Women Lead Pendidikan Seks
July 07, 2021

7 Cara Sederhana Mendukung Komunitas Transgender

Cara-cara berikut bisa kamu lakukan untuk menunjukkan dukungan bagi teman-teman transgender. Salah satunya adalah mengenal dan memahami “transgender” itu sendiri.

by Jonesy
Issues // Gender and Sexuality
Menjadi Ally untuk Komunitas Transgender
Share:

Kamu mungkin berpikir, menerima keberadaan individu transgender saja sudah cukup untuk mendukung mereka. Pun, saat ini mungkin kamu masih memiliki miskonsepsi tentang transgender, seperti berpikir transpuan harus tampil feminin; atau menganggap individu trans sebagai produk gagal dalam keluarga. Untuk menghilangkan asumsi tersebut, pertama-tama kamu perlu paham, transgender adalah sebuah identitas gender yang berbeda dari jenis kelaminnya sedari lahir.

Setidaknya, ada tiga kesalahpahaman lain soal transgender yang juga perlu kamu tahu. Pertama, transgender tak termasuk dalam daftar penyakit gangguan kejiwaan. Ketentuan ini efektif diberlakukan oleh World Health Organization (WHO) per 2022 mendatang. Sayangnya, transgender tetap dianggap sebagai liyan, sehingga rentan mengalami pengucilan oleh orang-orang dekatnya. Bahkan dalam contoh lebih ekstrem, kelompok transgender dianggap sebagai orang sesat, kesurupan, ketempelan jin, sehingga perlu dirukyah.

Kedua, setiap transgender punya pengalaman sendiri dan sangat personal dalam pergumulan identitasnya. Tidak sedikit dari mereka akhirnya mengubah gaya berpakaian, mengubah nama di kartu identitas, dan mengganti penampakan secara fisik, termasuk meminta orang-orang memanggil sapaan dari “Mas” ke “Mbak” misalnya. Sementara, mereka yang punya privilese, melakukan usaha-usaha medis, termasuk operasi kelamin dan terapi hormon, supaya seutuhnya menjadi gender dan jenis kelamin yang mereka inginkan.

Baca Juga: CERITRANS Mengangkat Suara Transpuan Indonesia

Ketiga, transgender bisa homoseksual, heteroseksual, atau orientasi seksual yang lain karena sebenarnya transgender berbeda dengan orientasi seksual. Menjadi transpuan atau transmen berhubungan erat dengan identitas gender. Sementara itu, orientasi seksual adalah ketertarikan seksual yang kita punya. 

Jika tiga miskonsepsi ini dibiarkan, maka jangan bermimpi komunitas transgender telah memperoleh ruang aman. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang membuat mereka kian terjepit.

Sebagai seorang ally atau pendukung yang baik, kamu mungkin bisa memulai belajar memahami situasi dan kondisi teman-teman transgender dengan menonton beberapa film tentang transgender di Asia. Selain itu, beberapa hal ini bisa kamu lakukan untuk mendukung teman-teman transgender. Yuk, simak selengkapnya. 

Jangan Bertanya Nama Lahir atau Nama di KTP 

Hal seperti ini sering banget terjadi hanya karena kita kepo dengan nama “asli” si individu transgender. Padahal ini sangat tidak sopan. Bagi sebagian besar mereka, nama lahir adalah sumber trauma dan identitas yang ingin mereka tinggalkan. 

Baca Juga: Negara juga Perlu Akui Ekspresi Transgender dalam Administrasi KTP

Oleh sebab itu, kita perlu menghormati nama yang mereka pilih dan gunakan saat ini. Ketika kamu mengetahui nama lahir mereka, jangan beritahu pada siapa pun tanpa seizinnya.

Menjadi Pendengar yang Baik

Mungkin beberapa di antara kamu pernah mendapat pengakuan dari seorang teman, mereka tengah kebingungan dan merasa terjebak di tubuh yang salah. Perlu kamu ingat, mengenal identitas gender tentunya butuh proses yang lama dan enggak mudah. Ketika temanmu bercerita soal ini, berarti ia sangat percaya padamu. 

Dengarkan dengan baik ceritanya dan pahami situasi yang dihadapi saat ini. Ketika ia masih bingung dengan identitas gendernya, bukan hak kamu untuk memberikan label atau mengarahkan label mana yang cocok untuknya. Berikan dia waktu untuk mengeksplorasi apa label yang ia rasa nyaman untuk dirinya. 

Setop Kulik Status Transisi Mereka, Baik Medis atau KTP

Eh, lu sudah di operasi belum sih bagian bawahnya?” 

Setop tanyakan apapun soal status transisi mereka. Pasalnya, masih banyak orang yang beranggapan, menjadi transgender berarti sudah otomatis mengubah fisik menjadi bentuk fisik yang mereka mau. Asumsi itu jelas salah kaprah. Selain itu, persoalan transisi merupakan urusan personal, sehingga menanyakan itu termasuk laku tak sopan. Kamu juga tidak boleh bertanya apa status pergantian identitas mereka. “Validitas” seorang transgender tidak ditentukan oleh status transisi yang mereka jalani maupun penampilan mereka. 

Jangan Berasumsi dan “Outing” Tentang Identitas Gender Mereka

“Dia masih kayak cowok ya masih ada jakunnya begitu, padahal sudah punya payudara.”  

“Kamu enggak keliatan kayak transmen ya, masih kayak cewek begitu.”

Kalimat ini terkadang kamu dengar ketika ada seorang individu transgender tidak sepenuhnya mengganti penampilan mereka. Sudah saatnya kita berhenti berasumsi tentang identitas gender mereka hanya dengan melihat penampilan semata. Ada banyak dari mereka yang tidak melakukan perubahan penampilan karena sejumlah alasan. 

Baca Juga: Bagaimana Komunitas Gay Indonesia Gunakan Media Sosial untuk Lawan Stigma

Ketika kamu mengenal seorang individu transgender dan mereka tidak melela secara publik, jangan menyebarkan identitas mereka (outing) ke publik. 

Bertanya Kepada Mereka Jika Kamu Bingung Ingin Memanggilnya 

“Aduh gue enggak enak deh mau manggil dia apa. Takut salah.” 

Ketika kamu bingung mau memanggil mereka dengan Mas, Mbak, atau sapaan lainnya, kamu hanya perlu bertanya pada mereka, apa panggilan yang nyaman bagi mereka.

Sebagai Pendukung, Kamu Juga Punya Limitasi

Jika kamu memang tidak paham, lebih baik kamu mengakui hal tersebut ketimbang membuat asumsi-asumsi yang malah bisa menyakiti teman transgendermu. Tanyakan di mana sumber yang bisa membantumu untuk lebih memahami isu atau istilah-istilah transgender.

Baca Juga: Asha bukan Oscar: Membongkar Miskonsepsi Soal Transgender

Hindari “Backhanded Compliment” 

Mungkin awalnya kamu enggak bermaksud untuk menyinggung temanmu yang transpuan atau transmen, tapi tahu kamu, beberapa pujian ini bisa membuat temanmu tersinggung. Misalnya:

“Wah, lo cantik banget ya enggak nyangka  aja lo sebenernya transpuan”

“Lo keliatan kayak cewek tulen deh, hebat banget”

“Wah cakep banget deh, gua tetap bakal pacarin dia walau dia transmen,”

“Lo kayaknya bakal lebih terlihat sebagai trans kalau pakai make up dan pakai wig yang lebih oke”