Women Lead Pendidikan Seks
August 27, 2020

Mengapa Anak Muda Jadi Semakin Perfeksionis?

Kaum milenial kini dikelilingi terlalu banyak tolok ukur untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan mereka. Bersaing dengan tetangga tidak pernah sesulit ini.

by Simon Sherry dan Martin M. Smith
Lifestyle
Share:

Baru-baru ini kami melakukan salah satu studi terbesar soal ambisi seseorang untuk meraih kesempurnaan atau yang biasa dikenal dengan perfeksionisme. Kami menemukan bahwa keinginan seseorang untuk menjadi serba sempurna selama 25 tahun terakhir telah meningkat secara substansial dan bahwa baik perempuan maupun laki-laki merasakan hal ini. Kami juga menemukan bahwa mereka yang perfeksionis sering berjalannya waktu menjadi lebih perasa dan kurang teliti.

Orang yang perfeksionis berjuang keras untuk meraih kesempurnaan dan juga mengharapkan baik dirinya maupun orang lain untuk mengupayakannya. Biasanya, orang-orang yang perfeksionis memiliki reaksi yang sangat negatif terhadap kesalahan. Mereka mengkritik diri mereka sendiri secara keras. Mereka punya keraguan terhadap kemampuan kinerja mereka sendiri. Dan mereka mempunyai perasaan kuat bahwa orang lain sangat kritis dan menuntut banyak dari mereka.

Sebagai psikolog klinis di Departemen Psikologi dan Ilmu Saraf di Dalhousie University, Kanada dan dosen metode penelitian di York St John University, Inggris, bersama-sama kami memiliki pengalaman luas dalam memahami, menilai, merawat dan mempelajari perfeksionisme.

Yang kami temukan sangat mengkhawatirkan.

Kami percaya ada kebutuhan mendesak untuk mengurangi pengaruh buruk dari praktik pengasuhan anak yang keras dan terlalu mengontrol dan dari pengaruh sosial budaya, seperti gambaran media yang tidak realistis, yang berkontribusi pada sifat perfeksionisme. Penanganan untuk para perfeksionis yang mengalami stres juga jelas diperlukan.

Baca juga: Tak Apa Menjadi Bukan Siapa-Siapa

Kaum milenial sedang menderita

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang perfeksionisme, kami melakukan meta-analisis dalam skala besar yang melibatkan 77 studi dan hampir 25.000 peserta. Sekitar dua pertiga dari peserta ini adalah perempuan dan banyak dari mereka adalah mahasiswa kulit putih dari negara-negara barat (seperti Kanada, Amerika Serikat dan Inggris). Usia peserta kami berkisar antara 15 hingga 49 tahun.

Kami mendapati anak muda hari ini lebih perfeksionis daripada sebelumnya. Kami menemukan bahwa perfeksionisme telah meningkat secara substansial sejak tahun 1990. Artinya, kaum milenial saat ini lebih perfeksionis dibanding generasi sebelumnya. Ini kesimpulan yang merefleksikan penelitian-penelitian sebelumnya.

Penyebab perfeksionisme sangat kompleks. Perfeksionisme meningkat akibat semakin kompetitifnya dunia saat ini, di mana peringkat dan kinerja diperhitungkan secara berlebihan lalu keberhasilan individu sangat diutamakan.

Orang tua yang sangat mengontrol anak-anak mereka juga turut mendorong sikap perfeksionisme dalam anak mereka. Dengan banyaknya postingan di media sosial yang menampilkan kehidupan “sempurna” yang tidak realistis dan iklan yang menggugah yang menggambarkan standar kesempurnaan yang tidak dapat dicapai, kaum milenial kini dikelilingi terlalu banyak tolok ukur untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan mereka. Bersaing dengan tetangga tidak pernah sesulit ini.

Masalah perfeksionisme dalam masyarakat modern di dunia Barat merupakan masalah serius, bahkan mematikan. Penelitian terkait perfeksionisme menunjukkan hubungan antara perfeksionisme dengan kecemasan, stres, depresi, gangguan makan, dan bunuh diri.

Mengejar kesempurnaan dapat menghasilkan tingkat kegagalan yang lebih tinggi dan tingkat keberhasilan yang lebih rendah, membuat perfeksionis lebih mungkin untuk kesal terhadap ketidaksempurnaan mereka dan kecil kemungkinannya akan membuat mereka mengejar tujuan mereka dengan hati-hati.

Hidup semakin tak terkendali

Kami juga menemukan bahwa ketika orang-orang perfeksionis bertambah tua, mereka semakin tidak terkendali. Kepribadian mereka menjadi lebih neurotik (lebih rentan terhadap emosi negatif seperti rasa bersalah, iri dan cemas) dan kurang teliti (kurang terorganisir, kurang efisien, kurang dapat diandalkan, dan kurang disiplin).

Mengejar kesempurnaan–sebuah tujuan yang tidak jelas–dapat menghasilkan tingkat kegagalan yang lebih tinggi dan tingkat keberhasilan yang lebih rendah sehingga membuat perfeksionis lebih mungkin untuk kesal terhadap ketidaksempurnaan mereka dan kecil kemungkinannya akan membuat mereka mengejar tujuan mereka dengan hati-hati.

Secara keseluruhan, hasil kami menunjukkan bahwa hidup tidak menjadi lebih mudah bagi perfeksionis. Dalam dunia yang penuh tantangan, berantakan dan tidak sempurna, orang-orang perfeksionis mungkin akan sangat letih dan seiring dengan bertambahnya usia mereka, membuat mereka semakin tidak stabil dan kurang rajin.

Temuan kami juga mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tingkat perfeksionisme yang serupa. Ini menunjukkan bahwa keinginan masyarakat Barat untuk menjadi sempurna tidak melibatkan unsur perbedaan gender. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki keinginan untuk mencapai kesempurnaan.

Penelitian di masa depan harus menguji apakah pria mengejar kesempurnaan karena didorong motif untuk berprestasi (seperti bersaing untuk sumber daya) sedangkan apakah wanita berusaha mengejar kesempurnaan karena didorong motif hubungan (seperti menyenangkan orang lain).

Baca juga: Berusaha Untuk Selalu Bahagia Itu Enggak Perlu

Kasih sayang tanpa syarat adalah obatnya

Perfeksionisme adalah epidemi yang mematikan di masyarakat Barat yang dianggap kurang penting. Banyak perfeksionis yang menyembunyikan ketidaksempurnaan mereka dari pihak-pihak yang mungkin dapat membantu (seperti psikolog, guru atau dokter keluarga).

Kita perlu menangani masalah perfeksionisme di tingkat yang melibatkan pola asuh dan unsur budaya. Orang tua sebaiknya tidak terlalu mengendalikan anak-anak mereka, tidak terlalu kritis, dan tidak terlalu melindungi anak-anak mereka. Orang tua perlu mengajarkan anak-anak mereka untuk memaklumi kesalahan mereka dan mengambil pelajaran darinya sambil bahwa menekankan kerja keras dan disiplin lebih penting daripada mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.

Kasih sayang tanpa syarat–yaitu ketika orang tua menghargai anak-anak bukan hanya dari kinerja, peringkat, atau penampilan mereka–tampaknya menjadi obat penangkal yang baik untuk perfeksionisme.

Perfeksionisme adalah sebuah mitos dan media sosial adalah penyebar mitos ini. Kita perlu mengajarkan bersikap skeptis terhadap kehidupan yang “terlihat sempurna” yang dipromosikan melalui media sosial dan juga iklan media mainstream. Gambar yang tidak realistis yang diperlihatkan melalui foto belanja, make-up, dan filter akan menjadi tidak menarik setelah Anda mengetahui bahwa hal tersebut bukan kenyataan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Simon Sherry adalah profesor, psikolog klinis, dan direktur Clinical Training di Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University di Kanada. Martin M. Smith adalah pengajar Metode Penelitian di York St. John University, Inggris.