Women Lead Pendidikan Seks
January 08, 2021

4 Rekomendasi Film Lesbian di Akhir Pekan

Selain Portrait of a Lady on Fire, ada lima film lesbian yang bisa ditonton bersama pasangan di akhir pekan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Lifestyle
But I’m A Cheerleader
Share:

Portrait of a Lady on Fire (2019) karya sutradara asal Perancis Céline Sciamma bagaikan nafas segar untuk film tentang pasangan lesbian. Maka tidak heran jika film itu meraih 98 persen dalam situs Rotten Tomatoes dan dipuja publik karena memberikan representasi pasangan lesbian yang baik dalam sinema.

Jika melihat representasi pasangan lesbian dalam film, adegan seks tampak menjadi sebuah keharusan. Terlebih lagi ada catatan hitam pada adegan seks dalam film Blue is The Warmest Color (2013) yang mengeksploitasi aktornya dengan sorotan kamera sarat male gaze. Esai berjudul The Male Gaze and Representation of LGBT+ Women in Film oleh Abbie Gellatly menyatakan seksualitas perempuan menjual, begitu pula dengan hubungan lesbian. Akibatnya, dalam film, aspek seks lebih ditonjolkan daripada hubungan pasangan.

Baca Juga: Pelangi di Benua Biru: Strategi Kesetaraan bagi LGBTIQ di Eropa

Portrait of Lady on Fire juga memiliki adegan seksual yang ditampilkan secara eksplisit. Namun, hubungan emosional dan kedekatan antara Héloïse dan Marianne juga ditonjolkan dari keduanya yang selalu bertukar pandangan. Film itu menyatakan bahwa intimasi dalam film lesbian tidak melulu datang dari tubuh, tapi bisa juga dari tatapan yang mendamba.

Selain kisah tentang Héloïse dan Marianne, ada empat rekomendasi film lesbian yang bisa ditonton bersama pasangan saat bersantai di akhir pekan:

1. Film Tentang Lesbian Era 90-an: But I’m A Cheerleader (1999)

Film karya Jamie Babbit ini adalah komedi satir yang mengejek heteronormativitas dan stereotip gender yang kaku. But I’m A Cheerleader juga disebut sebagai salah satu film yang menyorot isu kamp konversi untuk komunitas LGBT di era 90-an.

Megan adalah seorang cheerleader populer dengan pacar lelaki yang beken. Megan tidak tahu dirinya seorang lesbian dan atas keputusan orang tua, sahabat, bahkan pacarnya, ia dikirim ke kamp konversi True Direction. Di sana ia bertemu dengan Graham yang jauh berbeda dengan Megan.

Mereka tentu saja tidak langsung akrab, tapi Megan tetap merasa tertarik dengan Graham. Namun, saat mereka siap menentukan status hubungan mereka, keduanya dihadapi dengan pilihan: apakah mereka menerima jati diri atau mengikuti keinginan True Direction dan melupakan diri yang sebenarnya?

Baca Juga: ‘Fetish’ terhadap Hubungan Gay: Ketika ‘Ship’ dan ‘Fanfiction’ Jadi Toksik

2. Film Lesbian Genre Satir: San Junipero (2016)

“San Junipero” bukan film, tetapi salah satu episode dari serial Black Mirror yang terkenal dengan genre komedi gelap, satir, distopia, dan fiksi ilmiah. Meskipun begitu, alur cerita yang unik, kedalaman hubungan antar tokoh utama, dan isu yang mereka hadapi pantas membuat episode masuk ke dalam daftar.

San Junipero adalah semacam kota simulasi digital untuk lansia dan para arwah untuk menghabiskan perpanjangan “masa hidup” mereka. Saat berada dalam simulasi, semua orang yang sudah menginjak usia tua hadir dengan wujud saat berada di usia 20-an.

Dengan latar belakang tahun 1987 yang gemerlap dengan warna neon, Yorkie yang introvert dan agak kikuk bertemu dengan Kelly yang ekstrovert dan ceria di San Junipero. Keduanya tentu saja mengalami ketertarikan. Namun, Kelly menyimpan banyak alasan yang menahannya menghabiskan “selamanya” bersama Yorkie di sana.

3. Film Lesbian Soal Narasi Perempuan: The Feels (2017)

Orgasme adalah tema yang disampaikan melalui narasi pengalaman tujuh pemeran utama dalam film ini. Semua berawal ketika Andi dan Lu akan menghabiskan akhir pekan untuk pesta bachelorette bersama sahabat mereka. Saat berpesta, Lu kelepasan bicara bahwa dia tidak pernah orgasme. Fakta itu membuat Andi terkejut dan sedikit tersinggung karena ia menganggap dirinya sudah sangat berpengalaman. Isu itu juga yang membuat Andi dan Lu mempertanyakan hubungan mereka.

Baca Juga: Surat Cinta untuk Prajurit LGBT

Dari paparan cerita tentang orgasme itu ditemukan banyak sekali pengalaman yang berbeda, terutama untuk perempuan. Misalnya, ada yang belum pernah orgasme karena orang tua mengajarkan itu dosa. Atau cerita tentang mengapa orang tua memilih untuk menyensor kata vagina dan menggantinya dengan “missy”. Sementara itu tidak ada penyensoran untuk alat reproduksi laki-laki.

4. Film Lesbian Romantis: Heart Beats Loud (2018)

Melihat dari judulnya, tema film ini sudah pasti tentang musik. Sebenarnya garis utama cerita adalah tentang keluarga, yaitu hubungan antara seorang ayah bernama Frank dan anaknya, Sam. Frank yang sedikit eksentrik berbanding terbalik dengan Sam yang lebih tenang dan realistis. Perbedaan tersebut juga menunjukkan bagaimana cara mereka menyikapi karier musik dan tujuan hidup mereka.

Baca Juga: Lampaui ‘Love, Simon’: 7 Film Queer Bertema 'Coming of Age'

Dari segi romansa, film ini menggambarkan Sam dan Rose dengan sangat lembut tanpa drama yang selalu dilekatkan pada film tentang remaja queer. Keduanya memiliki banyak momen menggemaskan melalui interaksi mereka.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.