Women Lead Pendidikan Seks
April 08, 2022

5 Artikel Pilihan: ‘Update’ RUU TPKS hingga Panduan Puasa ‘Fangirl’

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini, mulai dari kabar baru RUU TPKS hingga panduan puasa untuk ‘fangirl’.

by Magdalene
Issues
5 Berita Pilihan
Share:

RUU TPKS: Hampir Disahkan, Masih Perlu Dipertanyakan

Belakangan, proses pengesahan RUU TPKS yang telah diusulkan sejak 2016 itu, tergolong signifikan. Mulai dari Presiden Jokowi yang mendukung pada Januari lalu, DPR yang mengesahkannya sebagai RUU inisiatif, hingga pengesahannya yang ditargetkan paling lambat 14 April mendatang.

Kendati demikian, berdasarkan draf terakhir, masih ditemukan beberapa hal problematik dalam RUU TPKS. Magdalene telah merangkum beberapa aspek yang perlu digarisbawahi, berdasarkan proses pembahasan dalam rapat tersebut.

Baca selengkapnya di sini.

Ramadan 101: Sebuah Panduan untuk ‘Fangirl’ Saat Puasa

Sebelum menyambut bulan suci Ramadan, pertanyaan “boleh enggak ya fangirling selama puasa?” jadi kekhawatiran massal. Tak hanya bagi fangirl, tapi fanboy, bahkan penggemar non-biner. Pasalnya muncul ketakutan tanpa sengaja membuat puasa makruh saat sedang menonton drakor, anime, bahkan stalking aktivitas idola di media sosial.  

Karenanya tidak heran, saat orang lain beramai-ramai memamerkan ‘closingan’ atau aktivitas ‘haram’ sebelum menyambut bulan suci di media sosial, para fangirl, fanboy, dan penggemar non-biner justru sibuk bercuit, “Ini hari terakhir bisa ngefans sebelum puasa besok!” 

Simak artikelnya di sini.

Belajar dari Google: Kita Takkan Pernah Kembali Kerja dari Kantor Lagi

Sejumlah survei menunjukkan, selama 18 bulan ke belakang, sebagian besar pekerja dan petinggi perusahaan tidak ingin kembali berangkat kerja lima hari dalam seminggu.

Bahkan Google, yang awalnya sangat menentang sistem kerja dari rumah, menunjukkan perubahan sikap terhadap gaya kerja konvensional.

Beberapa waktu lalu, raksasa teknologi dunia tersebut mengimbau karyawannya untuk kembali bekerja dari kantor pada awal April - namun cukup tiga hari saja tiap minggunya.

Fleksibilitas kerja baru yang ditawarkan Google ini memang masih jauh jika dibandingkan dengan perusahaan teknologi lainnya. Perusahaan asal Australia, Atlassian, misalnya, membolehkan karyawan untuk datang ke kantor hanya empat hari dalam setahun.

Ini artikel lengkapnya.

Kejutan di Ujung ‘Twenty-Five Twenty One’

Twenty-Five Twenty One bukan Our Beloved Summer meskipun sekilas keduanya kelihatan punya banyak kesamaan. Posternya sama-sama menggemaskan dan menampilkan muda-mudi yang bahagia dengan warna-warni terang benderang. Sama-sama membawa tema percintaan yang dibungkus dalam drama slice-of-life. Dan yang paling penting, keduanya mengkapitalisasi memori atau nostalgia dalam bercerita. 

Namun, setelah menonton episode terakhir Twenty-Five Twenty One, kesamaan itu berakhir. Tidak seperti Our Beloved Summer yang berakhir mengharu biru, Twenty-Five Twenty One punya kesimpulan yang lebih dekat dengan realitas. Saking dekatnya, it hurts so bad, Linda.

Selengkapnya di sini.

‘Semantic Error’: Ramuan Romcom+BL yang Manjur

Chu Sang Woo (Park Jae Chan) dan Jang Jae Young (Park Seo Ham) adalah dua karakter berbeda. Jika Sang Woo dingin, berjarak, dan penyendiri; maka, Jae Young hangat, ramah, dan punya banyak kawan. Keduanya pertama kali bertemu di galeri seni: Jae Young jadi seniman yang memamerkan karyanya, sementara Sang Woo adalah pengunjung yang diam-diam menyukai karya Jae Young. Mereka berdua sempat terlibat percakapan singkat, tapi Sang Woo tak tahu kalau karya yang diliriknya milik Jae Young.

Kebetulan ini makin terasa seperti kebetulan yang cuma mungkin terjadi di film, ketika ternyata Sang Woo adalah alasan wisuda Jae Young ditunda universitas mereka. Sebaliknya, tanpa diketahui Jae Young, laki-laki yang ia temui di galeri, kelak jadi penyebab rencananya berangkat kuliah ke luar negeri gagal.

Baca artikelnya di sini.

MAGDALENE is an online publication that offers fresh perspectives beyond the typical gender and cultural confines. We channel the voices of feminists, pluralists and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual preferences. We aim to engage, not alienate.