Women Lead Pendidikan Seks
September 21, 2016

Tuhan yang Mana?

Dalam soal agama dan kepercayaan, kita tak lebih dari manusia-manusia yang terpenjara pada pilihan keluarga.

by Petronela Putri
Issues // Politics and Society
Share:
Baru-baru ini dunia maya sedang heboh dengan kabar menikahnya seorang putra ustadz yang usianya baru 17 tahun. Dan yang lebih menghebohkan lagi, perempuan yang kemudian menjadi istrinya dan memakai cadar, adalah seorang mualaf.

Spontan kejadian itu dilahap media. Banyak komentar serta artikel berseliweran di dunia maya, bahkan ada foto pengantin perempuan sebelum mengenakan cadar. Entah dari mana semua itu didapat, yang jelas netizen selalu punya cara.

Kepercayaan dan agama merupakan salah satu hal yang paling sensitif di negeri ini, selain masalah suku. Keinginan pindah agama seringkali dianggap masalah besar oleh orang sekitar. Pun dengan keinginan menikahi orang yang berbeda agama, acap kali dianggap sama bermasalahnya dengan keinginan menikah beda suku, bagi pihak-pihak yang masih fanatik. Mungkin ntuk menjaga ‘darah murni’, beberapa pihak tersebut ingin anak cucunya menikah dengan pasangan-pasangan yang berasal dari satu etnis serta memeluk kepercayaan yang sama.

Bicara mengenai kepercayaan, usia muda barangkali merupakan awal di mana seseorang pernah merasa ragu mengenai apa yang dianutnya. Tapi sebenarnya kepercayaan yang kita percayai nyaris sepanjang hayat itu, kepercayaan siapa? Sebab seperti yang sudah kita semua ketahui, bahwa ketika seorang bayi lahir ke dunia mau tak mau ia akan mempercayai kepercayaan ayah ibunya, atau minimal salah satu dari orangtuanya, jika keduanya memeluk kepercayaan yang berbeda.

Setelah tumbuh dewasa, beberapa anak memberanikan dirinya untuk mencari sendiri dan mungkin terpikat pada jenis kepercayaan lain, namun hal ini berpotensi membuat orangtua dan keluarga besarnya berang.




Seseorang barangkali akan dianggap pendosa berat jika meninggalkan agamanya untuk kemudian berpindah kepada ‘kubu’ agama lainnya – padahal Undang-Undang Dasar negara kita mengatur kebebasan untuk memeluk kepercayaan. Tapi kebebasan yang seperti apa yang sebenarnya selama ini dijamin negara? Kita tak lebih dari manusia-manusia yang terpenjara pada pilihan keluarga. Undang-undang Dasar buatan negara tak pernah mampu membendung sikap-sikap posesif keluarga besar.

Seseorang pun tak akan lepas dari anggapan mengkhianati tuhannya yang lama, untuk kemudian mencintai tuhan yang baru. Tapi sekali lagi, tuhan pilihan siapa?

Tidak sedikit orang yang saya kenal, setelah dewasa kemudian mencari sendiri apa yang kemudian hendak mereka anut, tapi kebanyakan di antaranya kembali pada kepercayaan yang sama atau kepercayaan yang masih ‘satu kubu’ – dari Katolik menjadi Kristen, misalnya. Namun banyak juga orang-orang yang saya tahu kemudian benar-benar mencintai tuhan lain, setelah perjalanan panjang.

Perjalanan mencari iman adalah perjalanan terpanjang dalam hidup. Tidak ada yang bisa merasakan iman selain diri kita sendiri. Sebagian besar tak pernah berani untuk mulai mencari karena takut membuat orang-orang sekitarnya risau, sebagian lagi memberanikan dirinya walau mungkin riskan dicap kafir atau murtad atau apa saja yang berkenaan dengan itu.

Saya lahir dari seorang ayah non-believer dan kerap menelan ucapan-ucapan buruk mengenai ayah, terutama dari keluarga ibu. Ayah mengajari saya banyak hal, tapi tak pernah menganjurkan, apalagi memaksa saya harus mencintai tuhan yang mana, tuhan yang seperti apa.

Ayah adalah orang yang mengajarkan saya lebih dari yang pernah orang lain berikan. Ayah mengajari saya hal-hal yang tidak diajarkan di bangku sekolah, dan sama seperti anak-anak perempuan lain di luar sana, saya menganggap Ayah sebagai ayah terbaik yang pernah ada. Tapi segala hal baik yang diajarkan Ayah mungkin tidak pernah cukup bagi masyarakat karena Ayah saya memilih untuk tidak mengimani ajaran mana pun dalam mencintai tuhannya.

Ayah saya hanya tidak merasa nyaman memeluk salah satu kepercayaan yang ada. Tapi saya tak pernah diajari untuk percaya atau tak percaya pada agama apa pun, pada tuhan mana pun. Bersama ayah, saya anak perempuan yang merdeka. Mungkin ayah ingin saya mencari tuhan lewat perjalanan panjang, kemudian menemukan sendiri, dan bahagia karenanya. Sebab pencarian yang seperti ini pastilah akan lebih berharga.

Saya kemudian tumbuh menjadi anak perempuan yang bersedih karena mendapati ternyata banyak manusia di dunia ini tak lebih dari sekadar tukang paksa. Seseorang harus mengikuti arus bersama manusia lain untuk bisa dianggap dan tidak dipandang hina, termasuk dalam relasinya dengan tuhan – meski katanya relasi dengan tuhan adalah urusan paling pribadi masing-masing orang.

Saya tumbuh menjadi anak perempuan yang kecewa melihat sikap fanatik orang-orang, sekaligus anak perempuan yang ketakutan bahwa tanpa ayah, nantinya saya terpaksa mengikuti arus yang ada. Saya takut tak lagi merdeka, sebagaimana bersama ayah dulu.

Tapi saya juga tumbuh menjadi anak perempuan yang berbangga hati, sebab memiliki ayah yang tak pernah mendirikan tembok besar antara saya dan tuhan yang ingin saya cari, untuk kemudian nanti saya cintai.

Petronela Putri adalah perempuan yang lebih menyukai petualangan ketimbang buket bunga. Kadang serius, dan kadang juga gila dengan caranya sendiri. Tapi tak mau pernah hidup dengan cara orang lain.