Women Lead Pendidikan Seks
March 30, 2022

Dari A Sampai Z, Cerita Fans Generasi Dua K-Pop

Saat ini mengakses konten K-pop sangat mudah dengan bantuan internet, tapi bagi penggemar K-pop era 2000-an bonus poster dari tabloid adalah segalanya.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
Dari A sampai Z, Cerita Fans Generasi Dua K-pop
Share:

Saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring pukul tiga sore, “Raya” bergegas membereskan buku-bukunya. Siswa kelas satu SMA itu tak sabar membeli edisi terbaru tabloid remaja yang bonusnya poster Super Junior, di agen koran langganan dekat rumahnya. 

Sebagai seorang Elf–sebutan penggemar Super Junior, tak afdol jika tak mengoleksi poster itu. Raya yang masih 15 tahun tidak punya uang untuk membeli album atau merchandise asli Super Junior. Jadi, poster gratisan itu sudah cukup bikin dia senang. Meski sebetulnya tak gratis-gratis amat, karena dia harus menabung uang jajan seminggu supaya bisa membeli tabloidnya.

 “Sebelum jual beli photocard idola menjadi mata uang utama seorang penggemar, poster idola K-pop dari penjual eceran menjadi cara utama fangirling,” kata Raya, yang sekarang berusia 25 tahun, mengenang masa-masa remajanya sebagai penggemar K-Pop era 2000-an. 

Perempuan yang sedang menempuh studi magister di Universitas Padjadjaran itu sudah menggemari Super Junior satu dekade. Namun, pengalaman fangirling mengunduh video musik agar bisa ditonton berkali-kali dan bertukar flashdisk untuk berbagi lagu masih membekas kuat di ingatannya. Raya dulu juga sempat menonton variety show yang dipecah jadi 10 bagian dengan kualitas rendah 3GP di situs video abal-abal, hanya demi bisa menonton para idola.

“Itu zamannya menunggu comeback pukul 12 malam (idola sekarang tidak boleh merilis lagu pada pukul itu), berita siapa yang pacaran pas tahun baru, ada Music Bank di televisi nasional, dan surfing internet di warnet kalau mau terus up to date,” kenang Raya. 

Baca juga: ‘Dear’ Penggemar K-Pop, Saatnya Benahi Seksisme dan Misogini dalam ‘Fandom’

Zaman K-Pop Masih Distigma

Raya tidak sendiri, rutinitas fangirling yang hampir senada juga dilakukan Anin, seorang SONE–sebutan untuk penggemar grup idola Girls Generation–di Bekasi. Saat itu, Anin masih kelas satu SMP dan grup idola besutan SM Entertainment itu baru saja merilis album Genie (2009). Namun, dia bukan dari keluarga yang berprivilese secara finansial. Satu-satunya cara untuk mendengar musik K-Pop kesukaannya dengan merekam lagu-lagu itu menggunakan ponsel Nokia miliknya. 

“Dulu saya dengar lagu bukan lewat download, karena belum tahu caranya. Jadi mencari di Youtube, tapi direkam terus diputar saat jam istirahat. Sampai (saya) tahu software music player, seperti Winamp,” kata perempuan berusia 25 tahun yang bekerja di agensi hiburan ini.

Akan tetapi, saat itu K-pop belum menjadi sepopuler sekarang, belum jadi fenomena global. Meskipun grup idola, Super Junior, Girls Generation, dan Wonder Girls digandrungi remaja dan drama Korea Boys Before Flowers diputar di saluran televisi nasional, penggemar konten “kekoreaan” kerap dicemooh. 

“Saat sekolah dulu saya dikenalnya Anin Korea dan dikatain freak karena suka musik dan dance K-pop juga. But it’s okay,” ujarnya. 

Situasi yang tidak jauh berbeda dialami Sarah, seorang Cassiopeia–penggemar grup idola TVXQ–di Jakarta. Alih-alih membiarkan dirinya diejek ‘aneh’ dan suka berhalusinasi oleh teman sekolahnya, Sarah balik melawan mereka. “Apa-apaan sih, rese kalian!” kenang Sarah, mengingat protes balik yang sering dia lontarkan pada kawan-kawannya yang mengejek. Sarah mulai menggemari K-pop saat dia berusia 14 tahun, bertepatan ketika TVXQ merilis lagu Balloons (2006).

“Kami dulu bertiga yang suka Korea di sekolah. Dan sama teman-teman sekolah kami disebut  ‘yang suka cowok Cina’ karena waktu itu masih hype drama Taiwan, Meteor Garden. Mereka pukul rata semuanya dan enggak tahu kalau K-pop dan F4 itu dari negara yang beda,” ujar perempuan berusia 28 tahun itu.

Meski menerima cibiran, kegemaran pada K-pop itu yang mendorong Anin bekerja di industri musik serta hiburan dan Sarah untuk belajar bahasa Inggris. Sarah menggunakan uang jajan yang ditabungnya bermalam minggu di warnet agar bisa memahami konten video atau lirik lagu TVXQ yang diterjemahkan dari Hangul ke bahasa Inggris. 

“Walaupun saya cuma lulusan SMA dan baru melanjutkan kuliah, bekal belajar bahasa Inggris itu sangat membantu saya saat bekerja di sebuah toko buku dan bisnis properti karena saya selalu bertemu orang asing,” ujar Sarah yang sekarang menempuh pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Nasional. 

Baca juga: 5 Alasan Absurd Laki-laki Benci Bintang K-Pop

Meledaknya K-Pop di Indonesia

Cerita menggemari K-Pop saat masih sekolah yang berbeda dialami Valeska, seorang freelance creative consultant di Tangerang yang juga seorang Elf. Perempuan berusia 32 tahun itu mulai menggemari Super Junior setelah mendengarkan lagu mereka Miracle pada 2005. Namun, musik K-Pop belum menjadi perhatian sebab band musik rock semacam Dashboard Confessional dan Boys Likes Girls menjadi pusat atensi remaja seusianya.

Karena itu, Valeska tidak memiliki teman untuk ngobrolin K-Pop di sekolah dan hanya bisa menikmati musiknya sendirian di rumah. 

“Sampai (empat tahun kemudian) saya kuliah dan memberanikan diri untuk memperlihatkan ke orang-orang saya juga suka, loh. Dan bersama beberapa senior di kampus kami buat akun Twitter komunitas Super Junior Indonesia dan followers lebih 100 ribu orang. Itu memori paling berkesan karena saya senang tidak sendiri lagi,” kata Valeska kepada Magdalene

Ashanti Widyana, akademisi Pendidikan Bahasa Korea di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung mengatakan, meningkatnya penggemar dan kepopuleran K-pop menjelang akhir tahun 2000-an tidak datang secara tiba-tiba. Pasalnya, Hallyu Wave sudah dipupuk dan dikembangkan pemerintah Korea Selatan selama tiga dekade. 

Gelombang pertama datang dalam bentuk K-drama yang disiarkan televisi nasional, seperti Endless Love (2001), Winter Sonata (2002), dan Jewel In The Place (2003). Populernya K-drama juga didalangi meledaknya Meteor Garden. Namun, musik K-pop sendiri semakin merajalela di Indonesia sekitar tahun 2009 saat lagu idola generasi kedua, seperti Sorry Sorry dari Super Junior booming

Di tahun yang sama, musisi K-pop perlahan-lahan memasuki pasar AS. BoA menjadi musisi K-Pop pertama yang albumnya, BoA, masuk ke Billboard 200 lalu Wonder Girls dengan Nobody sebagai lagu K-Pop pertama yang masuk Billboard Hot 100 Chart. Tiga tahun setelahnya Girls Generation menjadi grup idola K-Pop pertama yang tampil di acara tengah malam, Late Show with David Letterman dengan The Boys. Lalu Gangnam Style oleh Psy menjadi sensasi internet setahun kemudian.

Masa itu, penampilan di acara-acara di AS memang dianggap sebagai gebrakan besar buat musisi Korea Selatan.

Industri kreatif mereka dan hallyu wave terus berkembang seiring akses informasi dan teknologi semakin luas, sehingga pasarnya tidak lagi berpusat di Jepang, Tiongkok, serta Vietnam, kata Ashanti. 

“Tapi, kita sebenarnya tidak sadar pernah mendengar musisi K-pop (sebelum meledak tahun 2009). BoA dan TVXQ, misalnya, terkenal di Jepang dan membuat lagu untuk anime Inuyasha dan One Piece. Kita tidak tahu mereka musisi K-Pop sebab lagunya berbahasa Jepang,” jelas Ashanti pada Magdalene

Baca juga: Novel Mantan Idola K-Pop Ungkap Aturan Lebih Ketat Buat Perempuan

Dulu dan Sekarang, Fans Pasif Jadi Aktif

Saat ini melihat wajah idola K-Pop terpampang sebagai brand ambassador perusahaan e-commerce, produk perawatan kulit, hingga mie instan bukan hal yang asing. Pasalnya, ungkapan ‘semua orang akan kekoreaan pada masanya’ menjadi kenyataan ketika Indonesia termasuk sebagai negara yang memiliki penggemar K-Pop terbanyak. 

Dua tahun lalu, aplikasi streaming Spotify menemukan selama 2014 sampai 2020 ada 41 miliar stream musik K-Pop secara global. Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara penyumbang terbanyak, sementara peringkat pertama dipegang oleh AS. 

Sekarang panggung K-Pop mayoritas diisi idola kelahiran akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Koreografi sampai hentakan musik semakin tajam serta marak grup idola perempuan tampil garang dan percaya diri dengan konsep girl crush. Sementara idola generasi kedua beralih menjadi penyanyi solo maupun aktor, tapi tidak menandakan mereka berhenti sepenuhnya menjadi idola. 

Tahun lalu, SM Entertainment memperkenalkan grup idola super lintas generasi, Girls on Top yang beranggotakan tujuh orang. Solois Boa, Taeyeon dan Hyoyeon dari Girls Generation, Wendy dan Seulgi dari Red Velvet, serta Winter dan Karina dari Aespa. 

Meski demikian, tidak semua fans dari generasi lama terus mengikuti K-Pop. Anin, misalnya, tidak lagi intens mengulik musik dan idola K-pop sebab disibukkan aktivitas sehari-hari. Namun bagi Tania, seorang ibu rumah tangga di Depok, K-Pop tidak pernah pergi dari hidupnya, walaupun dia sudah memiliki anak berusia 3 tahun. 

Di waktu kosong setelah menyelesaikan tugas rumah tangga, Tania sesekali membuka media sosial dan melihat berita terbaru tentang idolanya EXO dan TVXQ. Bagi perempuan 36 tahun itu, K-Pop bagaikan pelipur lara ketika dia lelah dengan aktivitas sehari-hari. Karenanya, tidak heran jika anaknya bisa mengenal D.O dan Chanyeol EXO sebab sering terpapar konten K-Pop saat Tania menonton televisi. 

“Dulu enggak kepikiran bakal suka K-Pop kalau enggak sengaja kecemplung (menggemari TVXQ pada 2011 sebab patah hati). Tapi saat sudah suka, enggak bisa benar-benar berhenti meski sudah tidak aktif seperti dulu,” kata Tania kepada Magdalene

Berada di fandom K-Pop selama lebih sepuluh tahun Tania juga melihat penggemar generasi tiga dan empat lebih kritis dan tidak takut menjadi politis. Akan tetapi, mereka mudah melemparkan serangan antara sesama fandom K-pop ketika memperebutkan penghargaan atau memecahkan rekor streaming musik maupun jumlah views Youtube. Jika Youtube dulu sekadar wadah untuk video musik, sekarang jumlah views menjadi tolak ukur kesuksesan idola. 

Raya menyampaikan hal senada, posisi sasaeng fans–penguntit idola–digeser oleh kehadiran toxic fans yang suka menuai fanwar di media sosial. Ia mengatakan, “Dulu juga memang ada fanwar, saya bahkan suka bertengkar dengan kakak saya yang SONE soal grup mana yang lebih baik. Tapi, sekarang jari-jari orang lebih fleksibel berkata kasar.”

Ashanti berpendapat, meningkatnya toxic fans dipengaruhi oleh kemudahan menjadi anonim di media sosial. Namun, penggemar semacam itu tidak hanya ada di ranah K-Pop, tetapi hampir semua fandom yang bermain di dunia maya, mulai fans sepak bola sampai film. Selain itu, akses teknologi, internet dan globalisasi K-Pop juga mengubah fans dari pasif menjadi pelanggan produktif.

“Dulu penggemar internasional sulit berkontribusi langsung pada kesuksesan idola karena keterbatasan akses. Makanya dulu lebih sering mengunduh lagu secara ilegal. Sekarang bisa ikut kontribusi langsung dalam meningkatkan popularitas idolanya dengan voting atau beli album,” kata Ashanti. 

K-Pop dan Hallyu Wave secara keseluruhan merupakan bisnis dan soft power Korea Selatan yang didukung pemerintah. Sebagai sebuah industri, Valeska tidak bisa mengesampingkan memang ada masalah terkait seksisme, pelecehan seksual, cultural appropriation, serta minimnya kesadaran kesehatan mental idola.

“Industri K-Pop tidak sempurna dan idolanya semakin banyak yang speak up. Saya merasa general public acceptance membongkar banyak hal dan mengangkat berbagai perspektif. Saya hanya berharap ini terjadi lebih cepat,” ujar Valeska. 

Melihat kembali tujuh belas tahun yang lalu, Valeska mengenang K-Pop sebagai bagian dari masa remajanya, sama seperti musik emo maupun musisi atau boyband pop Barat bagi beberapa orang.

“Saya sudah menikah enam tahun lalu dan berkeluarga dan menginjak usia 30 bukan berarti harus berhenti menggemari K-Pop, kamu masih boleh punya hobi. Bagi saya K-Pop ini menjadi pelipur lara setelah kerja seharian,” kata Valeska.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.