Women Lead Pendidikan Seks
July 09, 2021

5 Tanda Pacar ‘Clingy’ dan Cara Menghadapinya

Punya pacar clingy atau terlalu melekat adalah salah satu tanda kamu berada di relasi toksik. Berikut tips mengatasinya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Bisa berdekatan dengan pacar di berbagai kesempatan relatif jadi idaman banyak orang. Namun, bila hal ini dilakukan pacarmu terus menerus tanpa lihat kondisi dan mengabaikan privasimu, bisa-bisa kamu sendiri yang rugi. 

Idealnya, meskipun kita sudah memiliki pacar, kita tetap bisa memiliki waktu untuk sendiri atau mengerjakan hal-hal tertentu bersama orang lain tanpa kehadirannya sepanjang waktu. Pun, saat kita sedang tidak bersamanya, bukan berarti wajar-wajar saja jika dia membombardir kita dengan pesan teks atau panggilan telepon dan video, seakan-akan kita “tahanan” yang mesti berada di bawah pengawasannya 24 jam. Risi juga kan, kalau kita sedang quality time bareng keluarga, lalu di-Whatsapp setiap jam sekali, atau saat kita sedang hang out sama teman, dia minta ikutan?

Memang sih, pada masa-masa awal pacaran, dunia serasa milik berdua dan orang lainnya sekadar “ngontrak”. Kata-kata “aku milikmu, kau milikku” terdengar begitu indah, walau sebenarnya enggak sehat juga kalau dipikir-pikir. Memangnya kamu dan pacarmu itu properti sampai mesti dimiliki? 

Alasan Pacar Menjadi Clingy

Pacar yang doyan nempel terus dengan kita ini disebut juga pacar clingy atau needy. Menurut Susan Krauss Whitborne, profesor emerita Ilmu Psikologi dan Otak dari University of Massachussets Amherst, dalam tulisannya di Psychology Today, kondisi pacar clingy tidak lepas dari bagaimana ia berelasi semasa kanak-kanak dengan orang tuanya. Mereka yang punya relasi baik dengan orang tuanya cenderung masuk kategori “kelekatan yang aman” saat mereka berpisah dengan orang tersayang. Sedangkan yang tidak, cenderung menjadi insecure. Manifestasi rasa insecure ini salah satunya adalah menjadi cemas berlebihan hingga akhirnya bersikap sangat bergantung pada pasangannya.  

Sementara menurut sex therapist Vanessa Marin dalam artikel di Bustle, rasa insecure ini bisa juga datang dari pengalaman masa lalu (tidak mesti dengan orang tua) di mana orang lain mengambil keuntungan semata dari mereka atau merusak kepercayaannya. Karena itulah, pacar clingy akan cenderung bolak-balik mengontak kita, barangkali hanya untuk memastikan kita tidak selingkuh atau melupakannya.

Ada lagi pendapat Amir Levine, psikiater dan ahli saraf dari Columbia University yang dimuat LiveScience. Ia mengatakan, sikap clingy itu berhubungan dengan sejarah manusia. 

“Di masa prasejarah, mereka yang pergi sendirian sering berakhir jadi mangsa, sehingga selalu memiliki pasangan untuk menjaganya dan memperingatkannya saat bahaya datang menjadi suatu hal menguntungkan,” kata Levine. 

Tanda-tanda Pacar Clingy

Nah, seperti apa sih, tanda-tanda pacar clingy lainnya yang mesti diwaspadai? Berikut lima di antaranya yang kami rangkum.

  1. Lupa batasan

Dalam relasi dengan pacar clingy, kita cenderung lupa batasan di mana pacar tidak seharusnya mendesak masuk ke seluruh aspek hidup kita, bahkan sampai memengaruhi kita dalam mengambil keputusan. Enggak jarang, pacar clingy memainkan “kartu korban” yang membuatmu merasa bersalah kalau kamu enggak memenuhi keinginannya untuk terus berada di dekatmu.

Sebaliknya, dia cenderung ikut melulu apa yang kita lakukan atau inginkan. Kamu maunya apa, ia pasti setuju juga selama dia bisa memastikan dirinya dekat denganmu terus. 

  • Minta kepastian melulu

Tanda pacar clingy lainnya adalah seringnya ia meminta kepastian atau buru-buru ingin menjadi intim denganmu. Baru sehari jadian sudah mau diperkenalkan ke orang tuanya, atau dalam hitungan minggu dia sudah melamarmu? Bisa jadi tanda-tanda dia clingy, nih. 

Sikap mereka ini disebabkan rendahnya penilaian diri mereka, sehingga ketika ada bersama orang yang mau jadi pacarnya, ia merasa begitu nyaman dan takut sekali kalau-kalau akan ditinggalkan kemudian hari. 

Whitborne menulis, dalam keadaan stres, orang yang clingy akan menjadi bergantung sekali secara emosional, bahkan terobsesi dengan pasangannya. Ketika relasinya yang dipenuhi kecemasan dalam dirinya berakhir, imbuhnya, orang clingy akan buru-buru mencari gantinya demi mengisi posisi kosong dalam hidupnya. Akhirnya, terulang lagi deh, siklus hubungan enggak sehat ini.

  • Gampang cemburu pada orang lain

Jangankan pacar, teman yang baik saja idealnya ikut senang ketika kita merasa senang, bukan? Apalagi jika ia mendukung penuh saat kita berhasil meraih sesuatu yang membanggakan. Namun, enggak begitu dengan pacar clingy. Ia akan mudah cemburu saat kamu bersama orang lain dan merasa senang, entah itu laki-laki/perempuan lain atau sekadar teman kantor. Pun, ia juga cemburu ketika kamu berhasil mendapat promosi dan dipindahkan ke bagian dengan load kerja lebih banyak. Akibatnya, pergaulan dan kesempatanmu jadi kian terbatas, deh.

Akan ada saja alasan pacar clingy untuk menghalangimu menghabiskan waktu berdua atau bahkan hanya texting orang yang dianggapnya memberimu kesenangan. Seiring dengan itu, perasaan “apa yang kurang dari aku sih, sampai kamu kelihatan lebih senang bareng dia?” dalam diri orang clingy akan membengkak dan ujungnya bisa menciptakan konflik dalam relasinya sendiri. 

  • Banjir foto kemesraan di media sosial

Seolah tidak cukup hanya kalian dan orang terdekat yang tahu, kamu berpacaran dengannya, pacar clingy akan menggembar-gemborkan hubungan kalian berdua. Tidak hanya kepada keluarga atau sahabatnya, tetapi juga ke seluruh pengikutnya di media sosial. Status relasimu pun jadi ibarat label merek yang terjahit pada baju dan mati-matian tidak mau dilepaskannya. 

Sesekali mengunggah momen berdua sih masih oke-oke saja, ya. Namun, kalau setiap hari dia posting foto berduaan dengan menge-tag kamu di feed atau story Instagram, kan lama-lama mengganggu juga. Tidak hanya kamu lho, yang bisa merasa terganggu, tetapi juga pengikut media sosialmu dan si dia yang “enek” mendapati pamer kemesraan kalian berdua. 

Persoalan public display of affection (PDA) ini memang banyak pro-kontranya, sih. Ada yang merasa baik-baik saja selama mutualan dalam memamerkan kemesraan alias dianggap bucin, ada yang diam-diam enggak suka, tapi enggak mau bilang ke pacarnya yang suka nge-tag itu karena enggak enakan. 

  • Kelewat sensitif tentang berbagai hal dan lebay dalam bereaksi

Namanya pacaran, pasti akan ada momen bertengkarnya, dong. Bila orang-orang dalam relasi sehat akan menyikapinya dengan menjernihkan kepala dan mencari solusi terbaik bagi kedua pihak, tidak demikian halnya dengan orang yang clingy. Segala macam konflik--yang sebenarnya dalam batas wajar--akan dianggapnya sebagai petaka besar. Kemudian, alih-alih mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada, ia akan merasa segala hal berpusat atau akibat sikapnya sendiri.

Saat terjebak konflik, orang-orang clingy juga bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat. Yang pasti tujuannya hanya satu: memastikan kamu tidak meninggalkannya. Seiring dengan sikapnya ini, kamu akan selalu merasa terjebak dan tidak lagi menikmati berpacaran dengannya.

Cara Menghadapi Pacar Clingy

Saat tanda-tanda ini muncul, apa sih yang bisa kita lakukan? 

Pertama, kamu harus berani jujur kepada pacarmu yang clingy, tidak setiap tindakannya membuatmu senang. Diikuti atau dipantau terus adalah hal yang mengganggu sekalipun kalian berstatus pacaran. Ingatkan kepadanya, batasan privasi itu masih ada dan perlu untuk menjalin hubungan yang sehat. Nah, dalam menyampaikan keluhan ketidaknyamanan ini, hati-hati dalam cara penyampaian, ya. Soalnya, cara komunikasi yang buruk malah ujungnya mendatangkan konflik dan membuatmu kerepotan.

Kedua, “bedah” sumber masalah yang membuat pacarmu menjadi clingy. Ini tentu saja enggak gampang. Melihat kembali masa lalu dan membicarakannya berdua denganmu akan memunculkan lagi rasa sakit yang lama ia pendam. Namun, selama akar masalah tidak ditangani, perilaku dependennya akan semakin menjadi-jadi dan membuat kamu enggak nyaman berpacaran dengan dia lagi. Kalau perlu, sarankan dan temani ia datang ke psikolog atau psikiater untuk membicarakan keadaannya. 

Ketiga, setelah memahami pacar yang clingy punya masalah, jangan bosan untuk mengingatkannya setiap “gejala-gejalanya” muncul ke permukaan. Kesabaran jelas dibutuhkan di sini. Jika dia tetap tak berubah, jangan berpikir terlalu lama lagi untuk menyetop relasimu karena kamu pantas sendiri atau berada di relasi lain yang lebih sehat.

Artikel ini adalah bagian dari seri Magdalene Problem Cinta dan Relasi (Madge PCR), konten-konten yang membahas tentang kehidupan relasi cinta remaja dan dewasa muda. Madge PCR akan tayang tiap Jumat.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop