Women Lead Pendidikan Seks
August 14, 2018

Apa yang Akan Terjadi Saat Perempuan Tegarkan Diri

Dari melihat pengalaman hubungan asmara teman-temannya yang tidak sehat, lahir ide gerakan Perampuan Tagar Tegar.

by Elizabeth Raisa Tee
Issues // Politics and Society
Share:
“Wah, Sa, seharusnya gue telepon elo ya,” kata sahabat perempuan saya beberapa hari lalu.

Mendengar curhat-nya tentang keburukan pacarnya, yang sekarang telah menjadi mantan, dan melihatnya kaget karena ia bisa menelepon saya untuk berbicara, saya bingung dan geram sekali. Kenapa perempuan masih saja bisa dibodohi pacarnya?

“Ya jelaslah, lo bisa banget telepon gue!” jawab saya dengan heran dan sedih.

“Karena gue pikir yang gue alami ini normal, kirain enggak aneh gitu,” lanjutnya.

Saat bertemu pada makan siang April lalu, ia memberi berbagai alasan dan permohonan maaf karena telah menghilang dari peredaran pertemanan. Ceritanya kemudian mengalir soal mantannya. Bagaimana laki-laki itu memanipulasinya, memunculkan mimpi-mimpi buruk hampir setiap hari, yang membuat saya betul-betul geram mendengarnya. Dan ketika teman saya mengira bahwa itu “biasa dalam pacaran”, barulah saya sadar betapa banyak perempuan yang dibodohi dan dibutakan oleh “kasih sayang” atau “cinta” yang dipermainkan. Teman saya itu adalah orang ketiga yang curhat tentang pasangan mereka sejak awal tahun ini.




#KamuTidakSendiri dan Ide Kampanye #TimeToSayBadBye

Ide mengenai gerakan Perempuan Tagar Tegar (P#T) muncul setelah cerita pertama tentang pengalaman buruk teman saya dengan pacarnya.

Dengan lugas saya mengatakan, “Perlu deh kayanya gerakan ini, setidaknya semacam motivasi atau sosialisasi lewat medsos. Cewek-cewek dalam urusan seperti ini kok mau aja dibegoin. Gue juga enggak sangka elo yang lebih tua dari gue aja masih enggak ada logikanya untuk menyadari dan tegar untuk ninggalin dia.”

“Eh ya, that’s a good idea, we should make it!” katanya antusias. Padahal dirinya pun salah satu “korban” dari hubungan-hubungan toxic yang saya ingin “selamatkan”.

P#T merupakan gerakan dan tempat bercerita teman-teman perempuan kami agar bisa sadar dan segera meninggalkan pacarnya yang telah menyalahgunakan hubungan secara lisan, verbal, fisik, dan hilangnya rasa hormat kepada pacar perempuannya yang kita, sesama perempuan, sayangi.

Pada Hari Kartini saya mulai menyebarluaskan keberadaan P#T sebagai hari simbolis “ulang tahun” untuk para Perempuan. Di bulan Kemerdekaan ini, kami meluncurkan gerakan sosial ini sebagai makna simbolis yang kedua. Sejak Juni lalu, kami telah memuat cerita-cerita dimuat dari teman-teman saya, dan termasuk saya sendiri.

Kami bukan malaikat ataupun Wonder Woman, kami hanya perempuan biasa dengan kisah nyata. Lewat cerita-cerita pribadi, kami ingin membantu perempuan bahwa #KamuTidakSendiri. Karena pada intinya, butuh seseorang yang kamu bisa percayai agar tidak dihakimi ketika sedang curhat.

Kampanye ini tidak akan menarik jika tidak ada tagar yang seru. Karena saya penggemar musik dan seorang copywriter, saya menggabungkan ide lirik-lirik lagu lalu diubah sesuai dengan makna gerakan yang akan diusungkan.

Pada kampanye pertama kami, kami gunakan #TimeToSayBadBye dari lagu “Time To Say Goodbye” yang dramatis itu. Idenya adalah, kenapa harus kami mengatakan perpisahan yang baik (goodbye) ketika ia tidak berhak mendapatkan itu?
Tanpa ba-bi-bu, silakan mengatakan “badbye, boy, you don’t deserve the best of me”.

Kami yakin banyak sekali perempuan-perempuan yang ingin curhat dan dibantu untuk SADAR – CURHAT – PROSES – TEGAR – TINGGAL.

Kami bukan dokter, tapi kami mengeri rasa sakit hatimu dibanding yang lain karena kami perempuan, dan kami persis pernah di posisimu.

Apa yang betul-betul terjadi ketika perempuan siap menegarkan diri

Let me know ya Sa, if I can help anything with P#T,” kata teman ketiga saya. Sekarang, frekuensi pertemuan saya dengannya semakin sering dan semakin menguatkan. Saya sangat bangga dengan teman saya yang sudah dapat TEGAR dan TINGGAL, walau PROSES-nya masih tetap berjalan untuk self-healing.

Kami sering memberi kata-kata semangat dan tautan-tautan berisi renungan tentang kepribadian dan kekecewaan yang mendalam, dan bagaimana cara ia bisa mengatasinya. Dengan keterbukaan hatinya, ia dapat memulihkan dirinya – cukup mulai  dengan sekedar CURHAT.

Saya mendorong teman saya untuk menulis kisahnya di bulan Merdeka ini. Dengan nama #PTTMerdeka18, setiap tahun kami ingin ada Self-Liberated Stories of the Year. Ternyata ia bersemangat. Sepertinya proses TEGARnya telah berubah untuk membantu yang lain dengan membagi cerita untuk dibagikan kepada orang lain.

Kamu juga bisa membantu menjadi tenaga sukarela, untuk memberi bantuan yang bijak dan netral kepada sesama perempuan dengan masalah hubungan pacarannya. Silakan menghubungi kami.

Intinya, lewat gerakan ini, kami ingin berkata: Saya tahu. Kami tahu. We’re happy to be here for you.

Elizabeth Raisa Tee adalah pendiri Perempuan Tagar Tegar (P#T), sebuah gerakan nirlaba dan hotline daring untuk perempuan yang menghadapi isu hubungan ‘toxic’. Ia saat ini bekerja sebagai asisten produser untuk It’s A Girl Thing Live, konferensi internasional pertama untuk pemberdayaan anak dan remaja perempuan di Jakarta, setelah berlangsung di Singapura dan Manila. Raisa juga melakukan banyak hal lain dan berlari-lari di antara beberapa kota dan negara. Usianya pada saat menulis artikel ini adalah 25 tahun.