Women Lead Pendidikan Seks
December 08, 2021

6 Inisiatif Kelompok Disabilitas, Bukti Mereka Juga Berdaya

Terdapat berbagai inovasi dan inisiatif yang dilakukan dari teman-teman disabilitas atau able-bodied.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Issues
Share:

Dalam Bisik Kamis Magdalene bertajuk Kerjabilitas: Dukung Penyandang Disabilitas Berkarya (25/11), Tety Sianipar, co-founder Kerjadibilitas menyayangkan stigma terhadap kelompok disabilitas yang masih langgeng. Stigma yang berangkat dari rasa belas kasihan atau charity-based ini umumnya berupa anggapan bahwa kelompok disabilitas berbeda dan “aneh”.

“Jangan kaget ketika disabilitas akan dipandang aneh, padahal sebenarnya tidak ada yang berbeda dari mereka. Pandangan ini harus diubah,” tutur Tety.

Baca Juga:  Penyandang Disabilitas Rawan Tak Bisa Kembali Sekolah Karena Pandemi

Agar kelompok disabilitas tak terasing dari masyarakat, Tety menyarankan agar mereka punya akses dan komunikasi yang cukup. Pemberian akses ini salah satunya bisa diejawantahkan lewat inovasi dan inisiatif kolektif agar mereka merasa diterima dan punya agensi penuh, alih-alih mengasihani mereka.

Berikut enam inisiatif yang muncul dari dan atau untuk kelompok disabilitas:

  1.  Penggunaan Kapital (T) pada Tuli dan Tunanetra untuk Buta

Inisiasi pertama adalah mempromosikan penulisan kata “Tuli” dengan (T) kapital. Menurut kelompok Tuli, ada perbedaan Tuli yang ditulis menggunakan huruf (T) kecil dengan Tuli yang ditulis besar.

"Huruf t kecil direpresentasikan sebagai orang yang mengalami keterbatasan pendengaran, sedangkan huruf T kapital adalah cara berkomunikasi," ujar Koordinator Media Sasana Inklusi dan Advokasi Difabel atau SIGAB, M. Ismail, dilansir dari Tempo.

Lebih lanjut, dalam website Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) dijelaskan, penulisan Tuli dengan Huruf kapital (T) menunjukkan kelompok ini mempunyai identitas, bahasa, dan budayanya tersendiri.

Sementara, terminologi tunarungu dianggap sebagai keharusan untuk mengoptimalkan kemampuan pendengarannya dengan berbagai cara agar menyerupai orang-orang dengar. Dengan demikian, inisiasi menggunakan Huruf kapital (T) dalam Tuli memperlihatkan adanya pengambilalihan narasi dengan menekankan orang Tuli pada kenyataannya tidak berbeda dengan teman dengar dan sama-sama memiliki agensi diri.

 Baca Juga: Ribut-ribut Risma: Memihak Disabilitas Mulai dari Pemaksaan ‘Normal’

  1.   Busana Adaptif

Kebutuhan akan busana memang sangat penting, tapi kelompok disabilitas punya pilihan minim dalam berbusana. Pasalnya, busana yang kita temui diproduksi untuk orang-orang able-bodied atau non-disabilitas. Di sinilah inovasi busana adaptif jadi berguna bagi mereka.

Busana adaptif adalah pakaian yang didesain didesain berdasarkan kemampuan dan kebutuhan penyandang disabilitas. Busana ini tidak hanya untuk tunadaksa, melainkan penderita alzheimer’s, edema, parkinson’s, inkontinensia, artritis, serta gangguan pencernaan, penyakit usus, ataupun lansia yang kesulitan berpakaian karena faktor kesehatan.

Bentuk busana adaptif beragam, mulai dari pergantian kancing kemeja dengan magnet, resleting baju dan celana yang terletak di bagian samping dan belakang, hingga panjang celana di bagian depan yang lebih pendek.

Desainer Mindy Scheier, pendiri Runway of Dreams, organisasi nirlaba untuk mempromosikan dan mendukung desain pakaian inklusif dalam The Guardian berujar, pengenalan busana ini menjadi salah satu cara mengubah mindset bahwa semua orang sempurna, dan harus diperlakukan setara.

 Baca Juga:   Penyandang Disabilitas Luput dari Mitigasi COVID-19

  1.   Platform Kerja untuk Disabilitas

Selama ini lowongan kerja di bidang formal masih belum berperspektif inklusif, kata Tety Sianipar. Ia mengatakan, disabilitas mayoritas bekerja di bidang non-formal dibandingkan formal. Sebenarnya tidak menjadi masalah jika mereka memang ingin bekerja di bidang non-formal, namun sayangnya bekerja di bidang non-formal menjadi satu-satu pilihan bagi banyak teman-teman disabilitas ketika di satu sisi orang-orang able-bodied bebas memilih lowongan pekerjaan yang mereka inginkan.

Hal inilah yang mendorong Tety Sianipar mendirikan Kerjabilitas, sistem informasi berbasis piranti lunak, baik website dan seluler. Sedianya itu bakal menjadi penghubung antara kelompok disabilitas pencari kerja dan para penyedia kerja.

Tety mengungkapkan, para penyedia kerja ini tidak hanya berasal dari perusahaan-perusahaan besar multinasional, namun juga berasal dari UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dengan sistem informasi ini, kelompok disabilitas bisa menempatkan profil mereka sebagai pencari kerja dan mengakses informasi tentang kesempatan kerja yang tersedia untuk mereka dan sesuai dengan minat mereka.

Di kerjabilitas.com, selain memuat informasi pekerjaan, juga berisi forum komunikasi dan menampung berbagai konten baik visual, audio, dan video, tentang kecakapan hidup (life skill), dan pengembangan diri.  

  1.   Audiobooks

Bagi teman-teman Tunanetra, audiobooks memudahkan mereka dalam mendapatkan akses ilmu pengetahuan yang tidak bisa diakses dalam huruf Braille. Dapat diakses kapan saja dan di mana saja menjadi keunggulan inisiatif tersebut.

Dilansir dari PBS Newshour, pada 1932 melalui pendirian studio rekaman oleh The American Foundation for the Blind, mereka membuat rekaman buku-buku di piringan hitam. Masing-masing pihak melangsungkan pidato sekitar 15 menit. Tahun berikutnya, Kongres meloloskan amandemen yang memungkinkan Perpustakaan Kongres untuk mulai memproduksi audiobooks.

Hal ini pun mendorong banyak perusahaan rekaman perlahan-lahan muncul, sebagian besar untuk membantu Tunanetra. Pada 1955, Listening Library (penerbit audiobooks terbesar di dunia yang didedikasikan untuk sastra anak-anak dan dewasa muda) menjadi distributor utama untuk buku-buku rekaman.

Teknologi baru mendorong pertumbuhan audiobooks dengan kaset pada 1960-an dan compact disc pada 1980-an. Pada 1994, istilah " audiobooks " pun akhirnya menjadi standar industri. Setahun kemudian, Audible memungkinkan untuk mengunduh buku ke komputer desktop.

Daya penyimpanan berkembang dari hanya berdurasi 15 menit  per sisi pada vinil pada 1930-an, menjadi dua jam dengan pemutar audio Audible Amazon pada 2007 menjadi ratusan jam konten yang rata-rata dapat disimpan oleh smartphone saat ini. Sekarang, semua jenis orang menikmati kenyamanan dan kemudahan audiobooks.

  1.   Portal Berita Disabilitas

Tidak bisa dipungkiri, media arus utama berperan dalam melanggengkan stigma atau stereotip negatif bagi para teman-teman disabilitas. Liputan yang bias dan tidak mengedepankan suara mereka masih sering kita temui di media-media arus utama di Indonesia. Hal inilah yang disampaikan oleh Teunku Muslim, fotografer Tunadaksa dalam wawancaranya bersama BBC Indonesia.

"Selama ini masih sedikit media cetak, elektronik, online yang benar-benar mengangkat masalah difabel. Mereka tidak tahu tapi sok tahu. Itu menurut saya,” ucapnya.

Inilah mengapa Newsdifabel menjadi sebuah angin segar bagi para teman-teman disabilitas. Newsdifabel sendiri media yang dikelola langsung kelompok disabilitas, baik disabilitas netra, daksa, maupun rungu. Media daring ini didirikan 11 Agustus 2018 dengan tagline "menyuarakan fakta, aktual, dan seimbang." Melalui tagline ini, Newsdifabel diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat tentang disabilitas yang telah dilanggengkan media massa bahwa mereka ada sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki agensi diri.

  1.   Aplikasi Belajar untuk Anak Disabilitas

Selama pandemi berlangsung, semua proses pembelajaran diarahkan pada pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring. Namun, sayangnya sistem pembelajaran ini masih sulit diakses, khususnya bagi para murid disabilitas. Berangkat dari permasalahan ini, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sebuah aplikasi Claster of Education (CLON) untuk membantu para murid disabilitas dalam melaksanakan proses pembelajaran daring.

Aplikasi ini dibuat oleh Hafizh Muhammad Rozaan, Rifqi Nadhif Arrafid, Galih Syifa’ul Ummah, Cahyo Aji Roliono, dan Yohanes Jose Ariawan. 

Itu memiliki empat fitur utama yang berguna untuk keperluan pembelajaran murid disabilitas, yaitu Learning Journey, Quiz, Pengembangan Diri, dan Social Experience.

Aplikasi yang dibuat enam mahasiswa ini sukses menyabet Medali Emas dalam ajang Internasional Online Competition Inventions vs Corona yang diselenggarakan International Federation of Inventors’ Association (IFIA) karena menjadi aplikasi dengan dengan konsep pembelajaran bagi penderita ASD (Autism spectrum disorder) yang diklaim belum pernah ada sebelumnya. CLON menerapkan machine learning dalam sistemnya yang akan mengklasifikasikan tingkat kecerdasan siswa berdasar hasil uji pada empat fitur utama ke dalam database.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.