Women Lead Pendidikan Seks
July 15, 2021

4 Film dan Serial India tentang Kisah Cinta yang Tak Direstui

Tak ada matinya mengangkat formula cinta tanpa restu di film dan serial India berikut ini.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Share:

Dinamika percintaan dalam film-film Bollywood memang tak pernah usang. Meski kadang mengangkat alur dan ide cerita yang klise, para sineas India nyaris selalu menyelipkan pesan-pesan soal multikulturalisme dan konflik terkait perbedaan budaya dalam karya-karya mereka. 

India memang memiliki sejarah dan latar belakang adat istiadat yang kental, bahkan sampai hari ini. Tak ubahnya di Indonesia, beberapa keluarga dan orang tua yang konservatif kemudian berusaha menurunkan nilai-nilai berbalut bias stereotip terhadap kelompok budaya lain kepada para anaknya. Mereka juga kerap menuntut anak-anaknya untuk memilih pasangan dari latar belakang yang sama. 

Sementara itu, anak-anak muda mulai menerima pendidikan tinggi dan terpapar arus informasi yang deras. Mereka bisa berpikiran lebih terbuka dan tak menemukan alasan kenapa penilaian terhadap calon pasangan harus didasarkan pada latar belakang kebudayaannya. Alhasil, lahirlah banyak karya seni dan sastra, termasuk film dan serial, yang mengangkat kisah-kisah cinta yang tak direstui, dan hal ini selalu menarik untuk disoroti.

Berikut ini empat film dan serial India tentang kisah cinta yang tak direstui yang patut kamu tonton.

(spoiler alert)

1. Kabhi Kushi Kabhie Gham (K3G) (2001)

Belum sah rasanya bicara kisah cinta tak direstui bila tidak menyebut film legendaris ini. Kabhi Kushi Kabhie Gham menyoroti perjalanan cinta Rahul (Shah Rukh Khan), seorang pemuda Hindu dari keluarga yang kaya raya, dan Anjali Sharma (Kajol), gadis Muslim dari keluarga pedagang kelas menengah. Kerabat Anjali adalah pengasuh Rahul dan asisten rumah tangga di rumah besar keluarganya. Lewat hubungan itulah, mereka pada akhirnya bisa bertemu dan saling jatuh cinta. 

Meski begitu, hubungan mereka tak mendapat restu dari keluarga Rahul karena perbedaan latar belakang budaya, agama, dan yang utama adalah kelas sosial. Anjali dinilai tidak layak menjadi istri Rahul karena latar belakang keluarganya yang miskin dan gaya hidup kurang layak. Hal itu mencerminkan cara pandang klasik dan diskriminatif, yang masih jamak ditemukan di dunia nyata.

Pada akhir film, K3G berhasil menyampaikan nilai-nilai humanis tentang keluarga dengan kehadiran Pooja, adik perempuan Anjali (diperankan Kareena Kapoor) dan Rohan, adik laki-laki Rahul (diperankan Hrithik Roshan), yang berjuang menyatukan keluarga mereka lagi setelah Rahul dan Anjali kawin lari dan tinggal di Inggris. 

Sumber: bollyspice.com

Tingkah laku para tokoh dalam film ini yang penuh humor lumayan menjadi penghibur di tengah alur dan ide cerita yang cenderung klise. Soundtrack-soundtrack dalam film ini juga berhasil jadi lagu-lagu Bollywood yang masih populer sampai saat ini, seperti “Bole Chudiyan” dan ”Say ‘Shava Shava’”.

Baca juga: Bandit Queen': Kebangkitan Perempuan Penyintas Kekerasan

2. A Suitable Boy (2020)

Mengambil latar belakang India pada 1950-an, serial ini berpusat pada kisah Lata (Tanya Maniktala), seorang perempuan Hindu yang tengah menempuh pendidikan sarjana Bahasa Inggris di sebuah universitas. Lata hidup di tengah keluarga dan masyarakat yang sangat konservatif dan patriarkal. Berkali-kali dia dijodohkan dan ditekan untuk menikah ketika sebenarnya dia sendiri kerap menyangsikan makna pernikahan karena seolah mendomestikasi perempuan dan merenggut otoritas dirinya. 

Masalah semakin pelik ketika Lata mulai dekat, lalu berpacaran dengan Kabir (Danesh Razvi), seorang laki-laki Muslim yang menempuh pendidikan di tempat yang sama dengannya. Hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh keluarga Lata, hingga kemudian Lata dipaksa pindah ke luar kota oleh ibunya. Pada akhirnya, restu itu tak pernah mereka dapatkan. 

Di sinilah celah kisahnya. Serial ini tak menunjukkan keberpihakan yang jelas pada pemberdayaan dan otoritas diri Lata. Meski pada awalnya Lata tampak mengedepankan isu otoritas diri perempuan dalam bentuk kebebasan untuk memilih pasangan tanpa campur tangan keluarga, ujungnya Lata tetap diceritakan menikahi laki-laki pilihan ibunya. Bukan berarti hal itu salah. Hanya saja, tak pernah ada penjelasan yang jelas dan mendasar mengenai keputusan Lata itu. 

Sumber : deadline.com

Tentangan keluarga Lata yang memicu kandasnya hubungan Lata dengan Kabir juga dibiarkan selesai bercelah—tak pernah ada alasan jelas mengapa Lata memilih untuk meninggalkan Kabir. Padahal, ini merupakan potensi terbesar untuk memunculkan nilai-nilai soal multikulturalisme dan toleransi dalam keluarga. Misalnya, tentang bagaimana dua anak muda yang latar belakangnya berseberangan ini memperjuangkan hubungan mereka di tengah pergolakan nasionalisme Hindu yang membuat orang-orang Hindu-Islam di India bersitegang hingga terkotak-kotak. 

Baca juga: 4 Film Realistis tentang Cinta Beda Agama dan Budaya

3.2 States (2014)

Mirip dengan sebagian orang di Indonesia, sebagian orang di India juga kerap kali masih mengadaptasi sentimen-sentimen antarsuku dalam kehidupan sehari-hari. Bukan cuma harus seagama, mencari pasangan yang satu suku juga jadi hal yang penting bagi para orang tua India. Jadi, tak heran hubungan Krish (Arjun Kapoor), pemuda keturunan Punjabi, dan Ananya (Alia Bhatt), gadis keturunan Tamil, ditentang kedua belah pihak keluarga. 

Selain menyoroti perjalanan cinta antara keduanya selama menempuh pendidikan master di Indian Institute of Management Ahmedabad, India (IIM), film ini juga menyoroti perjuangan mereka untuk bisa mendapatkan restu orang tua dan keluarga satu sama lain selama bertahun-tahun. Berawal dari berteman, menjadi teman diskusi dan belajar, Krish dan Ananya lalu menemukan kenyamanan pada diri satu sama lain dan mulai berpacaran. Hubungan mereka semula lancar selama beberapa tahun pertama. Konflik pun dimulai ketika keduanya mulai serius dan memutuskan untuk menikah. 

Orang tua Krish yang tak suka dengan Ananya karena stereotip bahwa orang-orang Tamil memiliki warna kulit yang terlalu gelap dan punya budaya makan yang aneh. Sementara, orang tua Ananya yang konservatif tak menyukai Krish karena menilai Krish dan orang Punjabi lain berisik dan suka menimbulkan masalah. 

Sumber: Netflix

Film ini mengajarkan kita bahwa perbedaan budaya memang berpotensi melahirkan perbedaan kebiasaan dan cara hidup. Tapi, menilai dan menghakimi seseorang berdasarkan stereotip latar belakang budayanya bukanlah hal yang tepat. Karena pada akhirnya, karakter dan komitmen dalam kepribadian lah yang menentukan kualitas diri tersebut.

4. Barfi! (2012)

Selain antarkelompok agama dan budaya, stereotip juga bekerja dalam cara pandang kelompok non-disabilitas terhadap kelompok disabilitas. Isu ini disoroti secara apik dalam film Barfi!. 

Film ini mengangkat kisah Barfi (Ranbir Kapoor), seorang disabilitas Tuli dan bisu yang jatuh cinta dan berhubungan dengan Shruti, seorang perempuan berpendidikan yang disukai banyak orang. Hubungan Barfi dan Shruti sebenarnya berjalan dengan baik dan mereka saling menyayangi serta menghargai. Meski begitu, hubungan keduanya ditentang keluarga Shruti karena mereka menganggap Barfi hanya akan menjadi beban yang harus Shruti urus seumur hidupnya. 

Hal ini menunjukkan bahwa sikap penuh stigma mengakar terhadap kelompok disabilitas dan ketidakberdayaannya, yang akrab disebut ableism, sulit untuk dihilangkan, bahkan dalam hubungan personal. Sekalipun Barfi sudah berjuang meyakinkan orang tua Shruti bahwa dia menyayangi Shruti dan hidup mereka akan baik-baik saja, restu itu tetap tak dia dapatkan karena alasan yang dangkal dan diskriminatif tadi. Shruti pun akhirnya memilih untuk menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya. 

Sumber: Letterboxd

Yang menarik, film ini memberikan kesempatan kedua dalam perjalanan cinta Barfi. Barfi kemudian dipertemukan dengan Jhilmil (Priyanka Chopra Jonas), seorang perempuan pengidap autisme, yang kemudian menjadi pasangannya. Perjalanan mereka juga bukan tanpa lika-liku. Stereotip terhadap dua orang dengan disabilitas yang bersama membuat restu keluarga dan masyarakat menjadi mustahil untuk mereka dapatkan. 

Meski begitu, interaksi antara Barfi dan Jhilmil membuat film ini benar-benar menghangatkan hati. Cara mereka berkomunikasi yang banyak dilakukan lewat ekspresi wajah, gerakan tubuh, terkadang tulisan dan bahasa isyarat, menyadarkan kita bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk, dan terkadang cara pandang kita yang penuh bias membuat kita terlalu mudah menghakimi.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.