Women Lead Pendidikan Seks
March 18, 2022

‘Turning Red’ Sebagai Metafora Menstruasi yang Tabu

Kritik pada Turning Red tak ramah pada isu menstruasi yang diangkatnya. Kebanyakan, datang dari laki-laki.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
'Turning Red' Sebagai Metafora Menstruasi yang Tabu
Share:

Emosi naik-turun tidak keruan, muncul rasa tertarik pada seseorang, sampai tubuh yang mendadak berubah merupakan tiga hal tentang pubertas yang terangkum di Turning Red. Buat Meilin “Mei-mei” Lee (Rosalie Chiang), perubahan tubuh itu ditandai dengan transformasi yang mengejutkan. Tiba-tiba ia punya ekor panjang, berbulu, berwarna merah. Telinga lancip, berwarna sama, tumbuh di puncak kepalanya.

Mei-mei yang tadinya berwujud manusia, dalam semalam berubah menjadi panda merah raksasa berbulu halus, badan empuk, dan ekspresi wajah yang lucu. Panda merah ini ternyata adalah warisan sekaligus rahasia yang disimpan keluarga Mei-mei. Tapi, jika ditelaah lebih dalam—tak perlu dalam-dalam amat, karena cukup kentara—panda merah ini adalah metafora perubahan perempuan saat pubertas dan menstruasi datang.

Dalam satu adegan, ketika Mei-mei berubah pertama kalinya jadi Panda, Ming (Sandra Oh), ibunya menyangka teriakan panik Mei-mei disebabkan haid yang datang. Dengan segera, Ming mengambil pembalut ukuran beragam, ibuprofen, dan kompres hangat untuk meredakan nyeri perut anaknya.

Adegan tersebut tidak malu-malu menunjukkan haid sebagai bagian dari kehidupan remaja, dan bagaimana orang tua siap serta siaga akan hal itu. Sebuah tontonan segar di tengah sepinya topik menstruasi yang dipotret positif.

Baca juga: Seperti Raskin dan Rumah, Pembalut Pun Seharusnya Bersubsidi

Sayangnya, beberapa penonton dewasa menilai Turning Red tidak pantas ditonton keluarga, apalagi anak-anak. Terutama tentang topik menstruasi yang diangkatnya.

Peter Pischke, dalam ulasannya di The Federalist menyebut, metafora pubertas dan siklus menstruasi di Turning Red terlalu eksplisit. Selain itu, menurutnya Turning Red menyampaikan pesan yang menyinggung bahwa perempuan tidak bisa diharapkan, tidak kompeten, dan menormalisasi kekerasan di rumah dan keluarga. 

Dalam ulasan penonton Rotten Tomatoes, respons yang diperoleh Turning Red memang cukup beragam. Namun, komentar-komentar negatif tentang menstruasi yang hadir di sana juga tak kalah banyak. Salah satu penonton menulis: “Saya tahu film ini berlatar di tahun 2002, tapi ini sangat garing dan menampilkan persoalan menstruasi perempuan di film anak-anak. Padahal Disney bisa membuatnya lebih ramah anak.”

Siapa sangka di tahun 2022 ini, film yang membahas menstruasi bisa jadi sangat kontroversial?

Baca juga: Kamu Menstruasi? Sini Cek Dulu

Menstruasi yang Dianggap Kotor

Turning Red bukan film pertama yang menyentuh isu pubertas, apalagi menstruasi. My Girl (1991), misalnya, mengisahkan Vada (Anna Chlumsky), remaja 12 tahun yang bergumul dengan persahabatan, pacar baru ayahnya, dan menstruasi pertamanya. 

Ia memang tidak secara eksplisit menunjukkan bagaimana Vada meresap informasi tentang haid dari Shelly (Jamie Lee Curtis), kekasih ayahnya. Akan tetapi, ada adegan-adegan Vada yang karakternya mulai berubah sejak haid pertama. Seperti memarahi Thomas J. Sennett (Macaulay Culkin), sahabatnya sendiri. Vada bahkan minta Thomas untuk tidak datang ke rumahnya dalam waktu tujuh sampai sepuluh hari. 

Di Indonesia sendiri ada film garapan Mouly Surya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013) yang menampilkan Diana (Karina Salim) saat mengalami datang bulan untuk kali pertama. Dalam film, Diana digambarkan ‘berlatih’ menggunakan pembalut dan memberitahu ibunya dengan gembira kalau dia sudah menjadi perempuan dewasa. 

Pubertas dan menstruasi jelas bukan sesuatu yang buruk, karena ia bagian alamiah dari proses tumbuh manusia. Tapi, sejarah panjang patriarki dan penindasan perempuan bikin menstruasi distigma ‘menjijikan’. Sayangnya, meski zaman terus berubah dan pengetahuan tentang gender terus berkembang, stigma tentang menstruasi itu masih ada. Sebagiannya muncul dalam kritik dan komentar untuk Turning Red.

Alimatul Qibtiyah, Guru Besar Ilmu Kajian Gender Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan, persepsi menstruasi sebagai najis dan kotor membuatnya semakin tabu dibicarakan. Di agama Islam sendiri, konteks tentang menstruasi yang dianggap kotor terus berkembang. Dulu, perempuan haid yang dilarang beribadah ditafsirkan sebagai alasan menstruasi dianggap kotor. Namun, menurut Alimatul, sekarang ada pula penafsiran yang menganggap larangan perempuan haid karena menstruasi dianggap sebagai kondisi sakit, sehingga diberikan keringan untuk tidak salat.


“Pemahaman itu sangat berbeda dengan haid sebagai sesuatu yang kotor, dijauhkan, direndahkan, dan dilecehkan. Sekarang masih terjadi saat perempuan haid dan bocor malunya minta ampun. Tetapi, jika laki-laki yang berdarah, entah karena jatuh atau memukul, tidak ada malu. Padahal sama-sama darah,” kata Alimatul kepada Magdalene.

Jurnalis AS Gloria Steinem juga pernah berandai-andai jika menstruasi terjadi pada laki-laki, maka ia juga dianggap fenomena maskulin yang akan dibanggakan. “Dunia, secara struktural, pasti juga berubah dan melakukan apa saja untuk melayani kebutuhan menstruasi itu,” tulis Steinem dalam esainya If Men Could Menstruate. “Pembalut dan perlengkapan higienis akan didanai federal dan gratis.”

Baca juga: Sakit Menstruasi Berlebihan dan Pelajaran Menyayangi Diri

Menstruasi dalam Narasi Horor

Narasi tentang menstruasi dalam Turning Red juga patut dapat apresiasi lebih karena dibalut dalam genre komedi. Biasanya, menstruasi dalam film diceritakan lewat tema-tema horor. Salah satu contohnya adalah Ginger Snaps (2000), yang bercerita tentang Ginger Fitzgerald (Katharine Isabelle) yang juga berubah jadi lycanthropy alias serigala jadi-jadian, sebagai metafora menstruasi yang dialami perempuan.

Emosi naik-turun, hasrat seksual yang muncul pada remaja perempuan, dan protes pada represi patriarki diceritakan lewat tema horor. Menurut Isabelle, pengalaman perempuan memang sempurna untuk diangkat jadi cerita horor. 

“Saat pubertas, tubuhmu melawan semua perubahan yang tiba-tiba terjadi, lalu kamu diseksualisasi. Dua hal yang tidak meminta consent-mu. Ginger Snaps menggambarkan kemarahan perempuan atas hal tersebut,” tambah Isabelle pada The Guardian.

Penjelasan Isabelle ini sebetulnya tak keliru-keliru amat. Film-film horor sudah lama bertumpu pada pengalaman perempuan. Bukan cuma soal menstruasi (banyak film yang juga dibikin karena ketakutan perempuan keluar rumah di malam hari, berkenalan dengan orang asing, sampai diperkosa).

Di Indonesia sendiri, menstruasi juga tidak lepas dari kisah horor, yang sebetulnya ikut menambah stigma. Ada mitos tentang perempuan haid yang bisa ‘ketempelan setan’ karena sedang dalam masa ‘tidak suci’, atau anjuran mencuci serta membersihkan pembalut, yang bila tidak dilakukan akan mengundang hantu-penjilat-pembalut-kotor.

Kengerian tentang menstruasi juga disampaikan nenek saya, ketika saya masih berusia 13. 

“Jangan bilang ke siapa-siapa, terutama laki-laki, kalau kamu sudah menstruasi. Mau keluarga atau tidak, kamu bisa diperkosa.” Perkataan itu terngiang lama. Saya tahu nenek ingin saya mawas diri, bukan menakut-nakuti.

Namun, waktu menonton Sansa Stark (Game of Thrones) dengan panik menyobek bekas darah haidnya di sprei, kengerian itu datang lagi. Semacam warning untuk berhati-hati karena menstruasi.

Padahal, seharusnya narasi ini—menstruasi sebagai metafora perasaan horor—sudah harus mulai berubah. Dan Turning Red menjalankan perannya di sana. Caranya membingkai menstruasi sebagai sesuatu yang akhirnya dirangkul Meilin adalah narasi yang kita perlukan.

Merah kan bukan warna yang kotor, tapi berani. Kalau kata Mei-Mei, “My panda, my choice.”

Tabayyun Pasinringi is an avid FanFiction reader who dreams about adopting 16 cats and knitting sweaters for them.