Women Lead Pendidikan Seks
January 10, 2022

Kenapa Tak Perlu Minder Bicara Bahasa Inggris Medok?

Mulai sekarang, setop bilang, “I’m sorry my English is not good,” atau “Sorry if my pronunciation is not clear.”

by Billy Nathan Setiawan
Lifestyle
Share:

Seberapa banyak, sih, dari kita yang merasa minder saat harus berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan aksen Indonesia atau logat daerah? Apalagi jika lawan bicaranya adalah para bule langsung.

“I’m sorry my English is not good.” (“Maaf, bahasa Inggris saya tidak bagus”).

“Sorry if my pronunciation is not clear.” (“Maaf jika pelafalan saya kurang jelas”).

Familier? Kamu tidak sendiri.

Dalam pidato kemenangannya di turnamen Juni 2021, pemain tenis Perancis Ugo Humbert berkata dalam Bahasa Inggris dengan aksen Perancis yang kental, “I think I play (tennis) better than I speak English.” (Saya merasa bermain tenis lebih baik ketimbang berbahasa Inggris).

Baca juga: Sekolah Berbahasa Inggris Bukan Selalu Terbaik, Pentingnya Adopsi Kearifan Lokal

Tidak jarang juga di kesempatan lain, misal di konferensi atau pertemuan internasional, kita meminta maaf untuk ‘broken/bad English’ (Bahasa Inggris patah-patah) yang menurut kita tidak sesuai aksen ‘native speaker’ (penutur asli).

Walau terdengar sopan, ada beberapa alasan mengapa kita harus berhenti meminta maaf atau merasa minder ketika berbicara bahasa Inggris dengan aksen kita sendiri.

Ada Banyak Variasi Bahasa Inggris di Dunia

Banyak dari kita yang terlalu fokus pada aksen native speaker seperti aksen Amerika Utara, Inggris, atau Australia. Faktanya, Bahasa Inggris tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari negara tersebut saja. Globalisasi memicu penyebaran Bahasa Inggris ke negara-negara yang secara tradisional tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka.

Ahli bahasa dari Inggris David Crystal memperkirakan ada sekitar 60-70 variasi baru bahasa Inggris di penjuru dunia sejak medio 1960-an. Hal ini dipicu oleh semakin gencarnya kontak dan pencampuradukan antara Bahasa Inggris dan muatan bahasa lokal.

Beberapa contoh variasi World Englishes (Bahasa Inggris dunia) ini antara lain Singlish (Bahasa Inggris ala Singapura), Spanglish (percampuran Bahasa Inggris dan Spanyol), Chinglish (Bahasa Inggris dan Mandarin atau Kanton), dan Taglish (Bahasa Inggris dan Tagalog di Filipina).

Crystal juga memperkirakan jumlah penutur asli Bahasa Inggris (sekitar 400 juta) berada jauh di bawah jumlah orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (sekitar 800 juta) atau sebagai bahasa asing (lebih dari 1 miliar). Artinya, aksen berbicara ala native speaker tidak lagi relevan untuk dijadikan acuan tunggal.

Bahkan, tidak tertutup kemungkinan di masa depan, kita pun akan punya variasi “Indoglish” (pencampuran bahasa Inggris dan Indonesia) atau bahkan aksen “Javlish” (bahasa Inggris dengan aksen Jawa).

Baca juga: Seksisme dalam Bahasa Indonesia dan Cara Mengatasinya

Dari pengalaman pribadi saya ketika mewawancarai responden untuk tesis S3 (belum dipublikasi), misalnya, narasumber cenderung menggunakan kata-kata fatis (phatic expression) seperti ‘nah’, ‘dong’, ‘ya’, dan ‘sih’ di kalimat bahasa Inggris mereka.

Ini dapat berbunyi, “Nah, that means …” atau “It was very interesting ya.”

Penjajahan Bahasa dan Ekspresi Identitas

Dengan merasa minder ketika berbicara Bahasa Inggris dengan aksen kita sendiri, secara tidak langsung kita mendukung praktik ‘linguistic imperialism’ (penjajahan bahasa).

Profesor ilmu bahasa, Robert Phillipson mengartikan linguistic imperialism sebagai eksploitasi ideologi, budaya, dan kekuatan elit Bahasa Inggris untuk keuntungan politik dan ekonomi negara-negara penutur asli Bahasa Inggris.

Dalam praktik linguistic imperialism ini, variasi tertentu yang umumnya dari Amerika Utara, Inggris, dan negara native speaker lainnya dijadikan standar berbahasa.

Hal ini memicu ketimpangan di mana berbagai variasi Bahasa Inggris lain di luar negara native speaker dianggap inferior, pasif, dan mudah didominasi.

Hal ini semakin penting untuk diperhatikan mengingat bahasa yang kita gunakan juga merupakan ekspresi identitas kita sendiri.

Bonny Norton, seorang peneliti bahasa dan identitas, menyatakan tiap kali kita berbicara, kita tidak hanya bertukar informasi dengan lawan bicara, tapi juga secara terus-menerus mengatur dan mengekspresikan a sense of who we are (bayangan tentang siapa diri kita sebenarnya).

Identitas kita ini sangat berhubungan dengan bagaimana kita untuk diakui atau dihubungkan dengan keanggotaan komunitas tertentu.

Bahkan, peneliti bahasa Porter dan Gavin menyatakan, sekadar pelafalan (pronunciation) seseorang saja dapat melambangkan ekspresi citra diri mereka.

Ini berarti saat kita berbicara Bahasa Inggris, kita harus mulai bertanya pada diri kita sendiri terkait identitas, citra diri, dan afiliasi seperti apa yang ingin kita tampilkan.

Apakah sebagai pribadi yang tunduk kepada penjajahan bahasa (linguistic imperialsm) atau sebagai komunikator yang bangga akan identitas dan hubungan dengan Indonesia?

Bahasa Inggris adalah Lingua Franca

Tidak bisa dimungkiri Bahasa Inggris merupakan keahlian kunci yang dibutuhkan untuk mampu bersaing di dunia global saat ini.

Namun, faktanya masih ada banyak orang yang merasa minder dan meminta maaf ketika berbahasa Inggris menggunakan aksen Indonesia atau logat daerah.

Berdasarkan refleksi di atas, kita tidak sepatutnya lagi merasa minder ketika berkomunikasi memakai Bahasa Inggris dengan aksen atau variasi logat kita sendiri. Berbagai ragam Bahasa Inggris lain sudah umum digunakan, sehingga kita pun tidak perlu merasa minder menggunakan ‘Indoglish’ atau variasi Bahasa Inggris dengan cita rasa lokal lainnya di Indonesia.

Mengutip Porter dan Garvin, guru bahasa Inggris pun sejatinya tidak perlu berupaya mengubah aksen murid mengikuti standar native speaker – hal ini bisa merusak identitas dan jati diri mereka. Di luar kelas, Bahasa Inggris tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi dengan native speaker semata, tetapi sebagai lingua franca (bahasa penghubung) dengan masyarakat dunia lainnya yang bukan native speaker.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Billy Nathan Setiawan adalah kandidat PhD di Linguistik Terapan, University of South Australia.