Women Lead Pendidikan Seks
February 09, 2022

Siapa Bilang Pendidikan Seks dalam Agama itu Tabu?

Pendidikan seksualitas dalam agama sering kali dianggap tidak ada, karena tabu. Sejumlah gerakan mendorong pendidikan seks lebih inklusif di ruang-ruang agama.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues // Gender and Sexuality
Siapa Bilang edukasi seksual dalam Agama itu Tabu?
Share:

Dua belas tahun mengenyam pendidikan di lingkup konservatif, Eka—bukan nama sebenarnya—merasakan sendiri, minimnya pendidikan seksual yang ia terima dalam pendidikan formal. 

Saat masih SD dan sedang masa pubertas, Eka ingat pernah menaruh hati kepada seorang guru perempuan di sekolahnya. Momen itu bikin Eka mulai bertanya-tanya tentang seksualitasnya. 

Namun, pendidikan seksual sekolahnya saat itu hanya membahas tentang organ reproduksi, penyakit menular seksual, dan mimpi basah yang dialami laki-laki. Perempuan yang berdomisili di Cimahi ini sempat menaruh harapan, pertanyaan-pertanyaannya tentang seksualitas akan terjawab di bangku SMP nanti. Sayangnya, mimpi cuma jadi mimpi.

“Edukasinya masuk dalam kegiatan keputrian habis salat Jumat, tapi dibatasi berdasarkan gender. Jadi benar-benar tentang reproduksi perempuan, menstruasi, fertilisasi dan tidak lebih. Baru deh kelas sembilan dapat materi soal laki-laki, tapi topiknya enggak jauh berbeda dengan perempuan,” kata Eka yang saat ini berusia 18 tahun.  

Hal yang sama terulang kembali saat Eka masuk SMA. Tetapi, prosesnya semakin miris. Nama dan gambar alat reproduksi laki-laki disensor. Layar proyektor yang menampilkan anatomi sistem reproduksi perempuan ditutup jika ada laki-laki. 

Baca juga: Dicari: Edukasi Seksual Komprehensif untuk Orang Muda ‘Queer’

Internet jadi jalan keluar Eka. Sedangkan, beberapa temannya menjadikan konten pornografi sebagai ‘alternatif’ edukasi

“Saat itu tidak ada juga yang protes kenapa materinya seperti itu, toh sekolah juga mendukung. Kalau sama teman saya juga tidak membicarakan topik ini karena mereka takut ketahuan sama orang tua. Di keluarga saya juga tidak membicarakan itu,” ujarnya.

Lalu, apakah keengganan membicarakannya dipengaruhi faktor tabu?

“Sampai hari ini saya sebetulnya belum pernah menemukan keterangan agama yang memberi cap tabu pendidikan seksual. Tapi, yang sering saya temukan, kalau ada larangan (pendidikan seks) itu karena norma, seperti dianggap mendorong (berbuat) zina,” ungkap Eka.

Agama Tidak Melarang Edukasi Seksual

Beberapa waktu lalu Magdalene melakukan survei daring mengenai tanggapan remaja berusia 15-19 tahun tentang pendidikan seksual. Dengan total 405 responden, sebanyak 98,5 persen di antaranya mengaku membutuhkan edukasi seksual. Eka salah satunya. Sayangnya, karena dianggap tabu, hanya 12,84 persen yang menilai pendidikan seksual di sekolah mereka sudah cukup memadai. 

Alimatul Qibtiyah, Guru Besar Kajian Gender Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan, penabuan pendidikan seksual berakar dari kesalahpahaman yang menganggapnya berarti sama dengan mengajarkan sesuatu yang negatif dan ‘jorok’. 

Padahal pendidikan seksual mengajarkan beragam topik, seperti hak, kebersihan, dan kesehatan reproduksi. Alimatul sendiri fokus pada pendidikan seksualitas dalam perspektif Islam sejak menyelesaikan studi magisternya di University of Iowa, Amerika Serikat. 

“Isu tabu bisa dilihat dalam menstruasi yang dipahami sebagai najis. Lalu perempuan dilarang beribadah karena dianggap kotor. Sementara dalam penafsiran keagamaan yang lain, dia tidak boleh ibadah karena dalam kondisi sakit sehingga diberi keringanan untuk tidak salat,” jelasnya kepada Magdalene

Selain itu, imbuhnya, tidak ada agama yang melarang edukasi seksual. Islam, misalnya, sudah mengajarkan kebersihan atau thaharah yang dimulai dengan wudhu. Pendidikan seksual tentang menstruasi bisa diajarkan pada anak, ketika ada kerabat perempuannya tidak melaksanakan ibadah. 

“Maka sebenarnya aneh kalau agama kemudian dipahami tabu membicarakan isu seksualitas dan kesehatan reproduksi,” kata Alimatul. 

Namun, Alimatul tak menampik ada konteks yang juga berbeda dari pendidikan seksual dalam perspektif Islam. Ia mencontohkan anjuran untuk tidak melakukan hubungan seksual dan menjaga pandangan sebelum menikah.

Baca juga: Seksualitas dan Agama: Persetubuhan di Mata Tuhan

“Edukasi seksual keagamaan tidak sekadar tentang hubungan yang aman dengan alat kontrasepsi, tapi juga ada aspek halal dalam relasi itu,” kata Alimatul.  

Peneliti dari Unit Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia (UI) Sari Damar Ratri mengatakan, pendidikan seksualitas dengan perspektif agama tidak serta merta buruk. Namun, ada poin kritis ketika norma dan nilai agama memberikan batasan tentang edukasi seksual, sehingga tidak komprehensif. 

“Mungkin karena agama sudah ada dogma yang baik dan tidak, hitam dan putih. Sayangnya, ketika digunakan dalam pendidikan seksual menjadi sangat normatif dan tidak ada ruang untuk refleksi dan evaluasi” kata Sari pada Magdalene

Pembatasan yang terjadi sering kali memicu kebanyakan orang untuk melakukan aktivitas seksual tanpa mengakses informasi yang cukup terlebih dulu. Hal ini, yang menurut Sari, bikin banyak orang muda akhirnya memilih tindakan berisiko, seperti aborsi tidak aman, perkawinan anak, hingga mendapat penyakit menular seksual tanpa penanganan yang tepat.

“Ini yang sebenarnya perlu diintervensi karena ada risiko agama mudah dipolitisasi, kemudian menghasilkan kepanikan moral yang menggeneralisir kalau tidak boleh sama sekali ada pendidikan seks. Jangka panjangnya, sulit menciptakan masyarakat adil gender, ramah perempuan, dan bebas kekerasan,” tambah Sari.

Maraknya kasus pemerkosaan di institusi pendidikan keagamaan, seperti yang terjadi di Bandung setahun lalu juga merefleksikan minimnya pendidikan seksual komprehensif yang mampu mencegah kekerasan dan menuntut akuntabilitas pelaku.

“Melihat kasus di pesantren kemarin juga sebenarnya, kekerasan dapat terjadi di mana pun dan tidak berkaitan dengan agama tertentu saja,” kata Sari. 

Menggandeng Tokoh Agama

Buat Eka sendiri, institusi agama yang menyediakan pendidikan seksualitas yang tepat adalah situasi semestinya. Sebab ia yakin, seseorang yang menganut agama tertentu akan mencari referensi tentang pendidikan seksual yang sesuai dengan agamanya. 

“Tapi, edukasi seksual yang disampaikan (sering kali) berbeda-beda karena beragamanya pendapat tokoh agama,” kata Eka. 

Baca juga: Riset: Banyak Orang Tua Indonesia Dukung Pendidikan Kesehatan Seksual di Sekolah

Menurut Sari, jarak antara edukasi seksual agama dan edukasi seksual umum juga bisa dijembatani dengan merangkul tokoh keagamaan yang tidak diskriminatif, mampu menafsirkan kitab suci tanpa menghakimi, dan tidak menganggapnya tabu.

Dalam edukasi seksual dengan perspektif Islam yang disampaikan Alimatul, misalnya. Ia menggunakan konsep kesalingan yang setara, seperti dalam hubungan suami istri, ketika memaknai teks keagamaan atau ayat dari kitab suci. 

“Ketika membahas seksualitas ada ayat dan hadits yang dipahami dengan cara misoginis dan patriarkis dan akan menghasilkan relasi kuasa timpang. Seperti hadits istri akan dilaknat malaikat jika menolak berhubungan dengan suami,” kata Alimatul, memberikan contoh.

“Karenanya hadits tersebut harus dipahami secara kontekstual dan egaliter dan moderat progresif, untuk mengurangi dan menghilangkan kekerasan atau pandangan yang timpang,” ujarnya. 

Sari juga menambahkan, salah satu cara untuk menangkal narasi “agama anti-pendidikan seksual” adalah dengan memperbanyak riset dan membaca artikel ilmiah atau unggahan media sosial tentang edukasi seksual dari segi keagamaan. Sari juga mengajak kita untuk menghargai upaya-upaya menggandeng tokoh agama untuk lebih inklusif, seperti yang dilakukan sejumlah inisiatif-inisiatif warga.

“Walaupun ada isu tentang pembatasan, bukan berarti tidak ada sama sekali yang menolak membicarakannya,” kata Sari. “Misalnya ada Mubadalah atau YiFOS yang merangkul teman dengan latar rohaniah untuk melakukan evaluasi pendidikan seksual.” 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.