Women Lead Pendidikan Seks
November 02, 2022

‘Influencer’ Dakwah: Wajah Baru ‘Pemimpin Agama’ di Era Medsos

Influencer dakwah jadi panutan baru warganet dalam mendalami ajaran Islam di media sosial.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Influencer Dakwah
Share:

Belakangan, Lulu makin rajin mengikuti sejumlah influencer dakwah di media sosial. Tujuannya untuk semakin mengenal ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan feminisme. Dalam hemat content writer asal Bandung itu, keberadaan influencer dakwah membantu menjawab menjawab pertanyaannya: Apakah Islam mengenal kesetaraan gender?

Pertanyaan itu sendiri mulanya muncul ketika Lulu belajar feminisme di bangku kuliah. Ia mencari bacaan, teman diskusi, hingga akhirnya bergabung dengan kelompok diskusi. Sayangnya, ketika ada pertanyaan seputar feminisme dan Islam, peserta diskusi justru meminta Lulu tak membahasnya. Ia sampai berpikir, feminisme mungkin memang berlawanan dengan ajaran Islam. 

Sebenarnya, Lulu familier dengan ajaran Islam, karena keluarganya adalah muslim dan ia pernah tinggal di lingkup pesantren. “Yang kutahu, istri enggak boleh menolak keinginan suami untuk berhubungan seks, katanya bisa jadi dosa besar buat istri,” cerita Lulu. “Hal seperti itu kan bertentangan dengan konsep kesetaraan gender, karena posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Sementara, istri harus taat dan nurut dengan kemauan suami.”

Dari situ, Lulu mempelajari lebih dalam tentang kesetaraan gender dalam Islam. Selama dua tahun terakhir, ia mengikuti konten Kalis Mardiasih di media sosialnya, juga mem-follow pendakwah lainnya yang sering membahas kesetaraan gender. Misalnya, Nur Rofiah, Lies Marcoes, dan Faqihuddin Abdul Qodir. Bahkan, Lulu juga bergabung dengan kelas offline yang diselenggarakan Nur dan Kalis.

Berkaca pada Lulu, media sosial memang jadi platform yang kuat dalam membentuk persepsi netizen. Hal itu didukung oleh keberadaan influencer medsos untuk sharing berbagai hal berdasarkan kemampuan dan pengetahuannya. Ini berlaku buat influencer fesyen, kecantikan, gaya hidup, hingga dakwah. Mereka ini biasanya sadar punya pengaruh kepada para pengikutnya.

Saking berpengaruhnya isi sharing itu, influencer dakwah dipertimbangkan sebagai pemimpin baru bagi umat Islam di era digital. Ini disampaikan oleh akademisi Dr Bouziane Zaid, dkk. dalam penelitiannya. 

Riset berjudul Digital Islam and Muslim Millennials: How Social Media Influencers Reimagine Religious Authority and Islamic Practices (2022) itu menyebutkan, para influencer dakwah memiliki peran signifikan. Secara spesifik sebagai sumber konten dakwah, yang sebelumnya dilakukan oleh pemuka agama. Cara penyampaiannya pun berubah, tidak lagi di masjid atau dalam acara formal.

Pertanyaannya, seperti apa pergerakan influencer dakwah di media sosial? 

Baca Juga:  Feminisme Muslim Indonesia: Gerakan Perempuan Lawan Konservatisme Agama

Influencer Dakwah dan Kiprahnya di Media Sosial

Meskipun semakin marak beberapa tahun terakhir, keberadaan influencer media sosial muncul sejak 2009. Waktu itu, kita mengenal sejumlah blogger dan Youtuber. Contohnya Felix Kjellberg–lebih dikenal PewDiePie, Tanya Burr, dan Zoe Sugg. Di Indonesia, ada Arief Muhammad lewat akun Twitter @Poconggg, dan Benakribo.

Warganet memandang influencer layaknya selebriti di dunia maya. Kehidupannya menarik diikuti, dan opini mereka dianggap berpengaruh secara signifikan. Padahal di dunia nyata, sebagian dari influencer adalah masyarakat biasa yang jauh dari eksposur. Umumnya, mereka dikenal di media sosial karena suka sharing tentang hal tertentu. 

Misalnya influencer dakwah. Ada yang memang memiliki keahlian ilmu agama–seperti ustaz, ada juga yang berangkat dari kesenangannya berbagi konten bersifat religius. Ditambah cara berpakaian influencer yang islami, dan senang membangun interaksi dengan followers-nya. Beberapa hal tersebut kemudian disorot netizen, memberikan nilai plus untuk di-follow.

Sementara, menurut penulis Maria Fauzi dalam tulisannya di Detik.com, ada aspek pendukung yang enggak kalah penting, yakni jaringan di mana influencer itu berada. Salah satunya Hawaariyyun, influencer dakwah muda yang tergabung dalam “Yuk Ngaji”, kelompok kajian Felix Siauw.

Meskipun tergolong muda, Hawaariyyun tetap menunjukkan eksistensinya. Atensinya tak kalah besar dengan Felix, yang lebih dulu berkiprah sebagai pendakwah. Biasanya, Hawaariyyun sharing seputar keluarga, pernikahan, dan nilai-nilai kehidupan.

Tak hanya Hawaariyyun, ada juga micro influencer seperti @benefiko dan @annisam3, yang mempublikasikan konten islami. Pembahasannya pun beragam: Hijrah, jodoh, dan feminisme yang berlawanan dari sudut pandang Islam. Pendapat keduanya serupa, feminisme membenarkan kebebasan, seperti tidak menutup aurat atau bebas berpacaran.

Dalam salah satu unggahan di Instagram Emeralda–pemilik akun @benefiko disebutkan, Alquran dan Hadis menegaskan hijab sebagai kewajiban. Karena itu, perempuan muslim yang tidak menggunakannya dianggap berdosa. “Sementara feminis di luar negeri ramai-ramai aksi membuka, menolak, membakar, dan melecehkan hijab,” tulis Emeralda dalam postingannya pada 2018 silam.

Selain itu,  beberapa waktu lalu juga muncul Zavilda TV, yang viral dengan eksperimen sosialnya. Ia mengajak sejumlah perempuan yang ditemui di jalan untuk berhijrah–bahkan yang tidak beragama Islam diajak mencoba mengenakan hijab.

Dengan jumlah audiens yang cukup besar, para “figur publik” di media sosial ini memiliki kapasitas membentuk pemahaman audiensnya. Salah satunya generasi muda yang sulit memiliki figur otoritas untuk dijadikan panutan dalam beragama–seperti disebutkan akademisi Robert Rozehnal dalam Cyber Muslims: Mapping Islamic Digital Media in the Internet Age (2022). Alhasil, generasi muda menemukan figurnya melalui media sosial.

Dalam studinya, Rozehnal menuliskan, generasi muda cenderung mencari kekosongan yang tidak dapat ditemukan dalam lingkup offline. Mereka berusaha menemukan jawaban atas keraguannya. Kendati demikian, generasi muda dalam riset Rozehnal akan kembali pada figur yang memiliki ilmu agama, ketika influencer dakwah tidak dapat mengatasi keraguannya.

Sebenarnya, kehadiran influencer dakwah sebagai pemimpin agama di media sosial juga terjadi secara tak sengaja. Mereka yang menjadi influencer itu membuat konten dakwah yang menarik dan relevan, sehingga menarik perhatian orang-orang. Misalnya, yang dilakukan Kalis Mardiasih saat membuat konten istri harus bersujud pada suami. Ia menjelaskan hal ini dari pemahamannya terkait agama, dan mengutip sejumlah Hadis, dari HR. Abu Daud No. 2140, Tirmidzi No. 1159, Ibnu Majah No. 1852, dan Ahmad 4: 381.

Sebagian orang menginterpretasikan Hadis tersebut sebagai kemutlakan istri untuk nurut dengan suami, termasuk membenarkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).  Namun, menurut Kalis di unggahan Instagramnya, Hadis itu perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini. Pasalnya, waktu ditulis, situasi geografisnya masih begitu berat. Belum ada listrik, tinggal di gurun pasir, dan masih berperang. Di situ tanggung jawab suami masih berat sebagai pencari nafkah utama. Sementara istri fokus terhadap fungsi reproduksinya.

Sekarang, pernikahan ditujukan untuk mewujudkan sakinah, mawadah,warahmah–tenteram, cinta kasih, dan rahmat dalam rumah tangga. Karena itu, suami dan istri punya keterlibatan yang sama dalam rumah tangga, bukan menunjukkan ketaatan mutlak.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Feminisme dalam Islam

Penjelasan seperti yang disampaikan Kalis, membuka opsi bagi netizen dalam menginterpretasikan ajaran Islam. Apalagi cara ia menjelaskan yang lebih menarik, membuat orang-orang seperti Lulu cenderung bisa menerima.

“Aku baru tahu dalam Islam ada konsep Mu’asyarah bi al-Ma’ruf. Jadi suami dan istri harus saling memperlakukan satu sama lain dengan baik, saling mempergauli, menjaga, dan merawat,” jelas Lulu.

Dari situ, ia memahami, Islam memandang suami istri dengan setara, tanpa ada pihak yang merasa kehendaknya harus ditaati.

Lebih dari pembahasannya, fitur yang dimanfaatkan influencer dakwah dalam memaksimalkan konten juga menarik audiensnya. Seperti mengemas rangkuman penjelasan dalam fitur carousel di Instagram post, reels, atau Instagram story yang disimpan di highlight.

Menurut Rozenhal, beradaptasi dengan tren akan mempertahankan eksistensi influencer dakwah di kalangan pengikutnya. Pasalnya, itu akan menarik followers untuk tetap berinteraksi dan relevan dengan konten mereka.

Lulu pun menyepakatinya. Menurutnya, media sosial sangat efektif dimanfaatkan sebagai medium berdakwah. “Sekarang semua orang bisa mengakses media sosial dengan cepat dan mudah. Terus bisa main dengan visual juga, jadi informasi yang cukup rumit bisa (dicerna) lebih sederhana,” tuturnya.

Namun, apa yang perlu diperhatikan para influencer dakwah dalam menyampaikan konten?

Baca Juga: Imbalan Bidadari Surga bagi Lelaki: Tafsir Agama yang Bias dan Problematik

Konten Dakwah Minim Kontekstualisasi

Adanya keragaman konten terlihat berdasarkan materi yang disampaikan influencer dakwah. Hal itu juga bergantung pada perspektif mereka terhadap ajaran Islam. Ada yang sudah menyesuaikan ajaran Islam dengan situasi masa kini, ada juga yang masih menerapkannya sebagaimana tertulis dalam Alquran.

Realitas ini menunjukkan lanskap influencer dakwah di Indonesia yang belum ideal. Terkait fenomena ini, Magdalene telah menghubungi sembilan influencer dakwah, mulai dari Felix Siauw hingga Zavilda TV, tapi tidak ada tanggapan. 

Secara keseluruhan, Kiai Husein Muhammad memandang kondisi ini bukan suatu masalah, tapi konten yang diajarkan perlu diperhatikan–apakah sejalan dengan prinsip Islam atau tidak.

Segelintir dari influencer dakwah menafsirkan ayat-ayat suci secara tekstual, membentuk pemahaman kontekstual yang terbatas. Salah satunya tentang perempuan yang akan dilaknat malaikat sampai subuh, lantaran enggan berhubungan seks dengan suaminya.

Kalau ditafsirkan secara tekstual, kalimat tersebut akan melanggengkan marital rape. Padahal, perempuan berhak menolak. Mungkin pemahaman untuk tunduk terhadap pasangannya–sekalipun hubungan pernikahannya beracun–akan tetap dilakukan, karena penafsiran HR Muslim oleh influencer dakwah terpaku pada teksnya.

Pasalnya, influencer dakwah memiliki audiens yang besar. Mereka mempelajari ajaran Islam dari konten para influencer. Maka itu, influencer berperan signifikan dalam menyampaikan pengetahuannya.

Kiai Husein menjelaskan, penafsiran itu turut didukung oleh budaya patriarki yang mendominasi. Budaya itu terbentuk oleh sistem; tradisi, hukum, dan pandangan keagamaan diskriminatif, yang diwariskan setiap generasi. Kenyataan ini membutuhkan waktu panjang, agar influencer dakwah itu mendorong penafsiran ramah gender lewat platformnya.

“Saya kira kita perlu optimis aja. Sebenarnya Indonesia lebih baik, dibandingkan negara-negara Islam di luar sana,” terang Kiai Husein. Ia berkata demikian berdasarkan realitas di Indonesia, yang sudah menempatkan perempuan sebagai pengambil kebijakan publik–walaupun jumlahnya masih tergolong sedikit.

Selain itu, Kiai Husein menyinggung adanya Undang-undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), dan peningkatan usia pernikahan menjadi 19 tahun. Ia melihat beberapa hal tersebut sebagai awal yang baik untuk mendorong penafsiran ramah gender.

Kendati demikian, keadilan gender tetap perlu diperjuangkan untuk menciptakan perubahan atas peradaban patriarki.

Yang perlu digarisbawahi, kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan realitas ini hanya karena penafsiran dan budaya patriarki. Ada keterlibatan cara penyebaran agama yang indoktrinatif, dalam penerimaan pengetahuan di kalangan jemaat. Jemaat jadi tidak kritis, dan mempertanyakan ajaran yang disampaikan.

“Mereka akan mengatakan pandangan di luar keyakinannya itu salah, karena tidak mengerti pandangan selain itu,” tutur Kiai Husein.

Ia menegaskan, penyampaian indoktrinatif berawal dari sistem pendidikan, yang menjadi pusat untuk mencerdaskan dan menggunakan logika.

“Ini menunjukkan tingkat pendidikan di Indonesia sangat rendah. Cara orang awam memahami sesuatu jadi indoktrinatif, makanya menganggap suci para pendakwah dan menerima mentah-mentah pandangannya,” lanjut Kiai Husein.

Menurutnya, ceramah dibangun secara dialektika untuk membuka penalaran jemaat, dan pemahaman tidak bersifat tekstual. Sebab, teks agama tetap mengandung logika dan tujuan, sekalipun yang tertulis merupakan wahyu dari Tuhan. Dengan kata lain, ajaran Islam perlu dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman.

“Agama hadir untuk mewujudkan dan kebaikan publik. Kalau ada keputusan-keputusan yang tidak adil dan tidak memberikan kemaslahatan, kesejahteraan, dan ketenangan bagi masyarakat, teks itu harus diinterpretasikan dalam konteks yang baru,” tegas Kiai Husein.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.