Women Lead Pendidikan Seks
August 16, 2017

'Nyanyian Sunyi Kembang Genjer' Upaya Generasi Muda Pertanyakan Sejarah

Sebuah film mengajak generasi muda untuk tidak abai menggali sejarah, sekelam apa pun itu.

by Elma Adisya, Reporter
Issues // Politics and Society
PKI 11 Thumbnail, Magdalene
Share:

Bertanyalah pada kakek dan nenek tentang masa lalu, tentang bagaimana sejarah yang sebenarnya terjadi, dan bandingkan cerita mereka dengan cerita dalam buku sejarah sekolah kalian.
         
Sutradara Faiza Mardzoeki melakukannya, dan hasilnya adalah Nyanyian Sunyi Kembang Genjer, salah satu wujud pencarian generasi muda terhadap sejarah yang  dihilangkan bahkan diputarbalikkan untuk kepentingan  elit-elit tertentu mengenai peristiwa 65.
 
Pertunjukan teater yang dikemas dalam bentuk film itu mengisahkan Minghayati (Heliana Sinaga), atau Ming, yang tinggal bersama neneknya Suhartini, yang dipanggil Eyang Nini (Pipien Putry). Eyang Nini merupakan anggota Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI), organisasi perempuan pada 1960an yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia ditangkap dan dihukum secara sewenang-wenang oleh aparat ketika peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi. 
 
Tidak hanya Eyang Nini saja yang ditangkap, tapi juga empat temannya, yaitu Eyang Sumilah (Ruth Marini), Eyang Sulahana (Niniek L. Karim), Eyang Makmin (Irawati), dan Eyang Tarwih (Ani Surestu).
 
Bagi generasi muda, bertanya tentang peristiwa 65, menyebut kata PKI atau pun GERWANI, mungkin masih menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, dan beberapa ada yang dimarahi karena mengungkit peristiwa itu. Hal ini yang menyebabkan  generasi muda abai mengenai cerita yang sebenarnya. Namun Ming mulai mencari tahu tentang masa lalu  Eyangnya dan masa lalu  anggota keluarganya melalui cerita para Eyang ini.
 




Hari itu, atas permintaan Eyang Nini, keempat temannya datang ke rumah untuk menceritakan sejarah yang hilang tentang cerita mereka saat menjadi anggota GERWANI pada Ming. Dan dalam cerita-cerita mereka, kebenaran pun sedikit demi sedikit terungkap dan potongan puzzle yang hilang tentang peristiwa 1965 yang menimpa anggota-anggota GERWANI mulai tersusun.
 
GERWANI ternyata bukanlah organisasi  perempuan yang kejam seperti yang digambarkan oleh film Pengkhianatan G30S/PKI. Lembaga itu adalah salah satu organisasi perempuan  yang fokus pada penghilangan buta huruf dan beberapa kegiatan lainnya yang berfokus pada pendidikan. Namun fakta diputarbalikkan dan GERWANI dibumihanguskan.
 
Dalam diskusi “Remembering There Were Women” yang diadakan Feminist Fest, Minggu (13/7) di Goethe Haus, Faiza mengatakan bahwa penghancuran gerakan wanita Indonesia menjadi  kemunduran yang besar bagi cara perempuan dan anak-anak muda berpikir dan berpolitik.
 
“Perisitiwa penghancuran jelas berdampak sangat besar bagi  situasi perempuan hingga kini. Tapi walaupun saat itu gerakan perempuan sempat dihancurkan dan tenggelam, perjuangan tidak terputus sampai di situ. Mulai ada upaya-upaya, inisiatif-inisiatif kecil untuk meneruskan perjuangan itu. Sekecil apa pun yang penting ada terus,” ujarnya.

Dari kiri ke kanan: Febriana Firdaus, Pipien Putry, Prodita Sabarini dan Faiza Mardzoeki. (Foto: Elam Adisya)
Sebelum pembuatan Nyanyian, Faiza melakukan riset terhadap 30 penyintas perempuan 65 yang sudah berumur lebih dari 70 tahun. Cerita-cerita mereka pun dijahit menjadi satu kesatuan, mengenai  apa yang terjadi dalam beberapa keluarga penyintas 65 ketika menceritakan kisah yang sangat kelam pada generasi selanjutnya.
 
“Sebenarnya pementasan ini aslinya berdurasi empat jam, tapi setelah setahun bongkar pasang kisah, akhirnya menjadi 2 jam,” tutur Faiza. 
 
Aktris pemeran Eyang Nini yaitu Pipien Putry, mengatakan dalam diskusi bahwa hal paling sulit adalah ketika harus menceritakan kisah yang  sangat berat sekali sambil tetap tersenyum. Ia menceritakan ketika itu para pemain secara langsung  mendengar cerita-cerita para penyintas perempuan.
 
“Kita sudah menangis, tapi eyang-eyang ini tetap senyum sambil cerita ketika mereka disiksa dengan menyeramkan,” ujarnya.
 
Dari peran Eyang Nini, Pipien mendapat sebuah pesan yang juga merupakan salah satu kalimat favoritnya dalam dialog film tersebut: “Tersenyumlah sayangku, senyumlah kepada kehidupan. Sejarah itu kan tidak selalu manis, tapi bagaimana kita bersikap secara jujur sehingga kita bisa menjadi kuat dan semakin jernih melihat sejarah itu.“
 
Diskusi yang dimoderatori oleh jurnalis Prodita Sabarini itu juga membahas tentang bagaimana generasi muda kembali mempelajari sejarah yang tidak diceritakan oleh buku-buku sekolah mereka. Wartawan dan aktivis Febriana Firdaus yang juga menjadi pembicara menyarankan agar generasi muda mempelajari sejarah 65, “mulai menggali sendiri, membaca, dan jangan membatasi diri atau malu untuk bertanya pada generasi kedua,“ katanya. Bersama Prodita dan beberapa orang lainnya, Febriana membentuk laman Ingat65, yang menjadi salah satu wadah bagi generasi muda untuk menuliskan pengalaman dari sejarah gelap keluarganya pada 1965.
 
“Seharusnya orang lebih takut jika ikut meneruskan budaya kebohongan untuk berbicara kebohongan tentang sejarah. Seharusnya kita tidak takut untuk berbicara kebenaran,” ujar Febri.
 
Faiza menambahkan bahwa kita semua adalah para Ming, “dan kita tidak sendirian.”
 
Seperti yang Eyang Nini katakan dalam salah satu dialog, “Sejarah sekelam apa pun kalau kita bersedia mengenali dan mempelajarinya dengan kejujuran, mungkin bisa membantu memahami hidup kita.“
 
Baca juga tulisan Elam soal KDRT dalam pernikahan muda.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.