Women Lead Pendidikan Seks
March 04, 2022

‘Euphoria’: Kumpulan Momen Tak Nyambung yang Dirangkai Satu

Setelah menunggu hampir tiga tahun, cerita remaja-remaja eksentrik dan trendi di Euphoria berlanjut. Akankah Sam Levinson, sang creator, memuaskan harapan penonton?

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

Sejak pertama kali tayang di HBO, saya sudah tertarik dan langsung mengikuti Euphoria. Selain karena selalu suka dengan tema Coming of Age, saya juga penasaran bagaimana HBO mengemas tema ini. Saat itu, mereka belum pernah “main-main” di pasar remaja. Produk-produknya juga selalu serius, mahal dan berkualitas. Apa yang membuat HBO tertarik untuk memproduksi Euphoria?

Dari musim pertama, kita tahu kalau Euphoria adalah cerita remaja yang vulgar (secara harfiah menampilkan ketelanjangan karakter perempuan dan laki-laki, lengkap dengan the infamous scene penis ereksi). Bukan cuma secara seksual, naskah Euphoria juga vulgar menampilkan cerita tentang adiksi pada narkotika, toxic relationship, gender identity, dan isu-isu tabu lainnya.

Satu yang menarik dari drama remaja bikinan Sam Levinson ini adalah bagaimana karakter-karakternya dikemas dan diperkenalkan di musim pertama. Dalam setiap episode kita punya kesempatan menelaah lebih dalam tentang remaja-remaja bermasalah yang luar biasa good looking ini. Ada Rue (Zendaya) yang berusaha keras untuk sober, Nate Jacobs (Jacob Elordi) yang punya anger issues dan sepertinya internalised homophobic, Jules (Hunter Schaffer) si anak baru yang mencoba beradaptasi, ada Kat (Barbie Ferreira) yang punya masalah dengan body image issues, Maddy (Alexa Demie) yang terjebak dalam hubungan amat tidak sehat, Cassie (Sydney Sweeney) yang punya father issues akut dan sedang mengeksplorasi seksualitasnya.

Sudah cukup dramanya? Tunggu sampai Anda melihat plot seorang suami yang rahasia gelapnya berhubungan dengan remaja di bawah umur dan merekam mereka diam-diam. Semua konflik ini memang terasa berlebihan dan tidak mungkin. Tapi dalam Euphoria, semua drama over-the-top ini jadi masuk akal karena cara Sam Levinson membungkusnya.

Seperti produk-produk HBO lainnya, Euphoria adalah salah satu serial yang production value-nya sangat tinggi. Kabarnya, satu episode menelan biaya sampai 11 juta dollar. Dan bujet itu kelihatan di layar. Visualnya lebih dari sekadar cantik, punya estetik khas. Desain produksi, kostum, dan make up-nya mentereng, sampai-sampai jadi tren dan banyak ditiru orang-orang.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Kamu Perlu Baca Fanfiction Genre Angst

Dengan presentasi menghebohkan ini, narasi yang terasa lebay jadi masuk akal. Setidaknya produksi yang serba mentereng bisa mengimbangi naskahnya.

Setelah menonton 8 episode musim pertamanya, semua extravaganza yang disajikan Sam Levinson jadi masuk akal. Hidup remaja memang sudah sering dieksploitasi dalam berbagai bentuk, dan sering kali drama yang mereka alami terasa receh. Tapi buat remaja sendiri, apa pun yang terjadi dalam hidupnya terasa bagai pertaruhan karena pengaruh hormon yang bergejolak. Masalah apa pun kadang terasa seperti perkara hidup dan mati. Dan keputusan Levinson untuk menaikkan tensi drama remaja dalam Euphoria, lengkap dengan treatment visual dan penyutradaraan yang menghebohkan terasa seperti match made in heaven.

Sayangnya, saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk musim keduanya.

Ketenaran Euphoria baru terasa ketika pandemi menghantam. Orang-orang baru ramai membahas betapa ekstranya dandanan remaja di serial. Ketenaran itu makin lengkap dengan Emmy 2020 yang didapatkan Zendaya untuk perannya sebagai Rue. Membuat musim kedua Euphoria jadi salah satu serial yang sangat ditunggu-tunggu.

Sayangnya setelah delapan episode, saya bisa menyimpulkan bahwa Euphoria musim kedua lebih kacau dari musim pertama. Secara presentasi, visual Euphoria tetap mentereng. Di musim kedua ini visualnya bahkan lebih meme-able dari musim pertamanya. Adegan-adegannya banyak yang iconic dan level estetiknya sangat screenshot-able.

Baca juga: Setop ‘Book Shaming’, Berikut 5 Manfaat Baca Novel Fiktif

Tapi dari segi narasi, Euphoria musim kedua sangat membingungkan. Berbeda dari musim pertama, cara karakter-karakter diceritakan tak lagi ditelaah per episode. Musim kedua ini kita fokus dengan Rue yang relapse, cinta segitiga antara Maddy-Nate-Cassie yang super-messy, dan bisnis narkoba Fez (Angus Cloud) serta kemungkinan dirinya cinlok dengan Lexi (Maude Apatow). Dari segi plot, ada beberapa yang masuk akal dan seru untuk diikuti (terutama cinta segitiga Maddy-Nate-Cassie, apalagi buat yang suka plot perselingkuhan), tapi sejujurnya banyak plot yang membuat saya bingung.

Di musim kedua ini Rue bertemu dengan Elliot (Dominic Fike) yang tidak hanya menjadi teman makek alias using drugs, tapi juga menjadi potensi cinta segitiga antara Rue dan Jules. Sebenarnya plot ini sama sekali tidak apa-apa untuk dieksplor, hanya saja Levinson terlalu sibuk untuk membuat gambar-gambar yang estetik sehingga karakter Jules di musim ini terasa seperti tempelan saja. Meski begitu, nasib Jules masih lebih mending daripada Kat. Kat di musim kedua ini berubah jadi figuran. Dia hanya muncul untuk menemani Maddy dan sesekali bereaksi terhadap kelakuan Cassie atau Maddy. Selebihnya, karakter ini tak diberi ruang untuk berkembang. Kat bukan cuma terasa “menghilang”, rasanya lebih seperti sengaja “dibunuh” Levinson. Semua ke-edgy-an Kat yang sudah dibangun di musim pertamanya, sirna di musim kedua. Sebetulnya, ini sangat mengherankan sekali mengingat Kat adalah salah satu karakter dengan character development paling menarik di musim pertama (Kabarnya Barbie Ferreira, pemeran Kat, berseteru serius dengan Levinson, yang berujung berkurangnya screentime Kat).

Musim kedua ini terasa seperti piring penuh yang diisi banyak makanan. Levinson mengisinya dengan banyak sekali set-up. Tapi, isi piring ini berujung jadi makanan mubazir karena tak ada payback yang disiapkan.

Misalnya plot kehadiran Laurie (Martha Kelly), seorang drug dealer yang digambarkan dengan begitu menyeramkan. Di salah satu episode, ketika Rue minta “barang” dan tak ada duit, Laurie memberinya barang tersebut dengan ancaman akan menjual Rue ke orang-orang jahat jika gagal membayar. Sampai akhir episode, tidak ada lanjutan soal gagalnya Rue memberikan uang tersebut. 

Kemudian ada Samantha (Minka Kelly), orang kaya yang menyewa jasa Maddy untuk menjadi baby sitter. Sempat ada adegan yang dilamat-lamatkan ke arah sexual tension dan adegan Samantha merekam Maddy yang memakai bajunya di walk-in closet. Tapi, sekali lagi sampai akhir episode, semua ini tidak ada fungsinya sama sekali karena Levinson tidak berniat untuk memberikan payback.

Setelah melihat keseluruhan episode musim kedua Euphoria, saya merasa serial kumpulan momen tidak nyambung yang dirangkai jadi satu cerita. Buat saya, cuma ada tiga episode (5,7, dan 8) yang cukup fokus dan punya benang merah.

Baca juga: Gemar Baca Cerita Toksik, Apakah Saya Feminis Gagal?

Dua episode terakhir juga menjadi konklusi ampuh atas kisah cinta segitiga Maddy-Nate-Cassie, sekaligus menjadi semacam refleksi yang dalam tentang persahabatan Lexi dan Rue.

Tapi siapa yang peduli dengan keluhan panjang saya soal Euphoria ini? HBO sudah mengumumkan musim ketiga sedang dibikin. Popularitasnya juga sudah teruji. Ia adalah serial TV yang paling banyak di-tweet selama satu dekade terakhir.

Euphoria musim kedua mungkin jadi salah satu tontonan paling tidak koheren yang saya tonton tahun ini. Tapi, setidaknya ia berhasil mengajak semua orang histeris dan saling lempar meme. Mungkin Bobbi (Veronica Taylor), yang menjadi manajer Lexi ada benarnya. Dia sempat bilang, “It could be worse. It could be boring.”

Musim kedua mungkin tidak sebagus musim pertamanya, tapi tidak pernah sekalipun dia membosankan.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.