Women Lead Pendidikan Seks
April 19, 2022

Dua Lipa, Perkara Patah Hati, dan Pentingnya ‘Sisterhood’

Dua Lipa, ikon feminisme pop baru ini berpesan, perempuan perlu lantang bersuara dan saling dukung, bahkan dalam urusan genting macam patah hati.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture
Share:

Patah hati adalah yang motivasi terbesar para artis untuk menulis lagu,” jelas pakar tren Spotify Shanon Cook kepada TIME pada 2018. Pernyataan Cook bukan isapan jempol. Dari generasi ke generasi, kita familiar dengan lagu-lagu top yang notabene mengangkat isu hati yang remuk redam, putus dengan kekasih, ditinggal kawin, dikhianati, dan sejenisnya. Sebut saja lagu "Believe" milik Cher, "Un-Break My Heart" Toni Braxton, "I Will Always Love You" Whitney Houston, "Somebody That I Used To Know" Gotye, hingga “Someone Like You” Adele.

“Beberapa orang mungkin tidak ingin atau tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka selama masa sulit. Sehingga, menyenangkan sekali membiarkan Sam Smith atau Kelly Clarkson mewakilkannya untukmu melalui lagu-lagu mereka,” tambah Cook.

Memang pada gilirannya lagu patah hati sangat berguna bagi seseorang untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Namun, tidak dapat dimungkiri lagu-lagu patah hati yang banyak beredar di masyarakat hanya terfokus pada rasa sakit dan luka-luka yang menganga.

Narasi patah hati yang terkesan menye-menye ini lantas didobrak oleh penyanyi Inggris Dua Lipa. Melalui lagu yang pertama kali melambungkan namanya, “New Rules” hingga “Don't Start Now”, ia konsisten menekankan pentingnya perempuan dapat terus mawas dan tak kehilangan diri dalam relasi romantis mereka.

Baca Juga: MAMAMOO: Percaya Diri Sumber Kekuatan Perempuan

Dua Lipa dan Cara Move On dari Patah Hati

Dalam relasi romantis, perempuan kerap terjebak pada relasi toksik yang merugikan diri sendiri. Tentu saja kita tahu, dalam konteks ini, perempuan biasanya paling banyak berkompromi dengan pasangan, setoksik dan semenyesiksa apapun hubungan itu.

Pun, ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan, perempuan lagi-lagi harus berhadapan dengan serangan lelaki yang (memaksa) balikan. Rasa bersalah terkadang mengambil alih, sehingga membuat perempuan masuk kembali dalam relasi yang tak membahagiakan.

Karena itu, munculnya “New Rules” oleh Dua Lipa pada 2018 bisa dibilang sangat penting bagi perempuan. Setidak-tidaknya lewat lagu ini kita belajar untuk kembali mencintai diri.

Dalam publikasi The Autonomous University of Barcelona “Songs of Empowerment: Women in 21st Century Popular Music” (2022) yang diedit Sara Martin Alegre, profesor Sastra Inggris dan Kajian Budaya, dijelaskan lirik lagu itu menunjukkan tentang pentingnya perempuan untuk bertindak asertif dan memberikan diri mereka sendiri seperangkat “aturan baru” guna melupakan mantan pasangan.

Dengan lirik yang menekankan tiga aturan baru yang ditetapkan Lipa (tidak mengangkat telepon mantan kekasih, jangan biarkan mantan kekasih masuk kembali dalam hidup perempuan, dan jangan menjadi temannya), ia mengajak perempuan memahami pola relasi yang didasari oleh maskulinitas toksik dan bagaimana perempuan seharusnya menetapkan batasan sendiri.

Tidak hanya “New Rules”, melalui “IDGAF” maupun “Don’t Start Now”, Lipa kembali menekankan pentingnya perempuan untuk berani mengambil keputusan demi meraih kebahagiaan. Dalam “IDGAF” misalnya, Lipa secara menarik menggunakan kalimat berulang seperti “I don't need your love”, I cut you off”, “Save it, get gone, shut up”, dan “I don’t give a fuck”.

Hal yang sama juga ada pada lagu “Don’t Start Me Now” yang menggunakan pengulangan kalimat “I'm all good already”, “Don't show up, don't come out”, “Don't start caring about me now”.

Dengan penggunaan kalimat berulang ini, Dua Lipa secara terang-terangan menekankan bagaimana ia sudah tidak membutuhkan cinta dari pasangannya dan tidak peduli lagi dengan omong kosong mereka. Pun, ini menekankan pada perempuan untuk segera bangkit dan mengambil kontrol kembali atas hidupnya.

“Saya bahagia. Saya pantas untuk bahagia. Saya seharusnya bisa menulis tentang itu tanpa takut merasa seperti mengorbankan keautentikan saya karena saya tidak menangis tentang sesuatu atau seseorang,” katanya kepada British Vogue dalam wawancara cover-story-nya.

Baca Juga: Red Velvet, MAMAMOO, dan ITZY: Idola K-Pop dan Bahasa Feminis Mereka

Pentingnya Sisterhood dan Luka Perempuan

“Penting bagi saya untuk menunjukkan persatuan di antara perempuan. Kita harus melihat lebih banyak perempuan, keragaman, dan kebersamaan. Selama ini, orang-orang membuat perempuan saling beradu, membuat mereka saling bersaing.”

Begitulah ungkap Dua Lipa dalam wawancaranya di Australia Vogue. Sebagai ikon penyanyi pop, Lipa menyadari bagaimana perempuan kerap kali dijauhkan dari persaudaraan antar perempuan atau sisterhood sendiri.

Perempuan dibiarkan berjuang sendirian tanpa adanya support system yang baik. Hal ini jelas merugikan karena mereka masih tinggal di tengah masyarakat yang sangat maskulin, di mana suara mereka kerap dibungkam dan pengalaman mereka dikaburkan.

Karenanya, dalam hemat Lipa, sisterhood sangat penting, guna membangun kebersamaan yang mampu mendobrak batas-batas tersebut.

Hal ini jelas sekali terlihat dalam lagu-lagu, video musik, aksi panggungnya. Dalam “New Rules”, “IDGAF”, “Don’t Start Now”, “Blow Your Mind (Mwah)”, atau “Break Your Heart”, Dua Lipa selalu dikelilingi oleh perempuan. Bahkan dalam koreografi saja, Dua Lipa secara menarik mengasosiasikan tindakan perempuan yang saling memberikan dukungan, kepercayaan, dan bimbingan terhadap satu sama lain melalui ragam gerakan para penari perempuannya.

Mulai dari penari perempuan yang berusaha menopang dirinya agar tidak jatuh, membantu dirinya berdiri, bersandar di bahu satu sama lain, hingga berusaha mencegah Lipa menghubungi mantannya semuanya ditunjukan sebagai implikasi pentingnya sisterhood.

“Ketika saya didukung atau dikelilingi oleh gadis-gadis lain, itu memberdayakan” katanya.

Hal yang kemudian tidak kalah penting dari penekanan sisterhood dalam karya-karyanya adalah bagaimana ia berkeinginan kuat untuk terus mendorong narasi pengalaman perempuan. Ia butuh masyarakat tahu tentang luka yang mereka torehkan dalam hidup setiap anak perempuan.

Baca Juga: Feminisme dan Budaya Pop: Jangan Hanya Mengganti Saluran

Karenanya ia pun berusaha menciptakan perbincangan tentang pengalaman kolektif perempuan dengan cara memvalidasi pengalaman dan perasaan mereka. Caranya ini jelas sekali terlihat dalam lagunya “Boys will be Boys”. Melalui lagu ini, Lipa mengkonfrontasi masyarakat yang masih sangat seksis dan misoginis.

Tanpa keraguan sedikit pun dalam penyampaian liriknya, Dua Lipa berbicara soal pengalaman kolektif perempuan yang menyakitkan. Mulai dari bagaimana tiap perempuan hidup dalam bayang-bayang pelecehan dan kekerasan seksual, pelanggengan budaya pemerkosaan, hingga perempuan yang dikondisikan tidak mampu menetapkan pilihannya sendiri.

Ia pun berharap dengan menuliskan dan menyampaikan lagu ini ke khalayak luas tidak hanya membantu perempuan untuk berani angkat suara, namun perlahan membangun lingkungan yang lebih empatik bagi perempuan itu sendiri.

“Saya ingin (mereka) dapat mendengarkannya dan mengajukan pertanyaan. Bertanya kepada saudara kandung mereka atau bertanya kepada orang tua mereka, mencoba dan mencari cara untuk mengubah perasaan itu. Sehingga, perempuan tidak harus mengalami hal yang sama untuk waktu yang lama di begitu banyak generasi.”

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.