Women Lead Pendidikan Seks
December 17, 2021

‘Anti-Feminis-Feminis Club’, Kenapa Kita Takut Bicara Kesetaraan?

Masih banyak perempuan yang merasa takut diasosiasikan dengan gerakan feminis hanya karena vokal mengkritik ketimpangan gender.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Issues
feminisme di media indonesia
Share:

Feminisme mulai jadi topik perbincangan arus utama di media sosial. Ini ditandai dengan menjamurnya akun-akun seperti @indonesiafeminis, @indonesiabutufeminis, @doktertanpastigma. Siapa pun dapat mengakses informasi-informasi seputar feminisme bahkan ikut aktif berdiskusi.

Meningkatnya keterlibatan ini tidak terlepas dari banyaknya feminis digital yang ikut bermunculan. Mereka muda, berpendidikan tinggi, dan terhubung dengan gerakan global. Mereka familier dengan media sosial sebagai alat utama untuk mendidik, melibatkan, dan memobilisasi pengikut mereka dengan gagasan feminisme.

Terkait ini, feminis veteran Dhyta Caturani dalam New Mandala menyebutkan, “Ini adalah gerakan feminis terbesar di Indonesia yang tak pernah saya lihat dalam 25 tahun aktivisme saya. Ada banyak feminis, individu, dan kelompok yang mendaku diri sebagai feminis. Ketika saya memulai One Billion Rising [bagian dari kampanye global untuk memerangi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan] pada 2013, banyak yang bahkan tidak nyaman dengan istilah 'feminisme', dan sekarang istilah itu telah berubah.”

Populer tapi Masih Belum Sepenuhnya Diterima

Ya, feminisme memang telah mendapatkan momentum barunya, tapi berbeda dari pernyataan Dhyta Caturani, istilah ini masih saja menjadi momok menakutkan atau label yang patut dihindari oleh banyak orang. Dalam survei yang dilakukan Tirto pada 3 Juni 2021 dan melibatkan 1.5200 responden berusia 18 – 60 tahun tercatat, sebanyak 57 persen responden setuju dan 16,67 persen menjawab sangat setuju dengan pernyataan pro-perempuan. Namun, sebagian besar (54,14 persen) responden tidak menganggap dirinya sebagai seorang feminis. Angka ini pun disusul dengan hanya 7,19 persen yang menganggap dirinya sebagai feminis aktif.

Baca Juga:  Memahami Definisi ‘Social Justice Warrior’ (SJWs)

Keengganan seseorang menyebut dirinya sebagai feminis atau bicara isu-isu gender terjadi salah satunya karena stereotip dan kesalahpahaman terkait dengan feminisme. Dalam penelitian Rising public piety and the status of women in Indonesia two decades after reformasi (2019), Dina Afrianty mengatakan, pasca-reformasi, Indonesia mengalami kebangkitan ideologi Islam politik (ideologi yang bertujuan untuk mengubah sekulerisme jadi pendekatan di mana simbol dan identitas agama Islam mendominasi sendi-sendi masyarakat).

Kebangkitan ideologi ini terlihat jelas dari meningkatnya kehadiran agama dan keyakinan di ruang publik. Dalam prosesnya, kelompok-kelompok konservatif membuat asumsi seputar kesetaraan gender. Bahwa kesetaraan gender yang notabene merupakan bagian dari gerakan feminisme mengadvokasi nilai-nilai “liberal” yang dari Barat yang bertentangan dengan norma agama. Maka tidak jarang mereka pun distigma sebagai perempuan yang hobi marah-marah, anti-laki-laki, individualistis, dan hanya peduli pada pembahasan seputar politik tubuh saja.

Naila Fitria, pendiri Halaqah Muslimah Progresif dalam wawancaranya bersama New Mandala berujar, hal ini berpengaruh pada ketidaknyamanan feminis Muslim menggunakan istilah “kesetaraan gender” dan “feminisme” di komunitas mereka. Mereka lebih suka menggunakan istilah “keadilan gender”, sebuah nilai yang dijunjung tinggi oleh Islam agar dapat mudah diterima oleh masyarakat.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh “Tina”. Ia adalah perempuan yang sangat pro-feminisme, sayangnya ia memiliki ketakutan dalam membahas isu-isu gender dalam ruang publik dan mengidentifikasikan dirinya sebagai feminis.

Takut di label feminis atau SJW, takut dicap menyalahi apapun ajaran garis kanan karena lingkungan aku juga masih kuat soal ini, agamanya kuat lah ibaratnya. Jadinya aku pun jadi pilih-pilih orang yang bisa aku ceritain tentang pemikiran aku. Aku pun merasa safe kalau post isu gender lewat Instagram story, karena dalam 24 jam bakal hilang dan kalau “berbahaya” bisa dihapus. Selebihnya ya aku enggak pernah ngeshare pemikirannya aku ini karena sudah takut dan malas duluan,” tuturnya.

Gerakan Feminisme yang Masih Dinilai Elitis

Keengganan perempuan untuk menyebut dirinya sendiri sebagai feminis kendati pro terhadap kesetaraan gender juga pada kenyataannya berhubungan erat tentang bagaimana gerakan ini masih dinilai banyak perempuan terlalu elitis. Dalam Survei YouGov 2018 ditemukan, mereka yang menyebut diri sebagai feminis, mayoritas adalah mereka yang memiliki pekerjaan manajerial, administratif, dan profesional. Sementara, hanya satu dari lima dari kelas C2DE, yang meliputi pekerja manual, pensiunan negara, pekerja lepas, dan pengangguran menyebut diri mereka sebagai feminis.

Baca Juga:  Ramai-ramai Memusuhi Gerakan Feminis Medsos

Lebih lanjut dalam survei di tahun yang sama GenForward AS ditemukan, hanya 12 persen perempuan Hispanik, 21 persen Afrika-Amerika, 23 persen perempuan Asia yang mengidentifikasikan mereka sebagai feminis. Pasalnya, tiga perempat dari semua perempuan yang disurvei mengatakan gerakan feminis selama ini hanya melakukan beberapa perubahan demi meningkatkan kehidupan perempuan kulit putih saja. Dalam hal ini, gerakan feminisme yang kerap hadir di dalam masyarakat masih sangat lekat dengan white feminism atau feminism kulit putih.

Di Indonesia sendiri, menurut Dyah Ayu Kartika analis Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Jakarta, gerakan feminisme memang memiliki kecenderungan elitis, dengan penggunaan jargon dan hak istimewa yang sangat banyak. Menurutnya sebagian besar feminis Indonesia saat ini berasal dari latar belakang yang sama. Mereka adalah seseorang dari kelas menengah, berpendidikan tinggi, mungkin di lembaga asing, dan memiliki kefasihan berbahasa Inggris, yang memungkinkan mereka mengakses lebih banyak literatur feminis. Mereka pun menurut Kartika tidak banyak memiliki pengalaman luas bekerja di tingkat akar rumput, sementara perempuan yang terlibat dalam kelompok akar rumput masih rentan terhadap kampanye konservatif.

Hal ini senada dengan apa yang telah diungkapkan Gadis Arivia dan Nur Iman Subono dalam Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Analisis terhadap Para Aktor, Debat, dan Strategi (2017). Bahwasanya, kendala-kendala utama yang dimiliki gerakan feminism di Indonesia adalah kurangnya inklusivitas dan persatuan. Selain itu, ada interaksi yang terbatas antara gerakan feminis dan gerakan sosial lain, para akademisi yang tidak secara eksplisit menyebut diri feminis, akibatnya, klaim-klaim feminis sering dianggap terisolasi dan termarginalisasi.

Perempuan yang Rentan Mengalami Diskriminasi dan Kekerasan

Selain karena masih ada kecenderungan sebagai gerakan elitis, enggannya perempuan dalam membahas isu kesetaraan gender di ruang publik apalagi menyebut diri mereka sebagai feminis adalah karena perempuan lebih rentan diserang oleh kelompok laki-laki seksis misoginis.

Berbicara tentang ketidaksetaraan gender, bahkan dengan cara yang paling halus sekalipun berisiko bagi perempuan. Hal inilah yang dialami oleh Gamer dan aktor Felicia Day yang sempat membuat pernyataan publik pertamanya tentang Gamergate pada 2014 silam. Gamergate sendiri adalah sekelompok orang anonim di Internet, banyak dari mereka adalah laki-laki yang memiliki misi tunggal yaitu melecehkan gamer perempuan secara online.

Dalam pernyataannya, Felicia Day secara eksplisit tidak merasa nyaman berbicara dengan Gamergate. Dia bahkan tidak me-retweet artikel atau membalas twit korban Gamergate, karena takut di-doxing. Pernyataan publiknya yang bahkan tidak membahas seksisme dan misogini yang merajalela di komunitas Gamergate secara langsung (dia hanya membahas betapa takutnya mereka terhadap privasi dan keamanannya dan bagaimana mereka telah mengintimidasi dia untuk diam) menuai kecaman. Beberapa menit setelah ia memposting pernyataannya ini, ia pun di-doxing. Detail data pribadi Day mulai dari alamat rumah, keluarga, dan email personalnya disebar ke internet di seluruh Internet.

Baca Juga: Ketika Perempuan yang Lebih Berdaya Sudutkan Sesama Perempuan

Hal yang sama juga terjadi pada seorang mahasiswi Harvard bernama Nian Hu. Dalam tulisannya di The Harvard Crimson,  Hu menuliskan bagaimana ia kerap menulis tulisan seputar isu-isu gender seperti slut-shaming, stigma seputar menstruasi, dan budaya pemerkosaan. Namun dari tulisan-tulisannya tersebut ia justru menerima komentar mengerikan dari laki-laki di seluruh Internet.

Mereka menyebutnya pembenci laki-laki, tidak ada laki-laki yang ingin berkencan dengan "feminazi" seperti dirinya, hingga ia disebut pelacur dan dituduh telah menularkan penyakit seksual.Tidak sampai situ, foto-foto pribadinya juga kerap disalahgunakan.”

“Jadi saya bisa mengerti mengapa perempuan takut menyebut diri mereka feminis, takut call out laki-laki karena sikap misoginis mereka, dan takut menjadi lebih radikal atau interseksional atau keras dalam keyakinan mereka. Ya, karena memang semenakutkan itu menjadi seorang feminis,” tulisnya.

Sudah cukup segala hujatan dan segala label feminis ini terlontarkan. Sudah cukup perempuan dibayang-bayangi ketakutan ketika mereka hanya ingin menunjukkan kepedulian mereka terhadap sesama dan kelompok minoritas lain. Sudah cukup perempuan harus dibayang-bayangi label feminis SJW dengan segala stereotip buruknya hanya karena mereka sudah muak berada di dalam masyarakat yang kerap mengkerdilkan eksistensi mereka.

Yang terpenting sekarang bukan label atau dari kelompok mana kami berasal, tapi bagaimana suara kami dapat menjadi representasi kepentingan publik. Khususnya untuk mereka yang tak bisa bersuara.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.