Women Lead Pendidikan Seks
March 24, 2021

Waspada, Kekerasan Emosional Bisa Diam-diam Membunuhmu

Pelaku kekerasan emosional akan membunuhmu dari dalam diam-diam, jadi segera selamatkan dirimu.

by Vania Adiella
Lifestyle
Kekerasan emosional bisa jadi silent killer
Share:

Merasa tidak aman, terintimidasi, takut, dan tidak pernah merasa cukup baik.

Jika perasaan ini menggambarkan dirimu dalam hubungan, kemungkinan kamu sedang mengalami kekerasan emosional.

“Setiap orang menunjukkan cinta dengan cara yang berbeda.” Pernyataan ini mungkin punya andil besar terhadap cara para perempuan menormalisasi perilaku pasangannya, dan hal itu membuat situasi lebih buruk.

Pelaku kekerasan emosional berpikir bahwa mengendalikan kehidupan pasangannya berarti peduli dan mencintai, tetapi ada perbedaan antara peduli dan posesif. Ketika pasanganmu menuntut kamu untuk selalu memberitahu dia di mana kamu berada, apa yang kamu lakukan, dan siapa yang ada bersamamu, mereka telah melewati batasan relasi yang sehat.

Pasangan seperti ini melakukan hal tersebut karena cinta–dia ingin memastikan bahwa kamu adalah miliknya, dialah satu-satunya prioritasmu, dan semua perhatianmu tertuju padanya. Yang lainnya tidak penting. Semakin lama kamu membiarkannya melakukan hal tersebut, akan semakin buruk perilakunya di kemudian hari. Kamu tidak akan punya waktu untuk keluarga, teman, bahkan untuk dirimu sendiri. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan mengerti dan menghormati ruangmu sebagai seorang individu.

Pelaku kekerasan emosional perlahan akan membunuhmu dari dalam. Kamu mungkin masih bernapas, tetapi pasanganmu akan menciptakan neraka bagimu.

Kesehatan mentalmu sama pentingnya dengan kesehatan fisikmu. Meskipun luka karena kekerasan emosional tidak dapat dilihat dari penampilan fisikmu, mentalmu sebenarnya berdarah-darah.

Saya memiliki seorang teman perempuan yang telah menjalin hubungan selama enam tahun dengan mantan pacarnya. Sepanjang hubungan mereka, mantannya selalu dipenuhi dengan rasa curiga, menuduhnya selingkuh, meski sang mantanlah yang ternyata selingkuh.

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran Fenomena Sunyi di Indonesia

Sang mantan berubah-ubah sepanjang waktu. Suatu hari, dia bisa menjadi manis, tapi keesokan harinya dia terlihat sangat marah. Dia memaksa teman saya ini untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan teman saya, dan memintanya untuk membelikannya barang-barang yang dia inginkan. Dia memantau semua yang teman saya lakukan di semua platform media sosial. Beberapa kali teman saya mencoba berbicara dengan mantannya itu, seperti memintanya untuk bersikap lebih sopan, namun sang mantan justru menudingnya terlalu mengontrol.

"Dia hampir membunuhku," kata teman saya. Mantannya pernah mengancam akan membunuh dia dan keluarganya setidaknya tiga kali.

Teman saya menghabiskan seluruh kehidupan SMA-nya dengan kecemasan yang ekstrem dan depresi. Depresi tersebut hampir membuat dia ingin mengakhiri hidupnya.

“Aku pergi ke dokter beberapa kali karena rasa sakit di perutku tidak kunjung hilang. Terakhir kali berkonsultasi, dokter menyuruhku pergi ke psikiater karena tidak ada masalah apa-apa di perut saya. Apa yang aku rasakan itu lebih mungkin disebabkan oleh depresi,” ujarnya.

“Semua teman mengatakan bahwa aku  pantas mendapatkan lebih dari hubunganku ini. Aku buta waktu itu dan tidak bisa menangkap apa yang mereka khawatirkan. Tapi aku diam-diam bersyukur karena mereka masih memperhatikanku.”

Sungguh menyakitkan ketika orang yang kamu cintai ternyata adalah orang yang menyakitimu. Menunggu dia berubah berarti membiarkan dia mengendalikan hidupmu. Kata-katanya yang menyakitkan, perilakunya, dan sikapnya yang tidak konsisten akan membuatmu gila.

Kisah teman saya ini membuat saya berpikir tentang betapa seriusnya masalah kekerasan emosional dan fakta bahwa kebanyakan orang tidak menganggapnya sebagai perkara besar. Saya melakukan survei online kecil dan menemukan bahwa 75 persen perempuan mengatakan bahwa alasan utama mereka bertahan dalam hubungan yang tidak sehat adalah rasa cinta kepada pasangannya.

Baca juga: Aku Berhasil Memutus Rantai Kekerasan dalam Pacaran

Sungguh menyakitkan ketika orang yang kamu cintai ternyata adalah orang yang menyakitimu. Menunggu dia berubah berarti membiarkan dia mengendalikan hidupmu. Kata-katanya yang menyakitkan, perilakunya, dan ketidakkonsistenan sikapnya akan membuatmu gila dan penganiayaannya akan menyedot hidupmu.

Jika kamu pernah merasa bingung apa yang salah dari tindakanmu sampai pasanganmu memperlakukanmu begitu buruk, itu bukan salahmu. Yang salah adalah dia, tetapi bukan tugasmu untuk menyembuhkannya. Jangan meragukan dirimu sendiri dan kewarasanmu, karena sebenarnya dia sedang mempermainkan pikiranmu. Jangan sampai terjebak.

Bertanggung jawablah atas hidupmu sendiri dan jangan biarkan pasangan menghentikanmu untuk mencapai tujuanmu. Mulailah melakukan hal-hal yang kamu sukai dan hormati dirimu sendiri. Yang terpenting: Sadari tanda-tanda relasi tidak sehat saat berhubungan dengan seseorang, dan selamatkan dirimu dari “si pembunuh diam-diam” ini. Selamatkan hidupmu karena cinta seharusnya tidak menyakiti.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Vania Adiella adalah mahasiswi dari LSPR Jakarta, model komersial paruh waktu dan akan segera menjadi aktris. Dia sangat bersemangat dalam memberdayakan perempuan di sekitarnya melalui semua hal yang dia kerjakan, salah satunya adalah kampanye Instagram: @standup_ladies.