Women Lead Pendidikan Seks
April 19, 2021

Ibu Depresi, Bayi Stres: Pentingnya Akses Kesehatan Mental Pascamelahirkan

Depresi pada ibu berdampak terhadap tingkat stres pada bayinya dan dapat mempengaruhi pola kesehatan si bayi sampai sepanjang hidupnya.

by Benjamin W. Nelson dkk.
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Sebanyak satu dari sembilan perempuan diperkirakan mengalami gejala depresi setelah melahirkan (post partum depression). Tidak hanya bagi dirinya sendiri, lingkungan sekitar ibu yang mengalami ini pun terdampak, termasuk bayi yang baru dilahirkannya.

Ada sejumlah gejala depresi setelah melahirkan. Misalnya, suasana hati yang berubah-ubah, keletihan, dan berkurangnya minat beraktivitas. Ini semua dapat menyulitkan para ibu untuk terikat secara emosional dengan bayi mereka yang baru lahir.

Hubungan awal antara ibu dan bayi dapat berpengaruh terhadap kesehatan sepanjang hidup, apa pun hasilnya. Misalnya, orang dewasa yang melaporkan lebih banyak disfungsi keluarga dan penganiayaan selama masa kanak-kanak berpeluang lebih besar menderita penyakit ketika dewasa. Sementara itu, mereka yang memiliki hubungan sehat dan suportif selama fase awal kehidupan mampu menangani stres dan mengatur emosi dengan lebih baik.

Baca juga: 'Postpartum Depression': Perjalanan Lain Perempuan Usai Melahirkan

Meski begitu, para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami bagaimana lingkungan tersebut “merasuk” untuk mempengaruhi kesehatan. Makalah kami, yang terbit pada November 2017, menunjukkan adanya kemungkinan kaitan antara peningkatan gejala depresi pada ibu dan kerusakan pada sel bayi mereka.

Hubungan Stres Psikologis dan Kesehatan Biologis

Bagaimana pengaruh stres terhadap sel-sel kita? Salah satu area penelitian yang berkembang pesat memusatkan perhatian pada telomer.

Telomer adalah tutup di ujung DNA kita yang melindungi kromosom. Telomer ini bagaikan plastik pada ujung tali sepatu yang menjaga agar tali sepatu tidak terurai. Pada dasarnya, ujung plastik itulah yang menyebabkan tali sepatu tetap berfungsi.

Hal yang sama berlaku bagi telomer.

Karena panjang telomer dipengaruhi oleh genetika dan usia kita, kadang-kadang telomer dianggap sebagai bagian dari sebuah “jam biologis” yang mencerminkan umur sel-sel kita.

Karena telomer memendek seiring waktu, orang cenderung mengalami banyak sekali hasil kesehatan negatif, seperti penyakit kardiovaskuler, demensia, diabetes, kanker, obesitas, dan bahkan kematian.

Menariknya, telomer bisa memendek lebih cepat ketika seseorang mengalami stres psikologis. Ketika kita mengalami stres, tubuh kita melepas hormon yang disebut kortisol. Hormon ini mempengaruhi baik respons emosional kita maupun metabolisme energi, pembelajaran dan memori kita.

Mungkin ini adalah salah satu mekanisme yang menghubungkan stres psikologis dengan panjang telomer dan juga kesehatan fisik. Sel-sel yang terpapar kortisol memiliki telomer lebih pendek dan lebih sedikit telomerase, yang merupakan enzim yang bertanggung jawab memelihara ujung-ujung telomer. Proses ini dapat menjelaskan bagaimana stres psikologis diubah menjadi “rusak karena pemakaian” biologis.

Bukan itu saja, remaja dengan ibu depresi memiliki respons stres kortisol tinggi dan telomer lebih pendek daripada teman-teman sebaya mereka, sekalipun jika remaja itu sendiri tidak depresi.

Ibu Depresi, Bayi Stres

Kami meneliti apakah peningkatan gejala depresi yang dialami ibu mempengaruhi stres bayi dan kesehatan selnya di kemudian hari.

Masa bayi adalah periode sensitif. Pada periode ini, seorang individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Salah satu cara mempelajari bagaimana stres dini bisa mempengaruhi kesehatan adalah melihat bagaimana bayi merespons stres orang tuanya.

Berbagai studi menunjukkan bahwa bayi yang terpapar depresi maternal lebih mungkin kurang terlibat secara sosial dan mengalami emosi yang lebih negatif.

Untuk studi ini kami merekrut 48 ibu dengan bayi berumur 12 minggu dan memantau keluarga-keluarga itu hingga bayi mereka berumur 18 bulan. Pada umur 6 dan 12 bulan, para bayi dibawa ke laboratorium untuk mengikuti uji stres ringan.

Misalnya, dalam “eksperimen wajah tanpa ekspresi” (still face experiment), ibu-ibu melakukan aktivitas berganti-ganti antara bermain-main dengan bayi mereka dan tidak bereaksi terhadap permintaan perhatian para bayi. Ini bisa menimbulkan stres pada bayi, karena mereka mengandalkan para pengasuh mereka bukan hanya untuk memberi makanan, tapi juga menenangkan emosi.

Dalam setiap kunjungan, kami mengukur stres bayi dengan mengumpulkan sampel air liur untuk melihat perubahan dalam kortisol. Kami juga mengumpulkan informasi tentang berapa banyak gejala depresi yang dirasakan para ibu.

Akhirnya, ketika para bayi berumur 18 bulan, kami bawa kembali keluarga-keluarga itu ke laboratorium dan mengumpulkan air liur untuk mengukur panjang telomer bayi.

Baca juga: Ibu Hamil dan Melahirkan Rentan Depresi

Gejala depresi yang memburuk pada ibu terkait dengan respons stres kortisol lebih besar pada bayi umur 6 dan 12 bulan. Di samping itu, bayi dengan respons stres kortisol lebih tinggi cenderung memiliki telomer lebih pendek pada umur 18 bulan. Ini mengindikasikan kerusakan karena penuaan sel yang lebih besar.

Pentingnya Akses Kesehatan Mental bagi Ibu

Meskipun temuan-temuan ini bersifat pendahuluan dan harus diulangi terhadap kelompok bayi yang lebih banyak, hasil-hasil yang kami peroleh menggarisbawahi bagaimana pola kesehatan sepanjang hidup bisa dipengaruhi oleh 18 bulan pertama kehidupan.

Stres dini ini bisa menempatkan anak kecil di jalur menuju permulaan dini hasil kesehatan yang buruk. Untungnya, masa bayi adalah periode perkembangan yang sensitif, karena manusia sangat responsif terhadap lingkungannya.

Memupuk pengalaman positif antara bayi dan ibu mereka—selain menyediakan pelayanan perawatan yang baik dan terjangkau bagi ibu-ibu depresi—memberi peluang bagi bayi untuk bergerak menuju sebuah lintasan hidup yang lebih sehat.

Dalam pandangan kami, hasil-hasil ini menunjukkan betapa pentingnya membiayai perawatan kesehatan mental bagi para ibu setelah melahirkan dan membuat kebijakan bagi anak-anak usia dini yang efektif.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Benjamin W. Nelson adalah mahasiswa doktoral bidang Psikologi Klinis, University of Oregon. Heidemarie Laurent adalah profesor Psikologi, University of Illinois at Urbana-Champaign. Nick Allen adalah profesor Psikologi Klinis Ann Swindells, University of Oregon.