Women Lead Pendidikan Seks
April 07, 2020

Melirik 3 Karakter Ayah Tunggal dalam 'Itaewon Class'

Drama Korea Itaewon Class menunjukkan jenis-jenis karakter ayah tunggal yang tidak banyak disoroti dalam serial Asia.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Culture // Screen Raves
Share:

Ekspresi datar, gerak-gerik yang cenderung kaku dan kikuk, namun beriring aksi-aksi tegas yang berakar dari kemantapan hari. Itulah kesan yang kita dapatkan saat melihat sosok Park Saeroyi, tokoh utama laki-laki dalam drama Korea Itaewon Class (2020). Sedari remaja, begitu dia punya pikiran atau prinsip tertentu, sekuat tenaga ia akan membelanya sekalipun sampai harus mengorbankan diri.

Sikap demikian tidak ujug-ujug dimiliki Saeroyi. Dalam salah satu episode serial drakor di Netflix ini, Saeroyi mengatakan bahwa keteguhan dirinya merupakan hasil ajaran sang ayah, orang tua tunggal yang akrab dengan putra semata wayangnya itu.

Itaewon Class sendiri berkisah seputar balas dendam Saeroyi, seorang laki-laki tanpa status dan kuasa apa-apa terhadap konglomerat bisnis makanan tersohor di Korea Selatan, Jang Dae Hee dan anak sulungnya, Jang Geun Won. Ketidakadilan yang bersumber dari masalah status sosial-ekonomi, ras, dan orientasi seksual, mewarnai serial ini. Beriringan dengan itu, Itaewon memuat aneka kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang menjadi daya tarik lain bagi penggemar drama Korea dan Park Seo-joon, pemeran Saeroyi.

Namun, satu hal yang membuat saya kepincut dengan drama ini justru bukan perkara balas dendam atau kisah cinta Saeroyi itu. Saya malah senang mengamati bagaimana karakter orang-orang tua tunggal (yang mungkin memang disengaja oleh pembuat filmnya) di film ini digambarkan membentuk anaknya, baik lewat ucapan maupun perbuatan. Berikut hasil pengamatan saya untuk tiga karakter orang tua tunggal dalam drama Korea ini.

  1. Park Sung Yeol – ayah Park Saeroyi

Tokoh orang tua tunggal pertama ini bisa dibilang sebagai orang tua ideal yang akrab dengan anaknya. Obrolan soal keseharian hingga masalah prinsip mengisi hari-hari mereka sehingga kita bisa merasakan chemistry layaknya teman dekat dalam relasi ayah-anak ini. Tengok saja episode saat Sung Yeol dan Saeroyi minum soju bersama buat pertama kali. Sering kali, anak sembunyi-sembunyi minum alkohol, apalagi saat di bawah umur. Namun, Sung Yeol justru mengajak anaknya minum bareng dan mengajari adab yang benar dalam menuang minuman keras khas Korea itu. Sikap-sikap menerobos hierarki ini yang menimbulkan kesan manis dan perasaan hangat.

Relasi Sung Yeol-Saeroyi termasuk berhasil karena Sung Yeol mengafirmasi anaknya dalam berbagai keadaan. Ketika Saeroyi memilih mempertahankan prinsip dengan tidak mau berlutut di depan Jang Dae Hee misalnya. Sung Yeol tahu konsekuensinya akan panjang, bahkan turut membuatnya menderita. Tetapi ia menjadi ayah kesatria yang tidak meninggalkan anaknya saat itu, dan sedikit pun tidak mengorting pilihan anaknya demi bisa berkompromi dengan Jang Dae Hee.

Saeroyi sempat sedih luar biasa melihat ayahnya kena getah dari prinsipnya. Tetapi ayahnya tidak lekas-lekas menyuruh dia menghapus air mata. Ini kontras dengan banyak contoh keseharian, ketika anak laki-laki kerap diminta untuk berhenti menangis atau tidak mengekspresikan kesedihannya karena “tabu”.

Satu lagi yang membuat pola asuh Sung Yeol ideal bagi saya adalah, adanya ekspresi kebanggaan atas diri Saeroyi. Sebagian orang tua mungkin malu luar biasa mendapati anaknya dikeluarkan dari sekolah, tetapi sebaliknya dengan Sung Yeol. Dengan mata jernihnya, ia masih dapat menangkap kebaikan lain putranya yang menjadi kualitas seorang manusia di samping catatan akademik semata. Dia malah sempat bercanda, “untung belum dibelikan seragam.”

Ada orang tua yang menyimpan saja kebanggaan itu atau membeberkan ke orang sekitar tanpa pengakuan langsung kepada anaknya. Namun, Sung Yeol memilih mengatakan dengan jelas kepada Saeroyi perihal kebanggaannya dan itu menjadi pemompa semangat anak. Sesederhana apa pun ungkapan cinta atau apresiasi dari orang tua, itu bisa membekas seumur hidup dalam diri anaknya.

Baca juga: 5 Drakor dengan Karakter Perempuan yang Anti-Stereotip

  1. Jang Dae Hee – ayah Jang Geun Won dan Jang Geun-Soo

Keberadaan pasangan(-pasangan) taipan Jang Dae Hee tidak jelas ada di mana. Cuma sempat dijelaskan bahwa putra keduanya, Jang Geun-Soo adalah “anak haram” dan ibunya tinggal di luar negeri. Istri sahnya sendiri entah di mana. Sepanjang serial berepisode 16 ini, Jang Dae Hee lebih sering terlihat “mengasuh’ anaknya sendiri.

Seratus delapan puluh derajat dari pola asuh Sung Yeol, Jang Dae Hee menerapkan cara-cara beracun dalam berinteraksi dengan anaknya. Pertama, sebagai ayah, Dae Hee kelewat memanjakan Geun Won, bukan hanya dengan materi, tetapi juga privilese-privilese lain yang membuat putra sulungnya itu terbebas dari masalah atau hukuman. Semakin merasa imun dari sanksi apa pun, semakin pongahlah Geun Won. Ia merasa bisa membeli dunia dengan kekayaan dan kuasa keluarga Jang sehingga peningkatan kemampuan diri ia kesampingkan sama sekali. Tak heran bila ia terbalap oleh teman se-SMA-nya yang menjadi manajer di perusahaan Dae Hee, Oh Soo-ah.

Cara beracun kedua dalam pola asuh Dae Hee adalah pelibatan kekerasan fisik dan verbal dalam pendisiplinan anak. Di hadapan peserta rapat di perusahaan, Geun Won ditampar. Tidak hanya sakit fisik yang dialami laki-laki itu, tetapi tentunya rasa kecil hati, malu luar biasa, perasaan tidak berharga, dan ini semua terus terngiang di kepalanya. Terbukti dalam episode-episode akhir, ketika Geun Won menumpahkan keluh kesah selama bertahun-tahun tentang sikap ayahnya tersebut, ia mendambakan sekali pengakuan dari ayahnya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Klimaksnya adalah saat Geun Won “dibuang” dari perusahaan dan dibiarkan mendekam di penjara tanpa dijenguk selama empat tahun.

Dae Hee sangat kuat berjuang mempertahankan harga diri dan kejayaan bisnisnya. Punya gol besar menjadi nilai prioritas yang ia tanamkan ke Geun Won. Namun, cara yang dipakai mengerikan. Saat Dae Hee hendak menanamkan nilai itu sekaligus menempa mental Geun Won, ia membawanya ke peternakan dan menyuruh putra sulungnya mematahkan leher ayam. Alih-alih berhasil, sampai bertahun-tahun berikutnya Geun Won menyimpan trauma dari peristiwa kekerasan tersebut (termasuk tidak bisa makan menu ayam).

Sementara pada anak keduanya, yang berulang kali disebut anak haram, Dae Hee cukup abai dan membiarkan saja ia dirisak oleh abangnya. Si anak jadi lemah tak berpendirian, dan tumbuh menjadi pribadi pendendam.       

Orang tua yang punya mimpi besar dan berharap anaknya mengekori dia itu wajar. Tetapi menjadi hal yang tidak realistis apabila dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut, ada pendapat dan kehendak anak yang diabaikan, ada cara-cara koersif yang dilibatkan, dan pandangan hanya tertuju pada target semata, bukan proses jatuh bangun di mana sepatutnya orang tua hadir membimbing anaknya.

Baca juga: Ini Satu Alasan Lagi Mengapa Harus Menonton Drama Korea

  1. Detektif Oh Byung Heon – ayah Hye Won

Walaupun porsi munculnya tidak seberapa dalam serial ini, tokoh Detektif Oh cukup berkesan buat saya. Saat menangani kasus tabrak lari Sung Yeol, ia “dipaksa” atasannya untuk menutupi fakta tentang penabrak ayah Saeroyi itu. Sang atasan memakai pemerasan emosional bahwa Detektif Oh punya anak yang masih kecil dan butuh dukungannya. Jika Detektif Oh membangkang kala itu, bukan mustahil ia kehilangan pekerjaan dan kesulitan menyambung hidupnya bersama sang putri, Hye Won. Ujung-ujungnya, Detektif Oh keluar dari kepolisian dan berbisnis bahan makanan, tetapi urusan kematian Sung Yeol tetap menggantung di kepalanya.

Hati Detektif Oh yang memang lurus tidak pernah tenang. Apalagi setelah beberapa kali Saeroyi mendatanginya dan meminta dia mengakui fakta yang sempat tertutupi sekian tahun lamanya. Detektif Oh masih bertahan bungkam, hingga perlahan-lahan batinnya terketuk, terlebih saat tahu anaknya ingin menjadi polisi seperti dia dulu. Bukankah polisi harus menegakkan keadilan? Bukankah anaknya tumbuh dengan meneladan dirinya? Akhirnya, ia pun memilih mengatakan kebenaran pada Hye Won sekalipun itu berisiko membuat dirinya dihukum karena menyembunyikan fakta.

Caranya berinteraksi dengan anak perempuannya yang masih praremaja terlihat hangat. Dan karakter si anak yang pemberani dan opiniated menunjukkan ia merasa nyaman dengan dirinya, buah dari komunikasi serta dorongan yang baik dengan sang ayah.

Keputusan yang diambil Detektif Oh menunjukkan bahwa sebagai orang tua, hanya dengan mencontohkan cara hidup jujurlah anak bisa meneladan sikap ideal tersebut. Kebohongan-kebohongan kecil dalam praktik keseharian orang tua mengasah anak untuk menirukan hal tersebut. Tidak hanya itu, anak pun bisa merasa kecewa dan kehilangan rasa percaya kepada sosok yang sepatutnya memberi ia teladan.

Itaewon Class bukan hanya drama soal ambisi, balas dendam, dan romansa semata. Dari serial ini saya kembali diingatkan mengenai cara membangun relasi yang hangat antara orang tua dan anak. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya, begitu barangkali yang bisa saya tangkap dari serial ini. Kendati ada bermacam pengalaman masa kecil, remaja, hingga dewasa yang begitu kaya, pengetahuan baru yang selalu bertambah, pengalaman menerima pola asuh dari orang tua akan menjadi titik berangkat ke arah mana bertumbuhnya seorang anak: Apakah ia berjalan searah sang orang tua atau justru terpental dari tempat orang tuanya berdiri kini, apakah ia menjadi manusia penuh percaya diri atau berkubang dengan penilaian diri yang buruk.

Foto diambil dari IMDB.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop