Women Lead Pendidikan Seks
February 24, 2020

Panutan, Kesempatan di Tempat Kerja Dorong Lebih Banyak Perempuan dalam STEM

Adanya panutan dan kesempatan yang sama di tempat kerja bisa mendorong lebih banyak perempuan untuk masuk ke dalam bidang STEM.

by Siti Parhani, Social Media Coordinator
Issues
Perempuan_Sains_Science_Technology_STEM_SarahArifin
Share:

Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa peran perempuan dalam bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) lebih banyak pada pekerjaan dengan tingkat keterampilan rendah, misalnya menjadi buruh pabrik yang berkutat dalam bagian pengemasan atau produksi.

“Perempuan berperan di dalam teknologi, tapi hanya sebatas di keahlian rendah, padahal kesempatan dan kapasitas sama. Hal ini karena bidang teknik masih dianggap sebagai ranah laki-laki,” ujar Santy Otto, koordinator pemberdayaan perempuan bidang STEM di ILO, dalam diskusi Women in STEM, Jakarta (7/2).

Santy mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadikan pekerjaan-pekerjaan di bidang STEM di tingkat global menyumbang 75 persen pekerjaan dengan pertumbuhan paling cepat. Dalam 10-20 tahun mendatang, diperkirakan akan ada otomatisasi dan robotik, dan sekitar 56 persen pekerja di kelompok negara ASEAN termasuk Indonesia, berisiko tinggi tergantikan oleh teknologi. Hal ini membuat posisi-posisi keterampilan tingkat rendah, yang kebanyakan diisi oleh perempuan, 20 persen lebih berisiko kehilangan pekerjaan.

Berangkat dari kekhawatiran akan luputnya peran perempuan di masa mendatang, ILO membuat program Perempuan dalam STEM, yang bertujuan untuk meningkatkan akuisi dan adopsi keterampilan teknis dan nonteknis oleh perempuan dalam sektor-sektor STEM pilihan. Program tersebut diharapkan bisa menciptakan peluang kerja yang lebih besar bagi perempuan melalui peningkatan jumlah penerimaan, retensi, dan pengembangan kapasitas perempuan.

“Kita bersama Kementerian Ketenagakerjaan mencoba untuk mengadvokasi bahwa kesempatan ini setara loh, antara laki-laki dan perempuan. Kita harus melihat partisipasi perempuan yang seimbang,” ujar Santy.

Program tersebut berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan pelatihan teknis serta vokasi publik seperti Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, sebuah Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) bentukan Kementerian Ketenagakerjaan, yang bertujuan meningkatkan akses perempuan terhadap peluang kerja dalam bidang teknologi informasi.

Program ini menyasar sekolah-sekolah kejuruan yang seringkali menjadi pilihan para orang tua yang menginginkan anak-anaknya untuk cepat kerja setelah lulus.

“Karena memang kita menyasar politeknik jurusannya STEM. Kita lebih menyasar golongan menengah ke bawah, itulah target kita,” kata Santy.

Meski demikian, Santy mengatakan bahwa saat melamar pekerjaan, perempuan masih mengalami hambatan akibat bias gender dalam banyak perusahaan yang menganggap laki-laki lebih pantas menerima posisi tersebut.

“Kita melihat bahwa angka partisipan pada saat pelatihan terpenuhi, tapi pada saat transisi ke dunia kerja, angkanya anjlok. Peran ILO adalah bagaimana kita bisa membuat strategi yang lebih baik,” ujarnya.

Baca juga: ‘Femme in STEM’ Ingin Patahkan Diskriminasi, Stereotip Gender dalam STEM

STEM masih dianggap pekerjaan laki-laki

Salah satu penyebab rendahnya partisipasi perempuan dalam keahlian tinggi di bidang STEM adalah stigma yang menganggap bahwa pekerjaan itu terlalu maskulin. Di lingkungan pendidikan tingkat universitas, perempuan secara umum lebih banyak mengambil jurusan Biologi dan Farmasi, namun hanya sedikit yang mengambil jurusan Fisika, Teknik, maupun Teknologi Informasi.

“Sejak kita kecil sudah ditanamkan secara tidak sadar bawa bidang teknik itu pekerjaan laki-laki. Anak-anak yang tadinya tidak tahu batasan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan, lama kelamaan saat memasuki jenjang pendidikan SD atau SMP menghadapi stigma, pembatasan tersebut mulai muncul, dan semakin besar saat memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi,” ujar Santy.

Saat memilih jurusan biasanya perempuan akan diarahkan menjadi guru, dokter, atau perawat, ujarnya. Para orang tua maupun pengajar di lingkungan pendidikan hanya memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan tertentu pada perempuan, yang dianggap “sesuai standar”.

“Jadi sangat penting sekali dimulai dari pendidikan anak, remaja, lalu mungkin masuk ke jenjang universitas, untuk menghapus stigma bahwa STEM ini sulit dan tidak cocok bagi perempuan,” ujarnya.

Keterbatasan atau stigma yang sudah dilekatkan sejak masih kecil selaras dengan apa yang dihadapi Hastu Wijayasari, programmer asal Yogyakarta. Sebagai perempuan tunarungu yang bergelut dalam bidang STEM, tantangannya dua kali lipat dan ia sering kali disepelekan orang lain.

“Stigma yang mengharuskan perempuan menikah dan menjadi istri, seolah menjadikan STEM itu pekerjaan laki-laki. Hal ini membuat perempuan terdiskriminasi, mereka terkadang tidak mendapatan support dari orang tuanya. Selain itu kurangnya informasi yang merata mengenai banyaknya bidang yang bisa perempuan pilih,” ujarnya dalam bahasa isyarat, pada diskusi yang sama.

Hastu menggambarkan perjuangannya belajar coding saat masih SMA, dengan mencuri waktu sehabis jam pelajaran, dan juga meminjam komputer milik pamannya. Ia kemudian kuliah di Teknik Komputer, Universitas Islam Negeri Yogyakarta, dan mendirikan Wonder Coding, komunitas yang memfasilitasi orang-orang difabel untuk belajar pemrograman.

Hastu amat menyayangkan stereotip terhadap perempuan yang selalu dikonotasikan dengan pekerjaan domestik menjadi istri, “padahal sesungguhnya mereka bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sulit seperti di bidang STEM.”

Silvia Halim, Direktur Konstruksi untuk PT MRT Jakarta mengatakan, budaya yang menempatkan perempuan hanya dalam boks tertentu itu seharusnya disudahi, dan masyarakat sudah semestinya melihat dunia dalam perspektif yang lebih luas.

“Pesan itu penting disampaikan. Untuk mencapai peran yang seimbang dalam STEM harus ada kerja sama antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.

Minimnya partisipasi perempuan karena terbelenggu stigma bukan hanya terjadi di Indonesia. Fiona Malone, ilmuwan teknik biomedis dari Galway-Mayo Institute of Technology di Irlandia mengatakan, permasalahan serupa terjadi di negaranya dengan banyaknya perempuan yang lebih memilih bidang-bidang sosial ketimbang berani mengambil bidang-bidang sains.

“Hampir 52 persen perempuan di Irlandia mengambil jurusan Biologi, tapi hanya 36 persen dari mereka mengambil jurusan Matematika dan Statistik, dan 13 persen mengambil jurusan Teknik. Dari persentase itu, kita bisa melihat betapa minimnya perempuan yang mengambil STEM,” ucapnya.

Baca juga: Herstory: 6 Perempuan Pionir dalam Teknologi Komputer dan Internet

Panutan perempuan di bidang STEM

Fiona Malone mempunyai jargon khusus untuk mendorong agar perempuan mau lebih berpartisipasi dalam STEM: “If you can’t see it, you can’t be”. Menurutnya, perlu ada komunikasi yang lebih kreatif untuk menyampaikan kesempatan yang bisa didapat perempuan. Di tengah kesibukannya sebagai profesor dan peneliti, Malone berusaha membuat berbagai sarana komunikasi yang lebih populer dan banyak dikonsumsi anak muda, seperti podcast, radio, atau lewat humor.

“Kebanyakan para peneliti di bidang STEM hanya berfokus pada apa yang ditelitinya, tidak kepikiran bagaimana mengomunikasikannya, sehingga informasi tentang STEM tidak inklusif. Padahal seperti yang saya bilang tadi, ‘if you can’t see it, you can’t be’. Perempuan butuh lebih banyak panutan dan penyampaian informasi dengan pendekatan budaya pop,” ujarnya.

Anantya Von Bronckhorst, salah satu CEO dari agensi digital Think.Web, mengatakan saat melakukan penelitian tentang perempuan “percaya diri” di beberapa kota seperti Malang, Bogor, Semarang, Pontianak, dan Padang. Kota dengan perempuan yang paling percaya diri justru jatuh pada Padang, Sumatra Barat, akibat sistem matrilineal dalam masyarakatnya.

“Lebih banyak lagi role model perempuan di STEM, itu makin bagus. Mengomunikasikan keseimbangan perempuan dalam STEM juga harus dimulai dengan pengaplikasian di tempat kerja,” ujarnya.

Clorinda Kurnia Wibowo, analis riset dari World Resources Institute (WRI) mengatakan, tempat kerja harus mengatur agar tidak ada pembedaan gender, dan bahwa perspektif perempuan di tempat kerja itu tidak kalah pentingnya.

“Saya beruntung bekerja di kantor yang memikirkan gender balance tapi perusahaan lain belum tentu. Harus ada ruang aman untuk perempuan berkembang,” ujarnya.

Silvia Halim menambahkan, memiliki atasan yang mendukung di tempat kerja memungkinkannya menjadi pemimpin pengerjaan proyek MRT Jakarta. Alur regulasi, khususnya di perusahaan teknologi, memang sudah seharusnya memikirkan tentang penyeimbangan gender. Persaingan ketat tak jarang melemahkan kepercayaan diri perempuan untuk memimpin, padahal untuk mengkomunikasikan keberimbangan peran perempuan harus ada panutannya, ujar Silvia.

“Karena biasanya perempuan yang memimpin akan lebih mendorong perempuan lain untuk bergabung di tim yang mereka garap. Perempuan sebagai pemimpin di perusahaan bisa lebih peka akan isu-isu diskriminatif.”

Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.