Women Lead Pendidikan Seks
September 08, 2022

'Bromance' dalam Budaya Populer, Eksis Sejak Lama dan Bermasalah?

Di Indonesia film dengan bumbu bromance mungkin baru-baru ini populer. Tapi, jika ditelisik sebetulnya sudah eksis lama lengkap dengan problematikanya.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture
Mesra tanpa asmara
Share:

Sejak ditayangkan 25 Agustus lalu, film terbaru Angga Dwimas Sasongko, Mencuri Raden Saleh telah jadi perbincangan banyak masyarakat Indonesia. Salah satu topik yang  diperbincangan adalah bromance antara Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda).

Dengan latar belakang karakter yang memang kehilangan kehangatan dari keluarga nuklir mereka, keduanya digambarkan sebagai soulmate atau sahabat sehidup semati. Mereka hidup untuk saling melengkapi satu sama lain, bikin Piko dan Ucup tak bisa terpisahkan. Mereka saling berbagi suka dan duka, bahkan sampai bikin Sarah (Aghniny Haque)—pacar Piko—selalu kesal.

Kuatnya chemistry antara Piko dan Ucup membuat para penggemar nge-ship mereka. Sampai-sampai banyak alternate universe (AU) fanfiction dan fanart yang bermunculan di Twitter. Saking populernya, Piko dan Ucup bahkan punya nama ship-nya sendiri, Cupiko atau Hackforger.

Kepopuleran bromance dalam penggambaran dinamika Piko dan Ucup bukan fenomena baru. Sebaliknya, bromance atau penggambaran persahabatan laki-laki yang penuh kasih sayang dan intim sudah populer lama. Setidaknya di dunia perfilman dan serial TV Barat.

Beberapa bromance terkenal di antaranya adalah Holmes dan Dr. Watson (Sherlock Holmes), Dean Winchester dan Castiel (Supernatural), Charles Xavier dan Eric Lehnsherr (X-Men), hingga Steve Rogers dan Tony Stark (Avengers).

Baca juga: Mesra Tanpa Asmara: Bromance dari A sampai Z

Bromance karakter-karakter ini bisa dibilang memberi pengaruh luar biasa dalam dunia fan culture. Berbagai narasi alternatif dalam fanfiction diproduksi secara masif. Fanart mereka tak hanya disebarkan secara gratis di internet, tetapi banyak juga yang dijual dalam format doujinshi atau komik penggemar di website e-commerce hingga di pameran.

Lantas, sejak kapan trope bromance ini hadir, lalu populer? Dan apa yang bikin ia makin digemari saat ini?

Mengenal Lebih Jauh Bromance dalam Budaya Populer

Bicara tentang Bromance di budaya populer, terutama film, tak lengkap rasanya jika kita tak memulainya dari buku Reading the Bromance: Homosocial Relationships in Film and Television (2014). Michael DeAngelis selaku penulis mencatat kata bromance pertama kali disebut oleh editor majalah Skateboard David Carnine, pada tahun 1990-an dan baru dipopulerkan media pada 2005, setelah dirilisnya Judd Apatow The 40-Year-Old Virgin.

Kendati baru populer pada era 2000-an, banyak akademisi dan kritikus film berpendapat, bromance sebagai salah satu genre film sebenarnya bukan hal baru. Sebaliknya ia punya sejarah yang cukup lama dan kompleks.

Beberapa dekade sebelum Superbad (2007) dan I Love You, Man (2009), dunia perfilman telah mengenal buddy film. Buddy film sendiri adalah subgenre film petualangan dan komedi di mana dua laki-laki disatukan dalam sebuah petualangan.

Persahabatan antara dua laki-laki ini jadi hubungan kunci dari buddy film. Mereka sering kali berasal dari latar belakang yang berbeda atau memiliki kepribadian yang berbeda dan melalui serangkaian peristiwa persahabatan keduanya digambarkan menjadi lebih kuat dan mereka jadi lebih menghormati dan memahami satu sama lain.

Baca juga: 5 Alasan Komedi Cinta Dorama 'Kieta Hatsukoi' Menggemaskan

American Masculinities: A Historical Encyclopedia menjelaskan, buddy film menawarkan kesempatan kepada penonton pria yang akan menonton film untuk menikmati bentuk ikatan dan perilaku pria yang biasanya tidak dianjurkan oleh batasan sosial. Hal yang membuatnya populer pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, termasuk di dalamnya film Butch Cassidy and the Sundance Kid (1969) dan Midnight Cowboy (1969).

Dalam studinya tentang gender dalam film-film Hollywood, From Reverence to Rape: The Treatment of Women in the Movies (1973), Molly Haskell menggambarkan bagaimana era ini menandai sebuah perubahan dalam dunia film di mana laki-laki dilepaskan dari penggambaran hipermaskulin mereka. Mereka stoik, arogan, dan agresif.

Di era ini laki-laki diberikan suara atau visi yang riil untuk mengeksplorasi perasaan mereka satu sama lain. Mereka mulai diberikan wadah untuk memperlihatkan mereka punya kerentanan Mereka punya emosi yang perlu dibagi. Dari sinilah kemudian pergeseran representasional dalam protagonis pria Hollywood dimulai.

Jika dulu protagonis laki-laki hampir selalu digambarkan sebagai alpha male dengan fisiknya yang super macho (six pack, garis rahang dan pipi yang tegas, berotot) dan profesi seperti tentara, polisi, pengacara, bahkan koboi, maka kini mereka mulai digambarkan sebagai beta male. Dalam hal ini mereka digambarkan secara realistis, sebagaimana banyak laki-laki di dunia yang tak semuanya memiliki fisik super macho dan perangai dominan dan agresif seperti Sylvester Stallone dalam Rambo atau Arnold Schwarzenegger dalam Terminator.

Pergeseran ini juga tak lepas dari bagaimana gerakan feminisme di Barat pada era 70-an hingga 90-an menentang peran dan harapan gender tradisional dalam masyarakat. Begitu setidaknya yang tertuang dalam penelitian Ann M. Ciasullo dan David Magill yang berjudul ‘This is what I’ve always wanted’: Bromance and the evolution of male intimacy in the Jump Street films (2015).

Peran feminisme di Barat pada era ini mendorong laki-laki heteroseksual untuk keluar dari ekspektasi gendernya. Kebangkitan bromance perlahan tak terelakkan dan pada prosesnya ia tak hanya berusaha meredefinisikan hubungan persaudaraan dengan keintiman emosional yang lebih terbuka. Sehingga sebagai genre, pada akhirnya menurut DeAngelis bromance menawarkan cara diskursif bagi maskulinitas untuk dieksplorasi dan keintiman laki-laki untuk diekspresikan.

Benarkah Bromance Berarti Budaya Populer yang Lebih Progresif?

Bromance sebagai genre bisa dikatakan cukup progresif dalam menggambarkan relasi antara laki-laki di luar batas ekspektasi gender. Namun, pada kenyataannya genre ini punya problematikanya sendiri bahkan sejak genre ini masih bernaung dalam buddy film.

Feminisme boleh jadi salah satu alasan adanya perbincangan tentang maskulintas. Sekaligus bagaimana perbincangan tentang ekspektasi gender tradisional yang membebani tak hanya perempuan, tapi laki-laki juga, muncul. Sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an, faktanya gerakan feminis juga memengaruhi perkembangan perspektif di beberapa buddy film.

Kritikus seperti Molly Haskell dan Robin Wood seperti dikutip dalam penelitian Always a Partner in Crime: Black Masculinity in the Hollywood Detective Film (2004), film-film genre buddy 1970-an diproduksi sebagai serangan balik untuk feminisme dengan mengeksplorasi persahabatan laki-laki secara lebih dramatis dan mendorong individualisme terutama untuk terbebas dari perempuan.

Dalam artian, perempuan sengaja disingkirkan dari ruang narasi dalam film-film ini dengan cara menekankan kedua protagonis laki-laki sebagai isu sentral. Problem ini kemudian bergeser setelah bromance muncul. Perempuan yang tadinya secara utuh disingkirkan, kini seringkali hanya dijadikan objek afirmasi heteroseksualitas saja dalam genre ini.

Chloe Benson melalui penelitiannya At the Margins of the Bromance: A Queer Reading of The Hangover Part III and Its Promotional Materials (2017) menjelaskan genre ini masih kental dengan homohisteria.

Homohisteria sendiri mengacu pada rasa takut dianggap homoseksual karena perilaku yang biasanya dianggap atipikal gender. Homohisteria mengecualikan laki-laki gay dari maskulinitas normatif dan berfungsi sebagai paksaan yang menekan semua laki-laki untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma gender yang kaku sebagai cara untuk membuktikan “kejantanan” mereka.

Baca Juga: Hubungan Platonik: Dekat dengan Seseorang tapi Sebatas Teman

Dalam genre bromance, salah satu caranya adalah melalui kehadiran karakter perempuan. Perempuan dan ruang domestik sama-sama digunakan untuk menegaskan kembali batas-batas seksual dan mengembalikan heteromaskulinitas protagonis sampai akhir film. Karakter perempuan sering kali hanya dijadikan perangkat naratif tambahan atau tempelan. Hadir untuk menyatukan para laki-laki demi “mencegah relasi homososial mereka tergelincir ke dalam homoseksual”.

Pada akhirnya, genre bromance dalam budaya populer memiliki kompleksitas sejarah dan implikasi performativitas gender di dalamnya. Ia boleh jadi masih memiliki problematikanya sendiri hingga saat ini. Tapi yang pasti, bromance telah jadi bagian penting dalam budaya populer. Ia mendorong diskusi bagi pelaku industri dan akademisi untuk lebih dalam memahami ekspresi di luar batas gender tradisional dan potensi queer yang kaya dalam teks seni kontemporer secara lebih luas.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.