Women Lead Pendidikan Seks
September 12, 2017

Rayakan Keragaman dalam Beragama

Setelah sekian lama terpapar pada sekian banyak varian dalam ajaran Islam, saya menjadi maklum terhadap perbedaan-perbedaan. Tapi tidak dengan orang-orang di sekitar saya.

by Yoga Palwaguna
Issues // Politics and Society
Share:

Akhir-akhir ini rasanya semakin banyak orang yang tergila-gila pada keseragaman. Mengagungkan diri sendiri dan teman-temannya yang berpakaian sama lalu menistakan orang-orang lain yang pakaiannya berbeda. Terutama menyangkut agama.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat terlibat percakapan panjang nan melelahkan dengan beberapa orang di Facebook tentang hal ini yang tetap saja tidak membawa kami ke mana-mana. Jika yang berkomentar adalah orang yang tidak saya kenal, mungkin saya bisa dengan mudah mengabaikannya. Masalahnya, mereka adalah teman-teman lama yang dulu pernah begitu dekat dengan saya. Salah satunya bahkan masih saudara.

Dari yang bisa saya simpulkan, intinya, mereka mempermasalahkan cara saya beragama. Ada di antara mereka yang khawatir saya terjerumus ke dalam pemikiran-pemikiran liberal yang menurut dia pasti salah. Ada yang memperingatkan saya untuk tidak membaca sebuah buku tertentu karena menurut informasi yang dia percayai, penulis bukunya adalah seorang pengikut sekte Islam Syiah, dan bagi dia Syiah adalah aliran sesat yang amat berbahaya. Meskipun ketika saya tanya, dia tak bisa menunjukkan bukti apa-apa tentang ke-Syiah-an si penulis buku (tapi tentu dia tetap keukeuh dengan pendiriannya).

Ada juga yang percaya bahwa saya sudah menyerah pada agama dan mengganti kitab suci saya dengan novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karangan Dewi Lestari. Saya akui bahwa saya pernah berkicau di Twitter yang isinya kurang lebih begini: “Kalau misalnya Dewi Lestari bikin sekte, saya bakal daftar jadi pengikut.” Tapi tolong, deh, bahkan bagi orang seperti saya sekali pun, perkara memilih agama dan keyakinan bukan masalah sesepele itu.

Sebagai seseorang yang menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat, saya bukan hanya terbiasa berganti-ganti rumah, lingkungan, sekolah dan teman main, saya juga terbiasa untuk berganti-ganti guru mengaji. Tak jarang, antara satu guru ngaji dengan yang lain terdapat perbedaan-perbedaan ajaran. Yang satu pakai doa qunut ketika salat Subuh, yang lainnya tidak. Yang satu mengajarkan saya untuk pakai ucapan ushalli sebagai syarat sah memulai salat, yang lainnya bilang cukup niat di hati. Yang satu mengajak saya untuk hadir ke acara tahlilan (doa bersama) ketika ada warga yang meninggal, yang lain bilang ritual itu tidak perlu. Setelah sekian lama terpapar pada sekian banyak varian dalam ajaran Islam, saya menjadi maklum terhadap perbedaan-perbedaan.

Tapi rupanya tidak semua orang bisa sesantai itu terhadap perbedaan. Buktinya, semakin beranjak besar, semakin sering saya ditanya perihal mazhab dan aliran (waktu itu saya masih menganggap bahwa Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah nama aliran, bukan organisasi keagamaan). Saya tak pernah bisa menjawab.

Selama ini saya beragama sesuai ajaran guru-guru ngaji saya, tanpa pernah bertanya apakah beliau Muhammadiyah atau NU. Saya mengerjakan salat sesuai imam, qunut atau tanpa qunut, tanpa pernah menelisik apakah beliau Persis atau Muhammadiyah. Pun begitu menyangkut mazhab.

Tapi bagi beberapa orang, ternyata mazhab dan organisasi ini adalah urusan super penting. Saya bahkan pernah menyaksikan sendiri betapa guru SMA saya mengolok-olok ajaran atau kebiasaan beribadah salah satu organisasi yang tentunya berbeda dengan organisasi yang beliau ikuti. Dan hal itu membuat saya kehilangan simpati pada siapa saja yang merasa alirannya paling benar atau lebih baik ketimbang yang lain.

Sejak saat itu, saya menjadi semakin senang merayakan perbedaan-perbedaan dalam Islam. Ketika mendengarkan ceramah, saya paling bahagia jika sang penceramah memaparkan berbagai pandangan berbeda dari para ulama tentang suatu persoalan alih-alih mendikte pendengar untuk mengikuti satu pendapat tertentu. Saya memang tidak punya banyak ilmu agama, tapi dengan cara seperti itu, saya merasa dihargai. Saya merasa diberi kesempatan untuk memilih pendapat ulama mana yang akan saya ikuti. Saya juga merasakan hal yang sama terhadap buku-buku.

Saya bahagia sekali ketika membaca buku Jilbab karya M. Quraish Shihab karena di dalamnya beliau memaparkan pandangan-pandangan berbeda para ulama mengenai kewajiban mengenakan jilbab. Dari pendapat yang paling konservatif, hingga yang paling kontemporer. Setelah membaca buku tersebut saya menjadi lebih menghargai para muslimah yang memutuskan untuk tidak mengenakan kerudung.

Membaca Islam Tuhan Islam Manusia karya Haidar Baghir membuat saya merasa takjub mengetahui bahwa agama bisa dimaknai dengan cara seromantis itu. Lebih dari sekadar ritual yang bisa bikin sebagian orang merasa paling benar, inti agama ternyata adalah cinta. Iya, Cinta! Buku tersebut memberikan saya banyak pandangan alternatif tentang spiritualitas dalam Islam yang menjawab banyak sekali pertanyaan dalam benak saya tentang agama ini, yang selama ini tak pernah terpuaskan oleh pandangan-pandangan arus utama.

Jadi, meski saya mungkin akan terus mendapatkan cibiran dari teman-teman saya yang begitu yakin bahwa jalan lain selain yang mereka lalui adalah salah, saya akan terus mencari alternatif-alternatif dalam beragama, mempelajarinya, dan merayakannya sebagai bagian dari kekayaan agama itu sendiri. Saya masih percaya, Islam tidak sesempit daun kelor dan Allah tidak semenyebalkan guru SD yang bilang pada muridnya bahwa gunung harus selalu berwarna hijau. Selain itu, dari dulu saya memang tak pernah suka pada seragam (dan/atau keseragaman). Yuk, rayakan keberagaman dalam keberagamaan.

Yoga Palwaguna adalah lelaki yang banyak menemukan pelajaran hidup dari drama dan variety show Korea. Murid kelas nol besar di TK virtual bernama Komunitas Supernova. Juga aktif di komunitas literasi Kawah Sastra Ciwidey.