Women Lead Pendidikan Seks
July 08, 2022

Tren ‘Healing’ di Medsos: Penyempitan Makna yang Punya Dampak Negatif

Penyempitan makna ‘healing’ sebagai ‘liburan’ ternyata berdampak buruk secara psikologi.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Sejak kasus Covid-19 melandai pada Oktober 2021, laman Instagram saya mulai diramaikan dengan postingan teman-teman yang work from Bali, alias WFB. Mereka mengunggah situasi serupa; duduk di hadapan laptop, dengan latar belakang pantai atau sawah. Enggak lupa disertakan caption yang bunyinya sama. Healing.

Di Twitter, segelintir warganet juga senang nge-tweet kalau mereka butuh healing ke Bali. Entah sejak kapan, kata “healing” dan Bali saling melekat. Katanya, healing diperlukan untuk mengurangi stres dan menjaga kesehatan mental.

Meskipun kelihatannya warganet hanya menggunakan istilah yang sedang tren, sejumlah postingan itu sebenarnya cukup bikin saya gemas. Enggak, bukan karena iri pengin kerja dari Bali, melainkan penggunaan kata “healing” yang menurut saya kurang tepat.

Pasalnya, Urban Dictionary mendefinisikan istilah tersebut sebagai kemampuan untuk menyembuhkan luka seseorang. Sementara psikologis memaknainya sebagai proses pemulihan gangguan kesehatan mental.

Hal itu juga disayangkan oleh psikolog klinis dewasa Risky Adinda. Kepada Magdalene. Ia menyayangkan istilah “healing” yang dikaitkan dengan kegiatan rekreasional atau bentuk self-reward. Meskipun, sebetulnya kegiatan itu memang baik untuk kesehatan mental dan salah satu bentuk self-care.

“Healing itu pemulihan dari gangguan mental, sama seperti pada penyakit fisik,” jelasnya pada Rabu, (6/7). “Prosesnya enggak selalu rekreasional atau menyenangkan.” Kata kuncinya, liburan bukan satu-satunya cara healing.

Dinda menambahkan, healing dalam konteks psikologis dilakukan ketika seseorang tidak dapat berfungsi dengan baik. “Atau mengalami kesulitan untuk menjalankan kesehariannya, sehingga butuh bantuan untuk menangani masalahnya,” kata Dinda.

Selain healing, sebenarnya ada beberapa kata lain menyangkut kesehatan mental, yang belakangan ini sering digunakan. Misalnya burnout, anxiety, depresi, trauma, dan overthinking. Kata-kata itu semakin banyak ditemukan di media sosial. Lewat keluhan warganet yang mengekspresikan diri, self-diagnosis, hingga konten edukasi oleh akun psikologi.

Malah sebuah coffee shop di bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang bisnis. Mereka membuat menu dengan istilah-istilah gangguan mental. Di antaranya anorexia americano, press u trauma, espresso depression, narcissistic lychee tea, dan affogato OCD.

Lantas, apa dampak penyempitan makna ini?

Baca Juga: Kegiatan Self-Healing yang Murah Meriah

Bahasa Bersifat Dinamis

Jika merujuk pada makna secara harfiah, sederet istilah psikologis itu menggambarkan kondisi kesehatan mental. Sebagian di antaranya adalah gangguan mental yang bersifat klinis dan membutuhkan penanganan, seperti depresi, anxiety, dan trauma. Menurut Psikolog Dinda, gangguan mental sendiri merupakan diagnosis yang penegasannya membutuhkan penilaian klinis, atas beberapa kriteria.

Sementara burnout dan overthinking adalah kondisi kesehatan mental yang sedang menurun. Seseorang dapat mengalaminya akibat stres berkepanjangan yang disebabkan pekerjaan, atau memikirkan suatu hal secara terus-menerus karena khawatir.

“Kalau digunakan dengan tepat, depresi dan anxiety itu bisa menggambarkan mood atau pikiran yang masih sesuai,” terang Psikolog Dinda. “Contohnya, ‘mood-ku hari ini lagi depresif.’ Atau, ‘hari ini aku cemas banget karena sesuatu’.”

Namun, realitasnya bahasa bersifat dinamis. Hal ini membuat bahasa berkembang menyesuaikan konteksnya.

Dalam The evolutionary dynamics of language (2018) oleh Luc Steels dan Eörs Szathmáry, mereka menjelaskan bahwa bahasa selalu berubah dalam suatu populasi. Pun otak manusia mampu memperoleh dan mengadaptasi bahasa dalam kesehariannya.

“Bahasa muncul dan berkembang menyesuaikan kemampuan otak individu. Selain itu, keberagamannya juga diselaraskan berdasarkan perannya terhadap keberhasilan komunikatif, kekuatan ekspresif, dan upaya kognitif,” tulis Steels dan Szathmáry.

Karena itu, pemaknaan istilah psikologis seperti healing, overthinking, burnout, trauma, depresi, dan anxiety, kini memiliki definisi yang lebih luas. Menurut ahli bahasa Indonesia, Ivan Lanin, hal ini merupakan fenomena yang pasti terjadi dalam bahasa.

“Manusia memerlukan kata untuk memaknai konsep. Kalau ditinjau dari sudut pandang kebahasaan, berarti masyarakat ingin makna kata tersebut berkembang,” tuturnya.

Dalam konteks healing, yang terjadi adalah penyempitan makna. Sebab, ketika mendengar kata itu, secara spesifik kita cenderung memaknainya sebagai pemulihan kondisi mental dengan pergi berlibur.

Fenomena ini didorong oleh kenyataan, bahwa generasi Z adalah angkatan yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, jika dibandingkan generasi lainnya.  Pernyataan ini didukung oleh laporan Stress in America: Generation Z (2019) yang dirilis oleh American Psychiatric Association (APA). Laporan tersebut mencatat, 37 persen dari generasi Z cenderung pernah menjalani terapi atau pengobatan, dibandingkan generasi lainnya.

Peningkatan itu disebabkan oleh tiga faktor. Di antaranya adalah meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental, stigma seputar layanan kesehatan mental yang berkurang, dan penyebab stres yang lebih mengarah pada kekhawatiran psikologis.

Ivan mengatakan, keterpaparan itu semakin mendorong peningkatan popularitas istilah-istilah tersebut. Alhasil, situasi ini membuat generasi Z lebih familier dengan kondisi psikologis, dan banyak menggunakannya dalam keseharian.

“Ditambah media sosial digunakan untuk mengeluh dan saling menanggapi. Jadi kata-kata itu semakin punya eksposur yang besar,” ucapnya.

Ketika sebuah istilah semakin populer, seseorang akan semakin memiliki dorongan untuk menggunakannya. Istilah tersebut akan semakin dipersempit, sesuai konteks terkini yang disematkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru di kepala saya. Apakah pemaknaan kata perlu diluruskan sebagaimana mestinya?

“Bahasa itu kan bergantung pada penuturnya, dan ini enggak bisa dibilang sesuatu yang salah atau bisa diperbaiki. Yang bisa dilakukan hanya merekam makna itu dalam kamus,” jawab Ivan.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Buku Self Healing Terbaik di Kala Pandemi

Over-using dan Dampak Terhadap Psikologi

Meskipun bahasa sifatnya lebih cair dalam pemaknaan kata yang selalu berkembang, beda halnya apabila dilihat dari kacamata psikologi. Misalnya istilah-istilah gangguan mental yang malah dimanfaatkan untuk meraup keuntungan bisnis.

Psikolog Dinda menyebutnya sebagai gimik, yang kurang sensitif terhadap mereka yang berkutat dengan diagnosis gangguan itu. “Kesannya jadi meremehkan, dan menggambarkan gangguan mental itu untuk dibercandakan,” katanya.

Selain itu, penggunaan kata yang tidak semestinya juga memiliki beberapa dampak negatif. Contohnya melanggengkan stigma gangguan kesehatan mental, dan mendiagnosis diri sendiri.

“Over-using dan banyaknya sumber di internet itu bisa merugikan orang itu sendiri. Akhirnya dia enggak jadi mencari bantuan yang tepat, lalu melabelkan diri, dan membatasi dirinya karena dirasa punya kondisi tertentu,” tambah Psikolog Dinda.

Di tengah pemaknaan kata yang sifatnya dinamis, sebelum menggunakan, setidaknya kita perlu mengetahui definisi sebenarnya. Ivan melihat di sinilah literasi dapat berperan. Salah satunya dengan kesehatan mental yang semakin dikampanyekan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Sebagai yang punya ilmu (psikologi) dan kredensial, sebenarnya situasi ini membuka kesempatan bagi ahli kesehatan mental untuk lebih aktif berkampanye,” tutur Ivan.

Namun, upaya ini juga perlu dibarengi kesadaran masyarakat untuk mengedukasi diri. Bagaimana pun, kita adalah orang-orang yang berperan dalam menciptakan pemaknaan baru, dan pengembangan konsep dari kata-kata. Terlepas dari konteks psikologi, yang perlu dihindari adalah membuat orang lain merasa dirugikan.

Sebagai seseorang yang baru menyelesaikan perjalanan dari Bali, saya cukup enggak nyaman dengan titel “abis healing” yang dilemparkan beberapa orang.

Enggak semua yang pergi ke luar kota bertujuan untuk healing, sesuai dengan makna yang mereka inginkan. Lagi pula dibandingkan healing, mungkin lebih tepat kalau kita menyebutnya melepas penat dari sumpeknya hari-hari sebagai buruh. Sesuatu yang memang dibutuhkan dan sudah jadi haknya kelas pekerja.

“Kenapa Bali jadi tempat pelarian para pekerja ini?” adalah pertanyaan lain yang perlu dibedah lebih lanjut. Hubungannya bisa sampai ke tabiat pemerintah Indonesia mengentrifikasi Bali jadi tempat “eksotis”.

Baca Juga: 4 Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Penyakit Mental

Dalam konteks penyempitan makna istilah “healing”, pergi ke Bali sering kali jadi sindiran buat buruh kelas menengah ke bawah. Ada anggapan bahwa plesiran secara umum dan plesiran ke Tanah Dewata secara spesifik sebagai aktivitas orang-orang kelas bos saja. Sikap sinis itu cenderung sering tajam ke buruh kelas bawah, dan tumpul ke orang-orang powerful di posisi-posisi pembuat keputusan yang malah melanggengkan gentrifikasi Bali.

Untuk memaknai ulang istilah “healing”, kita perlu sadar bahwa setiap orang memiliki kondisi unik dan prosesnya masing-masing untuk bisa pulih.

“Jadi enggak ada tahapan pasti untuk healing?” tanya saya pada Psikolog Dinda.

“Betul, tapi secara umum diawali dengan kesadaran akan kondisi dan penerimaan diri. Kemudian mempelajari cara menangani masalah, mengubah cara berpikir, dan perilaku,” jelasnya. “Sampai akhirnya merasa bisa kembali berfungsi optimal dalam keseharian.”

Artinya, ya tidak salah juga jika kamu ingin pergi ke Bali atau tempat lain untuk ambil jeda. Proses healing tiap orang bisa berbeda. Tapi, yang penting, proses itu diawali dengan kesadaran bahwa kamu butuh meregulasi emosimu, mengurai beban dalam proses memulihkan diri.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.