Women Lead Pendidikan Seks
November 02, 2021

Gender Lens Investing Berdayakan Perempuan, ‘Berkah’ untuk Investor

Investor dapat memberikan modal finansial, serta menyediakan pelatihan manajemen bagi perusahaan yang dipimpin dan dimiliki oleh perempuan.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Kentaranya bias gender di perusahaan membuat pengalaman laki-laki terlihat lebih kuat dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, keberadaan Gender Lens Investing (GLI) membuka peluang bagi para investor, untuk menciptakan strategi investasi dengan setara.

Mengutip laporan UN Women Indonesia pada 2020, GLI merupakan integrasi analisis gender dalam bentuk analisis keuangan, untuk membuat keputusan dan memperoleh hasil investasi lebih baik.

Hal ini dinilai penting karena masih banyak perempuan yang belum menerima fasilitas dan kesempatan sebesar laki-laki, terutama di masa pandemi.

GLI mampu menunjukkan dampak terhadap perempuan, yang selama ini seringkali tidak mendapatkan akses terhadap jaringan bisnis dan kesempatan investasi seperti halnya laki-laki.

GLI dapat dilakukan dengan beberapa kriteria, misalnya menyediakan modal finansial, sekaligus pelatihan untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan memperluas jaringan bisnis yang dimiliki perempuan.

Kemudian, mempraktikkan keragaman gender di perusahaan dan rantai pasokan, dan menyediakan produk dan layanan yang berdampak bagi perempuan dan anak perempuan. Seperti komoditas kesehatan seksual dan reproduksi, pengasuhan anak, pelatihan dan pendidikan, air dan sanitasi, konektivitas internet, dan nasihat hukum.

“Melalui program WeEmpowerAsia, kami memiliki perhatian agar praktik GLI dapat diintegrasikan dalam bisnis secara lebih sistematis,” jelas Head of Programme UN Women Indonesia, Dwi Faiz.

Selain itu, UN Women ingin berpartisipasi dalam ekosistem GLI, lewat implementasi Women’s Empowerment Principles yang disusun bersama UN Global Compact, dan berlaku bagi seluruh pihak dalam ekosistem ini, termasuk para investor dan investee.

Baca Juga: Perempuan Wirausaha Butuh Dukungan, Kerja Sama di Tengah Pandemi

Penerapan Gender Lens Investing di Indonesia

Berdasarkan pengamatan UN Women, saat ini wacana GLI sudah mulai dibahas oleh berbagai institusi yang bergerak di isu pemberdayaan perempuan dalam ekonomi, baik yang berorientasi untuk memobilisasi kapital atau investasi, penggerak program akselerator usaha rintisan, maupun nonprofit.

Dwi menjelaskan, untuk pelaksanaan GLI masih sangat terbatas pada dukungan yang diberikan kepada perempuan pendiri usaha rintisan. Pun masih belum mencakup dampak dari bisnis yang didanai investor untuk pemberdayaan perempuan secara lebih luas.

Namun, beberapa unit usaha telah menerapkannya dalam bisnis mereka. Misalnya BTPN Syariah saat merintis bisnis syariah sebagai Unit Usaha Syariah (UUS), yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.

“Kami melayani masyarakat berpenghasilan rendah, yang tidak memiliki rekening bank lantaran tidak memiliki catatan keuangan, dokumen legal maupun jaminan,” kata Business Planning & Assurance Head BTPN Syariah, Dewi Nuzulianti.

Nasabah yang dilayani itu merupakan perempuan di pedesaan. Mereka memiliki kendala dalam menyekolahkan anak-anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau memiliki usaha produktif karena tidak ada modal, dan kurangnya keterampilan memulai usaha.

“Hal tersebut menjadi pengambilan keputusan bagi kami untuk melayani mereka secara masif dan strategis, bahkan masih kami jalankan sekalipun UUS telah berkonversi menjadi Bank BTPN Syariah,” tambahnya.

Berdasarkan survei terhadap nasabah yang dilakukan dengan Poverty Probability Index (PPI) dari Innovations for Poverty Actions (IPA), dari nasabah yang telah melewati siklus ketiga pembiayaan, persentase anak yang tidak bersekolah mengalami penurunan dari 14,7 persen menjadi 9,6 persen.

Sementara Aruna Indonesia, sebuah startup teknologi perikanan, secara penuh mendukung GLI dengan pendekatan ke berbagai komunitas pesisir, yang melibatkan berbagai pihak sesuai dengan potensinya.

“Di wilayah penghasil rajungan, kami memiliki komunitas ibu-ibu pesisir. Mereka bertanggung jawab terhadap proses perebusan daging rajungan sebelum pengemasan,” ucap Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna Indonesia, Utari Octavianty, memperlihatkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan yang terjalin dengan baik.

Utari mengatakan, Aruna Indonesia sangat terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi, karena visi dan misi jangka panjangnya ialah mendukung Sustainable Development Goals, khususnya poin kelima, yakni mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan.

Selain itu, beberapa sektor swasta telah berinisiatif memberdayakan perempuan di sektor teknologi dan didukung oleh UN Women.

Misalnya, program SheHacks yang diselenggarakan oleh Indosat Ooredoo, untuk memecahkan permasalahan perempuan menjadi dampak sosial. Dengan partisipan lebih dari 1.000 perempuan pada 2021, mereka mendukung kesetaraan gender lewat program pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan perempuan, dan wirausaha.

Ada juga SheDisrupts, kompetisi startup dan program pra-akselerasi untuk pengusaha perempuan yang diinisiasi Investing in Women, Moonshot Ventures, YCAB Ventures, UN Women, United Nations Development Programme (UNDP), dan Citibank.

Baca Juga: Solidaritas Perempuan Bentuk Ekosistem Pendukung untuk Perempuan Pengusaha

Sementara dari perspektif YCAB Ventures sebagai venture capital dan bagian dari Indonesia Women Empowerment Fund (IWEF) dalam menerapkan GLI, mereka mendorong perusahaan dan investor dengan memberikan contoh.

“Harapan kami menggerakan IWEF ini supaya menjadi bukti kesuksesan, bahwa terdapat financial return saat berinvestasi pada perempuan di Indonesia, sehingga GLI dapat dilihat sebagai smart investing,” tutur Head of Impact Investments, YCAB Ventures, Adellene Odelia Tanuri.

Manfaat Gender Lens Investing

GLI memiliki cakupan lebih luas, dari sekadar investasi yang diberikan kepada perempuan pendiri usaha rintisan, atau bisnis yang berorientasi pertumbuhan.

Dewi menuturkan pentingnya GLI di perusahaan sebagai upaya mewujudkan kesetaraan gender dan menghapuskan kebijakan yang kemungkinan menimbulkan bias gender.

“Nantinya seluruh sumber daya manusia di lingkungan perusahaan akan tumbuh optimal, sehingga seluruh pemangku kepentingan yang berinteraksi dengan perusahaan lain yang mengadopsi GLI, akan memiliki produktivitas yang baik untuk kebutuhan usaha produktif maupun pribadi,” jelasnya.

Penerapan GLI juga memiliki dampak positif pada pengarusutamaan kesetaraan gender di industri teknologi, yakni menyediakan ruang untuk berkembang secara individu maupun profesional, baik untuk laki-laki maupun perempuan, sebagaimana dilakukan oleh Aruna Indonesia.

“GLI penting dilakukan oleh startup sebagai prinsip kerja dan strategi perkembangan jangka panjang,” katanya. Dari situ, menurut Utari startup akan menciptakan kompetisi yang sehat dan adil bagi setiap gender.

Menurunkan non-performing investments juga merupakan salah satu keuntungan dari GLI. Adellene menuturkan, berinvestasi pada perempuan dapat memperluas target pasar karena mayoritas perempuan punya daya beli besar, sehingga memengaruhi 80% target pembelian perempuan. Apalagi keputusan pembelian di rumah tangga seringkali berada di tangan perempuan.

“Ketika para investor terbuka pada perempuan, artinya mereka juga terbuka pada pasar konsumen. Sederhana saja, mayoritas yang berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan anak kan ibu-ibu, atau perempuan,” ungkapnya.

“Lalu, pertumbuhan sektor tertinggi di dunia, seperti kesehatan, pendidikan, dan retail, itu didominasi perempuan sekitar 50%-60%. Jadi, kalau investor menanam modal di sini, mereka berinvestasi di sektor yang potensinya bertumbuh tinggi.”

Adellene juga menegaskan, berdasarkan studi, perusahaan yang berkomitmen atas kesetaraan gender memiliki performa lebih baik.

Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan di Industri Jasa Keuangan

Upaya Meningkatkan Gender Lens Investing

Meskipun praktiknya telah diterapkan di sejumlah perusahaan dan para investor, menurut Dwi terdapat beberapa hal yang perlu dimaksimalkan dalam penerapan GLI.

Pertama, awareness and knowledge. Melalui hal ini, investor akan memahami GLI bukan sekadar diversifikasi portofolio investasi lewat keterlibatan founder perempuan, melainkan berdampak pada pemberdayaan gender, salah satu poin SDG.

Sementara bagi founder perempuan, pengetahuan ini penting untuk membentuk misi pemberdayaan sebagai bagian integral dari model bisnisnya. Lebih dari menarik investor, Dwi mengatakan, hal ini merupakan bagian penting dari solusi inovatif bagi pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Kedua, pengembangan bentuk-bentuk investasi yang disesuaikan dengan karakteristik usaha agar investasi berhasil, baik dari sisi profit, maupun dampak gender.

“Untuk itu, bentuk investasi tertentu seperti modal ventura, tidak dapat diimplementasikan untuk usaha rintisan berskala kecil dengan dampak sosial besar. Oleh karena itu, produk finansial ini penting dieksplor dengan beberapa kriteria GLI,” ucapnya.

Selain itu, banyak dari investor dan angel investor yang menerapkan GLI di Indonesia, tetapi masih bekerja sendiri karena perbedaan lokasi, usia, dan ekosistem.

“Maka itu dibutuhkan kolaborasi dan semakin banyak kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, agar wacana GLI di Indonesia dapat semakin tersebar luas, serta muncul peluang kolaborasi,” tutup Dwi.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.