Women Lead Pendidikan Seks
March 25, 2022

‘Retroactive Jealousy’: Saat Kamu Insekyur dan Kepo Mantannya Pacar

Sebaiknya hindari ‘stalk’ media sosial mantannya pasangan, jika kamu insekyur dan cemburu. Itu rentan menimbulkan perilaku obsesif dan membandingkan.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle // Madge PCR
Retroactive Jealousy adalah Cemburu dengan Masa Lalu Pacar
Share:

Menemukan jejak hubungan pasangan dengan masa lalunya, kerap menimbulkan berbagai reaksi. Marah, bertanya-tanya, insecure, hingga cemburu.

Reaksi itu mengingatkan saya dengan karakter Ryle Kincaid dalam It Ends With Us (2016) oleh Colleen Hoover. Ia sontak meluapkan kemarahannya dengan bersikap abusif kepada sang istri, Lily Bloom, ketika mengetahui arti nama restoran milik Atlas Corrigan - pacar istrinya sewaktu Sekolah Menengah Atas (SMA).

Seperti memasang kepingan puzzle, Kincaid langsung mengenali magnet kulkas, isi diary, dan tato di tubuh Bloom yang semuanya berkaitan dengan Corrigan.

Jejak masa lalu itu merupakan salah satu faktor yang memicu retroactive jealousy - insecure dengan masa lalu pasangan, seperti disebutkan akademisi asal AS Jessica Frampton dan Jesse Fox, dalam Social Media’s Role in Romantic Partners’ Retroactive Jealousy: Social Comparison, Uncertainty, and Information Seeking (2018).

Di realitas, mereka yang bersikap seperti Kincaid juga menjadi takut kehilangan pasangannya, dan iri karena tidak begitu banyak memiliki pengalaman seksual.

Baca Juga: Cinta Lama Bersemi Kembali: Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Balikan

Namun, reaksi lain justru timbul penghakiman terhadap si mantan, kesal karena adanya perbedaan cara pasangan memperlakukan, cemas karena emosi dan pikiran berlebihan akan masa lalu, serta ragu berpacaran dengannya.

Melansir Modern Intimacy, retroactive jealousy bahkan dikategorikan sebagai obsessive compulsive disorder (OCD). Pasalnya, mereka yang mengalami insecure dan kecemburuan tersebut juga memiliki pola pikir obsesif yang mengganggu, tentang hubungan pacar dengan mantan kekasihnya. Alhasil itu menimbulkan perilaku berulang untuk menyelidikinya.

Maka dari itu, membicarakan masa lalu pada pasangan adalah hal terakhir yang ingin dibahas sebagian orang, selama menjalin relasi romantis. Karena mereka tidak ingin pasangannya cemburu, membandingkan diri, mengurangi keintiman relasi, atau merasa hubungannya tidak spesial.

Dorongan Media Sosial

Insecurity dan kecemburuan itu semakin kuat dengan kehadiran media sosial. Pasalnya, platform tersebut memungkinkan pengguna ketika merasa tidak banyak mengetahui informasi, atau “melacak” masa lalu pasangannya. Terlebih jika unggahannya masih tertinggal dan tidak dihapus.

Karena merasa ingin tahu lebih dalam, lama-lama bukan pasangannya saja yang dikuntit secara daring, melainkan juga mantan pacarnya. Alhasil, muncul asumsi mengapa pasangannya sempat berkencan dengan orang tersebut, hingga merasa dirinya tidak sebanding.

Ini adalah alarm ancaman dalam hubungan. Meskipun belum tentu pasangan dan mantan pacarnya masih keep in touch, atau sekadar berhubungan baik. Seperti dialami Zachary Stockill, penulis asal Kanada, yang relasi romantisnya berakhir akibat retroactive jealousy dalam dirinya. Dalam artikel BBC, Stockill menceritakan bagaimana dirinya berperan sebagai detektif yang memata-matai masa lalu pacarnya melalui media sosial.

Selain melihat foto-foto dan membaca komentar, ia mencari tahu orang-orang dalam hidup pasangannya, serta hal-hal apa yang tidak diketahuinya.

Baca Juga: Awas, Obral Maaf pada Pacar Bisa Rusak Hubungan

Alhasil, masa lalu pacarnya menyambut imajinasi Stockill di pagi dan malam hari. Ini termasuk ketika mengunjungi sejumlah tempat, pikirannya tertuju pada aktivitas yang mungkin pernah dilakukan keduanya. Seperti pergi ke restoran yang sama, atau berhubungan seksual di hotel.

Biasanya, kecemburuan yang berawal dari insecure itu terjadi berulang dengan pola yang sama. Dimulai dari rasa ingin tahu, kemudian berusaha mengurangi kekhawatiran tentang mantan pasangannya dan pikiran yang tidak diinginkan. Akibatnya, timbul perasaan cemburu dan keinginan mengawasi pasangannya.

Butuh keyakinan dari pasangan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tetapi ketenangan hanya muncul sementara dan kembali ke titik awal.

Berdasarkan temuan Frampton dan Fox, ada beberapa hal yang menyebabkan retroactive jealousy di media sosial. Di antaranya adalah jejak digital berupa foto atau status, ketidakpastian karena khawatir hubungan tidak sesuai dengan masa lalu pasangan atau belum move on, dan perbandingan sosial.

Bahkan perbandingan itu menjadi pemicu agar bekerja lebih keras, untuk mendapatkan pujian dari pasangannya. Namun, karena cara tersebut tidak sehat dan sikap obsesif ini berisiko bagi hubungan.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Keluar dari Retroactive Jealousy

Walaupun insecure dan kecemburuan berdampak buruk dan perlu dihindari, bukan berarti tidak valid. Memvalidasi emosi justru langkah awal untuk memperbaikinya. Menurut psikolog klinis asal AS, Patrick Cheatham, ketakutan dapat dihadapi setelah perasaan cemburu diakui.

Tanyakan pada diri sendiri, apa yang menjadi kekhawatiran. Mungkin karakter pasangan sebelum kamu mengenalnya, yang membuatnya tertarik berpacaran denganmu, atau tanpa alasan.

Yang juga perlu dipahami, setiap individu punya masa lalunya masing-masing, termasuk kamu. Bayangkan jika berada di posisi pasangan, dan ia melakukan hal serupa.

Mungkin kamu akan mengerti, rasanya masa lalu itu seperti tidak diterima. Padahal, ia ingin menjalin hubungan denganmu, tanpa memikirkan faktor tersebut. Langkah ini dapat membantumu lebih suportif dan menyayangi pasangan dengan caramu sendiri.

Selanjutnya adalah menahan diri untuk tidak ngestalk profil mantan pasangan. Karena meskipun banyak yang melakukannya, hal ini tidak sehat sekaligus memicu sikap obsesif dan cemburu buta.

Baca Juga: ‘Anxious Attachment’: Saat Kamu Insekyur Takut Ditinggal Pacar

Kadang tidak disadari, pengguna cenderung menampilkan versi terbaik mereka di media sosial, dan kamu tidak mengetahui yang terjadi sebenarnya “di balik dapur”. Begitu pula dengan pencapaian mereka, membuatmu membandingkan diri dan membentuk standar tidak realistis.

Namun, perasaan itu tidak perlu dihadapi sendirian. Kamu bisa membuka komunikasi dengan pasangan, untuk membicarakan mantannya. Pun rasa ingin tahu tentang masa lalu dan pengalaman mereka adalah normal. Dari pembahasan tersebut justru semakin mengenal dan memahami satu sama lain.

Bahkan setelah kekhawatiran tersebut diungkapkan, pasangan dapat membantu mengelola emosi dan merasa lebih baik.

Pastikan pula ia siap dan bersedia menceritakannya. Menurut terapis keluarga dan pernikahan di AS, Emily Cook, umumnya seseorang enggan membicarakan mantan pacarnya karena masa lalu dianggap privasi, atau takut mendengar tentang ketidaksetiaan.

Yang penting setelah ia membuka pembahasan, kamu mau mendengarkan, menerima, dan memercayai ceritanya, agar retroactive jealousy enggak muncul lagi.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.