Women Lead Pendidikan Seks
July 14, 2021

Bagaimana Humor Pengaruhi Hubungan Asmaramu

Cara kamu melontarkan humor dan perbedaan jenis kelamin ternyata berpengaruh terhadap kualitas hubungan asmara yang kamu jalani.

by Gil Greengross
Lifestyle
Share:

Selera humor ternyata mengambil andil dalam hubungan romantis seseorang. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri berdasarkan sejumlah riset yang menyatakan bahwa saat Anda lucu, Anda cenderung lebih diinginkan sebagai pasangan, terlebih bila Anda laki-laki. 

Ketika masa-masa tebar pesona berakhir, dan Anda kemudian menjalani sebuah hubungan, timbul pertanyaan: Seberapa besar sih, peran yang dimainkan humor dalam hubungan Anda?

Untuk pasangan yang berkencan, penggunaan humor yang positif (misalnya menggunakan humor untuk menghibur kencan Anda) dapat berkontribusi positif terhadap kepuasan hubungan. Namun, penggunaan humor agresif (menggoda dan mengolok-olok pasangan Anda) memiliki efek sebaliknya. Perasaan ini dapat naik turun setiap hari tergantung pada penggunaan humor masing-masing pasangan.

Untuk hubungan jangka panjang seperti dalam pernikahan, pasangan umumnya memiliki selera humor yang sama meski selera humor yang sama tidak berkaitan dengan kepuasan pernikahan, ataupun dengan usia pernikahan yang lebih lama. Mungkin tidak mengherankan, penelitian ini juga menemukan bahwa pasangan yang memiliki lebih sedikit anak tertawa lebih sering, dibandingkan dengan pasangan dengan jumlah anak yang lebih banyak.

Baca juga: Komika Ali Wong Angkat Isu Tabu Perempuan

Dalam sebuah riset lain yang meneliti 3.000 pasangan menikah dari lima negara, baik suami dan istrinya merasa lebih bahagia dengan pasangan yang humoris, tetapi kondisi ini dianggap lebih penting untuk mewujudkan kepuasan pernikahan dari sisi istri dibanding para suami. Yang menarik, baik suami maupun istri berpikir bahwa para suami sering kali lebih lucu. Terlepas dari itu, pasangan yang sudah menikah mengakui bahwa humor memiliki dampak positif pada pernikahan mereka.

Resolusi Konflik

Namun, apa peran humor ketika sebuah hubungan sedang bermasalah? Humor adalah pencair suasana dan pelumas sosial yang baik, tetapi dapatkah humor juga membantu menyelesaikan konflik dalam pernikahan? 

Dalam satu studi, peneliti mengamati 60 pasangan baru menikah ketika mereka mendiskusikan masalah dalam pernikahan mereka. Mereka mencatat seberapa banyak humor digunakan dalam percakapan mereka. Pasangan-pasangan itu juga menyelesaikan tes yang mengukur tingkat stres. 

Ketika peneliti melakukan riset lanjutan 18 bulan kemudian, hasilnya cukup mengejutkan. Temuan menarik ditunjukkan oleh pasangan yang melaporkan tingkat stres tinggi. Ketika semakin banyak suami yang menggunakan humor, maka semakin besar kemungkinan pasangan itu akan berpisah atau bercerai.

Sebaliknya, dalam penelitian serupa dengan 130 pasangan yang sudah menikah, penggunaan humor oleh para istri akan menentukan kestabilan pernikahan selama 6 tahun, tetapi hanya jika humor menyebabkan penurunan denyut jantung suami mereka. Dengan kata lain, jika humor menenangkan suami, maka itu mungkin akan menyelamatkan pernikahan mereka.

Baca juga: Membaca Tren Pemakaian Humor dalam Poster Demonstrasi Mahasiswa

Kedua studi ini menunjukkan fungsi humor yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki, humor bisa berfungsi sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah dalam hubungan, mungkin dalam upaya untuk mengurangi kegelisahan mereka sendiri. Di sisi lain, perempuan dapat menggunakan humor untuk menciptakan suasana yang lebih santai yang dapat memfasilitasi rekonsiliasi.

Menertawakan Dirimu, Bukan Denganmu

Dalam beberapa tahun terakhir, sudah ada banyak penelitian tentang topik gelotophobia (ketakutan ditertawakan), gelotophilia (perasaan senang jika ditertawakan), dan katagelasticism (perasaan senang ketika menertawakan orang lain). 

Satu penelitian dengan sampel 154 pasangan muda heteroseksual, yang telah bersama rata-rata enam tahun, menyelidiki apakah salah satu karakteristik di atas berpengaruh pada kepuasan hubungan. Anda mungkin berharap bahwa seseorang yang suka ditertawakan akan cocok dengan pasangan yang suka menertawakan orang lain, dan ini memang yang ditemukan para peneliti, meskipun hubungan korelasi yang ada tidak terlalu kuat. Secara keseluruhan, pasangan dalam hubungan romantis cenderung memiliki preferensi yang sama–mereka berdua suka ditertawakan atau menertawakan orang lain pada tingkat yang sama.

Melihat kepuasan hubungan, orang yang mendapat skor tinggi pada gelotophobia melaporkan kepuasan terendah dalam hubungan mereka, merasa kurang menarik secara fisik, dan kurang puas secara seksual, dibandingkan dengan gelotophobia rendah. Ini masuk akal, karena ketika seseorang berada dalam hubungan intim, mereka membutuhkan keterbukaan dan di satu sisi mereka juga menjadi lebih rentan, sesuatu yang mungkin dirasakan tidak nyaman bagi orang yang takut dihakimi dan ditertawakan.

Temuan yang menarik adalah bahwa untuk laki-laki, memiliki pasangan yang memiliki gelotophobia mengurangi kepuasan seksual mereka sendiri dalam hubungan, mungkin karena rendahnya kepercayaan diri pasangan mereka membuat mereka kurang menarik. 

Sebaliknya, perempuan yang suka ditertawakan (gelotophilians) lebih menarik dan menikmati kepuasan seksual yang lebih tinggi dengan pasangannya. Efek semacam ini tidak ditemukan pada laki-laki. Yang juga menarik adalah temuan bahwa perasaan bahagia ketika menertawakan orang lain tidak berhubungan dengan kepuasan hubungan.

Humor dan Seks

Melihat lebih dalam masalah kepuasan seksual, perempuan tampaknya memiliki keunggulan. Perempuan yang memiliki pasangan yang lucu, menikmati orgasme yang lebih sering dan kuat dibandingkan dengan perempuan yang memiliki pasangan yang kurang lucu. Perempuan dengan pasangan lucu juga memulai seks lebih sering dan secara umum melakukan kegiatan seks lebih banyak. 

Efek semacam itu belum ditemukan pada perempuan dengan produksi humor yang lebih tinggi (kemampuan untuk muncul dengan ide-ide lucu di tempat) mungkin karena diperlukan sedikit usaha untuk memuaskan hasrat seksual laki-laki.

Hasil ini menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam kaitannya dengan seleksi seksual, di mana biaya reproduksi yang lebih tinggi untuk perempuan (hamil, menyusui, jendela reproduksi lebih pendek), membuat mereka lebih pilih-pilih daripada laki-laki. Sebaliknya, laki-laki dengan selera humor yang baik dapat menandakan kecerdasan, kreativitas, kehangatan, dan betapa ramahnya mereka–sifat-sifat yang penting dalam hubungan apa pun, terlebih hubungan yang romantis, yang dianggap berharga bagi perempuan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Gil Greengross adalah pengajar Psikologi, Aberystwyth University.