Women Lead Pendidikan Seks
June 28, 2022

Narasi Perempuan Sempurna yang Perlu Didobrak

Patriarki membentuk sifat-sifat wajib yang harus dimiliki seorang perempuan. Narasi-narasi itu menuntut kesempurnaan pada perempuan, lengkap dengan risiko besar jika tak mampu menggenapinya.

by Sasiana Gilar Apriantika
Issues
Share:

Jika kalian perempuan dan pernah mengikuti acara keluarga seperti arisan atau pengajian, mungkin saja pernah mendapat pertanyaan semacam, “kenapa belum menikah? Sudah bekerja, apalagi yang mau dicari”, atau “anaknya lucu banget ya, ayo nambah satu lagi yang cowok biar sepasang”, atau “kamu jangan terlalu sibuk, nanti suamimu diurusin perempuan lain lho”, atau “masa punya anak, tapi malah diasuh ART, nanti lebih deket sama ART daripada sama ibunya lho”..

Beberapa pertanyaan dan pernyataan tersebut sering sekali muncul, terutama ditujukkan kepada perempuan, baik ditanyakan oleh laki-laki maupun sesama perempuan. Seringnya mendengar pertanyaan tersebut, menjadi gambaran bagaimana kehidupan dan pencapaian perempuan: yang seolah-olah punya tanggung jawab sosial, dan memerlukan validasi dari masyarakat tentang yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

Kapan perempuan harus menikah, kapan perempuan harus hamil, bagaimana perempuan harus merawat keluarganya, bagaimana perempuan tidak boleh terlalu mengejar karier demi keutuhan keluarga.

Perempuan selalu dituntut untuk menjadi sempurna dalam berbagai peran. Peran-peran yang juga ditentukan oleh masyarakat dan dilanggengkan oleh media massa melalui narasi dan imaji bagaimana menjadi perempuan.

Baca juga: RUU Ketahanan Keluarga Hambat Kepemimpinan Perempuan

Trinitas Peran Perempuan dalam Perkawinan

Perempuan memiliki tugas dan peran yang paling besar dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Bagaimana tidak? Fenomena selingkuh yang sebagian besar dilakukan laki-laki, tidak pernah lepas dari narasi “istri yang tidak bisa memberikan kenyamanan lahir dan batin, sehingga suami mencari kenyamanan di tempat lain”.

Narasi seperti ini, menjadikan perempuan memiliki tiga peran sekaligus yang disebut sebagai “Trinitas Peran Perempuan”, yaitu sebagai perawan, ibu, dan pelacur.

Sebagai perawan, perempuan dianggap harus mampu menjaga harga diri dan kehormatan untuk suaminya. Sebagai ibu, perempuan harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kesejahteraan lahir dan batin keluarga termasuk suami dan anak. Memastikan anak dan suami tercukupi gizinya, menciptakan suasana rumah yang nyaman.

Sedangkan sebagai pelacur, perempuan dituntut untuk bisa memuaskan hasrat seksual suami, sebagai kunci keutuhan rumah tangga. Ketiga peran tersebut  harus dilakukan oleh perempuan tanpa boleh cacat dan gagal.

Konsep trinitas ini dapat pula dibaca dalam Aku Perempuan, Aku Tidak Sempurna, dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan.

Masyarakat, dan tentu saja laki-laki dalam kungkungan budaya patriarki, menginginkan istri harus memiliki ketiga peran tersebut dengan sempurna. Apabila ada salah satu peran tersebut yang tidak dimiliki atau tidak sempurna oleh perempuan, laki-laki merasa berhak mencari peran tersebut pada orang lain melalui mekanisme perselingkuhan atau poligami.

Istri terus dituntut untuk menjadi sempurna dan bertanggungjawab terhadap tindakan orang lain. Pada akhirnya, perselingkungan yang dilakukan laki-laki sering dianggap wajar oleh masyarakat, apabila istri tidak bisa menjalankan ketiga peran tersebut dengan baik.

Keutuhan keluarga yang harusnya menjadi tanggung jawab bersama, justru hanya menuntut kesempurnaan perempuan dalam semua peran yang harus dijalaninya. Di mana peran laki-laki? Sering kali, sejauh mereka bisa memberikan nafkah ekonomi (finansial), maka mereka akan tetap menjadi kepala keluarga yang perlu dihormati. Seperti yang tercantum dalam UU Perkawinan, “suami adalah kepala keluarga”.

Baca juga: "Kapan Nikah?": Pertanyaan yang Juga Membebani Laki-laki

Narasi Kesempurnaan Perempuan dalam Masyarakat

Budaya patriarki yang berkembang dalam masyarakat, memiliki tuntutan yang kontradiktif bagi perempuan. Di satu sisi perempuan diposisikan menjadi masyarakat kelas kedua dengan berbagai diskriminasi yang diperoleh, di sisi lain perempuan dituntut untuk selalu menjadi sempurna demi memuaskan keinginan publik.

Agar dianggap perempuan sempurna, seseorang harus memiliki berebagai indikator yang ditetapkan oleh masyarakat. Secara fisik, perempuan dituntut untuk merawat diri dengan melakukan berbagai perawatan, agar tampilannya sesuai dengan apa yang ditampilkan di media.

Kulit putih, wajah tirus, hidung mancung, bulu mata lentik, badan kurus, dan tuntutan lain yang menggambarkan bagaimana seseorang akan disebut sebagai “cantik”. Menurut Naomi Wolf (2004), dalam Mitos Kecantikan, perempuan mengalami tuntutan untuk menjadi cantik agar dia tidak memiliki waktu untuk dapat mengembangkan kemampuan dan kompetensi, seperti halnya laki-laki.

Perempuan dituntut untuk bisa memenuhi hasrat visual masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan dengan tampilan yang disebut sebagai “cantik” tersebut. Lagi-lagi, tuntutan menjadi sempurna tidak hanya dalam konteks peran, namun juga penampilan. Masyarakat tidak mau mengakui bahwa tidak pernah ada indikator cantik yang mutlak. Setiap perempuan cantik, dengan caranya masing-masing.

Belum selesai dengan urusan penampilan fisik, perempuan sudah dituntut kesempurnaan lain melalui idiom “wife/girlfriend materials”. Masyarakat semacam memiliki wewenang untuk mendefinisikan hal-hal apa saja yang harus dimiliki perempuan, agar bisa disebut sebagai “istri atau pacar idaman”.

Baca juga: ‘Relationship Goals’ dan Ambisi Semu Jadi Pasangan Sempurna

Perempuan dituntut memiliki feminine items (sifat feminine) untuk dapat disebut sebagai perempuan sempurna dan idaman. Memiliki sifat penuh kasih sayang, ceria, lembut, simpatik, pengertian, hangat, tidak menggunakan bahasa yang kasar, dan peka terhadap kebutuhan orang lain (Kristin Donnelly dan jean M. Twenge, 2017). Bagi perempuan yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut, maka akan dianggap tidak sesuai dengan perempuan menurut narasi dominan, dan kurang sempurna sebagai perempuan.

Pada akhirnya, menjadi perempuan selalu dituntut memuaskan narasi-narasi publik, termasuk narasi untuk menjadi sempurna versi budaya patriarki.

Perempuan tidak pernah punya tempat untuk dapat mendefinisikan dirinya sendiri sesuai apa yang mereka inginkan. Menjadi perempuan dituntut untuk sempurna dalam segala peran, dan bertanggungjawab atas ketidakberhasilan peran orang lain.

Mengubah kebiasaan, narasi yang terlembaga, hingga pola pikir yang ada dalam budaya patriarki tentu saja tidak mudah. Namun, perlu dimulai dan terus dilakukan dengan perubahan kecil-kecil yang menuju pada perubahan besar untuk menciptakan sebuah kesetaraan. Dimulai dari hal kecil, dengan tidak menuntut dan menggunakan indikator yang sama untuk orang lain. Karena tidak perlu menjadi sempurna, wahai perempuan. Karena menjadi perempuan, adalah menghidupi mimpi dan pengalaman masing-masing.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Sasiana Gilar Apriantika, Pengajar di Prodi Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Yogyakarta