Women Lead Pendidikan Seks
October 22, 2021

Mengenali Tanda Bahaya Kesepian Saat Pandemi dan Mencegah Dampak Buruknya

Pembatasan sosial selama pandemi menciptakan masalah kesepian pada banyak orang. Kapan kesepian jadi membahayakan dan bagaimana cara menangani masalah ini?

by Eva Suryani dan Nicholas Hardi
Lifestyle // Health and Beauty
Solitude Lonely Thumbnail 91, Magdalene
Share:

Pembatasan sosial yang diberlakukan di mancanegara selama pandemi COVID-19 terjadi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memang hal ini dapat menurunkan risiko penularan virus. Namun di lain sisi, hal ini juga menurunkan interaksi sosial dan membawa efek psikologis tersendiri.Pembatasan berbulan-bulan tak pelak menciptakan rasa kesepian bagi banyak orang.

Sejumlah riset menyatakan kesepian berkaitan dengan memburuknya kondisi fisik, psikis, dan peningkatan risiko kematian. Intervensi untuk mencegah dan mengatasi kesepian menjadi penting agar kualitas hidup manusia dapat optimal selama masa pandemi COVID-19.

Kita perlu mengetahui tanda-tanda kesepian yang bisa melahirkan dampak bahaya dan perlu segera mencari pertolongan.

Fenomena Kesepian Selama Pandemi

Kesepian merupakan fenomena yang sudah ada sebelum pandemi dan studi telah menunjukkan potensi bahayanya terhadap manusia. Kita perlu memperhatikan tanda-tanda kesepian dan mulai mengatasinya sejak dini sebelum semakin berat kasusnya.

Pengalaman kesepian menjadi tidak terhindarkan setelah pandemi menghantam hampir semua negara dalam satu setengah tahun terakhir. Kesepian berbeda dengan kesendirian yang dilakukan secara sadar dan mampu menjaga keseimbangan antara interaksi sosial dan perilaku menyendiri.

Seseorang dapat mempersepsikan dirinya kesepian saat hanya seorang diri dan tidak diinginkan orang lain, seperti ditolak, berpisah, atau ditinggal oleh orang lain.

Baca juga: Kesepian dan Isolasi: Musuh dan Tema Utama Karya Sastra Jepang

Selama pandemi, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendorong pemerintah untuk memperhatikan isu fenomena kesepian pada saat berbagai pembatasan diberlakukan. Isolasi sosial dan kesepian meningkatkan risiko masalah fisik dan psikologis.

Sebuah riset di Jerman pada 2012, jauh sebelum pandemi, menunjukkan sekitar 10,5 persen orang dewasa dengan rata-rata usia 54,9 tahun melaporkan mengalami kesepian. Kesepian yang mereka alami berkaitan dengan risiko mengalami depresi, ide bunuh diri, dan gangguan cemas.

Pada masa pandemi COVID-19, studi di Inggris pada kelompok usia 18-87 tahun menemukan kelaziman kesepian mencapai 27 persen dari 1.964 orang yang sampel. Studi tersebut menunjukkan kelompok usia lebih muda, terpisah dari pasangan, depresi, kesulitan mengendalikan emosi, dan kualitas tidur yang buruk berdampak terhadap kesepian.

Sebuah survei di Indonesia pada Mei dan Juni 2021 menemukan 98 persen dari 5.211 orang dari enam provinsi di Pulau Jawa merasa kesepian dalam sebulan terakhir sebelum survei dilangsungkan.

Saat ini, belum ditemukan data yang konsisten terkait faktor risiko terjadinya kesepian, seperti kelompok usia dan jenis kelamin tidak selalu berkaitan dengan kesepian pada temuan setiap studi.

Faktor risiko yang membuat seseorang rentan mengalami kesepian dapat berupa orang dengan masalah kejiwaan, gangguan fisik kronis, dan jarang berinteraksi sosial. Bisa juga karena masalah ekonomi selama situasi pandemi seperti menurunnya penghasilan pegawai, meningkatnya angka pengangguran.

Kenali Tanda Bahaya Kesepian

Kesepian tidak tergolong gangguan jiwa dan belum ada konsensus penggolongan gejala. Kesepian menjadi masalah besar ketika kemampuan seseorang menurun dalam melakukan aktivitas dan menjalin relasi sosial.

Karena itu, kamu perlu mengenali beberapa tanda bahaya orang yang mengalami kesepian. Berikut ini tanda-tanda bahayanya:

  1. Orang merasakan perubahan kapasitas aktivitas seperti mudah lelah atau kesulitan konsentrasi. Keinginan untuk merawat diri juga berubah, seperti terjadinya perubahan pola tidur dan pola makan.
  2. Orang merasakan perubahan kapasitas menjalin relasi sosial dengan orang lain. Hal lain yang turut mengganggu adalah tetap merasa sendiri walau sedang bersama orang lain.
  3. Mereka mulai mengatasi masalah emosi atau kesepian dengan koping yang kurang baik, seperti konsumsi makanan berlebih, penggunaan zat psikoaktif, atau konsumsi alkohol berlebih.
  4. Timbul pikiran mereka mengenai kematian.

Jika telah muncul tanda-tanda itu, maka seseorang perlu segera mencari jalan keluar untuk mengatasi mencegah keadaan makin buruk.

Baca juga: Jangan Tekan Kecemasan: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Corona

Cara Atasi Kesepian

Situasi krisis selama pandemi memberikan tantangan dalam mengatasi rasa kesepian.

Proses adaptasi dengan perubahan akibat pandemi belum tentu dapat mengatasi keterbatasan interaksi sosial. Proses perjalanan melewati masa kesepian bervariasi dan berbeda bagi setiap individu. Belum ada intervensi yang cocok bagi semua orang.

Membina relasi yang dekat dengan orang lain dapat menjadi salah satu faktor pelindung dari kesepian. Saat rasa kesepian menyergap perasaan dan pikiranmu, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengatasi kesepian.

  1. Kamu perlu membentuk pikiran yang positif mengenai pengalaman kesepian

Seseorang perlu merefleksi diri mengenai pengalaman kesepian dan suasana perasaan sendiri. Sebaiknya kita mengingat bahwa kesepian merupakan proses yang wajar bagi manusia, terutama pada masa pandemi COVID dan proses ini akan berlalu.

Kita perlu terus mencoba berbagai upaya mengatasi kesepian karena setiap orang mengatasi dengan cara yang berbeda.

  1. Kamu perlu berupaya untuk menjalin relasi sosial

Kesepian merupakan tanda perlunya untuk menjangkau lingkaran sosial, termasuk teman lama dalam daftar kontak atau kelompok percakapan di aplikasi percakapan. Interaksi dimulai dengan mengucapkan salam secara rutin kemudian melanjutkan percakapan hingga interaksi sosial dapat dipertahankan.

Proses komunikasi yang telah berjalan membantu mengurangi kesepian.

Seiring perkembangan teknologi, interaksi sosial dapat dilakukan juga melalui pengiriman pesan melalui perangkat digital, panggilan suara, atau panggilan video.

Studi telah menunjukkan manfaat komunikasi digital pada situasi isolasi fisik atau pun sosial. Komunikasi dengan bantuan teknologi digital mempermudah komunikasi antarmanusia sehingga mampu mengurangi pengalaman kesepian.

Di sisi lain, penggunaan media sosial sebaiknya dibatasi ketika lebih banyak memicu perasaan tidak nyaman.

Seseorang dapat terlibat dalam komunitas atau aktivitas sosial di dunia nyata atau dunia maya untuk melakukan kegiatan bersama dan saling berbagi pengalaman pribadi atau perasaan yang sedang dialami.

Sebaiknya kamu menghindari upaya membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena kita tidak mengetahui secara pasti pengalaman orang lain, terutama informasi dari media sosial.

Memelihara hewan peliharaan seperti kucing atau anjing dapat memberikan kehangatan atau pengalaman menjalin relasi dengan orang lain sehingga mengurangi kesepian. Kita dapat mengajak hewan peliharaan untuk aktivitas bersama dan memberikan kesempatan untuk berkenalan dengan orang lain sebagai sesama pemilik hewan peliharaan.

  1. Pertahankan aktivitas rutin

Seseorang perlu mempertahankan aktivitas yang sehat dan rutin termasuk memastikan kebutuhan primer seperti makan atau tidur telah terpenuhi dengan baik. Rutinitas harian sebaiknya dilakukan secara terstruktur meski lebih banyak aktivitas di rumah.

Kamu perlu mengisi waktu dengan berbagai aktivitas menyenangkan agar dapat mengalihkan perhatian dari kesepian. Masa pandemi memungkinkan banyak waktu luang yang dapat digunakan untuk melakukan hobi atau kegiatan yang ingin dilakukan sebelumnya, serta mempelajari suatu keterampilan baru.

Kita dapat melakukan aktivitas yang menumbuhkan perasaan tenang, seperti berlatih relaksasi, meditasi, atau mindfulness. Kita juga bisa melakukan kegiatan sukarela untuk membantu orang lain untuk menyibukkan diri. Membantu orang lain dapat meningkatkan kesejahteraan diri sendiri.

  1. Carilah bantuan dari tenaga profesional

Individu memerlukan bantuan orang lain saat saat belum berhasil mengatasi kesepian dan perasaan tidak nyaman. Komunitas dukungan kesehatan mental dapat membantu mendengar masalah, memberikan opini, hingga membantu menghubungkan dengan profesional kesehatan mental.

Profesional kesehatan mental telah terlatih untuk memberikan dukungan dan berusaha memahami permasalahan yang dialami seseorang. Kini intervensi profesional dapat diperantarai media digital melalui bantuan aplikasi atau tele-konsultasi yang meliputi pemberian informasi edukasi, perantara layanan konsultasi, pengkajian kesehatan mental, dan intervensi terapi.

Bila kondisi memburuk atau timbul pikiran bunuh diri, konsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental merupakan pilihan yang perlu ditempuh.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Eva Suryani adalah psikiater/dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Nicholas Hardi adalah peneliti dan psikiater, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.