Women Lead Pendidikan Seks
May 10, 2021

Waduh, Kakak Perempuan Saya Sudah Pensiun!

Menjelang masa pensiun kakak perempuan saya, saya mengamati kehidupan berbeda dalam menjalani masa lanjut usia yang dihadapi perempuan tiga generasi di keluarga saya.

by Marlinda Djajadisastra
Lifestyle
Kakak perempuan saya pensiun
Share:

Pada 2015 silam, menjelang masa pensiun kakak perempuan tertua saya, saya telah mempersiapkan diri menghadapinya. Dia saat itu sudah berusia 71 tahun dan masih bekerja penuh waktu. Waduh, seharusnya dia sudah berhenti bekerja, bukan?

Kakak perempuan saya termasuk perempuan Indonesia yang memiliki semuanya di kala hal itu sulit diakses perempuan lainnya: Pendidikan di jenjang universitas, karier, keluarga, dan peran dalam masyarakat. Singkatnya, dia adalah salah satu bagian generasi perempuan Indonesia yang berkesempatan untuk bebas hidup di luar rumahnya. Hidupnya sangat kontras dengan kehidupan nenek kami dan cukup berbeda dari kehidupan Ibu.

Nenek saya tidak bisa membaca atau menulis. Eksistensinya didedikasikan untuk kesejahteraan kakek saya dan membuat anak dan cucunya berperilaku tanpa cela sesuai dengan standar saat itu. Ranah hidup sehari-harinya adalah dapur. Dia memasak sambal leunca, dia memijat kaki kami saat lelah menggunakan minyak kelapa buatan sendiri, dan suaranya yang menenangkan membuat kami tertidur lelap.

Selama hidup, Nenek berusaha menjaga kesehatannya. Bagaimanapun, usia juga memengaruhi kekuatan fisik dan kemampuan berpikirnya secara jernih. Orang tua saya kemudian memindahkannya ke  dekat rumah kami. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, rutinitasnya tidak pernah berubah. Dia bangun di pagi hari, mandi, sarapan dan pergi ke taman untuk merawat banyak tanaman mawarnya sampai waktu makan siang. Setelah makan siang, dia tidur, mandi lagi, duduk dan mengobrol dengan bibi saya sampai waktu makan malam, lalu pergi tidur.

Dia menjalani rutinitas seperti itu berulang kali, hari demi hari. Saya tidak pernah ingat saat suasana hatinya berubah jadi baik atau buruk, atau saat dia mengungkapkan ketidakbahagiaan atau berbicara tentang kesepian. Saya kira ketika cakrawala dan pilihanmu terbatas, kamu akan merasa baik-baik saja dengan pengalaman yang kamu miliki.

Ibu saya lulusan Hoogere Burgerschool (HBS, sekolah menengah zaman Belanda) dan tidak melanjutkan ke universitas. Alasannya, keluarganya tidak memiliki cukup uang untuk mengirim seorang gadis ke universitas untuk menjadi pengacara, dokter, atau pejabat pemerintah. Dia kemudian bekerja di kantor kota madya tempat dia bertemu dengan Ayah, seorang insinyur yang tidak terlalu muda yang terlalu sibuk untuk mencari istri. Ibu saya berhenti dari pekerjaannya ketika mereka menikah dan segera melahirkan anak satu demi satu. Saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan kakak perempuan tertua saya berjarak 10 tahun di atas saya.

Ketika tahun-tahun melahirkan anak selesai dan pengasuhan anak diurus oleh nenek dan bibi saya, Ibu bergabung dengan perusahaan konstruksi Ayah sebagai akuntan/pengatur jadwal/pengawas. Dia mengambil alih perusahaan itu ketika ayah saya meninggal dunia. Ibu meneruskan perannya sebagai pencari nafkah tunggal, sementara kami semua masih bersekolah. Dia pensiun ketika tiga bersaudara tertua meraih gelar universitas mereka. 

Baca juga: Drama Korea ‘Navillera’ dan Mengejar Mimpi Saat Lanjut Usia

Kehidupan Perempuan Setelah Pensiun Generasi Sekarang

Dalam hidupnya, Ibu menaklukkan tantangan apa pun yang datang dalam kehidupannya. Entah itu kurangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, kurangnya kesempatan untuk aktualisasi diri, atau berperan lebih baik dalam industri konstruksi yang didominasi laki-laki.

Ibu tidak pernah berhenti belajar dan menemukan kembali dirinya untuk beradaptasi dengan situasi baru. Selama masa pensiunnya, dia melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh sendirian, mendaftar ke kelas seni bela diri, meningkatkan kefasihan bahasa asingnya, membantu memilih anak-anak perempuan berbakat untuk mendapat beasiswa, dan mengajar membaca Al-Qur’an. Dia bermain basket dengan cucunya, membawa mereka ke arena seluncur es, dan berburu buku komik langka.

Ibu memiliki kehidupan yang jauh lebih berwarna dan kaya daripada Nenek. Sayangnya, dia memiliki lebih banyak kemalangan dibandingkan generasi sebelumnya. Ketika demensia melanda, dia mencari suaka, dengan kata-katanya sendiri, di rumah kakak perempuan tertua saya. Dia menjadi penyendiri. Dia merasa tidak lagi terkontrol dan tidak ingin orang tahu tentang kondisinya yang memburuk. Saat kondisinya memburuk, kepercayaan dirinya semakin terkikis.

Saya telah menyaksikan Nenek dan Ibu menjalani masa tua mereka. Generasi kakak perempuan saya sekarang mendekati generasi mereka. Pengalaman hidup generasinya berbeda dengan generasi sebelumnya, dan akibatnya mekanisme menjalani penuaan dirinya juga akan berbeda.

Generasi kakak perempuan saya sering melakukan perjalanan jauh, mereka membuat keputusan yang memengaruhi ratusan bahkan ribuan orang. Mereka ikut serta dalam negosiasi yang rumit, memproduksi barang dengan formula yang kompleks, dan berbicara di depan umum, terkadang dalam bahasa asing. Mereka memiliki keluarga yang lebih kecil, membesarkan keturunan mereka untuk bisa mencapai tingkat lebih tinggi, dan mendukung mereka karena mereka memiliki lebih banyak sumber daya daripada orang tua mereka.

Mereka adalah pemecah masalah yang mahir dan mandiri. Tidak ada apa pun di dunia ini yang tidak dapat mereka lakukan dan tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Dengan parameter ini, apakah kakak perempuan saya dan generasinya akan berlayar dengan mulus memasuki masa tuanya? Memang, ini adalah pertanyaan sangat sulit untuk dijawab.

Baca juga: Merengkuh Usia Tua dengan Gembira

Menjalani masa pensiun di rumah seperti Nenek atau kegiatan belajar seumur hidup yang dialami Ibu tidak akan cocok dengan generasi kakak perempuan saya. Karena mobilitasnya yang tinggi, mereka membutuhkan infrastruktur perkotaan dan tempat-tempat umum yang berkursi roda dan ramah lansia. Mereka tidak akan senang diperlakukan dengan ageism, sebuah prasangka atau diskriminasi atas dasar usia seseorang.

Mereka membutuhkan berbagai layanan dan produk yang sesuai dengan gaya hidup mereka saat ini. Mereka membutuhkan pengasuh profesional yang tidak cuma mendukung kebutuhan fisik mereka, tetapi juga menyediakan percakapan seru dan hubungan persahabatan dekat.

Kekuatan fisik mereka mungkin menurun, tetapi kecakapan kognitif mereka masih utuh. Mereka masih dapat berkontribusi untuk kebaikan masyarakat sebagai tenaga kerja bagian tertentu atau menjadi relawan. Kebutuhan akan layanan dan produk yang terdiversifikasi dan berkualitas tinggi berkembang pesat. Saya berharap sisi suplai siap untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Ya, saya dalam mode panik.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Marlinda Djajadisastra pendiri Lansia Cerdas, telah menjadi “perempuan serbabisa” hampir sepanjang kehidupan kerjanya, sebagian karena dia merasa ada begitu banyak masalah penting dalam hidup yang perlu ditangani. Sebagian besar dari keraguannya adalah bahwa dia telah terlalu sering dipindah-pindahkan tugas ke suatu negara. Dia sekarang tinggal di satu tempat dan memfokuskan energinya untuk mendorong para boomer agar berperan serta dan menua dengan baik.