ketika Massimo melakukan ini. Tapi penggambaran ini sangat berbahaya karena… well… banyak sekali orang-orang di luar sana yang menganggap hal-hal tersebut lumrah.

Baca juga: ‘Bombshell’: Meja Redaksi jadi Sarang Predator Seksual

Dua hal yang saya sebutkan itu hanya secuil dari segala macam hal problematik yang ada dalam film berdurasi dua jam kurang empat menit itu. Massimo tidak hanya suka mencekik Laura tanpa izin tapi juga sangat manipulatif dan temperamental. Film ini membuat toxic relationship terlihat gemas, padahal tentu saja itu nahas.

Dari berbagai aspek, 365 Days juga bukan film yang baik. Aktingnya buruk (walaupun kedua aktornya sangat total dalam menunjukkan semua yang mereka punya). Penyutradaraannya sangat malas. Gambarnya monoton. Musiknya tidak jelas. Dan ceritanya hampir tidak ada. Sang Prawira yang dibuat oleh kepolisian jauh lebih ada substansi daripada film ini. Sebuah film memang tidak harus menjadi sempurna untuk paling tidak menjadi guilty pleasure. Sayangnya 365 Days benar-benar buruk luar dalam. Dia mencoba menunjukkan bahwa menjadi liar dan nakal adalah seksi.

But baby, that's wrong. You know what sexy? Consent. Consent is sexy. Not being a creepy dude is sexy. Enggak menculik orang is sexy. Enggak mencekik orang sebagai tanda cinta is sexy.

Itulah sebabnya kalau kalian ingin menonton sebuah utopia fantasi yang kinky, silakan cari film lain.

365 Days dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.