Women Lead Pendidikan Seks
August 18, 2017

Oleh-olehnya Jangan Lupa!

Titip-menitip kadang tidak terhindarkan, tetapi sedikit tenggang rasa dan pengertian tentu diperlukan dalam hal ini.

by Natasha Wahyudihardjo
Issues // Politics and Society
Share:
Telinga saya tergelitik setiap mendengar pernyataan soal oleh-oleh, baik ketika dilontarkan terhadap rekan kerja, sahabat SMA, atau bahkan sekedar teman asal kenal.

Jalan-jalan memang salah satu kegiatan rekreasional yang dapat menyegarkan hati dan pikiran. Menjalani rutinitas yang sama setidaknya lima hari seminggu selama delapan jam setiap harinya tentu dapat mendatangkan kejenuhan yang idealnya diobati dengan memanjakan diri.

“Kurang piknik, nih!” begitu celotehan teman sekantor saya saat ia lupa mengerjakan sesuatu atau jika ia seketika LoLa (loading lama) dan tidak nyambung ketika diajak berbicara. Liburan ibarat harta paling berharga bagi karyawan. Jatah cuti 12 hari pun kerap kali tidak cukup, sampai harus diikuti dengan cuti tanpa gaji yang menyebabkan ‘disunatnya’ gaji kita. Belum lagi izin cuti yang terkadang susah didapat.

Trend liburan ke Jepang misalnya, sungguh sangat meledak beberapa tahun belakangan ini. Negeri sakura memang penuh pesona, belum lagi kesaksian teman-teman yang berkata bahwa penduduk Jepang sangat sopan dan ramah. Sungguh nilai tambah, bukan?
Namun setiap personel kantor yang hendak liburan, tidak jarang kita mendengar embel-embel, “oleh-oleh, dong”. Biasanya diawali dengan bercanda, lalu tiba-tiba diikuti dengan daftar barang apa saja yang harus dibeli. Dari KitKat, tas tangan Chanel demi mendapatkan tax refund sampai hal yang tidak-tidak.

Saya pernah dititipi dendeng terkenal Singapura sebanyak 2 kilogram. Masih hijau dan naif saat itu, saya pun manut saja ketika disuruh membeli. Alhasil, saya pun berjalan seharian di negara tetangga itu dengan membawa-bawa dendeng. Satu kilogram di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri.




Seiring usia yang bertambah, saya pun jadi lebih selektif soal titip-titipan ini. Pernah suatu kali saya sampai harus mengeluarkan pernyataan “Sorry, saya wisata budaya, bukan wisata belanja”  kepada seorang teman yang sangat bersikeras agar saya membelikan titipan lipstiknya.

Oleh-oleh seperti merupakan ‘syarat’ orang yang berwisata atau pelesir ke negara orang. “Tanda mata itu perlu”, kata seorang kerabat. Semakin saya berumur, semakin praktis pikiran saya mengenai hal ini. Prinsip saya sederhana:
  1. Jangan titip apa-apa jika orang yang akan pergi tidak menawarkan atau buka suara.
  2. Kalau pun kepepet harus titip, perhatikan seberapa akrab Anda dengan orang yang akan berwisata dan sertakan uangnya di muka.
Bahwasanya orang berwisata untuk memanjakan diri, menyembuhkan diri dari patah hati atau bahkan untuk tujuan yang sangat simpel: berusaha tetap waras di tengah hiruk-pikuk kota maupun tekanan hidup. Kasihan jika waktu liburan mereka habis hanya untuk mengingat, mencari dan membelikan barang titipan.

Sebelum menitip sesuatu, ada baiknya kita berpikir bahwa bisa jadi yang ingin dibelikan sesuatu bukan hanya kita seorang. Papanya, Mamanya, adiknya, kakaknya, om dan tantenya, teman baiknya, maupun pihak lain yang tidak terlintas dalam pikiran kita.

Bayangkan jika teman kita tersebut harus mengingat dan melakukan perhentian di setiap tujuan guna membelikan titipan. Syukur-syukur barang tersebut gampang ditemukan dan memang satu rute dengan tempat yang akan dikunjungi. Jika tidak? Bukankah merupakan PR ekstra untuk sang teman?

Perihal titip-menitip memang kadang tidak terhindarkan, tetapi sedikit tenggang rasa dan pengertian tentu diperlukan dalam hal ini.
 
Natasha Wahyudihardjo adalah penggemar bahasa berusia 24 tahun yang senang anagram, Scrabble dan anggur. Di waktu luangnya, ia menulis jawaban untuk sejumlah topik di Quora https://www.quora.com/profile/Natasha-Wahyudihardjo.