Women Lead Pendidikan Seks
September 02, 2022

Harry Styles, Seksualitas Figur Publik, dan Peliknya ‘Queerbaiting’

Karena ekspresi gendernya melawan standar maskulinitas toksik, bisakah kita menuntut figur publik seperti Harry Styles untuk membuka seksualitasnya?

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues // Feminism A-Z
Peliknya Queerbaitting
Share:

“Terkadang banyak orang bilang, ‘Kamu cuma tampil di publik sama perempuan’, dan saya merasa enggak pernah tampil di publik sama siapa pun. Kalau ada yang memotret kamu sedang bersama seseorang, bukan berarti kamu memilih untuk mengekspos hubungan ke publik atau semacamnya.”

Pernyataan tersebut dituturkan oleh penyanyi dan aktor Harry Styles, dalam wawancaranya bersama Rolling Stone beberapa waktu lalu. Saat itu, Styles ditanya tentang tuduhan queerbaiting yang dilemparkan publik kepadanya.

Tuduhan tersebut mengarah pada gaya berpakaian Styles. Sejak memulai solo kariernya pada 2017, ia kerap mengenakan pakaian yang gender-fluid. Mulai dari setelan bermotif feminin—menurut standar masyarakat—di tur album pertamanya, hingga gaun rancangan Harris Reed saat menjadi cover majalah Vogue, Desember 2020.

Selain itu, publik juga merujuk pada aksi panggung Styles dalam konsernya. Pasalnya, enggak jarang Styles membantu penggemarnya melela, atau mengibarkan pride flags saat menyanyikan lagu “Treat People With Kindness”.

Karenanya, pemeran Jack Chambers dalam Don’t Worry Darling (2022) itu dikritik melakukan queerbaiting, alias mengambil keuntungan dari estetika queer tanpa mengklaim dirinya sebagai bagian dari komunitas. Bahkan, enggak sedikit yang meminta Styles untuk come out ke publik atas seksualitasnya.

Sebenarnya, Styles bukan satu-satunya selebriti yang dituduh melakukan queerbaiting. Pada 2021, influencer dan konten kreator TikTok Noah Beck tampil di cover majalah VMAN mengenakan sepatu hak tinggi, stoking fishnet, dan eyeliner. Yang bikin penampilannya semakin kontroversial adalah, caption foto Beck di Instagram saat mengunggah foto tersebut.

“F**ck you toxic masculinity,” tulisnya sebelum diedit.

Kecaman queerbaiting kemudian mengalir. Banyak pihak yang menilai, sebagai seorang cis-heteroseksual, Beck telah memanfaatkan tampilan feminin sebagai estetik untuk mematahkan maskulinitas toksik. Sementara orang-orang queer diejek dan dipermalukan ketika mengekspresikan diri seperti yang dilakukan pria 21 tahun tersebut.

Ada juga penyanyi Rita Ora lewat lirik lagu “Girls” yang dinilai menggambarkan hubungan seksual antara perempuan. Untuk merespons kritik publik, pada 2018 Ora menyatakan permintaan maaf lewat akun Twitternya, dan melela sebagai biseksual.

Sampai hari ini, tudingan queerbaiting terhadap figur publik menuai pro dan kontra. Terlepas dari statusnya sebagai selebriti, mereka adalah individu yang berhak memiliki privasi atas identitas gender dan orientasi seksualnya. Hal itu juga dinyatakan oleh aktivis dan juru bicara Human Rights Committee, Sarah McBride.

“Kita enggak bisa menuntut orang untuk mengekspresikan orientasi seksual atau identitas gender mereka dengan cara tertentu,” terangnya kepada BBC. “Menurut saya, itu fakta yang paling utama.”

Lantas, bagaimana istilah queerbaiting seharusnya digunakan?

Baca Juga: Queer Love: Kapan Seseorang Disebut Queer?

Mengenal Queerbaiting

Istilah queerbaiting awalnya muncul lewat diskusi fandom di internet pada awal 2010-an. Waktu itu, para penggemar memperdebatkan produser yang berusaha menarik perhatian orang-orang queer, dengan menampilkan LGBT lewat karakter yang merupakan bagian dari komunitas tersebut.

Namun, kenyataannya mereka tidak mengadvokasi LGBT lewat ceritanya, dan hanya “memancing” orang queer untuk menonton. Karena itu, queerbaiting digunakan untuk meng-call out karakter fiksi.

Misalnya, karakter Okoye (Danai Gurira) dan Ayo (Florence Kasumba) dalam Black Panther (2018). Di film tersebut, seharusnya ada adegan yang memperlihatkan Okoye menatap Ayo dengan tatapan menggoda. Diikuti dengan pujian yang disambut hangat.

“Kamu kelihatan cakep,” ujar Okoye. “Aku tahu,” jawab Ayo sambil tersenyum lebar.

Namun, adegan tersebut yang dimaksudkan merepresentasikan queer, akhirnya tidak ditampilkan dalam suntingan terakhir filmnya. Alasannya adalah reaksi kontra dari publik di media sosial.

Kendati demikian, adegan itu juga dinilai bukan representasi yang cukup baik lantaran menggambarkan seorang queer yang tertarik dengan individu heteroseksual. Dalam tulisannya di them, Phillip Henry mengatakan itu cuma melanggengkan stereotip usang LGBT—di mana mereka tertarik dengan temannya yang heteroseksual, sekaligus mendasari kepercayaan homofobik.

Selain Black Panther, ada juga serial televisi yang memotret hubungan sesama jenis setelah dikritik melakukan queerbaiting.

Salah satunya Killing Eve (2018-2022). Di episode terakhir musim pertama, Eve (Sandra Oh) mengatakan kepada Villanelle (Jodie Corner) bahwa ia sering memikirkannya. Pengakuan itu dibalas Villanelle dengan pernyataan dirinya yang sering berimajinasi tentang Eve, saat sedang masturbasi.

Selain itu, trailer musim keduanya juga menunjukkan kemungkinan kedua karakter tersebut menjalin hubungan romantis. Ini diperkuat dengan voice over Villanelle yang mengatakan, “Ketika mencintai seseorang, kamu mungkin melakukan hal-hal gila.”

Yang kemudian “mengonfirmasi” hubungan mereka, adalah adegan Eve dan Villanelle berciuman di musim ketiga. Mungkin dapat dikatakan, selama dua musim pertama, karakter Eve dibiarkan mengeksplorasi seksualitasnya. Ia mulai belajar, dirinya tertarik pada perempuan setelah menikah dan bertemu Villanelle. Namun, sejumlah orang menilai adegan tersebut adalah cara serial ini “menyelamatkan diri” dari tuduhan queerbaiting.

Pemaknaan queerbaiting yang awalnya digunakan untuk call out karakter di film dan serial televisi, kini semakin meluas pada individu. Terutama terhadap public figure. Mereka dianggap queerbaiting karena menunjukkan ambiguitas dalam seksualitasnya, yang digunakan untuk menarik penggemar.

Di Indonesia sendiri pernah ada sejumlah figur publik yang dituding queerbaiting. Contohnya finalis MasterChef Indonesia musim kesembilan, Victor Agustino dan Alden. Mereka mengaku heteroseksual, tapi di beberapa kesempatan menunjukkan terlibat dalam relasi romantis terhadap satu sama lain.

Menurut Co-Founder Queer Indonesia Archive, Ais, queerbaiting di Indonesia terjadi akibat minimnya representasi orang queer di media arus utama. Kepada akun Instagram dengan handle @kenapaharuspeduli ia mengatakan, aksi queerbaiting di Indonesia justru lebih menampilkan queer sebagai konten dan lelucon. Hal itu terlihat dengan penggemar Victor dan Alden yang nge-ship mereka di media sosial.

Ini berbeda dengan tudingan queerbaiting yang ditujukan pada Harry Styles. Selain dari gaya berpakaiannya yang melawan standar maskulinitas tradisional, aksinya di atas panggung, dan caranya berpose di setiap pemotretan, berulang kali ia mengingatkan penggemarnya untuk menjadi diri mereka sendiri. Ia juga menyatakan, selalu menerima mereka terlepas dari apa pun latar belakangnya.

Bagi penggemar, yang dilakukan pelantun Cinema itu adalah bentuk safe space yang diciptakan figur publik atau tokoh idola. Mereka merasa dirangkul dan keberadaannya dihargai. Namun, sejumlah orang tidak memandang Styles demikian.

Ia dianggap memanfaatkan kultur queer sekadar untuk estetika, karena tidak mengklaim seksualitasnya di hadapan publik. Dalam wawancara bersama Better Homes and Gardens pada April lalu, Styles mengaku terbuka kepada orang-orang terdekatnya. Namun, perjalanan seksualitasnya adalah pengalaman pribadinya.

Lantas sikapnya menimbulkan ambiguitas, apakah ia bagian dari queer atau semua itu hanya caranya mengekspresikan gender? Pertanyaan itu mendorong publik untuk menuntut Styles, agar mengungkapkan seksualitasnya dan tuduhan queerbaiting tidak lagi dilontarkan.

Namun, yang dilewatkan publik di sini adalah, kita tidak dapat menuntut ataupun mengasumsikan seksualitas seseorang. Dalam Sexual Orientation, Gender Identity, and Expression Affirming Approach and Expansive Practices (SOGIE) Handbook (2019), Kiku Johnson menjelaskan, identitas bersifat sangat personal dan akan terus berubah. Maka itu, setiap individu berhak mendefinisikan dirinya sendiri.

Dengan kata lain, kita enggak punya hak untuk meminta Styles, figur publik lainnya—atau bahkan siapa pun, untuk melabelkan seksualitasnya ke orang banyak. 

Begitu pula dengan ekspresi gender. Johnson juga menekankan, SOGIE menggambarkan spektrum yang lebih luas untuk semua orang, bukan hanya LGBT. Hal ini dikarenakan, setiap individu memiliki identitas gender dan orientasi seksual sehingga siapa pun berhak mengekspresikan gendernya.

Kalau kita kembali pada tudingan queerbaiting terhadap Styles sekaligus mengacu pada SOGIE, berarti enggak ada salahnya ia mengekspresikan diri lewat gaya berpakaian. Sekali pun Styles adalah cis-heteroseksual yang ingin mendobrak standar maskulinitas tradisional. Mungkin gaya berpakaian sekaligus menjadi mediumnya untuk mengeksplorasi diri, dan perkara queerbaiting lebih layak disematkan pada industri film.

Masalahnya sekarang, Styles merupakan sosok tersohor yang mampu meraup keuntungan dari setiap gerak-geriknya. Termasuk ekspresi gender dan inklusivitasnya terhadap orang-orang queer. Lalu, apakah dengan demikian ia terlibat dalam pink capitalism?

Baca Juga: Lagu 'Angel Baby' Troye Sivan Minta 'Queerphobic' buat Kalem

Pink Capitalism dan Kultur Queer di Budaya Populer

Pink capitalism adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena sosial ekonomi, yang melibatkan LGBT dalam ekonomi pasar. Secara sederhana, ada kapitalisme dan konsumerisme yang dilibatkan dalam gerakan LGBT.

Berawal ketika ada pergeseran target pasar di Amerika Serikat pada pertengahan 1960-an. Saat itu praktik pemasaran yang menargetkan pasar mainstream mulai mengarah ke pasar yang lebih khusus, seperti orang Latin, gay, dan lesbian. Saat itu, orang-orang queer lebih diterima di masyarakat dan cukup mengembangkan daya beli.

Awalnya, pink capitalism hanya terbatas pada gay bar dan gay sauna. Kemudian, pemasaran terhadap orang-orang queer juga berperan signifikan dalam mempromosikan penerimaan terhadap mereka di masyarakat. Alhasil, representasi mereka di media, periklanan, tren fesyen, dan dunia hiburan meningkat.

Dari situ, queer menjadi klien yang memiliki potensial, sehingga para pemasar berusaha mengaitkan kampanye, produk, dan strategi pemasarannya dengan LGBT. Salah satunya Absolut, brand alkohol asal Swedia yang dipasarkan di 126 negara. Untuk merayakan ulang tahun brand yang ke-30, mereka meluncurkan botol berwarna pelangi yang merupakan simbol gerakan LGBT.

Alih-alih dipandang sebagai langkah inklusif, yang dilakukan sejumlah brand seperti Absolut justru merusak gerakan sosial. Sebab, perusahaan mengambil keuntungan dari kultur queer, dengan menjadikan mereka sebagai target pasar. Pun daya belinya dipusatkan pada laki-laki kulit putih yang homoseksual, seperti disebutkan Siddhaant Verma dalam Progressive Disillusionment of Pink Capitalism (2021).

Namun, pink capitalism tidak hanya menyangkut perusahaan. Dengan privilese dan kekuatan yang dimiliki, ada kemungkinan figur publik seperti Harry Styles turut terlibat dalam pink capitalism.

Pada pride month 2018, Styles merilis official merchandise berupa kaus bertuliskan “Treat People With Kindness”. Kaus tersebut termasuk limited edition lantaran font tulisannya berwarna pelangi, mengindikasikan simbol LGBT.

Keuntungan penjualan kaus tersebut diberikan untuk GLSEN—sebuah organisasi edukasi di Amerika Serikat yang bekerja untuk mengakhiri kekerasan dan diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender, sekaligus mendorong inklusivitas kultur queer.

Secara tidak langsung, Styles memang mengajak penggemarnya berkontribusi untuk orang-orang queer. Sayangnya, upaya itu hanya salah satu gestur solidaritas yang belum cukup membantu melunturkan diskriminasi terhadap queer di masyarakat, karena permasalahannya terletak pada sistem.

Terlebih realitasnya, ia tidak mengklaim dirinya sebagai bagian dari queer, suatu hal yang akan terus menjadi perdebatan. Dalam wawancara yang sama dengan Better Homes and Gardens misalnya, Styles menuturkan sebuah pernyataan yang bisa berdampak bagi orang-orang queer.

Baca Juga: Cara Melawan Queerfobia dan Jadi Pribadi yang Inklusif

“Kita enggak perlu melabelkan semuanya. Enggak harus kok mengklarifikasi ‘kotak’ mana yang kamu ceklis,” jelasnya, ketika ditanya tentang seksualitasnya.

Masalahnya, enggak semua orang queer punya privilese sebesar Styles yang notabenenya adalah public figure cisgender laki-laki berkulit putih. Dengan tidak melabelkan seksualitasnya, ia akan tetap memiliki hak istimewa tersebut. Pun akan tetap disukai banyak orang, terlepas dari identitasnya yang dituntut untuk menyesuaikan dengan masyarakat.

Kondisi itu berbeda dengan teman-teman queer yang haknya akan terus dirampas, bahkan tidak aman hanya untuk bertahan hidup.

Namun, seperti yang disebutkan Johnson dalam bukunya, sebagai masyarakat kita enggak ada hak untuk menuntut figur publik seperti Styles, menyatakan seksualitasnya di hadapan publik. Yang bisa dan perlu kita lakukan adalah mengedukasi diri terkait hak-hak mendasar teman-teman queer, untuk bisa menciptakan lingkungan yang inklusif

Sementara, figur publik yang punya kekuatan Styles dapat menjadi medium dalam edukasi tersebut. Caranya dengan menyuarakan dan membuka percakapan lebih luas tentang hak-hak LGBT.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.