Women Lead Pendidikan Seks
October 21, 2021

Kim Seon-ho, Fanatisme Buta, dan Nihilnya Dukungan Korban

Kasus gaslighting dan manipulasi aktor Kim Seon-ho memunculkan seruan agar kita setop membela pelaku kekerasan. Sebaliknya, mulai tunjukkan solidaritas pada korban.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues
Share:

“Anak baik tak mungkin bersalah,”

“Jangan panggil saya anak baik. Saya bukan anak baik. Saya adalah sampah yang melukai orang lain dengan perkataanku. Saya bertingkah paling pintar, padahal saya hanya orang bodoh yang tidak tahu apapun.” 

Ketika uri good boy Han Ji Pyeong mengatakan hal itu kepada Nenek Choi penonton drakor Start-Up ikut merasa sedih. Pasalnya, Han Ji Pyeong dikenal sebagai sosok baik hati yang suka membantu sesama tanpa pamrih. Pengakuan itu menjadi semacam kontradiksi atas perilakunya. Belum lagi pemerannya Kim Seon-ho memiliki citra anak baik di publik yang membuat aktingnya tambah meyakinkan. Sama halnya ketika ia berperan sebagai Hong Dua-sik a.k.a Hong Banjang di drama terbarunya Hometown Cha-Cha-Cha. Hong Banjang yang suka membantu dan serba bisa juga mengamplifikasi cara publik mempersepsikan Kim Seon-ho sebagai good boy tulen. 

Namun, selebritas yang kita kenal di layar kaca dan caranya mencitrakan dirinya di publik belum tentu menggambarkan sosoknya di ranah privat. Belum lama ini Kim Seon-ho menjadi sorotan publik karena terungkap memanipulasi mantan pacarnya untuk melakukan aborsi. Kasus dimulai ketika mantannya, “A”, mengunggah ceritanya di forum Nate Pann tentang aktor K yang memintanya melakukan aborsi.

A berkencan dengan aktor K pada awal 2020 kemudian hamil pada Juli. Aktor K kemudian meminta dan merayu A untuk menggugurkan kandungannya. Alasannya, dia belum siap untuk menikah, kariernya terancam berakhir, dan harus membayar penalti ke agensinya sebesar KRW 900 juta  atau setara Rp10,7 miliar. Namun, jika A melakukan aborsi dia tidak akan bisa hamil dan memiliki anak lagi. Aktor K kemudian berjanji akan menikahi A dan mengenalkannya ke orang tuanya. Karena alasan itu, A kemudian melakukan aborsi.

Baca juga: Seruan untuk Penggemar K-Pop: Stop Bela Pelaku Pelecehan Seksual

Dalam unggahannya A tidak menyebutkan nama Kim Seon-ho, tetapi media olahraga Korea Selatan, Sports Kyunghyang mengunggah artikel terkait isu itu dengan foto Kim Seon-ho yang diburamkan. Publik pun semakin heboh dengan spekulasi Kim Seon-ho sebagai aktor K yang kemudian terkonfirmasi ketika Kim Seon-ho mengeluarkan permintaan maaf sehari yang lalu.  

Cerita Lama Salahkan Perempuan Korban 

Perkara selebritis mendadak akan menikah dan memiliki anak di puncak kariernya sedikit pelik di Korea Selatan. Apalagi warganet Korsel memiliki mulut sangat pedas dan sulit amnesia kolektif jika berkaitan dengan figur publik. Chen dari grup idola EXO, misalnya, sempat dihujat dan dikecam sebagai penghianat oleh beberapa penggemarnya ketika mengumumkan akan menikah dan memiliki anak. 

Meski demikian, ‘takut mengecewakan publik’ tidak menjadi alasan untuk membenarkan gaslighting atau memanipulasi agar pasangan melakukan aborsi. Pasalnya, pemaksaan aborsi termasuk salah satu bentuk kekerasan seksual. Begitu juga dengan janji nikah palsu, yang juga sering kita temui di Indonesia, berupa aksi kekerasan emosional dalam relasi.  

Namun, alih-alih fokus pada aspek itu beberapa penggemar memilih untuk menyalahkan korban. Ada yang malah melakukan doxxing identitas A atau membuat komentar yang menyudutkan, seperti A mengizinkan tidak menggunakan alat kontrasepsi jadi dia yang salah. Pendapat semacam itu juga mengindikasikan penggunaan kontrasepsi menjadi tanggung jawab perempuan saja. Padahal itu tanggung jawab bersama dan menolak menggunakannya juga masuk dalam kategori kekerasan emosional dan seksual. 

Selain itu, komentar menyalahkan yang menyatakan A yang mau saja ditipu oleh mantan pacarnya. Namun, ketika seseorang sedang dimanipulasi dia tidak tahu bahwa dirinya sedang mengalami gaslighting. Kenyataannya, perempuan yang paling berdaya pun kadang tidak tahu dia sedang dalam relasi toksik dan butuh bantuan untuk mengakhirinya. 

Baca juga: Idola Jadi Pelaku Kekerasan Seksual: Setop Nikmati Karyanya atau Tidak

Korban memerlukan waktu untuk pulih dan menyadari hal tersebut. A yang angkat bicara pun butuh keberanian. Pelaku yang kemudian menerima serangan dari publik dan kariernya berada di ujung tanduk merupakan konsekuensi atas aksinya. Jika Kim Seon-ho memang memiliki itikad baik dan ingin bertanggung jawab, penggemar mungkin menyambutnya dengan gembira. Seperti, Bobby dari grup idola iKon yang kabar pernikahan dan kelahiran anaknya dibalas dengan komentar hangat oleh penggemar. 

Berhenti Bela Idola Pelaku Kekerasan 

Ketika fans memilih untuk mengulik A dan menghiraukan pelaku yang seharusnya bertanggung jawab sekali lagi menunjukkan misoginisme di fandom Hallyu masih mengakar dan subur. Pasalnya, saat korban perempuan telah angkat bicara, idola laki-laki akan selalu diposisikan tidak bersalah karena citra publik yang baik. Bahkan ketika dia juga sudah mengaku bersalah dengan ucapan minta maaf yang tidak langsung diberikan kepada korban, tetapi pada publik.

Perkara mendukung idola pelaku kekerasan seksual beberapa kali terjadi dan selalu menutup mata atau telinga atas kasus dan kebutuhan korban untuk perlindungan. Misalnya saat akun Instagram pribadi penyanyi Jung Joon Young dibanjiri komentar penyemangat dari penggemarnya saat ia bersalah melakukan kekerasan seksual. Jung Joon Young dinyatakan melakukan pemerkosaan, merekam aksinya, dan menyebarkan di grup chat. Ia dihukum lima tahun penjara. 

Begitu pula ketika Seungri, mantan anggota grup idola Big Bang, yang terlibat dalam kasus Burning Sun, kekerasan seksual dan perdagangan orang. Penggemarnya masih mendukung, berharap agar pelaku tetap kuat menghadapi ‘badai’, dan yakin ia tidak bersalah. Saat ini Seungri dikabarkan untuk menjalani hukuman penjara selama tiga tahun. 

Baca juga: Hai Para Lelaki, Jangan Samakan Perempuan dengan Benda Mati!

Dukungan semacam ini memang tidak hanya dilakukan penggemar budaya populer Korea Selatan. Kris Wu, penyanyi asal Tiongkok, juga dibela habis-habisan oleh penggemarnya di dunia maya ketika dia terbukti bersalah. Pemerintah Tiongkok bahkan melakukan penertiban dunia maya akibat penggemar itu. Begitu pula dengan Chris Brown dan R.Kelly yang sama-sama melakukan kekerasan dan masih didukung penggemar musik AS. 

Saat idola dituduh menjadi pelaku kekerasan seksual maupun emosional, mendukung korban yang rentan diragukan menjadi hal utama. Mereka memiliki beban trauma yang sulit disembuhkan apalagi jika idola tersebut rajin tampil di layar kaca dan dipuja sebagai sosok yang santun. Korban yang angkat bicara bukan tentang membuat karier idola hancur dan penggemarnya jadi gerah tok. Tetapi seseorang yang ingin mencari keadilan. 

Penggemar harus mengakui ketika idola melakukan kesalahan, pembelaan hanya akan membuat masalah semakin keruh. Kita memang harus mengakui kalau oppa tidak selalu benar karena dia hanya manusia biasa. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.