Women Lead Pendidikan Seks
August 31, 2020

Dari Netflix sampai iflix: Peta Kompetisi Layanan ‘Streaming’ di Asia Tenggara

Perusahaan streaming global seperti Netflix dan HBO harus berhadapan dengan pesaing lokal yang kian bermunculan di Asia Tenggara.

by Thomas Barker
Lifestyle
Share:

Pemain besar layanan menonton via internet atau streaming seperti AppleTV dan Disney Plus memasuki pasar Amerika Serikat pada akhir tahun lalu. Banyak yang percaya bahwa mereka akan menjadi pesaing Netflix yang sudah lebih dahulu menguasai industri ini.

Di Asia Tenggara, beragam perusahaan streaming berlomba-lomba mendapatkan audiens. Asia Tenggara menjadi pasar yang menjanjikan dengan lebih dari 600 juta penonton. Namun, wilayah yang heterogen ini memiliki kondisi politik, bahasa, dan selera yang berbeda.

Perusahaan layanan menonton global seperti Netflix dan HBO telah bersaing untuk mendominasi pasar Asia Tenggara. Mereka harus bersaing dengan perusahaan start-up lokal, termasuk VIU dari Hong Kong, HOOQ dari Singapura, dan iflix dari Malaysia. Perusahaan lokal ini lebih unggul karena mengetahui kondisi pasar lokal dengan lebih baik serta lebih dekat dengan masyarakat dari segi geografis.

Audiens untuk tontonan streaming di Asia Tenggara bertumbuh dengan cepat. iflix dari Malaysia memiliki lebih dari 17 juta pelanggan pada 2019, sementara Netflix memiliki 14,5 juta pengguna. Jumlah pengguna Netflix ini meningkat 150 persen selama dua tahun terakhir.

Hanya sedikit konsumen di Asia Tenggara yang merasa terbebani dengan langganan TV kabel atau satelit yang mahal, namun mereka menginginkan hiburan murah yang lebih dari apa yang ditawarkan siaran televisi. Selain itu, banyak konsumen menggunakan ponsel dan ingin terhibur saat sedang berada di bus atau terjebak di kemacetan. Selera tontonan mereka umumnya dipengaruhi oleh drama Korea dan film Hollywood.

Sementara itu, produksi konten regional juga semakin matang dalam dua dekade terakhir. Hal ini didukung dengan perkembangan teknologi digital dan konten pintar dari generasi pembuat konten yang kreatif. Generasi pembuat konten yang baru ini ditemukan di “kota-kota media” di Asia Tenggara seperti Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Manila. Produser konten ini semakin mencari penonton regional maupun global. Mereka menemukan streaming sebagai teknologi yang ideal untuk membagikan konten mereka.

Baca juga: Masalah Konten, Kompetensi, Ekspansi Bioskop Hambat Film Indonesia

Sejak diluncurkan pada 2011, Netflix membuka kesempatan streaming untuk audiens dan pembuat konten. Tidak hanya menawarkan konten yang tidak disensor, penonton Netflix di Asia Tenggara juga bisa menyaksikan tontonan global seperti serial House of Cards.

Masuknya Netflix ke Asia Tenggara didorong oleh adanya subsidi dari pemerintah Malaysia untuk syuting serial Marco Polo di studio Pinewood Iskandar, Johor, Malaysia pada 2014.

Setelah menjadi saluran televisi kabel untuk tayangan Hollywood di Singapura, HBO mulai bergeser ke layanan streaming. Pada 2012, HBO mulai memproduksi konten lokal orisinal termasuk film laga-horor Dead Mine dan serial Serangoon Road bersama ABC Australia. Ambisi HBO untuk membuat konten regional semakin jelas ketika sutradara Joko Anwar dipilih untuk memproduksi mini seri fantasi horor, Halfworlds.

Layanan menonton streaming mulai bermunculan dan berlomba menarik perhatian audiens dari Netflix dan HBO.

Kelincahan pemain lokal

Layanan tontonan streaming lokal mendapatkan hak eksklusif dari produsen konten lokal. Hal ini membuat konten mereka menjadi lebih bersaing karena mereka mendapatkannya jauh sebelum konten selesai diproduksi. Pemain streaming lokal saat ini juga sudah relatif mandiri, memungkinkan mereka untuk fleksibel dalam mendistribusikan konten mereka.

Berikut ini pemetaan penyedia layanan streaming lokal ternama di Asia Tenggara.

  1. iflix

Ekspansi yang cepat dan integrasi mereka dengan penyedia telekomunikasi memungkinkan iflix untuk mengamankan posisi pasar mereka. iflix berhasil mendapatkan investor utama dari MGM Amerika pada 2015 dan Surya Citra Media (SCM) dari Indonesia pada 2016.

Peluncuran iflix di Indonesia pada Juni 2016 ditandai dengan dirilisnya produksi film Magic Hour: The Series yang disutradarai oleh Asep Kusdinar. Berkolaborasi dengan Screenplay Films yang masih berhubungan dengan SCM, film ini merupakan sekuel dari film Asep sebelumnya, Magic Hour.

  1. HOOQ

Diluncurkan pada 2015, HOOQ adalah kolaborasi antara perusahaan telekomunikasi Singapura Singtel dan studio film Amerika Serikat Warner Bros dan Sony Pictures. Mereka melakukan ekspansi konten di Singapura, Thailand, Filipina, Indonesia, dan India.

Menampilkan film lokal dengan logo HOOQ pada bagian awal konten adalah cara mereka untuk bekerja sama dengan pembuat konten lokal. HOOQ baru saja mengajukan kerja sama untuk serial berdasarkan film On The Job dari sutradara Filipina Erik Matti.

Sama seperti HBO dan iflix, HOOQ menunjukkan bagaimana studio di Hollywood memiliki peran signifikan bagi penyedia layanan hiburan di Asia Tenggara.

“Di Asia, audiens memiliki kepercayaan yang sama pada makhluk gaib. Warga Asia percaya pada monster yang sama, mereka hanya memiliki nama yang berbeda.”

  1. Viu

Penyedia telekomunikasi asal Hong Kong terbesar, PCCW, membentuk Viu pada 2015 dan berkembang ke Asia Tenggara di 2016. Viu fokus menyediakan konten dari Korea, Cina dan Asia Selatan. Mereka juga memproduksi banyak konten orisinil, termasuk Keluarga Baha Don,Salon dan Sunshine.

Pada 2018, Viu turut memproduksi ulang serial asal Swedia,The Bridge dengan bekerja sama dengan HBO Asia. The Bridge versi Asia Tenggara berlokasi di jembatan antara Singapura dan Malaysia, yang menjadi simbol utama pasar hiburan Asia Tenggara.

Persaingan semakin memanas

Untuk menyikapi persaingan dari pemain lokal di Asia Tenggara, Netflix membuka kantor regional di Singapura pada 2016. Perusahaan ini menggunakan fitur film berbahasa asli dari beragam wilayah untuk menarik pelanggan lokal. Salah satunya adalah film laga Indonesia, Headshot, yang disutradarai oleh Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel, dengan aktor utama, bintang laga Iko Uwais. Kerja sama ini berlanjut ke film Timo Tjahjanto berikutnya, The Night Comes for Us, yang juga berhasil menarik audiens internasional.

Netflix mengembangkan serial pertama di Asia Tenggara, Ghost Bride, bersama sutradara Malaysia Quek Shio Chuan dan Ho Yuhang. Serial ini diperkirakan menghabiskan RM30 juta atau sekitar Rp100 miliar.

Melibatkan aktor dari berbagai negara adalah salah satu strategi yang sering dilakukan untuk menarik penonton lokal. Salah satu contohnya bisa dilihat dalam serial Grisse yang melibatkan aktor dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Para pemain di industri streaming juga melihat apa yang disebut oleh Astro sebagai “Konten Nusantara”, yaitu upaya untuk fokus pada cerita dan pembuat konten dari seluruh wilayah Asia Tenggara.

Baca juga: Riset Menjawab Kenapa Kita Bisa Ketagihan Nonton Netflix

Strategi lain adalah dengan mencari kanal yang fokus pada genre yang bisa menembus batasan bahasa dan negara. Direktur produksi HBO Asia, Garon De Silver, menjelaskan pandangannya terkait karakteristik penonton di Asia.

“… meskipun ada perbedaan budaya dan bahasa di Asia, mereka (audiens) memiliki kepercayaan yang sama pada makhluk gaib. Warga Asia percaya pada monster yang sama, mereka hanya memiliki nama yang berbeda.”

Setelah Halfworlds, HBO melanjutkan dengan dua produksi lainnya. Produksi dari Thailand disutradarai oleh Ekachai Uekrongtham dan di Filipina oleh Mikhail Red. Ada juga enam episode antologi horor Folklore yang melibatkan banyak sutradara seluruh Asia dan dipimpin oleh Eric Khoo dari Singapura.

Astro juga melakukan gerakan serupa dengan membuat serial horor, termasuk Sembil9n dan Nawangsih. Konten ini sama-sama menargetkan pasar Malaysia dan Indonesia. Astro juga mendaftarkan lisensi pada partnernya di Indonesia, MAXstream, yang merupakan anak perusahaan Telkomsel.

Industri streaming sudah membuka kesempatan baru bagi pembuat konten untuk membuat dan mendistribusikan konten. Audiens juga diuntungkan karena dibebaskan dari biaya berlangganan yang mahal dan pilihan program yang kaku. Dengan layanan streaming, mereka mendapatkan konten yang baru dan lebih canggih.

Di baliknya, penyedia layanan streaming global dan regional mulai melihat kesempatan ini. Mereka menaruh investasi yang besar dengan membuat rencana yang ambisius. Layanan penyedia tontonan streaming secara masif mengubah sistem produksi konten di Asia Tenggara dengan mengubah pola distribusi dan meningkatkan persaingan.

Apa pun yang terjadi, Asia Tenggara telah menjadi bagian dari industri streaming dan penonton global.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Thomas Barker adalah associate professor bidang Film and Television, University of Nottingham.