Women Lead Pendidikan Seks
April 28, 2020

Kapten Cantik, Bidadari Lapangan: Kosa Kata Media untuk Sepak Bola Perempuan

Atlet sepak bola perempuan seolah harus “cantik” agar dapat diberitakan media dengan sebutan “striker/kapten cantik” atau “bidadari lapangan hijau”.

by Annisa Rani Wicaksono dan Faridhian Anshari
Lifestyle
Share:
Source picture: PSSI.org

Perempuan dan cantik adalah dua kata yang selalu dikaitkan, sejak zaman Siti Nurbaya hingga era Maudi Ayunda. Awalnya terdengar seperti pujian yang menghanyutkan, tapi sebagai orang yang memandang manusia dari apa yang mereka perbuat, lama kelamaan, mendengar sepasang kata tersebut menjadi hal yang membosankan dan terkesan menciptakan stereotip usang.

Pernahkah terpikir bagaimana perasaan dan pandangan perempuan yang sudah bekerja keras dalam suatu bidang dan keahlian, tetapi pujian pertama yang keluar adalah karena "kecantikannya"? Mungkin (menurut kami loh ya) ini yang dirasakan oleh para pemain sepak bola perempuan di Indonesia yang kami yakini lebih suka dibahas performanya dibandingkan parasnya.

Sepak bola masih saja menjadi olahraga yang dikaitkan dengan maskulinitas, atau olahraganya para pria. Sejak kecil, laki-laki sudah akrab dengan bola sampai dewasa pun sepak bola sering kali dijadikan aktivitas melepas lelah dan bersenda gurau dengan teman. Tapi jarang sekali kan rasanya melihat cewek-cewek hangout main bola. Apalagi stigma kalau perempuan terlalu feminin dan “cantik” untuk bermain bola.

Indonesia dulu punya liga sepakbola perempuan Galanita, sekitar tahun 1980an. Sejak itu kiprahnya tenggelam. Namun mulai tahun 2018, Indonesia mulai aktif lagi dalam mengikuti Kejuaraan Sepak Bola ASEAN (AFF) dan Asian Games cabang sepak bola perempuan. Pada tahun 2019, Indonesia menyelenggarakan Liga 1 Putri untuk pertama kalinya lagi setelah nasib sepak bola perempuan terbengkalai dan tak terdengar.

Liga ini menjadikan klub-klub bola perempuan dapat bertanding dalam kejuaraan untuk memperebutkan piala. Adanya liga inilah yang turut melahirkan ratusan berita-berita mengenai liga putri yang, sialnya, masih banyak berujung pada pembahasan mengenai perempuan yang keluar dari konteksnya.

Media juga mengambil andil penting dan menjadi garda depan sebagai penyaji informasi terkini dan terpercaya. Belum lagi media-media olahraga, yang gencar memberitakan kebangkitan sepak bola perempuan Indonesia menjadi guratan warna tersendiri yang menghiasi lini masa media daring kita.

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Hanya saja, masih cukup banyak berita yang bernuansa tampilan fisik dan menjadikan perempuan sebagai etalase yang paling enak dikomentari terkait paras maupun lekuk tubuhnya. Coba saja buka mesin pencarian dan mengetik tiga kata: Sepak bola, wanita, dan Indonesia, dalam sekejap mata akan muncul berita-berita bertaburan “cantik”, “bidadari”, “pesona” yang mewarnai urutan teratas dari hasil algoritme Google. Seolah seluruh pertandingan tim nasional dan Liga 1 kita hanya berisi tentang kecantikan para pemainnya saja.

Bakat saja tidak cukup untuk membuat kamu ditampilkan di berita nasional. Bermain bagus di pertandingan pun tetap tidak cukup. Kamu harus “cantik” agar dapat diberitakan dengan embel-embel “striker cantik” atau “kapten cantik” maupun “bidadari lapangan hijau”. Seakan-akan perempuan tidak akan pernah menjadi seorang manusia yang utuh dan sempurna jika ia tidak cantik.

Srikandi bukan bidadari

Kami coba menelusuri berapa dan apa saja jenis pemberitaan yang muncul jika itu menyangkut konten sepak bola dan perempuan. Lewat metode analisis teks yang digunakan, kami menghimpun 50 berita tentang sepak bola wanita di sepanjang tahun 2019, tahun di mana Liga 1 putri resmi digelar kembali.

Voila, hasil yang berhasil kami temukan malah semakin menggetarkan hati. Ternyata 62 persen berita di tahun 2019 mengenai pemain sepak bola perempuan menyematkan kata cantik di judul beritanya. Kata yang justru malah berkonotasi ganda. Pujian yang malah terkesan norak. Memang tidak mungkin seorang pemain wanita mendapatkan embel-embel ‘tampan’ tapi di sisi lain apa harus yang dilihat adalah cantiknya saja tanpa melihat elemen lain seperti performa di lapangan. Cukup aneh, melihat usaha mereka yang susah payah mencoba menembus batas budaya di Indonesia, malah ujung-ujungnya kembali dinilai dari parasnya saja.

Baca juga: Media yang Sulit Mengapresiasi Prestasi Perempuan

Ini event olahraga, bukan kontes kecantikan yang memang menonjolkan paras. Ini tentang usaha, kerja keras, dan latihan. Apa tidak bisa jurnalis menghormati hak-hak para pemain sepak bola perempuan ini untuk dapat diberitakan secara objektif dan adil?

Selain kata “cantik”, “pesona” (14 persen), dan “bidadari” (12 persen) juga kerap keluar sebagai bumbu penyedap dalam judul berita. Yang lebih norak lagi, judul berita seperti “Intip Potret Manis Pemain Timnas Wanita Indonesia” hingga “Gendong-gendongan Hingga Ada yang Mulus” adalah gambaran keseharian isi pemberitaan sepakbola wanita.

Kata “mulus” jelas ingin menggiring pikiran pembaca ke arah yang lain. Tidak kontekstual dengan isi berita yang ingin diceritakan kepada publik.

Kami sedih melihat banyaknya berita ajaib seperti ini lahir dari portal media daring olahraga. Apakah harus segitunya mengejar kuantitas clicker dan viewer sampai mengorbankan kualitas akan kandungan berita yang benar? Kami sebetulnya yakin, jika, berita atau artikel yang ditulis menggunakan kata kiasan berbeda seperti “Srikandi” dibandingkan “bidadari” akan lebih disukai oleh sang atlet maupun publik.

Sepak bola perempuan hadir untuk menunjukkan bahwa sepak bola itu universal. Mereka hadir untuk menembus langit-langit kaca bahwa olahraga tidak mengenal gender. Mereka hadir untuk merengkuh mimpi-mimpi para perempuan yang ingin berkarier di ranah olahraga. Jadi tolong hormati para atlet ini.

Artikel ini merupakan bentuk salah satu kepingan dari hibah penelitian dosen dan mahasiswa Universitas Pancasila.

Annisa Rani Wicaksono adalah mahasiswi Kajian Media sedangkan Faridhian Anshari merupakan pengajar peneliti Kajian Komunikasi Olahraga. Keduanya dapat dihubungi di email [email protected] dan [email protected].