Women Lead Pendidikan Seks
February 23, 2022

Dear Anak Senja, Kopi Terancam Langka dan Mahal karena Krisis Iklim

Perubahan iklim adalah ancaman nyata, bahkan itu bisa membuatmu sulit menyeruput kopi setiap hari.

by Denis J Murphy
Lifestyle
Share:

Area perkebunan kopi terbaik di dunia berpotensi kehilangan kemampuan produksinya jika perubahan iklim terus memburuk, bahkan jika terjadi hanya dalam skala moderat. Brasil misalnya, yang kini digadang-gadang jadi penghasil kopi terbesar di dunia, terancam mengalami pengurangan 70 persen lahan perkebunan kopinya.

Ini merupakan temuan terbaru dari tim peneliti di Swiss yang mengukur dampak perubahan iklim terhadap kopi, jambu mete, dan alpukat. Ketiganya merupakan tanaman yang diperdagangkan secara global dan umumnya diproduksi oleh perkebunan skala kecil di daerah tropis.

Di antara ketiganya, kopi merupakan komoditas paling penting dengan perkiraan total pemasukan sebesar US$460 miliar (Rp6,608 triliun) pada 2022. Sementara, estimasi pemasukan untuk alpukat sebesar US$13 miliar (Rp186 triliun) dan untuk jambu mete sebesar US$6 miliar (Rp86 triliun).

Baca juga: Makanan dan Stereotip Gender: Apa Salahnya Laki-laki Tak Minum Kopi?

Biji kopi umumnya diproses untuk menghasilkan minuman stimulan, sementara alpukat dan jambu mete merupakan komoditas makanan yang dikonsumsi secara luas dan kaya akan minyak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat acids) serta nutrisi penting lainnya.

Artinya, perubahan iklim akan mengakibatkan penurunan signifikan jumlah lahan yang cocok untuk menanam komoditas-komoditas tersebut, terutama di wilayah budidaya utama mereka saat ini. Pada gilirannya, hal ini akan berdampak pada petani dan konsumen di seluruh dunia.

Hingga saat ini, sebagian besar penelitian mengenai dampak perubahan iklim fokus pada makanan pokok di daerah beriklim sedang; seperti gandum, jagung, kentang, dan minyak sayur. Hal ini merefleksikan kecenderungan ilmuwan iklim untuk fokus pada kemungkinan dampak perubahan iklim di ekosistem sedang, terutama akibat perubahan temperatur dan pola curah hujan.

Sebaliknya, tidak banyak penelitian mengenai ekosistem tropis. Padahal, daerah tropis melingkupi 40 persen lahan global dan menyerap 3 miliar tenaga kerja, dengan perkiraan tambahan satu miliar pekerja pada 2050.

Daerah tropis juga menyangga cadangan sumber daya hayati yang luas, sekaligus lahan bercocok tanam untuk berbagai komoditas penting yang menghasilkan makanan dan pendapatan bagi populasinya yang besar.

Penelitian baru tersebut menegaskan dan memperluas temuan dari beberapa studi yang ada tentang tanaman kopi, jambu mete, dan alpukat.

Inovasi penting dalam rset ini adalah kajian terhadap parameter lahan dan tanah, di luar faktor iklim murni seperti suhu dan pola curah hujan. Hal ini memberikan perspektif yang lebih tepat mengenai dampak masa depan yang dapat memengaruhi kesesuaian tanah di daerah tropis untuk budidaya tanaman tertentu akibat perubahan derajat keasaman atau tekstur tanah.

Studi ini melengkapi berbagai riset terkini mengenai kelapa sawit. Walaupun cenderung kontroversial dan kerap dikaitkan dengan deforestasi, kelapa sawit masih jadi tanaman tropis penting karena nutrisinya, serta menyuplai pangan untuk lebih dari tiga miliar penduduk.

Baru-baru ini, saya dan rekan-rekan peneliti mengkaji beberapa analisis pemodelan mengenai bagaimana perubahan iklim dapat menyebabkan timbulnya penyakit tanaman dan meningkatnya kematian tanaman kelapa sawit. Singkatnya, kematian tanaman kemungkinan akan naik signifikan setelah 2050 dan memusnahkan sebagian besar tanaman di Amerika. Selain itu, penyakit busuk batang diperkirakan akan naik drastis di seluruh Asia Tenggara.

Baca juga: ‘Anak Senja’ Mesti Tahu, Manfaat Kopi Tak Sesederhana itu

Dampak yang Kompleks dan Mengejutkan

Secara kolektif, penelitian-penelitian ini mulai mengungkapkan tingkat dan kompleksitas yang mengejutkan dari dampak perubahan iklim terhadap tanaman-tanaman penting di area tropis.

Selain itu, beragam dampak tersebut tidak akan terdistribusi secara merata: sebagian wilayah justru akan merasakan keuntungan dari perubahan iklim.

Sebagai contoh, sebagian wilayah Cina, Argentina, dan Amerika Serikat kemungkinan akan lebih cocok untuk budidaya tanaman kopi, sementara Brazil dan Kolombia kehilangan daya tumbuhnya.

Perubahan ini sangat mungkin bersifat permanen, paling tidak hingga akhir abad ini, terlepas dari respons yang lambat dan mengecewakan dari para pemimpin global terhadap upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk beradaptasi terhadap perubahan di wilayah tropis, misalnya dengan memindahkan budidaya tanaman-tanaman tertentu ke wilayah yang memiliki paparan yang lebih kecil terhadap perubahan iklim.

Walaupun demikian, apapun upaya mitigasi yang dilakukan, besar kemungkinan banyak tanaman tropis akan menjadi langka dan mahal di masa yang akan datang.

Kopi, misalnya, akan berubah dari minuman sehari-hari yang murah menjadi suguhan berharga yang hanya dikonsumsi pada waktu-waktu tertentu layaknya anggur mewah.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Denis J Murphy adalah Emeritus Professor of Biotechnology, University of South Wales.