Women Lead Pendidikan Seks
February 15, 2016

Didik Anak untuk Tidak Memperkosa, Bukan Cara Berpakaian

Didik anak laki-laki untuk tidak memperkosa, bukannya mengajari anak perempuan untuk memakai atau tidak memakai pakaian tertentu.

by Nadia Hana Abraham
Issues // Politics and Society
Share:

Saya benci untuk menjadi naif. Dan saya tidak dapat berpura–pura setuju dengan orang yang memiliki pemikiran yang naif.
 
Sebagai seorang perempuan, ketika seseorang berkata, “Jika tidak mau diperkosa, pakailah pakaian yang tertutup “, saya tidak dapat menghentikan pertanyaan–pertanyaan yang muncul di pikiran saya. Pertanyaan seperti: “Bagaimana jika korban pemerkosaan orang yang sudah tua, atau malah anak–anak ? Apakah tubuh mereka begitu mengundang orang untuk berbuat tindakan kriminal? Apakah tubuh mereka begitu mengundang orang untuk merampas hak mereka atas tubuh mereka sendiri sebagai seorang manusia yang merdeka?”
 
Dengan berpikir menghubungkan pemerkosaan dengan cara seseorang berpakaian, kita sama saja menyamaratakan kaum pria sebagai penjahat. Bahwa mereka tidak mampu bertindak dengan empati dan rasionalitas, bahwa mereka tidak memiliki kemampuan dan kesadaran untuk menghormati hak setiap mahluk ciptaan Tuhan. Ini adalah sifat naluriah.  Inilah yang membedakan kita dengan hewan: bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kemampuan untuk bertindak tidak hanya dengan mengandalkan insting dan nafsu, tetapi dengan empati dan rasionalitas.
 
Dengan berpikir bahwa pakaian yang menyebabkan seseorang diperkosa, kita bertindak tidak adil. Pemikiran “ Jika tidak mau diperkosa, pakailah pakaian tertutup “sama saja dengan menutup mata pada kasus–kasus pemerkosaan yang terjadi pada para pria, para orangtua, dan anak–anak; bahwa kita sebagai seorang perempuan selalu takut terhadap kaum pria; bahwa di dunia ini kaum pria tidak mungkin menjadi seorang korban.
 
Selama kita berpikir bahwa tubuh perempuanlah yang membuat pemerkosaan terjadi, bahwa tubuh seorang perempuan adalah satu–satunya hal yang dapat menimbulkan nafsu seseorang untuk melakukan tindakan pemerkosaan, itu berarti kita menutup mata pada penyebab utama pemerkosaan terjadi: yaitu keinginan si pemerkosa untuk mendominasi sang korban.
 




Kita selalu mendengar, “ Ini yang harus kamu lakukan agar tidak diperkosa.” Tetapi kita tidak pernah mendengar, “ Jangan memperkosa. Hormati hak dan batasan–batasan orang lain. “
 
Di dunia ini, pada faktanya, bukan hanya perempuan yang dapat dilecehkan, laki–laki dan anak–anak pun bisa. Ini bukan tentang kita melawan orang lain atau dunia, ini adalah tentang kita melawan diri kita sendiri untuk tidak melakukan tindakan kriminal dan mengambil hak orang lain. Sekali lagi, kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kemampuan untuk bertindak tidak hanya dengan mengandalkan insting dan nafsu, tapi empati dan rasionalitas.
 
Sebagai manusia dengan kemanusiaan  yang telah kita kandung sejak lahir, seharusnya kita dapat sadar bahwa jika ingin dihargai Tuhan, hormati ciptaan-Nya. Ajarkan putra –putri kita untuk hidup sebagai manusia dengan empati dan rasionalitas. Ajarkan bahwa sebagai manusia, ia dilahirkan untuk bertindak dengan kedua hal tersebut.
    
Didik putri–putri kita untuk menjadi pribadi yang mandiri dan kuat, serta dapat melihat permasalahan–permasalahan yang berada di sekitarnya dengan objektif tanpa bias, bahwa tujuannya adalah mencari akar dari permasalahan dan penyelesaian untuk permasalahan tersebut. Didik mereka agar tidak peduli apapun pakaian yang mereka kenakan, mereka adalah cantik dan terhormat.
 
Didik putra–putra dan putri–putri kita untuk menghargai hak–hak satu sama lain, untuk memiliki kepribadian yang sopan dan menghormati orang lain tidak peduli apa pakaian mereka dan dari mana mereka berasal, bahwa hal tersebut adalah bagian dari diri mereka sebagai manusia. 
 
Nadia Hana Abraham adalah seorang mahasiswi yang tinggal di Jakarta. Ia dapat dihubungi di [email protected] atau di  @NadiaAbraham97 di Twitter.