Women Lead Pendidikan Seks
August 26, 2021

Rukiah LGBT hingga Susah Jodoh, Jalan Pintas Nirfaedah

Kita sering latah bahwa rukiah jadi obat penyembuh semua penyakit. Islam menganjurkannya, tapi bukan berarti jadi jalan satu-satunya.

by Jonesy
Lifestyle
Rukiyah_Terapi_Konversi_Ruqyah_Rukiah_SarahArifin
Share:

Jadi anak yang terlahir di keluarga Muslim taat, mendengarkan kajian agama di masjid maupun di televisi, sudah jadi rutinitas saya sejak kecil. Tak hanya itu, keluarga saya juga mempercayai beberapa praktik keagamaan untuk penyembuhan, termasuk rukiah. 

Pertama kali saya mengenal rukiah ketika tante saya, “Nana” (yang kini sudah almarhumah) memanggil seorang ustaz ke rumahnya. Saat itu, ia mengeluh ada benjolan aneh di lehernya hingga ia merasa sering sesak napas. Ia sudah beberapa kali ke dokter, tetapi dokter mengatakan semua baik-baik saja. Tante saya pun akhirnya mencari jalur alternatif dan mencoba metode rukiah. 

Singkat cerita, rukiah dimulai. Tante saya duduk membelakangi ustaz tersebut sembari mengenakan mukena. Saya ingat betul, sang ustaz mulai mulai merapalkan beberapa doa dan zikir, lalu tante saya berkonsentrasi penuh seraya ikut berzikir

Baca juga: Sulitnya Jadi Ukhti Queer di Indonesia

Setelah proses selesai, saya pun bertanya pada tante yang ia rasakan ketika dirukiah? Ia menjawab sekitar punggungnya mendadak hangat. Saya hanya mengangguk, sebetulnya saya agak was-was ketika proses berjalan, sebab saya pikir tante saya bakal kesurupan seperti rukiah yang saya lihat di televisi-televisi.

Apa itu Rukiah?

Sebelum ini, Magdalene sudah beberapa kali mengangkat isu seputar metode rukiah. Berdasarkan definisinya, rukiah adalah metode pengobatan hati dengan membacakan zikir atau doa seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Metode ini berfungsi untuk mengusir pengaruh jahat, termasuk iblis dari hati manusia. 

Rukiah yang dalam bahasa Inggris lebih familier dengan sebutan exorcism, merupakan cara penyembuhan dengan membacakan sesuatu (ayat-ayat suci Alquran dan zikir) pada orang yang sakit, akibat dari sengatan hewan, bisa, sihir, rasa sakit, gila, kerasukan makhluk halus, atau gangguan jin. Dari pengertian tersebut, untuk orang-orang yang mempercayai ruqyah sebagai pengobatan, metode ini sepintas tampak jadi jawaban pamungkas atas segala macam penyakit. Ini tak keliru, tapi juga problematik.

Rukiah Sebagai Jalan Pengobatan Alternatif

Dalam wawancara Magdalene dengan pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (NU) Cirebon, Mamang Haerudin, pengobatan rukiah sebetulnya tidak terlalu viral sebelumnya, namun ketika arus konservatisme agama meningkat beberapa tahun belakangan ini, sejumlah kelompok konservatif menggunakan rukiah untuk menggaet orang ke pengajian mereka. 

Akan tetapi, yang mengkhawatirkan, menurut Mamang, beberapa kelompok hijrah ini menganggap metode rukiah adalah jawaban dari segala penyakit. 

“Kelompok ini bergantung banget dengan metode rukiah dan tidak mempercayai pengobatan medis. Nah, ini yang nggak boleh,” ujar Mamang. 

Penyakit-penyakit yang seringkali dikeluhkan bisa berbentuk penyakit fisik maupun mental. Beberapa waktu lalu, teman saya sempat bercerita pengalamannya dirukiah karena ia mengeluh pada orang tua tentang kesehatan mentalnya. Alih-alih dirujuk ke psikolog, teman saya malah dinasihati bahwa ia yang kurang beribadah, dan perlu dirukiah. 

Apa yang dialami oleh teman saya ini, merupakan salah satu bentuk dari kepercayaan rukiah yang tak tepat akibat minimnya pengetahuan tentang kesehatan mental. Hal ini pun menghasilkan stigma-stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental, seperti kurang beribadah, kurang bersyukur, dan lain sebagainya. 

Jika gangguan kesehatan mental hanya diobati dengan metode rukiah saja tanpa ada bantuan medis, hal ini akan sangat berbahaya bagi individu tersebut. Hal ini juga disampaikan oleh Tika Prasetiawati, psikiater dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mengatakan, belum ada kajian empiris apakah rukiah memang membantu mengatasi gangguan kesehatan mental.

“Masalah kesehatan jiwa itu faktornya sangat beraga, dan kita perlu menanganinya dengan komprehensif. Hal ini sangat perlu penilaian tenaga medis, sebab walaupun diagnosanya sama, tetapi permasalahan dan tingkat keparahan tiap individunya berbeda-beda,” ujar Tika.

Baca juga: Al-Qur'an Tak Ajarkan Membenci Kelompok LGBT: Akademisi Muslim

Metode ini akan berbahaya jika hanya menjadi satu-satunya pengobatan yang dilakukan oleh pasien, tambah Tika.

Pengunaan Metode Pengobatan Alternatif yang Salah Kaprah

Ketika membicarakan tentang metode ruqyah, saya tidak memungkiri ada juga orang-orang yang mengklaim sembuh dari penyakit berkat  menjalani “pengobatan” itu.. Namun, ada juga beberapa kejadian yang tidak diinginkan ketika proses rukiah dijalankan. 

Magdalene sebelum pernah menulis, tak lama setelah Lebaran, di Temanggung, Jawa Tengah, anak perempuan bernama “A”, 7, kehilangan nyawanya saat menjalani pengobatan ini. Anak tersebut dibawa oleh orang tuanya ke dukun karena tak tahan dengan kenakalan si anak

Dari unggahan yang beredar di Twitter yang akhirnya dikonfirmasi oleh berita media, sang dukun mengatakan, kenakalan tersebut disebabkan oleh gangguan genderuwo. Dukun tersebut kemudian menenggelamkan sang anak berkali-kali dan akhirnya si anak meninggal dunia. 

Ketika membaca kasus tersebut, saya langsung menepuk jidat. Tentu saja metode yang dilakukan oleh si perukiah salah. Pengobatan tidak seharusnya membahayakan individu yang berobat. 

Tak hanya di indonesia saja, dikutip dari Gulf News, baru-baru ini di Inggris, ahli anestesi bernama Hossam Metwally, 61, dinyatakan bersalah oleh pengadilan Sheffield di Inggris tengah, atas tuduhan meracuni pasangannya, Kelly Wilson. Yang dimaksud meracuni ini sebenarnya karena terduga pelaku melakukan metode rukiah atau eksorsisme secara Islam di Inggris. 

Baca juga: Tentang Melela dan Meruwat Orientasi Seksual

Metwally mengatakan, sang istri dirasuki oleh roh dan jin, dan ia harus melakukan rukiah kepada istrinya. Namun, tak hanya merapalkan doa saja, Metwally juga menyuntik korban dengan zat-zat narkotika, dan membuat sang istri mengalami kegagalan di beberapa organ vitalnya. 

Kontroversi lainnya dari metode ruqyah ini adalah saat metode rukiah ini malah digunakan oleh kelompok-kelompok anti LGBTI sebagai alat terapi konversi. Dengan ruqyah, beberapa orang menganggap individu yang memiliki orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda dari masyarakat, maka ia adalah pendosa dan harus “diobati” atau dikoreksi. Hal ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dialami oleh komunitas LGBTI.

Selain itu, hal ini juga akan sangat berdampak negatif terhadap individu LGBT, seperti kehilangan kepercayaan diri, menyalahkan diri sendiri, sulit menerima diri, depresi, bahkan sampai bunuh diri.